
Vina yang masih belum puas langsung berjalan ke arah ketua preman yang berdiri di pojokan restoran. Ingin mencari masalah dengannya apa dia berpikir memiliki 9 nyawa pikir Vina.
"Kalian lihatlah, dia ada di sini" teriak ketua preman yang gemetar melihat Vina berjalan ke arahnya.
Salah satu anak buah preman yang melihat bosnya gemetaran langsung mengangkat kursi dan bersiap memukulkannya ke Vina.
"Awas"
Bruuuuuaaaaaaaaaak...
Suara teriakan dari belakang membuat Vina bergegas memutar badannya.
"Jangan fokus hanya satu arah" ucap Rengga yang baru saja menghalangi kursi yang seharusnya mendarat di belakang Vina.
"Apa kamu bodoh mengambil resiko seperti ini" sahut Vina. Vina tidak tega melihat baju di pundak Rengga yang sobek, memar merah kebiruan bekas kursi bercap jelas di sana.
"Habisi mereka semua, jangan ada yang tersisa" teriak Aldo memerintah anggotanya.
Buuuuuuuug...
Buuuuuuuuuuug...
Brrrrraaaaaaaaaaaak...
Anggota Aldo yang sudah tahu harus berbuat apa langsung menghajar balik anggota preman di depan mereka, hanya dalam waktu hitungan menit ratusan anggota preman yang di hajar anggota Aldo terkapar di lantai restoran.
Dari kejauhan Aldo yang melihat Rengga terduduk lemas bergegas menghampirinya, Aldo berdiri tepat di depan Rengga sambil menatap Vina yang berada di samping Rengga dengan raut wajah yang sangat khawatir.
"Cepat bawa dia ke rumah sakit" ucap Vina sambil menatap Aldo.
Bruuuuuuuug...
Belum sempat Aldo mengiyakan perkataan Vina, Rengga yang masih membuka matanya beberapa detik lalu kini sudah tidak sadarkan diri.
"Bawa dia, apa lagi yang kamu tunggu" teriak Vina memerintah Aldo.
Aldo yang di bantu beberapa anak buahnya bergegas membawa Rengga pergi ke rumah sakit, setelah melihat Aldo yang membawa Rengga pergi Vina langsung terduduk lemas.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Glio yang duduk di samping Vina.
"Aku tidak apa-apa" sahut Vina.
"Baguslah" ucap Glio merasa lega.
"Aku pergi dulu, lain waktu aku akan mengganti makan malam yang tertunda kita" sahut Vina yang berdiri berjalan pergi meninggalkan Glio.
"Tunggu, biar aku yang mengantarmu" ucap Glio sambil berjalan menghampiri Vina.
__ADS_1
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri" sahut Vina.
Glio menghentikan langkahnya memperhatikan Vina yang berjalan semakin menjauh, Glio terus mengumpat di dalam hati bagaimana bisa dia sesial ini, makan malam pertamanya dengan Vina hancur sudah karena ulah preman jalanan.
Sampai di rumah Vina langsung menghempaskan tubuhnya di sofa, masih terbayang jelas wajah setengah sadar Rengga setelah menggantikannya menerima hantaman kursi.
"Hay, kamu kenapa?" tanya Gladi yang berdiri di depan Vina.
"Bajumu, katakan apa yang terjadi. Apa pria itu berani macam-macam denganmu" sambung Gladi sambil memperhatikan baju Vina yang robek-robek di beberapa bagian.
"Bukan dia" sahut Vina yang langsung duduk menatap Gladi.
"Baju yang sudah tidak berbentuk, lenganmu yang terluka. Sebenarnya apa yang terjadi, cerita sama aku" ucap Gladi sambil duduk di semping Vina.
"Hiks hiks hiks. Dia menolongku, karena menolongku dia sekarang berada di rumah sakit" sahut Vina yang langsung memeluk Gladi.
"Dia siapa? Coba katakan dengan jelas" ucap Gladi.
"Hiks hiks hiks. Rengga" sahut Vina yang masih menangis tanpa melempaskan pelukannya.
"Kamu bisa cerita pelan-pelan sebenarnya apa yang terjadi" ucap Gladi sambil mengelus rambut Vina.
Vina mencoba menjelaskan ke Gladi apa yang terjadi tadi, Vina menceritakan semua dari saat dirinya bertarung hingga Rengga yang menyelamatkannya dari hantaman kursi.
