
Pesta pernikahan berlangsung meriah, seluruh tamu penting yang di undang Rengga dan Vina turut menghadiri. Tanpa ada yang menyadari dari dua sudut berbeda dua pasang mata menatap sinis kerah Rengga dan Vina.
"Seharusnya aku yang di sana" ucap Brian yang hanya bisa menatap sambil mengepalkan tangannya.
"Heeeeh, Bahagia diatas penderitaanku aku tidak berpikir itu akan bertahan lama" ucap Kakek Rengga dari sudut lainnya.
Pukul 22:00 pesta berakhir, para tamu undangan telah meninggalkan rumah Rengga. Kini di dalam rumah Rengga hanya tersisa Vina, Gladi, Mia dan Raka. Gladi yang tahu apa yang harus di lakukannya bergegas meminta Aldo mengantarnya pulang, tidak lupa Raka dan Mia di bawanya bersamanya.
"Kenapa tidak tinggal di sini saja?" tanya Vina.
"Tidak, aku kasihan dengan rumah kita yang tanpa penghuni" sahut Gladi sambil menutup mulutnya. Sudah jelas maksud dari ucapannya yang hanya tidak ingin mengganggu malam bahagia Vina dan Rengga.
"Kalau begitu kami pergi dulu. Da" ucap Aldo yang langsung menggandeng tangan Gladi.
Rumah Rengga benar-benar sepi sekarang, Vina bergegas menyibukkan diri bermain ponsel tanpa mempedulikan Rengga.
"Ehem" suara Rengga hanya di sambut senyum oleh Vina.
"Hei, aku sudah mengungkapkan perasaanku bahwa aku mencintamu. Bukannya sudah seharusnya kamu memberikan jawabannya" ucap Rengga sambil melilit rambut Vina yang terurai dengan jarinya.
"Ah itu" sahut Vina gugup.
"Itu apa?" tanya Rengga yang mendekatkan wajahnya ke wajah Vina.
"Aku aku, belum yakin dengan apa yang ku rasakan padamu" sahut Vina yang langsung menutup matanya. Wajahnya yang terlalu dekat dengan Rengga membuatnya malu sendiri.
"Kalau begitu aku akan membantumu" ucap Rengga yang semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Vina.
Rengga memberi jarak satu senti antara wajahnya dengan wajah Vina, dari jarak sedekat itu Rengga bisa merasakan hembusan nafas Vina yang tidak beraturan.
"Bagaimana sekarang" ucap Rengga.
"Bisakah kamu menjauh dulu" sahut Vina.
"Baiklah" ucap Rengga yang langsung duduk di samping Vina.
"Sekarang katakan" sambung Rengga.
"Aku juga" ucap Vina dengan suara pelan.
"Aku juga apa?" tanya Rengga lagi yang sengaja ingin mendengar langsung bahwa Vina juga mencintainya.
"Aku juga mencintaimu" sahut Vina sambil menutup mulutnya.
Rengga tersenyum menatap Vina, tanpa banyak bicara Rengga menarik tangan yang menutupi mulut Vina dan langsung menciumnya.
"Kamu"ucap Vina sambil mendorong Rengga.
Ciuman dadakan dari Rengga mengejutkan Vina, Vina yang baru mendorong Rengga baru ingat jika dirinya dan Rengga sudah menikah.
"Maaf" ucap Vina.
"Tidak apa, bibirmu terasa sangat manis" sahut Rengga sambil menjilati bibirnya.
__ADS_1
"Memalukan" ucap Vina.
"Kita suami istri itu tidak memalukan, tapi karena kamu malu aku bisa apa" sahut Rengga sambil berdiri.
Rengga bergegas menggendong Vina dan membawanya masuk ke kamarnya. Vina yang terkejut karena Rengga tiba-tiba menggendongnya hanya bisa menutup matanya, walau bukan yang pertama kali Vina masih merasa gugup.
"Kenapa masih menutup mata" ucap Rengga tepat ditelinga Vina.
Vina hanya diam tidak menjawab perkataan Rengga, dirinya pasrah jika Rengga menginginkannya sekarang.
"Bukannya tidak seru jika kamu hanya menutup mata" ucap Rengga lagi yang berbaring di samping Vina.
Setelah menunggu beberapa saat Vina yang tidak merasakan Rengga menyentuhnya bergegas membuka mata, Vina menatap Rengga yang berbaring tepat di sebelahnya sambil menutup matanya.
"Untung dia tertidur" ucap Vina yang menatap Rengga dari dekat.
"Siapa yang tertidur" sahut Rengga membuat Vina terkejut.
"Kamu tidak tidur?" tanya Vina yang kembali ke tempat semula.
