
Vina menatap mobil Ian yang berbeda dari sebelumnya, jika mobil yang sebelumnya adalah mobil Rengga lalu mobil siapa yang di pakainya saat ini.
"Tenang saja ini mobil ku sendiri" ucap Ian yang seakan tahu apa yang di pikirkan Vina.
Vina duduk di samping Ian tanpa berbicara, Vina merasa sangat canggung pria yang baru beberapa kali ke rumahnya itu malah menjadi pasangannya untuk menghadiri acara mantan sahabatnya.
Sampai di tempat yang tertera di undangan Ian bergegas membuka pintu Vina, Vina yang baru keluar dari mobil di sambut Ian yang langsung menggandeng tangannya.
Pesta ulang tahun yang sangat mewah, dari mana Lidia mendapatkan uangnya itu" dalam hati Vina sambil terus berjalan berdampingan dengan Ian yang masih menggandeng tangannya.
Di dalam ruangan yang begitu luas tamu Lidia lebih banyak dari perkiraan Vina, Ian yang melihat Vina mulai gugup langsung menggengam tangan Vina lebih erat.
"Tenang ada aku" ucap Ian dengan suara pelan.
"Para tamu undangan yang terhormat mari kita persilahkan sang Ratu hari ini memulai acaranya" ucap seseorang yang tidak di kenal Vina, di sambut tepuk tangan meriah dari para tamu undangan.
"Terima kasih untuk tamu undangan yang hadir di pesta ulang tahun ku, Aku Lidia merasa sangat senang atas kehadiran kalian semua" ucap Lidia sambil tersenyum menatap tamu undangan di depannya.
"Tapi sebelum itu aku juga ingin berterima kasih untuk sahabatku yang sudah datang malam hari ini, setelah pergi selama setahun lamanya dia pasti sudah menyiapkan hadiah khusus untuk ku" sambung Lidia yang langsung menunjuk ke arah Vina.
Pergilah berikan ini padanya" bisik Ian sambil memberikan kotak perhiasan kecil ke Vina.
"Raka ku titipkan pada mu" sahut Vina yang bergegas ke arah Lidia.
Ian menatap Vina yang tanpa ragu berjalan ke arah mantan sahabatnya sambil tersenyum, ingin mempermalukan Vina dengan cara meminta hadiah itu tidak akan berhasil pikir Ian.
"Ini dia sahabat ku namanya Vina Aulia, semua pasti penasaran apa hadiah yang di berikannya bukan. Kalau begitu mari kita buka" ucap Lidia sambil tersenyum licik berharap Vina merasa sangat malu kali ini.
Lidia yang mengambil kotak perhiasan dari Vina bergegas membukanya, para tamu undangan yang melihat hadiah dari Vina langsung berbisik satu sama lain.
"Ini dia hadiahnya" ucap Lidia dengan suara keras tanpa melihat isinya.
"Ya ampun itu cincin berlian pengeluaran terbaru, sahabat Lidia sangat baik" bisik para tamu undangan yang tidak sengaja di dengar Lidia.
"Ku harap kamu suka hadiahnya" ucap Vina sambil menatap Lidia yang terdiam menatap hadiahnya.
__ADS_1
"Pas ti aku menyukainya, pemberian dari sahabatku memang yang terbaik" sahut Lidia.
Cih, tunggu saja ini belum berakhir" dalam hati Lidia yang melihat Vina berjalan meninggalkannya.
"Karena aku sudah mendapat hadiah dari sahabat ku, mari kita potong kuenya" ucap Lidia sambil tersenyum menatap Vina.
Vina yang melihat Lidia memotong kue hanya menyunggingkan bibirnya, Vina tahu semua belum berakhir.
"Tenang saja, selama masih ada aku dia tidak akan bisa mempermalukan mu" ucap Ian yang berdiri di samping Vina.
