
Hanya membutuhkan waktu sehari semalam data di komputer Kakek Rengga kembali pulih. Vina, Ian dan Andreas yang mengetahuinya dari Virus yang mereka tanam membuat ketiganya tersenyum.
"Vin bagaimana?" tanya Ian yang duduk di depan meja kerja Vina.
"Sesuai yang ku katakan kemarin, ini sudah saatnya memberi kejutan selanjutnya" sahut Vina sambil tersenyum.
"Apa yang harus kita lakukan kak?" tanya Andreas.
"Tentu saja mendatangi pak tua itu, sudah waktunya membuat perhitungan padanya" sahut Vina yang langsung beranjak dari tempat duduknya.
Vina yang di ikuti Ian dan Andreas dari belakang bergegas menuju tempat parkir, Mobilnya yang sudah siap langsung di bawanya menuju rumah Kakek Rengga dengan Andreas yang menjadi supirnya.
Andreas memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah Kakek Rengga, topeng yang di pakai mereka sebelumnya kembali di pakai untuk memberi kejutan Kakek Rengga.
Di dalam rumah seorang pelayan yang melihat tamu mencurigakan bergegas melapor, Kakek Rengga yang mendengar perkataan pelayannya bergegas menyambut tamu misteriusnya.
"Siapakah tamu misterius yang datang ke rumah ku ini" ucap Kakek Rengga yang berdiri di depan pintu.
"Apa seperti itu cara mu menyambut tamu" sahut Vina.
"Tentu saja tidak, kalau begitu silahkan masuk" ucap Kakek Rengga sambil berjalan masuk ke dalam rumahnya.
Vina yang di ikuti Ian dan Andreas di belakangnya bergegas masuk ke dalam rumah Kakek Rengga, tanpa menunggu di persilahkan duduk Vina langsung duduk di depan Kakek Rengga yang masih kebingungan menatapnya.
"Sekarang bisakah aku tahu siapa kamu?" tanya Kakek Rengga.
"Apa kamu yakin ingin mengetahui siapa aku, takutnya kamu akan terkejut hingga membuat mu terkena serangan jantung" sahut Vina.
"Heeeeeh, apa sampai sebegitunya" ucap Kakek Rengga sambil tersenyum.
"Baiklah, kalau begitu aku akan memberitahu mu siapa aku sebenarnya" sahut Vina yang langsung membuka topengnya.
"Kamu-kamu wanita itu" ucap Kakek Rengga tergagap gagap.
"Iya ini aku, aku datang ingin membuat perhitungan pada mu. Sebagai seorang ibu yang kamu pisahkan dari anaknya" sahut Vina yang langsung melotot menatap Kakek Rengga.
"Hahahahaha, Apa kamu pikir aku takut karena kedatangan mu, jika aku memberitahu Rengga dia pasti akan melakukan hal yang sama seperti waktu itu" ucap Kakek Rengga sambil bersiap mengambil ponselnya.
__ADS_1
"Apa kamu berpikir aku bodoh, atau aku yang berpikir kamu bodoh. Aku sengaja datang kemari karena menargetkan mu, jika aku ingin aku bisa mendatanginya sebelum mendatangimu" sahut Vina.
"Ternyata kamu memiliki persiapan, tapi apa kamu berpikir aku takut dengan persiapan mu itu" ucap Kakek Rengga santai sambil tersenyum.
"Tidak takut tidak masalah, tapi apa kamu yakin data perusahaan mu akan tetap aman. Oh aku lupa memberitahumu, data perusahaan mu pasti banyak peminatnya jika ku jual keluar apa kamu tahu apa yang akan terjadi" ancam Vina.
"Jadi kamu yang sudah meretasnya, Sialan aku akan memberitahu Rengga sekarang" sahut Kakek Rengga.
"Kalian berdua lakukan sekarang" ucap Vina memerintah Ian dan Andreas.
Tiiiit tiiiiit tiiiit...
Tanda alarm pertanda bahaya yang berbunyi keras membuat Kakek Rengga terdiam, ponsel yang di pegangnya langsung di taruhnya di atas meja.
"Kenapa tidak jadi menelpon cucumu itu" ucap Vina sambil menyunggingkan bibirnya.
"Katakan apa mau mu" sahut Kakek Rengga.
"Sebelum berbicara apa mau ku akan ku beritahu satu hal. Aku tahu kamu menginginkan saham dari keluarga Mahendra dan aku tidak ingin terlibat di dalamnya untuk sekarang" ucap Vina.
