Jodoh Tuan Kejam

Jodoh Tuan Kejam
Bab 52


__ADS_3

Melihat karyawannya bekerja sangat keras membuat Rengga tidak tinggal diam, peretas handal yang selama ini bekerja dengannya bergegas di panggilnya. Pukul 02:30 dini hari semua karyawan Rengga menghela nafas lega, data yang sebelumnya tersebar sudah sepenuhnya di hapus bahkan pemasaran hampir kembali seperti semula hanya saja masih kalah dengan milik Vina.


Di dalam ruangannya Rengga menyandarkan tubuhnya di kursi, selama ini belum pernah terjadi seperti ini jika dirinya tidak bergerak cepat tadi tidak tahu apa yang terjadi dengan perusahaannya kedepannya.


"Jadi bagaimana menurutmu?" tanya Aldo yang duduk di depan Rengga.


"Kemungkinan benar kata mu, aku juga curiga dia berada di balik ini semua" sahut Rengga.


"Apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanya Aldo lagi.


"Untuk saat ini ku akan berbicara padanya untuk memberikan Raka padaku, jika dia tidak mau memberikannya akan ku lakukan seribu cara untuk kembali merebutnya" sahut Rengga.


"Kamu apa tidak kepikiran untuk menikah dengannya, lagipula anak seusia Raka sangat membutuhkan kasih sayang kedua orang tuanya" ucap Aldo membuat Rengga terdiam menatapnya.


"Baiklah, kalau tidak kepikiran tidak masalah juga tapi jangan menatap ku seperti itu" sambung Aldo yang merasa tidak nyaman melihat Rengga menatapnya tajam.


"Menikahinya, ku rasa itu bukan ide yang buruk. Dia bukan lagi wanita sembarangan seperti dulu, dia yang sekarang adalah presdir walau aku tidak mendapatkan saham dari pak tua itu, dengan dukungan darinya Kakekku tidak bisa berbuat apa-apa lagi dan saham sisanya bisa ku dapatkan dengan mudah" sahut Rengga yang langsung berdiri dari tempat duduknya.


Haduh, isi otaknya masih sama tentang saham-saham saja. Tidak bisakah dia melepaskan ambisi demi mengejar kebahagiaannya sendiri" dalam hati Aldo sambil memegangi kepalanya.


Braaaaaaaak...


"Sudah ku putuskan aku akan mendatanginya secepatnya, aku ingin melihat anak ku dan ingin mengatakan padanya jika aku mau menikahinya" ucap Rengga sambil memukul mejanya.


"Tunggu tunggu tunggu, apa kamu masih sehat?" tanya Aldo yang menatap Rengga dengan heran.


"Apa maksudmu?" tanya Rengga balik.


"Setelah kamu memisahkannya dengan anaknya, apa kamu berpikir dia mau menikah dengan mu" sahut Aldo.


"Pasti mau, bukannya kamu tahu siapa aku semua wanita bahkan menyukai ku dan aku yakin dia juga sama" ucap Rengga sambil tersenyum penuh percaya diri.


Aldo menggelengkan kepalanya, tidak tahu lagi dirinya harus berkata apa. Jika Vina mau menikah dengannya untuk apa dia harus melakukan pembalasan berantai seperti saat ini, tapi mau bagaimana lagi Rengga terlahir dengan penuh percaya diri semua yang tidak mungkin akan menjadi mungkin di pikirannya.


_______ ________ ______


Kabar keberhasilan dari Ian dan Andreas membuat Vina bisa tidur lebih nyenyak dari biasanya, di dalam tidurnya Vina bermimpi perusahaan Rengga hancur dan saat itu juga Rengga berada di bawah kakinya memohon pengampunannya.


Hari yang tidak lagi pagi membuat Gladi bergegas ke kamar Vina, Gladi sedikit heran tidak biasanya Vina bangun kesiangan walau di hari libur sekalipun. Gladi yang baru membuka pintu merasa terkejut melihat Vina yang masih tertidur sambil tertawa kecil, tertawanya Vina seakan sedang menertawakan kesulitan orang lain.


"Bangun" teriak Gladi sambil memukul Vina menggunakan guling yang di peluknya.


Vina yang kaget langsung terduduk menatap Gladi, mata sayupnya perlahan di kuceknya lalu berpaling melihat ke arah jam di dinding kamarnya.

__ADS_1


"Mimpi apa kamu, bahagia sekali sepertinya" ucap Gladi.


"Hehe, mimpi yang sangat indah. Melihat kehancurannya dan bisa melihatnya berlutut di kakiku itu sangat indah" sahut Vina sambil tersenyum.


"Senyum terus, mandi sana" ucap Gladi yang kembali memukul Vina menggunakan guling.


"Iya bawel amat ganggu mimpi indah ku saja" sahut Vina dengan suara pelan.


Vina beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi, setelah selesai mandi Vina bergegas menghampiri Gladi yang asyik bermain bersama putranya. Vina yang baru saja duduk di kagetkan Ian dan Andreas yang tiba-tiba berdiri di belakangnya, Vina mengelus dadanya sambil menatap dua pria di belakangnya itu.


