Jodoh Tuan Kejam

Jodoh Tuan Kejam
Bab 89


__ADS_3

Rengga memeluk Vina dari belakang, Dirinya tidak ingin Vina terlalu tegang, tidak hanya itu Rengga bahkan meniup telinga Vina agar tidak lagi memikirkan hal aneh karena ini adalah bulan madu mereka.


"Ayolah tidak perlu parno, bagaimana kalau kita bersenang-senang saja, ini bulan madu kita seharusnya ini yang akan menjadi kenangan terindah kita," bisik Rengga.


Haaaaaah. Vina menghela nafas panjang.


Benar juga apa yang dikatakan Rengga, aku hanya tidak perlu menghiraukannya kalau lelah siapapun itu pasti menyerah sendiri" dalam hati Vina yang baru saja menghela nafas.


"Kamu mau bersenang-senang seperti apa? Kita pergi jalan-jalan atau bersenang-senang di sini saja" sahut Vina membalikkan badannya dan mengedipkan matanya nakal ke arah Rengga.


"Oh kucing ini tidak akan menolak ikan, kalau begitu kita bersenang-senang di sini saja dulu" ucap Rengga yang langsung mendorong Vina ke kasur.


"Aku tidak bermaksud, Ayo kita keluar saja ini masih siang" sahut Vina berusaha kembali berdiri.


Rengga tak menghiraukan perkataan Vina dan langsung membuka bajunya memperlihatkan roti sobeknya. Vina yang melihat perut Six pack Rengga menelan ludah, walau itu bukan pertama kalinya tetap saja Vina masih terkagum-kagum.


Melihat Vina yang hanya diam menatap perutnya membuat Rengga tersenyum, Rengga bergegas menarik tangan Vina untuk meraba perutnya, melihat Vina menikmati memegang perutnya Rengga langsung menarik tangan Vina memasukannya ke dalam celananya.


"Rengga" teriak Vina yang kaget dengan apa yang baru saja disentuhnya.


"Kenapa berteriak, kamu bukan seperti belum pernah menyentuhnya," sahut Rengga nakal.


Vina yang enggan berdebat bergegas bangun dari kasur dan berjalan keluar.


"Sayang sekali, Ikan kecil lolos dari mulut kucing" ucap Rengga sambil tersenyum sendiri dan berjalan pergi mengikuti Vina.


Tok tok tok.


Vina yang sampai di kamar Gladi bergegas mengetuknya, demi keselamatan bersama untuk sementara lebih baik dirinya berada di dalam kamar Gladi.


"Eh Vin, kenapa datang lagi" ucap Gladi sambil mengucek matanya.


"Maksudnya?" tanya Vina kebingungan.


"Iya setengah jam yang lalu kamu ngetuk pintu, aku yang niduri Raka menyuruhmu masuk saja pintunya tidak ku kunci. Hem, giliran ditunggu tidak masuk-masuk juga aku jadi ketiduran" ucap Gladi.


Aku sama sekali tidak keluar kamar," dalam hati Vina, ingin sekali dirinya memberitahu Gladi yang sebenarnya.

__ADS_1


"Aku mau cari Rengga dulu sebentar" ucap Vina yang bergegas berjalan meninggalkan kamar Gladi.


Baru beberapa langkah dari kamar Gladi Vina tidak sengaja mendengar pembicaraan Aldo dan Rengga, keduanya membahas permasalahan serius yang masih menjadi tanda tanya.


"Iya, aku kira kamu atau Gladi yang mengetuk pintu tadi" ucap Aldo.


"Seharusnya kamu berpikir, untuk apa aku mengetuk kamarmu kalau aku mau aku tinggal mendobraknya atau menggedornya sekuat tenagaku," sahut Rengga.


"Jadi siapa yang mengetuk, apa mungkin." Aldo tidak melanjutkan bicaranya.


"Gladi juga diketuk kamarnya setengah jam lalu" sahut Vina yang berjalan masuk ke kamar Aldo.


"Haaaah, yang benar" Aldo menatap Vina tidak percaya.


"Iya, dia mengira aku yang mengetuk pintunya tapi aku tidak memberitahu yang sebenarnya padanya," sahut Vina.


"Apa lebih baik kita pulang saja, sepertinya Pak tua itu merencanakan sesuatu" ucap Aldo.


"Tidak perlu pulang kita baru saja sampai, yang membuatku heran kenapa dia menerror kita bukannya langsung mengurus orang dalam untuk memberontak" sahut Rengga.


