
Vina yang masih terus memperhatikan Andreas langsung duduk di sampingnya, di tepuknya pundak Andreas berharap Andreas bisa kembali tenang.
"Kak, jika aku menyerah untuk balas dendam apa kak Vina akan membenci ku?" tanya Andreas sambil menatap Vina yang duduk di sebelahnya.
"Untuk apa aku membenci mu" sahut Vina.
"Bukannya jika aku menyerah kak Vina akan menganggapku tidak memiliki pendirian, dan kak Vina pasti tidak menyukai itu" ucap Andreas.
"Haaaaaah, balas dendam memang tidak baik, jika kamu menyerah itu lebih bagus. Lagipula semua yang ku inginkan sudah tercapai, suatu hari nanti aku juga akan berhenti untuk balas dendam" sahut Vina.
"Sudahlah semua keputusan ada padamu, tapi jika kamu sudah menentukan keputusanmu lebih baik kamu membicarakannya dengan ayah angkat. Karena dia sudah banyak membantu" sambung Vina sambil berjalan pergi meninggalkan Andreas.
Di tempat berbeda Aldo dan Rengga meminta anak buah mereka terus memata-matai Vina, Ian dan Andreas. Rengga ingin mengetahui di mana keberadaan tuan Yovan untuk mencari jalan damai, karena yang bersalah adalah Kakeknya seharusnya tidak ada sangkut pautnya dengannya.
"Bos, aku melihat Andreas pergi keluar kota" ucap anak buah Rengga yang dari awal memata-matai Vina, Ian dan Andreas.
"Terus ikuti dia" sahut Rengga.
"Baik bos" ucap anak buah Rengga.
Andreas yang tidak sadar di ikuti terus melanjutkan perjalanannya tanpa ada kecurigaan, setelah memarkir mobilnya di depan kediaman tuan Yovan Andreas bergegas masuk ke dalam.
"Haaaaah, aku tidak menyangka kamu menyerah semudah itu" ucap tuan Yovan seakan mengetahui apa yang ingin di katakan Andreas.
"Maafkan aku ayah angkat" sahut Andreas sambil menundukan kepalanya.
"Sudahlah, lagipula itu sudah menjadi keputusan mu" ucap tuan Yovan pasrah.
Belum selesai berbicara seorang pelayan berbisik di telinga tuan Yovan, tuan Yovan yang mendengar ada tamu di depan rumahnya hanya tersenyum santai.
"Kamu beristirahatlah dulu, nanti kita bicarakan lagi. Aku kedatangan tamu istimewah" ucap tuan Yovan yang langsung berdiri.
Andreas hanya menganggukan kepalanya sambil berjalan ke kamar yang biasa menjadi tempat tidurnya. Andreas yang baru sampai di kamarnya tidak menayadari siapa tamu istimewah yang di maksud ayah angkatnya.
"Hoooo ooooh, aku tidak menyangka kedatangan tamu istimewah di siang bolong seperti ini" ucap tuan Yovan sambil menatap Rengga.
__ADS_1
"Aku merasa tersanjung di sambut seperti ini" ucap Rengga yang langsung duduk tanpa menunggu di persilahkan duduk tuan Yovan.
"Kalau begitu keintinya saja, untuk apa kamu membuntuti Andreas datang kemari?" tanya tuan Yovan.
"Haaaah, aku hanya ingin bilang kalau Kakek ku sudah masuk penjara" sahut Rengga.
"Aku sudah mengetahuinya" ucap tuan Yovan sambil tersenyum.
"Baguslah jika kamu mengetahuinya, aku juga ingin bilang permasalahan mu dan kakek ku sebenarnya tidak ada sangkut pautnya padaku. Bagaimana jika kita akhiri saja permusuhan ini" sahut Rengga yang langsung mengatakan tujuannya.
"Hahahaha, kamu datang kemari hanya ingin mengatakan omong kosong seperti itu. Aku jadi ragu di mana kekejaman mu yang selama ini ku dengar" ucap tuan Yovan sambil tertawa.
"Tertawalah aku sengaja menyampaikan tujuan ku langsung, katakan saja bagaimana caranya agar kamu mau melepaskan dendam mu" sahut Rengga.
"Ku ingatkan lagi, nyawa istriku hilang karena ulah kakek mu. Apa kamu berpikir melepaskan dendamku semudah membalikan telapak tangan" ucap tuan Yovan.
"Aku tahu itu, kamu tidak perlu mengingatkannya, tapi kakekku sudah di penjara dia sudah mendapatkan pembalasannya di sana" sahut Rengga.
