
Semalaman membaca novel membuat Rengga mendapatkan berbagai macam cara untuk membuat Vina mencintainya, Rengga tersenyum sendiri sambil berpikir akankah usaha pertamanya berhasil atau malah sebaliknya mempermalukannya.
" Dia datang lagi, sepertinya dia sedang mengejar bu Vina" bisik karyawan Vina sambil memperhatikan Rengga yang berjalan ke arah ruangan Vina.
Rengga hanya tersenyum melihat karyawan Vina memperhatikannya, Rengga tidak peduli apa yang mereka katakan, demi Vina semua pasti akan di lakukannya walau harus menanggung malu.
Tok tok tok...
Rengga mengetuk pintu layaknya tamu, suara Vina dari dalam yang menyuruhnya masuk membuat Rengga bergegas masuk ke dalam.
"Kamu lagi" ucap Vina sambil memegangi kepalanya.
"Kali ini aku tidak membawa makanan hanya bunga ini yang ku bawa" sahut Rengga yang langsung memberikan seikat bunga untuk Vina.
"Apa lagi ini?" tanya Vina kebingungan.
"Aku ingin mengajakmu kesebuah tempat malam ini, ku harap kamu mau menerimanya" sahut Rengga.
"Ke mana? lalu untuk apa bunga ini?" tanya Vina lagi.
"Rahasia, nanti malam aku akan menjemputmu dan untuk bunga itu kamu pantas menerimanya karena kamu dan bunga itu sama cantiknya" sahut Rengga sambil berjalan pergi meninggalkan ruangan Vina.
Wajah Vina langsung memerah mendengar perkataan Rengga, Vina tidak menyangka pria kaku seperti Rengga bisa menggombalnya.
Hais, kira-kira di mau membawaku kemana? kenapa aku jadi deg degan" dalam hati Vina.
Sampai di rumah Vina yang masih kepikiran Rengga akan menbawanya ke mana langsung membuka lemarinya, Vina menatap baju di depannya sambil berpikir baju mana yang akan di pakainya.
"Vina" panggil Gladi yang berdiri di depan pintu.
"Mau kemana kamu? sampai milih baju saja kebingungan" tanya Gladi.
"Rengga ngajakin keluar tapi aku tidak tahu ke mana, jadi aku bingung mau pakai baju yang mana" sahut Vina.
"Ciye yang ternyata mau kencan" ucap Gladi.
"Kencan dari mana, aku sama Rengga cuma jalan biasa kok" sahut Vina cepat.
"Cowok cewek jalan malam-malam kalau bukan kencan apa lagi, sudah aku tidak akan mengganggumu nanti aku juga minta Aldo untuk mengajakku kencan masa dia kalah sama Rengga" ucap Gladi yang langsung berjalan pergi.
Pufff...
Vina menutup mulutnya menahan tawa, Gladi yang tidak mau kalah darinya membuat Vina hanya menggelengkan kepalanya tidak habis pikir.
"Vin, cepatlah sudah di tunggu tuh" teriak Gladi.
__ADS_1
Vina yang mendengar teriakan Gladi bergegas mengambil satu baju di depannya.
"Ini dia yang baru selesai dandan" ucap Gladi yang melihat Vina berjalan keluar dari kamarnya.
Rengga yang melihat Vina langsung tersenyum, Vina menggunakan apa saja terlihat sangat cantik kenapa dia baru menyadarinya sekarang pikir Rengga.
"Ayo" ucap Rengga sambil mengangkat tangannya bersiap memegang tangan Vina.
"Cepatan pergi sana, sakit mataku nih" sahut Gladi.
Vina tersenyum menatap Gladi sambil memegang tangan Rengga, keduanya yang berjalan bergandengan terlihat sangat serasi layaknya sang pengantin.
"Jika mereka bersama semoga keduanya bisa bahagia, dan aku bisa segera menyusul mereka" ucap Gladi yang tanpa sadar menggigit sendok di tangannya.
Di dalam mobil Vina terus menatap Rengga, Vina merasa penasaran Rengga akan membawanya kemana.
"Kita mau kemana?" tanya Vina.
"Rahasia, nanti kamu juga akan mengetahuinya" sahut Rengga.
Suasana kembali hening, walau kesal Rengga tidak memberitahu kemana tujuan mereka Vina mencoba tetap diam.
Tidak butuh waktu lama Rengga memarkir mobilnya di tepi jalan, di bukakannya pintu sambil bersiap memegang tangan Vina kembali.
