
Vina yang masuk ke dalam kamarnya langsung membaringkan tubuhnya, di sentuhnya bibirnya yang tidak sengaja berciuman dengan bibir Rengga tadi.
"Sial, bagaimana bisa itu terjadi" ucap Vina sambil mengusap bibirnya.
Masih belum menghilang rasa bibirnya yang bersentuhan dengan bibir Rengga, Vina tiba-tiba teringat jika dirinya lupa memakai kalung pemberian ayah angkatnya. Vina yang tidak menyadari kalungnya di pasang penyadap suara langsung mengambilnya dan kembali memakainya.
"Haaaaah, ayo Vina tidur ini sudah malam" ucap Vina sambil menepuk kedua pipinya.
Ting tong ting tong...
Suara bell rumah yang tiba-tiba berbunyi membuat Vina bergegas bangun dari tempat tidurnya. Vina menatap jam didinding yang sudah menunjukan pukul 22:45, Vina menebak-nebak di dalam hati kira-kira siapa yang bertamu di tengah malam seperti sekarang ini.
Kreeeeeak...
Vina yang membuka pintu langsung menatap 2 pria di depannya, Ian dan Andreas yang berdiri mematung sambil menatapnya membuatnya kebingungan sendiri.
"Ada apa? kapan kalian pulang?" tanya Vina berturut-turut.
"Baru saja. Vin jawab jujur jika Rengga ingin mengambil hati mu apa kamu akan memberikannya?" tanya Ian sambil menatap Vina serius.
"Ian apa yang kamu bicarakan" Vina merasa tidak mengerti kenapa Ian bertanya seperti itu padanya.
"Tidak" sahut Ian yang langsung terdiam.
"Kak Vina, kita sudah diam selama beberapa waktu bukannya sudah seharusnya kita melakukan penyerangan lagi untuk Rengga" ucap Andreas.
"Tunggu dulu, biarkan situasinya menjadi lebih tenang" sahut Vina.
Ian dan Andreas yang sudah mendapat jawaban langsung memutar badan dan berjalan pergi, keduanya berpikir benar yang di katakan ayah angkat mereka Vina sudah tidak berniat lagi membalas dendam ke Rengga.
"Sebenarnya mereka kenapa" ucap Vina sambil menatap Ian dan Andreas yang berjalan pergi meninggalkannya.
Ian dan Andreas yang kembali ke rumah masing-masing mulai berpikir keras, keduanya sama-sama tidak rela jika Vina akhirnya bersama Rengga dan melupakan pembalasan yang seharusnya di terima oleh Rengga.
Bruuuuuuuuaaaaaaak...
Ian yang merasa sangat kesal langsung membanting pintunya.
__ADS_1
"Rengga Rengga Rengga, kenapa dia seperti benalu yang ingin berada di Vina" ucap Ian.
"Tidak, aku tidak akan membiarkan itu terjadi" sambung Ian yang berbicara sendiri.
Berbeda dengan Ian yang melampiaskan kekesalannya dengan membanting pintu, Andreas yang juga merasa kesal bergegas berlari ke ke kamarnya dan langsung duduk di depan laptopnya.
Tanpa banyak berpikir Andreas mencari semua data tentang keperibadian Rengga yang tidak di ketahui publik. Belum sampai setengah jam semua yang berkaitan tentang Rengga berada di genggamannya.
"Heeeeeeh, pantas saja tidak ada yang bisa mengetahuinya, ternyata semua berawal dari situ" ucap Andreas yang tiba-tiba langsung tersenyum.
Andreas merasa sangat senang bisa mendapat informasi penting tentang bagaimana Rengga dan Anggi bisa bersama, ternyata semua berawal tidak jauh seperti Vina yang di hamili Rengga dan akhirnya memiliki seseorang anak.
Sayangnya keluarga Anggi dan kakek Rengga yang mengetahui kondisi cucu mereka tidak sempurna memutuskan menyembunyikan dan mengatakan pada semua jika cucunya telah meninggal dunia, bahkan keluarga Anggi yang sudah membuat kesepakatan dengan kakek Rengga memutuskan langsung menitipkannya di panti asuhan.
"Benar-benar malang nasib mu nak, aku mengira keluarga ibumu adalah orang baik tapi tidak masalah, semuanya akan kita mulai dari awal" ucap Andreas sambil tersenyum.