"Pembalasannya tidak sebanding dengan kematian istriku, apa kamu berpikir itu sudah cukup untukku" ucap tuan Yovan sambil menatap Rengga.
Hemmmm, Andreas sudah berniat berhenti. Ada bagusnya juga aku menerima perdamaian dengannya. Tapi akan ku pastikan kalau pria tua itu tidak akan pernah keluar dari penjara" dalam hati tuan Yovan.
"Aku akan mempertimbangkan jika kamu bisa berjanji satu hal padaku" ucap tuan Yovan.
"Katakan" sahut Rengga cepat.
"Aku mau kamu memastikan kakekmu tidak akan pernah Keluar dari penjara untuk seumur hidupnya" ucap tuan Yovan.
"Tidak masalah itu mudah untukku" sahut Rengga sambil tersenyum. Untuk memastikan kakeknya tidak keluar dari penjara dirinya hanya perlu mencari bukti kejahatan kakeknya, dan itu mudah untuknya.
"Satu lagi" ucap tuan Yovan.
"Aku tahu kamu melakukan ini untuk mendapatkan Vina, aku mau apapun keputusannya kamu tidak boleh memaksanya jika ku tahu kamu memaksanya jangan salahkan aku" sambung tuan Yovan.
"Tidak masalah" sahut Rengga yang langsung berjalan pergi meninggalkan kediaman tuan Yovan.
__ADS_1
Tuan Yovan menghela nafas panjang sambil berjalan ke kamar Andreas, sebenarnya dirinya masih belum puas membalas dendam ke kakek Rengga tapi melampiaskan semua ke Rengga bukankah tidak baik. Apalagi Andreas juga sudah menyerah, mungkin jalan terbaik untuknya hanya dengan mengakhiri dendamnya. Pikir tuan Yovan.
"Ku harap kamu tidak menyalahkan ku istriku" ucap tuan Yovan dengan suara pelan.
Kleeeeeek...
Pintu kamar yang terbuka mengejutkan Andreas yang masih membaringkan tubuhnya, tuan Yovan yang baru membuka pintu langsung berjalan menghampiri Andreas.
"Apa rencanamu selanjutnya?" tanya tuan Yovan, membuat Andreas bergegas bangun dari tidurnya.
"Aku tidak tahu, karena aku sudah menyerah aku akan mengembalikan semua yang ayah angkat berikan padaku" sahut Andreas.
"Hais, itu tidak perlu. Kamu, Ian dan Vina tulus ku anggap menjadi anak angkatku, semua yang ku berikan pada kalian akan tetap menjadi milik kalian" ucap tuan Yovan.
"Tapi aku sudah tidak bisa membantu ayah angkat lagi" sahut Andreas.
"Tidak masalah. Aku juga sudah tidak ingin bermain-main seperti itu lagi, sekarang apa yang akan kamu lakukan?" tanya tuan Yovan.
"Masih belum tahu" sahut Andreas.
"Kenapa kamu tidak melanjutkan kuliahmu saja, hitung-hitung sekalian menenangkan pikiranmu" ucap tuan Yovan lagi.
"Akan ku pikirkan nanti" sahut Andreas.
"Ya sudah kalau begitu pulanglah, katakan ke Ian dan Vina mereka harus bisa menikmati hidup dengan baik. Lupakan semua yang berkaitan dengan dendam, kalau aku ada waktu aku akan mengunjungi kalian bertiga" ucap tuan Yovan.
"Ayah angkat mau pergi kemana?" tanya Andreas.
"Menikmati sisa hidup. Ya sudah kamu pulanglah" sahut tuan Yovan sambil berjalan pergi meninggalkan Andreas yang masih kebingungan.
Bukannya dulu ayah angkat mengangkat kami agar kami fokus membalas dendam, tapi sekarang, sebenarnya apa yang terjadi" dalam hati Andreas.
"Haaaaah, sepertinya benar kata kak Vina dendam itu memang tidak baik. Mungkin itu juga yang di rasakan ayah angkat sekarang" ucap Andreas sambil berjalan pergi keluar kamarnya.
Andreas bergegas mengendarai mobilnya kembali ke rumahnya, sampai di rumah hari yang sudah sangat malam membuat Andreas berpikir untuk menyampaikan pesan ayah angkatnya esok hari saja.
__ADS_1
Andreas membaringkan tubuhnya sambil memikirkan perkataan ayah angkatnya. Haruskah dia kembali melanjutkan kuliahnya, tapi dia merasa masih belum bisa jauh dari Vina. Bagaimana jika nantinya Vina menjadi milik orang lain, pikir Andreas.