Vina yang baru turun dari mobil merasa kebingungan, Vina tidak tahu apa niat Rengga membawanya ke tempat sepi seperti yang di datanginya sekarang, mungkinkah Rengga sengaja karena ingin macam-macam dengannya tapi jika itu benar kenapa Rengga tidak menyewa hotel malah memilih tempat seperti ini pikir Vina.
"Kamu membawaku ke tempat seperti ini apa sudah tidak mampu menyewa hotel" sahut Vina.
"Menyewa hotel untuk apa?" tanya Rengga.
Vina terdiam mendengar perkataan Rengga, jika bukan berbuat seperti apa yang di pikirkannya lalu untuk apa Rengga membawanya ke tempat sepi.
"Sudah ayo" ucap Rengga sambil menarik tangan Vina.
Vina pasrah mengikuti Rengga yang menarik tangannya masuk ke dalam hutan di depannya, Vina hanya bisa menutup matanya sambil terus berjalan mengikuti langkah Rengga.
"Kenapa tutup mata?" tanya Rengga yang langsung menghentikan langkahnya.
Perlahan Vina membuka matanya, jalan yang tadinya gelap gulita kini berubah menjadi tempat yang sangat terang.
"Bagaimana? Apa kamu menyukainya?" tanya Rengga lagi.
Vina tidak menjawab perkataan Rengga, Vina bukan hanya menyukai tempat di mana dia berdiri sekarang Vina bahkan sangat terpukau sampai tidak bisa berkata apa-apa.
"Hey, bagaimana?" tanya Rengga lagi sambil menggoyangkan tangannya yang berada tepat di depan mata Vina.
__ADS_1
"Ini apa kamu sendiri yang menyiapkannya" sahut Vina.
"Tentu saja aku sendiri yang menyiapkannya, apa kamu menyukainya?" tanya Rengga lagi.
"Aku menyukainya, tapi bagaimana caramu bisa merubah hutan belantara menjadi indah seperti ini" ucap Vina.
"Rahasia" sahut Rengga.
"Karena kamu menyukainya maukah kamu menikah denganku" ucap Rengga yang langsung berlutut.
Vina menatap Rengga yang berlutut di depannya sambil memegang cincin, Vina tidak menyangka Rengga mempersiapkan semua hanya untuk melamarnya.
"Aku tahu kamu masih tidak mencintaiku, tapi aku benar-benar berharap bisa menikah denganmu" ucap Rengga.
Vina masih terdiam menatap Rengga, Ingin rasanya Vina langsung menolak tapi tidak tega melihat Rengga yang sudah berusaha. Ingin menerimanya langsung bagaimana jika Rengga berpikir jika dirinya sudah lama menyukainya.
"Vina" panggil Rengga yang melihat Vina terdiam.
"Aku tidak bisa memberi jawaban sekarang" sahut Vina.
Haaaaah...
"Kenapa?" tanya Rengga yang langsung berdiri.
"Karena memberi jawaban itu tidak mudah, dan aku harus memikirkannya dengan baik" sahut Vina.
"Tapi dari yang aku baca mereka akan langsung mendapatkan jawaban" ucap Rengga keceplosan.
"Baca, memangnya kamu baca apa?" sahut Vina.
"Tidak bukan begitu, maksudku" ucap Rengga gugup. Tidak mungkin dirinya memberitahu Vina tentang novel yang di bacanya semalam.
"Duduklah dulu" sambung Rengga mencoba mengalihkan pembicaraan.
Vina naikkan bahunya melihat Rengga, Vina berpikir kira-kira apa yang sudah di baca Rengga hingga membuatnya berbeda dari biasanya.
"Vina lihatlah" ucap Rengga membuyarkan lamunan Vina.
Vina yang melihat ke arah Rengga langsung berdiri, banyaknya kunang-kunang mengelilingi Rengga membuat Vina bergegas menghampirinya.
"Apa ini juga kamu yang menyiapkannya?" tanya Vina sambil menatap banyaknya kunang-kunang yang beterbangan.
"Bukan, tapi sepertinya alam mengizinkan kita untuk bersama " sahut Rengga.
"Heeeeeeh, biar alam mengizinkan kalau aku tidak mau bahkan alam tidak bisa berbuat apa-apa" ucap Vina sambil menikmati pemandangan kunang-kunang yang beterbangan.
__ADS_1
"Tapi kamu belum menjawabku" sahut Rengga.
"2 hari lagi aku akan menjawabnya, saat itu tiba apapun jawabanku pastikan kamu tidak akan kecewa" ucap Vina lagi.