Jodoh Tuan Kejam

Jodoh Tuan Kejam
Bab 54


__ADS_3


Aldo yang melihat Gladi berjalan ke arah Vina hanya menggelengkan kepalanya, pipinya yang tadi di cium Gladi langsung di elusnya berulang kali.


"Haaaaah, masih terasa bibirnya" ucap Aldo sambil memperhatikan Gladi yang sudah berada di belakang Vina.


"Vin" ucap Gladi yang berjalan menghampiri Vina di depannya.


"Mama tua dari mana saja, Raka sudah tunggu dari tadi loh" sahut Vina sambil memutar badannya.


Vina menatap wajah Gladi yang memerah, aneh tadi saat berangkat Gladi tidak seperti ini, pikir Vina.


"Bibir kamu kenapa?" tanya Vina yang melihat lipstik di bibir Gladi memudar.


"Kecium pohon tadi" sahut Gladi asal-asalan, tidak mungkin dia jujur dia baru saja mencium Aldo.


Vina yang mendengar perkataan Gladi hanya tersenyum, dia tidak bodoh mana mungkin dia percaya Gladi mencium pohon.


Di tempat berbeda, Aldo yang tiba-tiba memiliki ide bergegas menelpon Rengga. Aldo meminta Rengga datang ke pantai secepatnya tanpa memberitahukan alasannya, Aldo hanya bilang jika dia tidak datang secepatnya dia sendiri yang akan menyesal nantinya.


Rengga yang tidak mengerti maksud Aldo bergegas mengendarai mobilnya ke pantai, hanya butuh waktu 10 menit dari rumahnya Rengga yang tiba di pantai langsung mencari Aldo.


"Akhirnya datang juga" ucap Aldo sambil menepuk pundak Rengga.


"Aku sudah datang sekarang katakan kenapa kamu menyuruhku datang kemari" sahut Rengga.


"Santai, lihat di sana" ucap Aldo sambil menunjuk ke arah Vina.


"Dia membawa anak mu, bukannya ini kesempatan yang bagus untukmu" sambung Aldo yang tidak menyadari Rengga sudah berjalan ke arah Vina.


Belum juga selesai bicara, sudah main pergi saja" dalam hati Aldo sambil menyusul Rengga dari belakang.


Ramainya pantai membuat Vina tidak menyadari kehadiran Rengga, Vina dan Gladi yang memeperhatikan ombak pantai di kejutkan suara dari belakang mereka.


"Raka" panggil Rengga.


Vina memutar badannya seketika, Vina yang berdiri menatap Rengga membuat Raka langsung menyembunyikan kepalanya di lengan Vina.


"Kamu mengikuti ku" ucap Vina kesal.

__ADS_1


"Tidak, aku hanya tidak sengaja melihat kalian jadi aku menghampiri kalian berdua" sahut Rengga yang masih menatap putranya.


"Kami ingin bersantai tolong jangan ganggu kami" ucap Vina, yang bersiap pergi.


"Gladi, Ayo kita pulang" sambung Vina sambil mencari Gladi yang sudah tidak di sampingnya.


Kemana dia, pantas saja Rengga bilang melihat ku hanya berdua" dalam hati Vina.


Rengga tersenyum sambil menutupi mulutnya, untung saja Aldo sigap membawa Gladi pergi jika tidak mungkin Vina sudah tidak ada di depannya sekarang.


"Raka sini sama Papa" ucap Rengga yang langsung mengangkat tangannya bersiap menggendong Raka.


"Mama aka tidak mau" sahut Raka tanpa sedikitpun melihat ke arah Rengga.


"Kamu mendengarnya sendiri bukan, semua kesalahan berawal dari kamu sendiri" ucap Vina sambil mengelus kepala putranya.


Rengga hanya terdiam, anak sekecil Raka ternyata bisa menyimpan dendam padanya hingga tidak mau di gendong olehnya.


"Ya sudah kalau Raka tidak mau" sahut Rengga pasrah.


Vina kembali memutar badannya berharap Rengga bergegas pergi, sebenarnya dirinya sangat tidak ingin melihat Rengga ada di dekatnya, dan liburan yang seharusnya menjadi penenang untuk sesaat jadi hancur sudah karena adanya Rengga, pikir Vina.


