Jodoh Tuan Kejam

Jodoh Tuan Kejam
Bab 69


__ADS_3

Ian yang baru berjalan beberapa langkah kembali merasakan sakit di kepalanya, Caca pelayan tuan Yovan yang belum beranjak dari tempatnya merasa kaget melihat Ian yang kembali memegangi kepalanya.


"Tuan" teriak Caca yang langsung menghampiri Ian.


Caca kembali membawa Ian duduk di sofa, dengan penuh khawatir Caca bergegas menelpon nomor tuan Yovan berharap tuan Yovan bisa kembali untuk melihat keadaan Ian.


"Maaf tuan, aku minta maaf mengganggu. Tuan Ian datang kemari sekarang tidak sadarkan diri" ucap Caca.


"Ian, apa dia sakit?" tanya tuan Yovan di telepon.


"Sepertinya sakitnya parah tuan" sahut Caca.


"Aku akan mengirim dokter ke sana, kamu tolong jaga dia baik-baik. Jika sudah sembuh kabari aku lagi" ucap tuan Yovan sebelum mematikan teleponnya.


Haaaaah, aku kira setelah mendapat kabar tuan Yovan akan kembali. Tapi karena tuan Yovan mempercayakan padaku aku tidak boleh mengecewakannya" dalam hati Caca sambil memegangi kepala Ian yang tidak sadarkan diri.


Di tempat berbeda Andreas yang sudah membulatkan tekad melanjutkan kuliahnya bergegas pergi ke Singapura, di bandara Vina yang mengantar kepergian Andreas melambaikan tangannya sambil tersenyum, Andreas membalas senyuman Vina sebelum akhirnya tidak lagi terlihat oleh Vina.


"Semoga, masa depanmu bisa berubah" ucap Vina sambil berbalik pergi.


Vina yang kembali ke rumah langsung memarkirkan mobilnya, di tatapnya rumah Ian dan Andreas yang sama-sama kosong. Andreas telah pergi demi mengejar masa depannya, sedangkan Ian yang pergi entah kemana membuat Vina berharap tidak terjadi sesuatu padanya.


"Tante Vina, paman Andreas kenapa pergi?" tanya Mia yang berdiri di depan pintu.


"Paman Andreas masih harus melanjutkan kuliahnya, Mia masih ada tante Vina dan tante Gladi yang menemani, Mia tidak boleh bersedih ya" sahut Vina sambil mengelus kepala anak perempuan di depannya itu.


"Mia tidak bersedih" ucapnya lagi sambil berusaha tersenyum.


Vina tahu Mia menganggap Andreas benar-benar sebagai pamannya, karena Andreas yang membawanya keluar dari panti asuhan Mia akhirnya bisa menikmati kehidupan barunya.


"Ayo masuk" ucap Vina sambil menggandeng tangan Mia masuk ke dalam rumah.


"Bagaimana Vin?" tanya Gladi yang duduk menemani Raka bermain.


"Bagaimana apanya?" tanya Vina balik sambil duduk di samping Gladi.


"Ian tidak tahu pergi kemana dan Andreas juga sudah pergi, sekarang kamu bagaimana? sudah tidak ada lagi pria tampan yang menemanimu" sahut Gladi.

__ADS_1


"Kamu ini bicara apa sih, pria tampan banyak di luar sana. Aku saja yang tidak mau" ucap Vina sambil menjulurkan lidahnya mengolok Gladi.


"Hemmm, bagaimana hubunganmu dengan Aldo?" tanya Vina balik.


"Aku sudah tidak berkomunikasi dengannya, mungkin di luar sana dia sudah memiliki kekasih. Apalagi dia pemilik Bar wanitanya pasti banyak" sahut Gladi.


"Cieee, cemburu ya kalau Aldo punya kekasih lain" ucap Vina sambil menyenggol pundak Gladi.


"Cemburu untuk apa, aku sudah pernah merasakan miliknya jadi santai saja" sahut Gladi tanpa menoleh ke arah Vina.


"Hahahaha, iya iya. Yang bermain sampai berjam-jam pasti sudah puas" uca Vina yang langsung berjalan ke kamarnya sambil tertawa.


Vina membaringkan tubuhnya di tempat tidur sambil menatap langit-langit kamarnya. Vina merasa semua sudah di milikinya saat ini tapi kenapa dirinya masih seperti belum puas, sebenarnya apa yang membuatnya belum puas itu dan apa alasannya.


Ceting...


Notiv email berbunyi di ponselnya, Vina yang penasaran siapa yang mengiriminya email bergegas mengambil ponselnya dan membukanya.


Vina tiba-tiba tersenyum sendiri setelah membaca isi email yang di kirim padanya, baru saja dirinya memutuskan tidak lagi ingin berhubungan dengan Rengga sekarang malah mendapat undangan perayaan ulang tahun perusahan Cafanza.