Semakin lama Vina bercerita, semakin deras air matanya mangalir. Vina tidak tega melihat Rengga yang harus menahan rasa sakit untuknya, sedangkan di antara mereka berdua tidak ada hubungan spesial, untuk apa Rengga melakukan itu semua.
"Iya, aku istirahat dulu" sahut Vina yang langsung berjalan ke kamarnya.
Gladi menggelengkan kepalanya melihat Vina yang menangis karena Rengga, jika hanya tidak tega melihat Rengga yang terluka karena menolongnya Vina tidak mungkin menangis seperti itu. Mungkin yang di lakukan Rengga sebenarnya membuat Vina terharu, hanya saja dia tidak menyadarinya dan malah menganggap hanya kasihan padanya.
"Sudahlah, terserah saja" ucap Gladi sambil berjalan pergi.
_____ ______
Di rumah sakit Aldo yang menjaga Rengga merasa sangat cemas, sudah lebih dari 10 jam Rengga masih tidak sadarkan diri. Mungkinkah Rengga sudah, pikir Aldo tidak karuan.
"Vina" teriak Rengga yang langsung terduduk.
Aldo yang melihat Rengga tersadar menghela nafas lega, untungnya Rengga masih belum mati jika Rengga mati dirinya tidak lagi punya bos sekaligus teman yang seperti Rengga.
"Vina, di mana?" tanya Rengga sambil melihat ke arah Aldo yang tersenyum menatapnya.
"Vina tentu saja ada di rumahnya" sahut Aldo yang langsung berjalan dan duduk di samping Rengga.
"Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja?" tanya Rengga lagi.
"Jangan mengkhawatirkannya, lihatlah dirimu yang sekarang bahkan bergerak saja tidak bisa" sahut Aldo.
__ADS_1
Rengga yang mendengar perkataan Aldo langsung memperhatikan tubuhnya. Tangan, pundak, dan bagian dadanya yang di perban tiba-tiba terasa sakit setelah dirinya melihatnya.
"Arrrrrrhhhhhh" Rengga meringis menahan rasa sakitnya sambil mencoba kembali berbaring.
"Sakit?" tanya Aldo sambik menyunggingkan bibirnya.
"Tentu saja sakit" sahut Rengga.
"Saat kamu langsung duduk tadi bukannya tidak sakit, kenapa rasa sakitnya baru kamu rasakan sekarang?" tanya Aldo lagi.
"Diamlah" sahut Rengga kesal.
"Cih, demi wanita kamu sampai rela seperti ini" ucap Aldo.
"Aku hanya kasihan pada Vina, jika dia yang terkena kursi itu siapa yang akan menjaga kedua anakku" sahut Rengga.
"Alasan saja kamu. Sebenarnya kamu melakukan itu karena kamu menyukai Vina, jujur saja" ucap Aldo lagi.
"Bicara omong kosong sekali lagi akan ku kirim kamu sejauh mungkin dari sini" sahut Rengga sambil menatap Aldo.
"Jangan marah, aku hanya bicara kenyataan" ucap Aldo dengan suara pelan.
"Huuuuuh, pergilah aku mau istirahat" sahut Rengga.
"Baik bos" ucap Aldo yang langsung berjalan keluar ruangan Rengga.
Krieeeeeeek...
Suara pintu di dorong dari luar membuat Rengga kesal, Rengga yang mengira Aldo kembali ingin mengganggunya langsung melempar gelas yang berada tepat di sampingnya.
"Ku bilang pergi" ucap Rengga.
"Kamu mengusirku" sahut Vina yang berdiri di depan pintu.
"Vina" ucap Rengga terkejut.
"Aku padahal hanya ingin menjengukmu, tapi karena kamu tidak menerima ku ya sudah aku pulang saja" sahut Vina yang bersiap memutar badannya.
"Bukannya begitu, aku mengira tadi Aldo" ucap Rengga sambil berusaha untuk duduk.
Arrrrrrrkkkkkhhhhh...
Tangan yang di pakai untuk membantunya duduk tiba-tiba terasa sangat sakit, Rengga yang tidak bisa menahannya hanya menjerit sambil memegangi tangannya.
"Kembalilah berbaring" ucap Vina yang langsung menghampiri Rengga.
"Tapi" sahut Rengga sambil menatap Vina.
__ADS_1