"Tidak perlu di dunia ini tidak ada yang lebih jahat dari mu, seharusnya yang ku hindari adalah kamu" sahut Vina yang sengaja sedikit ngegas.


"Kamu sepertinya sangat membenci ku" ucapan Rengga membuat Vina membalikan badannya menatap Rengga.



"Harusnya kamu sadar diri, kamu memisahkan ku dari putra ku dan mengusir ku itu saja sudah cukup untuk aku membenci mu. Belum lagi saat kamu menculik ku waktu itu dan sekarang kamu berani berkata sepertinya aku membenci mu. Itu bukan sepertinya, aku memang membenci mu sampai kapanpun aku tetap membencimu" sahut Vina sambil menatap Rengga tajam.


"Pergilah, aku takut aku akan berteriak dan membuat mu malu" sambung Vina yang langsung berjalan pergi meninggalkan Rengga.


Rengga hanya diam melihat Vina yang berjalan menjauh darinya, setelah mendengar perkataan Vina hatinya benar-benar merasa sakit, rasa sakitnya bahkan melebihi saat dirinya mengetahui kabar kematian calon istrinya waktu itu.


Dari kejauhan Gladi yang melihat Vina pergi meninggalkan Rengga bersiap menghampirinya, bodohnya dia kenapa harus mengikuti Aldo yang sengaja ingin mempertemukan Vina dan Rengga.


"Biarkan saja mereka" ucap Aldo sambil menarik tangan Gladi.


"Aku tidak ingin melihat mu, kamu sengaja melakukan semuanya. Kamu juga sengaja menghubungi Rengga. Bukan" sahut Gladi kesal.

__ADS_1


"Tapi itu demi kebaikan mereka agar bisa bersama" ucap Aldo.


"Aku tidak akan membiarkan mereka bersama. ingat itu" sahut Gladi yang langsung berjalan pergi meninggalkan Aldo.


Sial, kenapa aku meminta Rengga datang tadi, sekarang dia marah pada ku" dalam hati Aldo yang merasa kesal sama dirinya sendiri.


Gladi merasa bersalah meninggalkan Vina sendiri, seharusnya dari awal dia tidak perlu bertemu dengan Aldo. Aldo teman Rengga sudah pasti dia berpihak padanya.


"Haaaaah, haaaaah. Vin" panggil Gladi yang berhenti di belakang Vina sambil berusaha menarik nafasnya.


"Dari mana saja, kenapa harus berlari seperti itu?" ucap Vina yang memperhatikan nafas Gladi tidak beraturan.


"Aku buang air kecil maaf tidak bilang pada mu, aku melihat Rengga tadi makanya aku berlari. Kamu tidak apa-apa kan" sahut Gladi.


Maaf Vin, aku terpaksa berbohong" dalam hati Gladi.


"Aku tidak apa-apa santai saja" ucap Vina sambil mengepalkan tangannya.


"Ya sudah mari kita pulang, sini Raka mama tua gendong" sahut Gladi.


"Haaaaah, rusak sudah liburan kita hari ini" ucap Vina yang langsung memberikan Raka ke Gladi.


"Masih ada banyak waktu untuk liburan, sekarang lebih baik kita pulang. Kamu sepertinya tertekan" sahut Gladi


"Tertekan hanya karena dia, apa kamu bercanda. Aku hanya berpikir sepertinya urat malunya sudah putus" ucap Vina sambil berjalan ke arah mobilnya.


"Memangnya apa yang di katakannya Vin?" tanya Gladi yang langsung membuka mobil dan duduk sambil memangku Raka.


"Haaaaah" Vina menarik nafas panjang lalu menjalankan mobilnya.


"Dengan tidak tahu malunya dia bilang sepertinya aku membencinya" ucap Vina yang langsung memukul kemudi mobilnya.


"Harusnya dia tahu aku memang membencinya, setelah semua yang di lakukannya dulu apa masih kurang alasan ku untuk membencinya" sambung Vina yang mulai emosi.


"Sabar-sabar, sudah lupakan dia" sahut Gladi.


"Pembalasanku saja masih belum cukup, mana mungkin kebencian ku padanya berakhir" ucap Vina sambil mengepalkan tangannya.


Gladi berpikir jika dia menjadi Vina dia pasti akan melakukan hal yang sama, sebagai orang tua yang di pisahkan dari anaknya mana mungkin bisa melupakan kebenciannya begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2