Jodoh Tuan Kejam

Jodoh Tuan Kejam
Bab 21


__ADS_3

Rengga Cafanza yang terkenal tegas dan kejam kini tertawa lepas sambil menggendong Raka, Vina yang melihat putranya terus tertawa saat Rengga menggendongnya membuatnya ikut merasa senang.


"Hahahaha, anak ku sangat tampan saat tertawa" ucap Rengga yang masih menggendong Raka.


"Apa kamu melihatnya, bahkan anak kecil saja bisa mengenali siapa Papanya" sambung Rengga sambil menatap Vina.


"Memangnya kenapa jika dia mengenali mu, dia anak ku dia lebih mengenal ku sebagai Mamanya dari pada kamu" sahut Vina.


"Cih, aku tetap ingin mengambil anak ku, kamu katakan saja berapa yang kamu butuhkan" ucap Rengga sambil mencium pipi putranya.


"Anak ku tidak ku jual, jangan berharap bisa mengambilnya dari ku" sahut Vina yang langsung berdiri mengambil kembali putranya dari gendongan Rengga.


"Kembalikan aku masih ingin menggendongnya" ucap Rengga sambil berusaha mengambil kembali putranya dari gendongan Vina.


"Sudah ku bilang dia anak ku, karena kamu bersikeras ingin mengambilnya dari ku maka jangan salahkan aku kalau kamu tidak akan bisa menemuinya" sahut Vina yang langsung berjalan ke arah kamar Gladi.


Sampai di kamar Gladi Vina menaruh putranya di samping Gladi lalu kembali keluar, Vina berjalan mendekati Rengga sambil memegang selembar kertas di tangannya.


"Buka matamu dengan lebar" ucap Vina sambil memberikan selembar kertas di tangannya ke Rengga.


Rengga mengambil kertas yang di berikan Vina, Rengga membaca isi yang ada di kertas itu sambil menatap Vina.


"Itu akte kelahiran Raka, apa kamu melihatnya dengan jelas Raka itu anak ku. Di aktenya hanya ada nama ku sebagai ibu tunggalnya" ucap Vina.


"Apa kamu berpikir selembar kertas bisa mengalahkan keinginan ku yang ingin mengambil putra ku" sahut Rengga sambil menatap Vina dengan serius.


"Selembar kertas memang tidak bisa mengalahkan keinginan mu, tapi aku tidak akan segan mengambil jalur hukum untuk memenangkannya" ucap Vina sambil tersenyum.


"Sekarang pergilah, karena kamu selalu ingin mengambilnya dari ku mulai saat ini aku tidak akan mengizinkan mu melihatnya lagi" sambung Vina sambil menunjuk pintu rumahnya.

__ADS_1


"Aku tidak akan menyerah, kamu tunggu saja apa yang akan ku lakukan untuk mendapatkannya" ucap Rengga yang langsung berjalan keluar rumah Vina sambil mengepalkan tangannya.


Rengga yang merasa sangat kesal langsung kembali ke rumahnya, Rengga meminta Ian segera ke rumahnya dalam waktu setengah jam, jika telat bersiaplah untuk menanggung konsekuensinya ucap Rengga di telepon.


Ian bergegas pergi ke rumah Rengga, Ian tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi karena Rengga tidak biasanya memanggilnya dengan nada tinggi seperti itu.


"Ada apa Tuan Rengga" ucap Ian yang langsung masuk rumah Rengga.


"Aku ingin kamu memberitahu ku sesuatu" sahut Rengga dengan wajah tegangnya.


"Katakan Tuan" ucap Ian.


"Kalau aku tidak sengaja memiliki anak dari seorang wanita apa aku bisa mengambil anak itu?" tanya Rengga.


"Kalau dari kekuasaan Tuan tentu saja bisa, selagi tidak di bawa ke jalur hukum" ucap Ian menjawab pertanyaan Rengga dengan heran.


"Apa maksud mu?" tanya Rengga sambil menatap Ian dengan serius.


"Jadi benar-benar tidak ada cara agar aku mendapatkan anak itu" ucap Rengga.


"Hanya ada satu cara Tuan" sahut Ian.


"Benarkah, cepat katakan" ucap Rengga.


"Satu-satunya cara hanya dengan menikahi ibu dari anak itu" sahut Ian dengan suara pelan, Ian tahu Rengga tidak mungkin setuju dengan yang di katakannya.


"Mungkin ada benarnya perkataan mu" ucap Rengga yang membuat Ian terkejut mendengarnya.


"Setelah menikahinya aku akan mengganti Akte kelahirannya, dengan begitu wanita itu tidak akan bisa melakukan apapun" sambung Rengga yang langsung tersenyum.

__ADS_1


"Jadi Tuan akan menikah, siapa wanita itu?" tanya Ian.


"Nanti aku akan memberitahukannya pada mu, sekerang kembalilah aku puas dengan jawaban mu" sahut Rengga puas.


"Baik kalau begitu aku pergi dulu" ucap Ian yang langsung berjalan pergi.


Rengga terus tersenyum sambil memikirkan apa yang akan dilakukannya, Rengga berniat menikahi Vina hanya untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.


"Hahahaha, sudah ku bilang pasti ada cara untuk mengambilnya dari mu" ucap Rengga sambil tertawa sangat keras.


Ian yang pergi meninggalkan rumah Rengga hanya menggelengkan kepalanya, Ian sudah bisa menebak apa yang akan di lakukan Rengga dan Ian merasa kasihan dengan wanita yang akan pura-pura di nikahi oleh Rengga.


Beberapa hari berlalu dengan tenang, Vina merasa bersyukur akhirnya Rengga menyerah untuk mendapatkan anaknya.


"Vin" panggil Gladi yang melihat Vina melamun menatap langit-langit rumahnya.


"Eh, kenapa Gladi" sahut Vina yang langsung tersadar.


"Kamu kenapa?" tanya Gladi.


"Haaaaaah, tidak apa-apa, aku merasa sedikit tenang akhirnya dia menyerah juga" sahut Vina.


Tok tok tok, tok tok tok...


Suara pintu di ketuk memotong pembicaraan Vina dan Gladi, Gladi bergegas berjalan ke arah pintu dan membukannya.


"Kamu lagi" ucap Gladi dengan berteriak.


"Siapa Gladi?" tanya Vina yang langsung menghampiri Gladi.

__ADS_1


"Aku kesini ingin melamarmu" ucap Rengga sambil menatap Vina.


"Apa!" sahut Vina dan Gladi serentak merasa terkejut.


__ADS_2