
Beberapa hidangan yang sudah di masak Andreas langsung di sajikannya di meja makan, senyum dan tawa yang terpancar dari wajah Vina membuat Ian dan Andreas bahagia melihatnya.
"Mari mari makan, yang terlambat tidak kebagian" ucap Andreas yang langsung duduk di meja makan mempersiapkan piring untuk mereka bertiga.
Vina yang di ikuti Ian dari belakang bergegas duduk menyusul Andreas. Vina menatap semua makanan yang di masak Andreas masih sama seperti dulu, kelihatan sangat sedap walau belum memakannya.
"Tunggu tunggu, biar aku yang mencobanya pertama" ucap Ian mengehentikan tangan Vina.
"Heeeeh, cobalah. Jangan terkejut dengan rasanya" sahut Andreas.
Nyam...
Ian memasukan sesuap makanan yang ada di depannya ke mulutnya, dengan sangat perlahan Ian mengunyah dan menelan makanan yang di masak Andreas sambil menatap Vina.
"Sudah aku mau makan juga" ucap Vina yang langsung mengambil makanan di depannya.
"Ini benar-benar" sahut Ian yang tidak melanjutkan perkataannya.
"Enak bukan, sudah ku duga" ucap Andreas tersenyum puas.
"Benar-benar biasa saja" sahut Ian yang kembali mengambil makanan di depannya.
Vina yang melihat tingkah Ian hanya tersenyum, Vina sendiri tahu bagaimana rasa masakan Andreas dan itu sudah pasti tidak mengecewakan nya.
Heeeeeeek...
Ian yang pertama menyelesaikan makannya langsung bersendawa sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi, yang di makannya kali ini memang benar-benar sangat enak hingga membuatnya kekenyangan tapi tidak mungkin baginya jujur memuji masakan Andreas.
"Haduh, yang bilang masakanku biasa saja lihatlah perutmu sekarang" ucap Andreas sambil memperhatikan Ian.
Vina yang mendengar perkataan Andreas langsung menatap ke Ian, Vina tertawa kecil melihat perut Ian yang kelihatan membuncit dari balik bajunya.
"Aku hanya kelaparan, wajar saja makan banyak" sahut Ian yang langsung menyilangkan tangannya ke perut agar Vina tidak memperhatikannya.
"Sudah-sudah, ini sudah sangat malam kalian pulanglah" ucap Vina yang bergegas berdiri.
"Aduh aku kekenyangan tidak bisa berdiri, bisakah aku bermalam di sini" sahut Ian.
"Tidak ada alasan, ayo aku yang akan mengantar mu pulang" ucap Andreas sambil menarik tangan Ian berjalan keluar rumah Vina.
Heeeeeh, orang dua itu seperti anak kecil saja" dalam hati Vina.
__ADS_1
Di tempat berbeda Rengga yang baru mengantar Frieda kembali ke rumahnya bergegas ke Bar Aldo, dirinya yang merasa curiga dengan wanita yang di temuinya tadi ingin meminta Aldo menyelidikinya.
"Yo lihatlah siapa yang datang malam ini" ucap Aldo yang duduk santai di kelilingi wanitanya.
"Aku baru pulang dari acara lelang amal" sahut Rengga yang langsung menyandarkan tubuhnya.
"Kamu datang kemari pasti ada alasannya, katakan apa lagi alasan mu kali ini" ucap Aldo.
"Heeeeeh tebakan mu benar, tadi aku bertemu seorang wanita yang menurutku itu mungkin dia" sahut Rengga.
"Dia siapa?" tanya Aldo.
"Siapa lagi kalau bukan wanita itu, tapi yang membuat ku bingung bagaimana bisa dia bergabung di perusahaan V.A" sahut Rengga.
"Ibu Raka hanya wanita biasa, dia bahkan hanya lulusan SMA sepertinya itu hanya dugaan mu saja" ucap Andreas.
"Maka dari itu aku kemari, tugas mu mencaritahunya" sahut Rengga yang langsung menuang minuman di depannya dan meminumnya.
"Cih selalu saja begitu, bagaimana dengan Gladi apa dia baik-baik saja" ucap Aldo.
"Wanita itu lagi yang kamu tanyakan" sahut Rengga.
"Kenapa aku menyukainya, kamu bahkan tidak mengizinkan ku bertemu dengannya" ucap Aldo merasa kesal.
"Ingat kamu harus mencaritahunya, apapun informasi yang kamu dapat segera lapor pada ku" sambung Rengga sambil berjalan pergi meninggalkan Aldo.
Huuuuh, kamu selalu saja seperti itu. Tapi kalau wanita itu benar-benar ibu Raka kesempatan Gladi untuk pergi membawa Raka sangat besar, Rengga jangan salahkan aku kamu sendiri yang terlalu membatasi ku dengannya" dalam hati Aldo.
Di tempat berbeda Frieda yang baru menghabiskan uang 1 miliar di marahi habis-habisan oleh Ayahnya, menghabiskan uang segitu banyaknya untuk sebuah gaun benar-benar seperti orang gila pikir ayahnya.