"Kembalikan anak ku dan teman ku, setelah itu aku tidak akan mengganggu mu lagi. Masalah urusan mu dan keluarga Mahendra atau apapun itu aku tidak akan ikut campur" ucap Vina santai.
"Apa hanya itu" sahut Kakek Rengga yang terlihat ragu.
"Terserah mau percaya atau tidak. Hemmmm, atau aku harus mendatangi keluarga Mahendra untuk menjelaskan semuanya" ucap Vina.
"Heeeeh, asal kamu berjanji tidak mencampuri urusan ku dan keluarga Mahendra akan ku kembalikan anak mu dan teman mu itu, sekarang pergilah. Jangan sampai Rengga mengetahuinya besok kamu bisa mengambil anak mu itu" sahut Kakek Rengga yang langsung berjalan pergi meninggalkan Vina.
"Hemmmm, ayo" ucap Vina sambil kembali memakai topengnya dan berjalan pergi ke arah mobilnya.
Sampai di dalam mobil Vina Ian dan Andreas langsung membuka topeng mereka, Ian menatap Vina dengan takjub dirinya tidak menyangka Kakek Rengga menuruti yang di katakan Vina.
"Aku tidak menyangka pak tua itu takut, apa menurut kak Vina dia benar-benar akan memberikan Raka bagaimana jika itu jebakan" ucap Andreas.
"Jika yang di katakan itu jebakan dia tidak akan bilang jangan sampai Rengga mengetahuinya" sahut Vina santai sambil menyandarkan tubuhnya.
"Heeeeh, sulit di percaya pria tua yang begitu berambisi takut dengan ancaman kita" ucap Ian.
__ADS_1
"Dia tidak takut, tapi dia berpikir sedikit lebih bijak. Kalian seharusnya tahu saham yang di milikinya di perusahaan Cafanza kalah banyak dengan milik Rengga, jika dia berhasil mendapatkan saham dari keluarga Mahendra sahamnya akan menjadi berlipak ganda dan itu bisa mengalahkan saham yang di pegang Rengga saat ini" sahut Vina.
"Oh kak Vina memang terbaik, aku tidak kepikiran sampai kesitu" ucap Andreas.
"Heeeeeh, terkadang berawal dari tekad kita bisa mengerti segalanya" sahut Vina.
Di dalam rumah Kakek Rengga terlihat sangat gelisah, kedatangan Vina membuat kaki dan tangannya gemetar hebat.
"Dia bisa sampai seperti sekarang pasti memiliki pendukung, aku masih tidak tahu siapa di belakangnya dan ancamannya sudah pasti bukan sekedar ancaman" ucap Kakek Rengga.
"Hanya anak haram Rengga untuk apa aku pedulikan, aku akan memberikannya jika itu bisa membuat Rengga aman bertunangan dengan Frieda" sambung Kakek Rengga yang terus bolak balik kebingungan.
Kakek Rengga mengambil ponselnya yang di taruhnya di meja, tanpa menunggu lebih lama Kakek Rengga bergegas menelpon Rengga yang pasti masih berada di kantornya.
"Hallo, kamu selalu saja mengganggu ku, sekarang kamu mau memberitahu apa lagi" ucap Rengga di telepon.
"Heeeh, ada apa dengan mu. Aku hanya ingin bilang aku merindukan cicit ku, bisakah aku membawanya ke rumah ku" sahut Kakek Rengga.
"Bawalah, kalau ingin membawanya bawa juga pengasuhnya anak itu masih tidak bisa dekat dengan sembarang orang" ucap Rengga yang langsung mematikan ponselnya.
"Heeeeh, itu memang tujuan ku, kamu membuat semua menjadi lebih mudah" sahut Kakek Rengga sambil tersenyum.
Kakek Rengga yang tidak ingin membuang waktu langsung menuju rumah Rengga.
Sampai di sana dilihatnya Raka sedang bermain bersama pengasuhnya dengan sangat gembira.
"Kemarilah nak" ucap Kakek Rengga yang langsung duduk di samping Raka.
Raka yang dari awal takut melihat Kakek Rengga bergegas bersembunyi di belakang Gladi, Raka menutup matanya seakan benar-benar tidak ingin melihat Kakek buyutnya itu.
"Haaaah, sudahlah ikut dengan ku, kamu juga" ucap Kakek Rengga sambil menatap Gladi.
"Kemana?" tanya Gladi.
"Cepatlah, anggap saja ini kejutan untuk mu dan Raka" sahut Kakek Rengga yang langsung berjalan ke mobilnya.
Kejutan apa lagi, aku tidak percaya kakek Rengga memiliki niat baik sampai memberiku dan Raka kejutan" dalam hati Gladi Ragu.
__ADS_1