"Potongan kue pertama akan ku berikan untuk calon suami ku, Bram" ucap Lidia sambil menatap Bram yang berjalan ke arahnya.
"Semua doakan kami ya, agar kami bisa secepatnya menikah" sambung Lidia.
"Kami akan selalu mendoakan kalian, semoga tidak ada pelakor dalam hubungan kalian" sahut seorang tamu undangan bayaran Lidia.
"Tenang saja, didalam hubungan kami tidak ada pelakor kok. Ya kan sayang" ucap Lidia sambil menyuapi Bram kue di tangannya.
"Emmmm" sahut Bram pasrah menerima suapan yang di berikan Lidia.
Benar-benar membuatku kesal, ingin sekali ku bongkar wajah aslinya itu" dalam hati Ian.
"Sudah mari kita pulang" ucap Vina yang langsung menarik tangan Ian.
"Kalian" suara tidak asing terdengar dari belakang Ian.
"Rengga" sahut Vina dan Ian serentak.
"Kamu bersamanya, apa kamu tidak menghargai ku" ucap Rengga sambil menunjuk Ian yang menggendong putranya.
"Itu tidak ada urusannya denganmu" sahut Vina.
"Vin, dengarkan aku kamu harus menjauhinya, kamu itu Ibu dari anak ku" ucap Rengga yang terlihat sangat marah.
"Sudah ku bilang itu bukan urusanmu" sahut Vina yang kembali menarik tangan Ian.
__ADS_1
"Tunggu tunggu, apa yang terjadi di sini" ucap Lidia sambil tersenyum, ini saat yang tepat mempermalukan Vina hingga tidak lagi memiliki muka pikirnya.
"Vin, kalau ada masalah dengan ayah dari anak haram mu jangan membuat masalah di sini" sambung Lidia.
"Siapa yang kamu bilang anak haram, jaga mulut mu" sahut Ian yang langsung melotot menatap Lidia.
"Aduh-aduh kamu ini cuma ayah dari anak haramnya Vina jangan sok ikut campur" ucap Lidia sambil tersenyum puas.
Semua tamu undangan menatap Vina sambil berbisik, mereka tidak menyangka sahabat Lidia adalah wanita murahan seperti itu.
"Tunggu, coba katakan sekali lagi" Rengga menatap Lidia dengan tajam.
"Aku mengatakan pria ini adalah ayah dari anak haram Vina" sahut Lidia santai tanpa mengetahui siapa Rengga.
Plaaaaaaak...
Rengga yang tidak terima Ian di bilang ayah dari anaknya langsung menampar Lidia.
"Kalau tidak tahu kebenarannya lebih baik diam" bentak Rengga sambil menatap Lidia yang memegangi pipinya.
"Siapa kamu, beraninya mencari masalah di ulang tahun ku" sahut Lidia.
Plaaaaaaaak...
"Sudah ku bilang diam. Ku beri tahu kalian semua wanita ini sebenarnya adalah ular, pria yang di bilang calon suaminya itu sebenarnya adalah pacar sahabatnya yang di rebutnya" ucap Rengga dengan nada tinggi.
"Kamu siapa, kamu pasti pria simpanannya Vina" sahut Lidia yang tidak terima Rengga mempermalukannya.
Para tamu undangan yang mendengar perkataan Lidia langsung menutup mulut, mereka tidak percaya Lidia berani berbicara seperti itu pada Ceo Rengga Cafanza yang sangat di segani banyak orang.
Satu persatu tamu undangan yang tidak ingin terlibat bergegas pergi, mereka tidak ingin menjadi sasaran kemarahan Rengga yang bisa saja menghancurkan keluarga mereka.
"Kalian mau kemana? pestanya belum selesai" teriak Lidia.
Vina yang merasa sangat kesal melihat Lidia langsung menarik tangan Ian, Vina bergegas meminta Ian membawanya pergi selagi Rengga tidak melihatnya.
__ADS_1