"Asal kamu tahu untuk pertunangan mu dengan Rengga aku sudah memberikan 75% saham keluarga kita, dan sekarang lihatlah apa yang kamu buat" bentak Ayah Frieda.
"Aku tidak tahu jika wanita itu menjebak ku" sahut Frieda mencari alasan.
"Wanita mana yang berani mencari masalah dengan keluarga kita, ku rasa kamu hanya mencari alasan" ucap ibu tiri Frieda yang memang tidak menyukai Frieda.
"Aku tidak mencari alasan, wanita itu yang menyumbangkan gaun itu dia juga yang bermain menaikan harga pada ku" sahut Frieda.
"Heeeeeh, wanita dari perusahaan V.A aku tidak akan melepaskannya. Besok aku sendiri yang akan mendatanginya" ucap ayah Frieda yang langsung berjalan pergi meninggalkan Frieda.
"Aku masih bingung kenapa suami ku harus memiliki anak bodoh seperti mu" ucap ibu tiri Frieda sambil berjalan pergi menyusul ayah Frieda.
__ADS_1
"Kamu yang bodoh, satu keluarga mu bodoh semua" sahut Frieda kesal.
Heeeeeeh, aku tidak tahu siapa kamu, tapi karena kamu ingin mencari masalah dengan keluarga ku kamu harus siap menanggung akibatnya" dalam hati Frieda.
_______ ______ _______
Di perusahaan V.A Vina memimpin rapat karyawan baru yang baru masuk perusahaannya, Vina yang tidak ingin ada kegagalan di rencannya dengan tegas memberikan peraturan dan sanksi bagi siapa saja yang melanggarnya.
Belum selesai rapat yang di pimpinnya suara keributan terdengar dari luar, Ian dan Andreas yang penasaran siapa pembuat keributan bergegas pergi meninggalkan ruang rapat.
"Kalian kembalilah bekerja" ucap Vina yang langsung berdiri berjalan pergi menyusul Ian dan Andreas.
Sampai di loby Vina yang melihat seseorang terus berteriak bergegas menghampiri Ian dan Andreas, tatapan pria itu yang terlihat sangat marah membuat Vina bisa menebak siapa dia sebenarnya.
"Ian Andreas Minggirlah, Tuan Mahendra silahkan datang ke ruangan ku jangan membuat kekacauan" ucap Vina yang berjalan menaiki lift.
Cih, masih muda sifatnya sudah seperti itu, aku ingin melihat apa yang bisa kamu katakan" dalam hati ayah Frieda sambil mengikuti Vina dari belakang.
Sampai di ruangannya Vina langsung duduk dengan santai, ayah Frieda yang masuk ke ruangan Vina bergegas duduk di depan Vina tanpa menunggu di persilahkan.
"Aku hanya ingin meminta penjelasan, apa kamu tidak tahu siapa keluarga Mahendra?" tanya ayah Frieda.
"Jelas aku tahu, keluarga terkaya ketiga bukan" sahut Vina masih dengan gaya santainya sambil tersenyum.
"Baguslah kalau kamu tahu, tapi kenapa kamu malah bermain harga dengan anak ku" ucap ayah Frieda.
"Apa dia yang berkata seperti itu, kalau begitu biar ku perjelas sedikit" sahut Vina.
"Sebagai calon tunangan Rengga dari keluarga Cafanza tidak salah jika menyukai gaun ku, aku menaikan harga hanya karena status putri mu yang akan menjadi tunangan keluarga Cafanza" sambung Vina.
"Jangan berbelit-belit katakan intinya" ucap ayah Frieda.
"Putrimu sebagai calon tunangannya apa kamu tidak berpikir yang seharusnya membayar gaun itu adalah Rengga, dia bahkan menghabiskan lebih dari 5 miliar semalam untuk barang yang tidak berguna sama sekali. Tapi untuk gaun yang di sukai putri mu kenapa bukan dia yang membayarnya" sahut Vina sambil tersenyum.
Ayah Frieda yang mendengar perkataan Vina langsung terdiam, dia tidak kepikiran sampai kesitu bagaimanapun juga demi Frieda dia memberikan saham keluarganya dengan jumlah besar ke kakek Rengga.
Benar kata wanita ini, sialan kenapa aku tidak kepikiran sampai kesitu, 75% saham ku jika begitu sama saja aku memberikannya secara percuma " dalan hati Ayah Frieda.
"Sudahkah anda pikirkan" ucap Vina.
"Kalau begitu silahkan keluar. Anda harus mengingat satu hal perusahaan V.A bukan perusahan yang bisa dengan mudah di tindas, jika tuan Mahendra seperti ini lagi jangan salahkan aku jika mengambil langkah tegas"sambung Vina sambil menatap Ayah Frieda dengan serius.
__ADS_1
Cih...
Ayah Frieda langsung berjalan pergi meninggalkan Vina, berani berbicara dengan nada mengancam ayah Frieda merasa penasaran siapa pendukung di belakang wanita di depannya itu.