"Mana mungkin aku tidur sebelum menikamati sesuatu" sahut Rengga sambil tersenyum.
Tanpa menunggu lama Rengga kembali melayangkan ciumannya, Rengga berpikir malam pengantinnya dengan Vina harus lebih berkesan.
"Aku ingin melakukannya" bisik Rengga.
"Emmmm, ya" sahut Vina.
Vina yang sudah menyetujui keinginan Rengga membuat Rengga tidak lagi menahan dirinya.
"Melakukannya setelah menikah lebih nikmat" ucap Rengga sambil mengatur nafasnya.
"He em" sahut Vina yang menutup matanya bersiap tertidur.
Pagi hari yang cerah membangunkan Rengga. Di tatapnya Vina yang masih tertidur di sampingnya lalu di ciumnya.
"Selamat pagi" ucap Rengga yang melihat Vina membuka matanya.
Vina menutup wajahnya dengan tangan, Vina merasa malu karena kelelahan dirinya langsung tertidur semalam.
"Kamu tidak ke kantor?" tanya Vina tanpa membuka matanya.
"Kamu sendiri?" tanya Rengga balik.
"Aku sudah pasti tidak ke kantor untuk beberapa hari, lagi pula ada Ian dan Andreas yang menggantikanku" sahut Vina.
"Oh aku juga sama, karyawanku banyak biar tidak datang setahun juga tidak masalah" ucap Rengga santai sambil menatap Vina.
"Sudah ah, aku mau mandi" ucap Vina yang langsung berjalan ke kamar mandi.
Vina yang baru selesai mandi bergegas memakai bajunya, dilihatnya sekilas Rengga yang masih bermalas-malasan di kasur sambil menggelengkan kepala.
"Vin" panggil Rengga.
__ADS_1
"Apa" sahut Vina yang melihat Rengga dari kaca di lemari tepat didepannya.
"Bagaimana jika kita berbulan madu, hitung-hitung untuk menebus kesalahanku di masa lalu" ucap Rengga yang langsung berjalan ke arah Vina dan memeluknya dari belakang.
"Sepertinya tidak perlu, aku juga sudah melupakan masalalu" sahut Vina tanpa melepas pelukan Rengga.
"Ayolah" ucap Rengga di telinga Vina.
"Memangnya mau kemana?" tanya Vina.
"Bagaimana kalau ke Paris" sahut Rengga sambil menatap Vina dari kaca.
"Haaaaah, terserah kamu saja tapi dengan satu syarat" ucap Vina yang tiba-tiba tersenyum.
"Apa syaratnya" sahut Rengga.
"Aku mau ngajak Gladi dan anak-anak" ucap Vina lagi.
"Kamu juga bisa ngajak Aldo" sambung Vina.
"Tapi" sahut Rengga keberatan.
"Ya sudah, kalau begitu tidak perlu berbulan madu" ucap Vina tersenyum puas.
"Kalau itu mau mu ya sudah" sahut Rengga.
"Yes" ucap Vina pelan.
"Aku juga akan ngajakin Aldo" sahut Rengga.
Huuuuu, aku kira tidak jadi" dalam hati Vina sambil memonyongkan bibirnya.
Setelah selesai merencanakan bulan madu Rengga dan Vina bergegas menemui Gladi, Keduanya ingin mengajak Gladi dan Aldo agar bisa menjadi lebih dekat, dan bukan hanya itu Rengga berpikir jika mengajak Gladi dan Aldo setidaknya mereka bisa menjaga Raka dan Mia.
"Apa! Yang benar. Itu bulan madu kalian loh kenapa mengajak kami" ucap Gladi yang kaget Vina mengajaknya ke paris.
"Ikut ya, lagi pula Aldo juga ikut" sahut Vina.
"Tapi Vin, aku tidak mau mengganggu" ucap Gladi lagi.
"Tidak ada tapi" sahut Vina lagi.
"Kalau kalian memaksa kami akan ikut" ucap Aldo yang berdiri di depan pintu sambil tersenyum ke arah Gladi.
"Apa-apaan sih" sahut Gladi sambil mencubit Aldo yang berdiri di sampingnya.
"Ini demi mereka dan kita juga" bisik Aldo.
"Jadi semua setuju ya" sahut Vina.
"Ya sudahlah" ucap Gladi pasrah.
Rengga yang melihat Vina membujuk Gladi hanya tersenyum, Rengga masih tidak menyangka wanita yang paling tidak di sukainya dulu sekarang menjadi istrinya.
__ADS_1
"Kalau begitu tunggu apa lagi" ucap Vina memberi kode ke Gladi.
"Paris kami datang" teriak Vina dan Gladi bersamaan.