Vina menatap ke arah tanggal yang tertera di bagian bawah, masih ada waktu 2 hari lagi sebelum perayaan pesta ulang tahun perusahaan Rengga, dirinya harus bisa menyiapkan segalanya dengan sempurna terutama apa yang menjadi kadonya.


____ ____


Undangan yang di kirim Rengga bukan hanya untuk Vina, keluarga besar Mahendra yang hampir menjadi anggota keluarga Cafanza juga mendapat undangan yang sama.


"Setelah mempermalukan keluarga Mahendra Rengga masih memiliki wajah untuk mengundang kita" ucap tuan Satra yang terlihat kesal mendapat undangan dari Rengga.


"Lalu bagaimana ayah?" tanya Frieda.


"Kalau kita tidak datang bukannya sama saja kita tidak menghargainya, kakak" sahut Glio adik bungsu tuan Satra.


Glio Mahendra, adik bungsu tuan Satra berumur 30 tahun. Perawakan bagus dengan wajah awet muda membuatnya menjadi idola gadis di bawah umurnya.


"Tidak ada pilihan lain salah satu dari kita terpaksa datang" ucap tuan Satra.


"Apa maksud ayah salah satu dari kita, aku tidak mau" sahut Frieda.

__ADS_1


"Bukan kamu, Glio yang akan datang mewakili keluarga Mahendra" ucap tuan Satra sambil mengelus kepala putrinya.


"Di sana Vina presdir perusahaan V.A pasti datang, aku mau kamu Glio mencari kesempatan untuk mendekatinya" sambung tuan Satra.


"Vina, Kenapa sebelumnya aku tidak pernah mendengar kakak membahas nama itu" sahut Glio.


"Dia wanita yang menyelamatkan Frieda termasuk penyelamat perusahaan kita, tanpa dia mungkin kita yang sekarang sudah kehilangan 75% saham perusahaan kita" ucap tuan Satra.


"Jadi tujuan ku datang ke sana hanya untuk mendekatinya, jujur saja aku mendekati wanita bukan sembarang wanita apa lagi jika wanita itu tidak sesuai seleraku" sahut Glio.


"Jangan berkata begitu, saat kamu melihatnya nanti aku yakin semua wanita yang pernah kamu pacari akan kalah jauh darinya" ucap tuan Satra sambil tersenyum.


"Kalau Kakak bicara seperti itu aku menjadi semakin penasaran, semoga saja yang kakak katakan sama seperti kenyataannya" sahut Glio.


"Kamu buktikan saja sendiri, kamu pasti tidak akan menyesal" ucap tuan Satra.


Jika adiknya bisa berhasil mendekati Vina apalagi sampai menjadi suaminya perusahaan Mahendra tidak perlu lagi takut dengan perusahaan manapun, bahkan perusahaan Cafanza yang terbesar bukan lagi saingan perusahaan Mahendra kedepannya.


Menarik, Kakak ingin memanfaatkan ku untuk perusahaannya, apa dia pikir aku akan membantu perusahaannya hanya karena dia kakak ku" dalam hati Glio sambil menyunggingkan bibirnya.


"Tapi wanita bernama Vina itu apa benar seperti yang di katakan Kakak, atau dia sengaja ingin aku menjadi batu lompatannya saja. Hemmmmmm, jika nanti yang ku temui tidak sesuai dengan keinginan ku jangan salahkan aku Kakak" ucap Glio dengan suara pelan.


Di tempat lainnya Vina sibuk memilih gaun mana yang akan di pakainya, dirinya tidak ingin sebagai orang besar perusahaan V.A malah membuatnya kehilangan namanya di depan tamu undangan Rengga yang lainnya.


"Vin, apa yang kamu lakukan?" tanya Gladi yang melihat hampir semua gaun Vina berada di atas kasur.


"Aku mencari gaun yang cocok untukku" sahut Vina.


"Semua gaun itu bukannya cocok untukmu" ucap Gladi sambil menatap Vina.


"Aku mau menghadiri pesta ulang tahun perusahaan Cafanza, sebagai presdir perusahaan V.A jika gaunku tidak sesuai itu akan mempermalukan nama perusahaan ku" sahut Vina.


"Ohhhh, perusahaan yang malu atau karena kamu ingin terlihat berbeda di depan Rengga" ucap Gladi sambil menutup mulutnya.


"Tentu saja untuk, tunggu apa yang kamu bilang tadi" sahut Vina yang baru menyadari Gladi sedang mengejeknya.


Gladi bergegas pergi meninggalkan Vina sambil terus tertawa, Gladi merasa sangat senang melihat wajah Vina yang memerah barusan.

__ADS_1


__ADS_2