Pergerakan cepat dari Andreas tidak membutuhkan waktu lama untuk menemukan anak Rengga yang berada di salah satu panti asuhan, Andreas yang tidak ingin ada sedikitpun kesalahan langsung mendatangi panti asuhan mencari Mia anak berumur 5 tahun yang tidak bisa melihat.
"Apa tuan yakin, tuan keluarganya?" tanya penjaga panti asuhan.
"Bukannya aku tidak percaya, hanya saja selama ini tidak ada yang menjenguk anak ini aku mengira dia sudah tidak memiliki keluarga" ucap ibu panti itu yang merasa kasihan melihat anak Rengga.
"Aku sebagai pamannya berterima kasih sebesar-besarnya kepada ibu panti dan semua yang menjaganya, kebaikan kalian tidak akan pernah kami lupakan" sahut Andreas.
"Kami senang bisa melihat Mia bertemu keluarganya lagi, kalau begitu tunggu sebentar" ucap ibu panti itu yang langsung masuk ke dalam.
"Paman, apa benar paman ku" suara anak kecil mengejutkan Andreas yang melihat halaman panti asuhan.
Andreas yang mendengar suara bergegas memutar badannya, di tatapnya anak perempuan yang sedang memegang tongkat berdiri tepat di belakangnya.
"Kamu Mia?"tanya Andreas sambil berjongkok.
"Iya, aku Mia" sahut anak perempuan itu.
"Nama paman Andreas, suatu hari nanti paman akan membawa mu bertemu papa mu" ucap Andreas sambil mengelus kepala Mia.
Andreas yang sudah menemani Mia berpamitan dengan temannya bergegas pergi, Andreas merasa sangat sedih anak kecil yang tidak bersalah seperti Mia harus menjalani kehidupan yang sangat menyedihkan.
__ADS_1
"Paman kita mau ke mana?" tanya Mia, karena tidak pernah berpergian jauh dari panti asuhan membuat Mia menjadi sedikit gugup.
"Mia percayakan paman bukan orang jahat" sahut Andreas.
"Iya Mia percaya" ucap anak perempuan itu menganggukkan kepalanya.
Andreas yang melihat anak Rengga begitu mempercayainya membuatnya tersenyum puas.
"Kita sudah sampai" ucap Andreas yang memarkir mobil tepat di depan rumah Vina.
"Ini rumah paman?" tanya Mia yang berjalan sambil memajukan tongkatnya.
"Bukan, tapi rumah paman di dekat sini nanti Mia paman ajak ke rumah paman" sahut Andreas.
Suara mobil yang berhenti di depan rumahnya membuat Vina bergegas membuka pintu, Vina yang berdiri di depan pintu menatap Andreas dengan penuh heran.
"Kamu punya anak kenapa tidak memberitahu ku" ucap Vina.
"Ceritanya panjang kak, ayo masuk dulu" sahut Andreas.
"Tunggu, apa kamu tidak berencana memperkenalkan anak mu pada ku" ucap Ian yang berdiri di belakang Andreas.
"Sudah kita masuk saja dulu" sahut Andreas sambil menggandeng Mia masuk ke dalam rumah Vina.
Andreas yang sudah berada di dalam rumah meminta Mia duduk di sofa, Andreas yang sudah tidak sabar ingin menjelaskan ke Vina langsung menarik tangannya menjauh sedikit dari Mia.
"Apa!" Vina yang mendengar penjelasan Andreas merasa sangat terkejut.
Vina benar-benar tidak menyangka Rengga adalah pria seperti itu, ternyata bukan hanya dirinya wanita pertama yang memiliki anak darinya.
"Aku kasihan melihatnya, pria tua keluarga Cafanza dan keluarga dari ibunya tidak ingin menerimanya itu kenapa selama ini dia berada di panti asuhan" ucap Andreas.
"Malang sekali nasibnya" sahut Ian sambil menggelengkan kepalanya.
"Karena dia dan Raka masih sedarah biarkan saja aku yang merawatnya, kali ini akan ku pastikan aku tidak akan termakan perkataannya lagi" ucap Vina.
Heeeeh, bagus memang itu yang ku mau" dalam hati Andreas.
__ADS_1