"Kalian berdua ini bikin kaget saja" ucap Vina.


"Hehehe, maaf kak" sahut Andreas sambil tertawa.


"Vin perusahaan Rengga kembali normal lagi dalam semalam" ucap Ian.


"Sudah ku duga" sahut Vina santai.


"Mimpi mu gagal dong Vin" ucap Gladi yang duduk di depan Vina.


"Mimpi gagal sudah biasa, Rengga bukan orang baru di dunia bisnis jika dia tidak bisa menyelesaikan hal sepele perusahaannya pasti sudah lama hancur" sahut Vina.


"Lalu sekarang apa yang akan kita lakukan kak? apa kita akan diam saja?" tanya Andreas.


"Siapa?" tanya Gladi, Andreas bersamaan.


Ting tong, ting tong, ting tong...


Suara bell yang tiba-tiba berbunyi membuat Vina tersenyum, Ian yang melihat ekspresi Vina bisa menduga siapa yang datang bertamu.


"Apa itu tamu yang kamu bilang Vin?" tanya Gladi.


"Iya. Karena tamunya sudah datang aku akan menyambutnya" sahut Vina yang langsung berjalan ke arah pintu dan membukanya.


Ian dan Andreas mengikuti Vina yang berjalan membuka pintu, keduanya yang melihat Rengga berdiri tepat di depan Vina secara bersamaan menyunggingkan bibir masing-masing.


"Ada tamu istimewa, kira-kira apa yang membuat tuan Rengga datang kemari" ucap Vina sambil menatap Rengga.


"Langsung ke intinya saja, aku ingin putra ku" sahut Rengga.


"Kamu pikir kamu siapa? ingin mengambil anaknya Vina" ucap Ian yang langsung berjalan, berdiri di samping Vina.


"Aku Papanya" sahut Rengga santai.

__ADS_1


"Papa apanya, orang seperti kamu sampai kapanpun tidak cocok jadi orang tua Raka" ucap Andreas.


"Kalian berdua lebih baik diam, aku tidak ingin menghabiskan suara untuk berdebat dengan pria tidak berguna seperti kalian" sahut Rengga.


"Apa maksudmu" Ian yang terpancing emosi langsung pasang badan sambil menatap Rengga tajam.


"Sudah kalian berdua masuk saja" sahut Vina sambil menepuk pundak Ian.


Andreas dan Ian mengepalkan tangannya sambil berjalan masuk ke dalam, walau keduanya berat ingin meninggalkan Vina berdua dengan Rengga mereka tidak memiliki pilihan selain menuruti Vina.


"Kamu benar-benar tidak tahu malu ya" ucap Vina sambil tersenyum.


"Apa maksudmu?" tanya Rengga.


"Bukannya aku kemarin sudah mengatakannya sampai kapanpun aku tidak akan memberikan anak ku padamu, dan sekarang kamu masih berani datang memintanya lagi" sahut Vina.


"Kamu tidak berhak berkata seperti itu, aku ayah biologisnya" ucap Rengga santai.


"Aku tahu itu, tapi apa kamu masih lupa akte kelahirannya yang hanya ada nama ku. Apa kamu ingin aku membawanya ke jalur hukum biar lebih jelas" sahut Vina.


Rengga terdiam, kenapa dia bisa lupa tentang akte Raka andai setahun lalu dirinya sudah mengubah akte Raka, saat ini Vina pasti tidak bisa berkata apa-apa lagi pikirnya.


"Jadi bagaimana?" tanya Vina membuyarkan lamunan Rengga.


"Haaaaah, kamu menang. Aku memang tidak bisa mengambilnya dari mu tapi bukan berarti kamu bisa melarang ku bertemu dengannya" sahut Rengga.


"Sekarang silahkan pergi, aku tidak berniat mengizinkannya bertemu dengan mu saat ini" ucap Vina.


"Tunggu dulu, aku datang kesini ingin mengatakan sesuatu" sahut Rengga sambil menatap Vina.


Mengatakan apa, apa mungkin dia curiga kalau yang terjadi dengan perusahaannya ada sangkut pautnya dengan ku" dalam hati Vina.


"Aku ingin menikah dengan mu" ucap Rengga dengan suara keras.


"Apa!" teriak Ian dan Andreas serentak sambil


berjalan kembali ke arah Vina.


"Hahahaha, hahahahaha" Vina tertawa sangat keras sambil memegangi perutnya, perkataan Rengga benar-benar mengocok perutnya.


"Apa yang lucu?" tanya Rengga.


"Pulanglah, aku pikir otak mu pasti sedang bermasalah saat ini" sahut Vina sambil melangkah masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Vina yang tidak ingin mendengar lagi perkataan konyol Rengga langsung menutup pintunya, Vina berpikir otak Rengga pasti bermasalah karena tertekan semalam.


__ADS_2