"Aku curiga terror ini sengaja untuk mengalihkan kita agar kita ragu mau pulang atau tidak, dan itu sudah jelas bukan dilakukan oleh Kakekmu pasti ada yang membantunya," ucap Vina sambil menatap Rengga.


"Aku punya rencana tapi ini harus mengorbankanmu" sahut Rengga.


"Heeeeh, tidak masalah bagiku" ucap Aldo sambil menganggukkan kepalanya.


Ketiganya membentuk lingkaran untuk berbisik agar tidak di dengar siapapun yang sedang menerror mereka.


"Aldo kamu kembali duluan untuk memeriksa Kakekku apa dia ada pergerakan, ada atau tidak ada pergerakan laporkan semua padaku" ucap Rengga pelan.


"Tapi kamu tidak bisa langsung pergi, kamu harus menyamar menjadi aku" sambung Rengga.


"Aku mengerti" sahut Aldo.


Setelah menjelaskan rencana dan tugas masing-masing Aldo dan Rengga bertukar baju, Aldo yang sudah berusaha semirip mungkin dengan Rengga bergegas keluar bersama kembali menuju kamarnya.


"Aku kembali sebentar untuk memastikan Pak tua itu tidak mencari masalah denganmu, jaga diri baik-baik" ucap suara rekaman Rengga sebelum Aldo berjalan keluar kamar Vina.

__ADS_1


"Hati-hati sayang," sahut Vina dengan suara lantang agar didengar orang yang menerror mereka.


Brian yang sedari tadi memperhatikan Rengga dan Vina memasuki kamar tersenyum sendiri, suara Vina yang baru didengarnya membuat Brian berpikir rencananya pasti berhasil.


Untuk memastikan Rengga benar-benar kembali Brian mengikuti Aldo yang menyamar menjadi Rengga ke bandara, Vina yang dari awal ikut memperhitungkan rencana langsung ke kamar Gladi dan menjelaskan situasinya.


"Jadi yang di kamar Aldo itu Rengga" bisik Gladi.


Vina menganggukkan kepalanya dan menaruh satu jari ke bibirnya meminta Gladi untuk diam, Vina meminta Gladi merahasiakan itu dari Anak-anaknya.


"Tante Vina, Ah Mama," ucap Mia yang baru terbangun.


"Ya sayang, apa kamu masih capek Mama mau cari makan di luar," sahut Vina sambil mengelus kepala Mia.


"Mama Aka au ikut" ucap Raka yang baru bangun tidur.


"Iya iya, tapi kita hanya pergi bersama Tante Gladi Ayah lagi ada urusan jadi pulang duluan, kalau Om Aldo lagi sibuk mengurus kerjaannya di dalam kamarnya kita tidak boleh mengganggunya," sahut Vina.


"Emm,"


Vina bisa melihat wajah kecewa Mia, dia sangat ingin Papanya menemaninya sebenarnya, tapi Mia tidak berani berbicara apapun karena berusaha mengerti Papanya.


Selesai bersiap Vina menggendong Raka berjalan keluar kamar diikuti Gladi yang menggandeng tangan Mia, Brian yang sudah kembali dari mengikuti Rengga bergegas mengikuti Vina secara diam-diam.


Melihat Vina berjalan memasuki restoran hanya bersama Gladi dan Anaknya membuat Brin tersenyum puas, sudah saatnya memberi kabar ke Kakek Rengga kalau rencana berjalan dengan mulus.


"Benar, aku melihatnya sendiri Rengga sedang dalam perjalanan kembali, anak buahnya juga sepertinya sedang sibuk saat ini Vina pergi makan dengan Anak-anaknya" ucap Brian memberi laporan ke Kekek Rengga.


"Benarkah? aku tidak menyangka berjalan semulus itu," sahut Kakek Rengga.


"Kalau begitu lanjutkan saja rencana sebelumnya, kamu harus bisa tidur dengan Vina bagaimanapun caranya" sambung Kakek Rengga.


"Tuan tenang saja," ucap Brian sambil tersenyum.


Brian yang baru mematikan ponselnya langsung berjalan memasuki restoran, Brian sengaja melewati Vinw dan berpura-pura bertemu tanpa diduga.


"Vina" panggil Brian.

__ADS_1


Mendengar namanya dipanggil Vina menoleh ke arah Brian, tak banyak berpikir Vina langsung tersenyum menatap Brian seakan sudah mendapatkan titik terang.


__ADS_2