
Siang hari dua sudut berbeda Mata Brian dan Kakek Rengga tanpa sadar saling berpandang. Kakek Rengga yang melihat gelagat mencurigakan dari Brian memberi isyarat ke Brian untuk segera mengikutinya, melihat ekspresi Brian Kakek Rengga sadar bahwa Brian menyimpan perasaan ke vina, Kakek Rengga berpikir musuhnya musuh adalah teman kesempatan seperti itu tidak bisa dilewatkannya.
Berbeda dari Kakek Rengga Brian merasa sedikit takut setelah saling pandang, bagi Brian siapa yang tidak tahu Kakek Rengga pemegang saham keluarga Cafanza terbesar, saat ini dirinya diam-diam mengintip habislah sudah riwayatnya.
Brian mengikuti Kakek Rengga yang berjalan menuju salah satu mobil, Brian hanya menatap Kakek Rengga yang memasuki sebuah mobil dan membiarkan pintu mobil terbuka seakan sedang menunggunya.
Dengan sangat ragu Brian berjalan ke arah pintu mobil, Brian yang berdiri tepat di depan pintu mobil langsung ditarik masuk ke dalam.
"Maaf maaf, aku tidak bermaksud" ucap Brian gugup.
"Tenanglah, ayo kita pergi dulu," sahut Kakek Rengga.
Kakek Rengga memberhentikan mobilnya di sebuah rumah jauh dari keramaian, Brian menatap lingkungan sekitar rumah Kakek Rengga yang terlihat sangat sepi.
"Masuklah," ucap Kakek Rengga yang baru membuka pintu.
Kakek Rengga berjalan masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu, melihat Kakek Rengga yang duduk dengan santai Brian ikut duduk tidak jauh dari Kakek Rengga.
"Apa kamu tidak dapat undangan?" tanya Kakek Rengga.
"Tidak," sahut Brian.
"Apa kamu menyukai Vina?" tanya Kakek Rengga lagi.
"Ah itu," Brian bingung harus menjawab apa.
"Jangan takut katakan saja, aku tidak berada dipihak mereka," ucap Kakek Rengga.
"Maksud Tuan," sahut Brian tidak mengerti
"Kamu jawab saja, apa kamu menyukai Vina?" tanya Kakek Rengga balik.
"Sebenarnya Vina mantanku, aku menyukainya," sahut Brian.
"Bagus-bagus, karena kamu menyukainya kita bisa bekerja sama," ucap Kakek Rengga.
Brian menatap Kakek Rengga kebingungan, kerja sama apa maksud Kakek Rengga dirinya sama sekali tidak mengerti.
"Kamu pasti bingung, biar aku jelaskan," ucap Kakek Rengga.
"Karena wanita yang kamu sukai itu Rengga tidak lagi mendengarkanku, dia bahkan mebut saham yang kumiliki dan memenjarakanku," sambung Kakek Rengga.
"Gara-gara Vina?" tanya Brian kebingungan.
"Intinya kita kerja sama, aku membantumu mendapatkan Vina dan kamu membantuku mengambil semua yang seharusnya menjadi milikku," sahut Kakek Rengga.
"Tapi bagaimana caranya?" tanya Brian lagi.
Kakek Rengga membisikan sesuatu di telinga Brian, Brian yang mengerti langsung menganggukkan kepalanya sambil tersenyum licik.
__ADS_1
Di tempat berbeda Rengga dan Vina yang sudah selesai bersiap tinggal menunggu kedatangan Gladi dan Aldo bersama anak mereka. Keduanya yang menunggu di ruang tamu tiba-tiba mendengar suara ponsel Radit berbunyi, Vina menatap Rengga meminta Rengga cepat mengangkat ponselnya yang terdengar berisik.
"Angkat saja, mungkin itu Aldo," ucap Vina.
"Iya, aku angkat saja kalau begitu ," sahut Rengga yang sebenarnya males mengangkat telepon di ponselnya.
"Hallo," ucap Rengga tanpa melihat nama pemanggil.
"Hallo Pak Rengga kami dari pihak kepolisan ingin memberitau kalau Kakek Anda melarikan diri," sahut suara dari sebrang telepon.
"Apa! Kenapa bisa kabur," ucap Rengga terkejut.
"Maaf ini kelalaian kami, kami akan beruasaha mencari kembali," sahut polisi yang menelpon Rengga.
"Bagaimanapun caranya kalian harus mencarinya sampai ketemu ," ucap Rengga yang langsung mematikan ponselnya.
Vina menatap Rengga yang terlihat sangat kesal dan kebingungan. Tanpa sadar Vina menepuk pundak Rengga dan mencium pipinya.
"Aku tidak bermaksud," ucap Vina mengalihkan pandangannya.
"Terima kasih, aku tau kamu ingin menenangkanku," sahut Rengga sambil berusaha tersenyum.
"Apa yang terjadi?" tanya Vina.
"Kakekku kabur dari penjara," sahut Rengga.
"Haaaah."
"Bagaimana bisa," ucap Vina sambil menggelengkan kepalanya tidak habis pikir.
Suasana seketika menjadi sunyi, Vina tiba-tiba merasa tidak tenang mengetahui orang yang paling memusuhinya kabur dari penjara.
"Kami datang," ucap suara Gladi dari luar.
Sampai di dalam rumah Gladi yang lihat Vina dan Rengga sama-sama terdiam merasa kebingungan, Gladi mendekatkan wajahnya ke wajah Vina dan menatap matanya penuh dengan kegelisahan.
"Ada apa Vin?" tanya Gladi yang masih menatap Vina.
"Kakeknya kabur dari penjara," ucapan Vina membuat Gladi terkejut.
"Ka kabur," sahut Gladi.
Vina hanya menganggukkan kepalanya, Vina tahu Gladi juga pasti kebingungan sama seperti dirinya.
"Mana barang yang mau dibawa," ucap Aldo yang baru masuk.
"Apa lebih baik ditunda saja ya," ucap Vina menatap Rengga.
"Tidak bisa, ayo kita pergi sekarang," sahut Rengga.
__ADS_1
"Lagi pula aku yakin untuk sementara waktu dia tidak akan bisa mencari masalah," sambung Rengga.
"Memangnya apa yang terjadi?" tanya Aldo.
Gladi berjalan ke arah Aldo dan berbisik di telinganya.
"Apa," teriak Aldo tidak kalah keras.
"Kalau begitu ditunda saja, aku akan melacak keberadaannya atau kalian pergi saja tanpa aku," ucap Aldo.
"Tidak bisa, kalau satu tidak pergi kita tidak jadi pergi semua," sahut Vina.
"Kita semua tetap pergi, biarkan saja Pak tua itu melalukan apa yang diinginkannya untuk sementara waktu," ucap Rengga.
"Tunggu apa lagi, Ayo kita berangkat," sambung Rengga.
Keberangkatan berbulan madu ke Paris tetap mereka laksanakan, Rengga berpikir Kakeknya tidak mungkin bisa melakukan apapun karena sekarang sama sekali tidak memiliki pendukung. Rengga tidak menyadari keputusannya saat ini akan membuatnya dan keluarganya dalam bahaya besar.
Sesuai rencana Kakek Rengga Brian pergi ke Paris menaiki penerbangan yang sama. Di dalam pesawat Brian terus memperhatikan Vina dan Rengga yang membahas tentang kaburnya Kakeknya.
"Aku hanya tidak menyangka," ucap Vina.
"Aku juga, tapi tenang saja aku pasti akan melindungimu apapun yang terjadi," sahut Rengga yang langsung mencium pipi Vina.
"Aku percaya padamu," sahut Vina sambil bersandar dibahu Rengga.
"Saling percaya ya, itu sangat konyol," ucap Brian sambil tersenyum.
Sampai di Paris rombongan Vina langsung menuju hotel yang sudah mereka pesan, Vina dan Rengga mengambil satu kamar sedangkan Gladi dan Aldo memilih kamar yang jauh lebih besar.
Tiiit tiiit tiiit.
"Selamat menentu hidup baru, nikmati hidup sebelum semua berakhir," ucap rekaman yang ada di kamar hotel Vina dan Gladi.
"Suara apa itu Rengga," teriak Vina yang merasa sangat terkejut.
"Kita memesan kamar ini jauh-jauh hari, bagaimana bisa ada rekaman di dalam kamar Mandi.
Tok tok tok.
"Ayah, Mama," panggil Mia dari luar kamar.
Vina bergegas membuka pintu setelah mendegar suara Mia, betapa terkejutnya Vina melihat tidak ada seorangpun di depan pintu kamarnya.
"Kok tidak ada orang," ucap Vina.
"Kenapa Sayang?" tanya Rengga.
"Aku seperti mendengar suara Mia," sahut Vina.
__ADS_1
"Aku juga mendengarnya," ucap Rengga.
"Sepertinya kita sedang diterror," sahut Vina dan Rengga bersamaan.