
Vina menatap Rengga yang berjalan ke arahnya, tatapan kesal Vina langsung di alihkannya saat Raka meminta di gendongnya.
"Ya sudah, ayo naik ayunan" ucap Vina sambil berjalan menggendong putranya ke arah ayunan yang berada tepat di sampingnya.
"Tunggu" panggil Rengga menghentikan Vina.
"Ada apa?" tanya Vina membalikan badannya menatap Rengga.
"Jangan naik itu, nanti Raka terlempar" ucap Rengga.
"Haaaaah, bermain perosotan tidak boleh ayunan juga tidak boleh, kalau begitu aku sama Raka mau naik putaran itu kamu yang memutarnya" sahut Vina sambil menunjuk putaran yang tidak jauh darinya.
"Itu juga tidak boleh, nanti Raka pusing" ucap Rengga.
"Semua tidak boleh, kalau begitu kenapa kamu membawa kami kemari" sahut Vina yang semakin kesal melihat kekhawatiran Rengga berlebihan.
"Aku hanya mau yang terbaik untuk anak ku, jadi kalau ku bilang tidak boleh ya tidak boleh" ucap Rengga sambil menggelengkan kepalanya.
"Sudahlah lebih baik aku sama Raka pulang saja, mainan Raka di rumah banyak tidak mungkin membuatnya bosan memainkannya" sahut Vina yang langsung berjalan ke arah mobil Rengga.
Dia kenapa? memangnya dia sebagai seorang ibu tidak khawatir pada anaknya, semua juga demi kebaikan anak ku memangnya apa yang salah" dalam hati Rengga sambil berjalan menyusul Vina dan putranya.
Vina yang berada di dalam mobil terus memasang wajah kesalnya, Rengga yang tidak tahu di mana kesalahannya terus fokus mengendarai mobilnya sambil sesekali melirik ke arah Vina.
"Aku akan membawa mu dan Raka ke sebuah tempat" ucap Rengga.
"Tidak perlu, antar kami pulang saja" sahut Vina.
"Kalau itu mau mu, ya sudah" ucap Rengga.
Sampai di depan rumah Vina bergegas membawa putranya masuk ke dalam rumahnya, suara mobil Rengga yang berjalan menjauh membuat Vina menghela nafas lega, Vina merasa lega akhirnya dia bisa kembali tenang lagi sekarang.
Rengga yang sudah menuruti kemauan Aldo merasa kebingungan sendiri, dari mengosongkan taman bermain hingga berniat membawa Vina dan anaknya ke pantai semua adalah ide Aldo, Rengga menyalahkan Aldo yang memberinya ide tidak berguna itu hingga membuat Vina seperti semakin kesal padanya.
Rengga memarkir mobilnya tepat di depan Bar Aldo, tanpa memperdulikan dua penjaga di depannya Rengga bergegas masuk ke dalam Bar mencari Aldo yang sudah pasti masih tidur di jam segitu.
Bruuuuuuuaaakkk...
__ADS_1
Rengga menendang pintu kamar Aldo hingga terbuka, di dalam kamar di lihatnya Aldo masih bersama dua wanitanya tertidur lelap tanpa mengetahui kehadirannya.
"Bangun bangun" teriak Rengga sekeras mungkin.
Aldo yang mendengar teriakan Rengga langsung terduduk, Rengga yang menatapnya tajam membuat Aldo membangunkan kedua wanita di sampingnya dan meminta keduanya untuk bergegas pergi.
"Ada apa lagi dengan wajahmu itu?" tanya Aldo yang masih duduk di tempat tidurnya.
"Semua karena ide mu yang tidak berguna itu, sepertinya Vina semakin tidak menyukai ku kalau begini terus bagaimana caranya ku bisa mendapatkan anak ku" sahut Rengga.
"Apa yang salah dari ide ku, mengosongkan taman bermain anak bukannya memang bagus, jadi anak mu dan Vina bisa menghabiskan sepanjang waktu di sana" ucap Aldo.
"Menghabiskan sepanjang waktu bagaimana, Vina bahkan meminta ku mengantarnya pulang setelah sampai di sana 10 menit" sahut Rengga kesal.
"Kok bisa?" tanya Aldo yang merasa kebingungan.
"Padahal aku hanya melarang anak ku main prosotan, ayunan dan putaran setelah itu dia langsung minta pulang" sahut Rengga.
"Apa kata mu. Pufff, Hahahahaha" Aldo yang mendengar perkataan Rengga tidak kuasa menahan tawanya.
"Aku melakukannya demi anak ku" sahut Rengga.
"Tapi taman bermain tempat untuk bermain, kalau kamu melarang mereka bermain kenapa kamu tidak membawa mereka kekuburan saja" ucap Aldo yang hanya menggelengkan kepalanya, Aldo benar-benar tidak tahu apa yang di pikirkan Rengga.
"Aku tidak mau tahu, kamu harus pikirkan cara lainnya" sahut Rengga.
"Ya aku mau mandi dulu, nanti aku pikirkan lagi caranya" ucap Aldo yang langsung berjalan pergi meninggalkan Rengga di kamarnya.
Kriiiiing, kriiiiiiing, kriiiiiiiing...
Suara telepon di sakunya yang berdering berulang kali membuat Rengga mengambil ponselnya, setelah melihat siapa yang menelponnya Rengga bergegas mengangkatnya.
"Di mana kamu? pulang sekarang!" ucap suara Kakeknya di telepon yang langsung mematikan teleponnya.
Sial, sekarang apa lagi yang akan di lakukan pak tua itu" dalam hati Rengga sambil mengepalkan tangannya berjalan keluar.
Aldo yang kembali ke kamar merasa sedikit heran melihat Rengga yang sudah tidak ada di kamarnya, Aldo tahu betul sifat Rengga jika dia tidak mendapatkan jawaban memuaskan darinya Rengga tidak akan pergi, tapi sekarang Aldo bisa menebak jika Rengga pasti dalam masalah serius hingga memaksanya pergi sebelum mendapat ide darinya.
__ADS_1
Sampai di depan rumah Rengga yang melihat dua mobil parkir di garasinya hanya menyunggingkan bibirnya, Rengga bergegas masuk ke dalam rumah menghampiri sang Kakek yang duduk serius menunggunya.
"Katakan apa yang ingin kamu katakan, tapi jika itu berkaitan dengan perjodohan lebih baik tidak perlu di katakan lagi" ucap Rengga yang langsung duduk di depan kakeknya.
"Apa begitu cara mu berbicara dengan orang yang lebih tua paman" sahut Andreas yang duduk tepat di samping kakeknya.
"Biarkan saja dia" ucap sang kakek sambil menepuk pundak Andreas.
"Aku tidak akan menjodohkan mu, lagipula mau kamu menikah atau tidak itu sudah bukan menjadi urusan ku lagi" sambung sang kakek menatap Rengga tajam.
"Oh, lalu katakan apa tujuan mu" sahut Rengga.
"Aku ingin Andreas bekerja di perusahaan" ucap sang Kakek yang membuat Rengga terkejut mendengarnya.
"Apa aku tidak salah dengar?" tanya Rengga memastikan.
"Tidak perduli kamu mendengarnya atau tidak Andreas akan bekerja di perusahaan, jadikan dia Direktur pemasaran" sahut sang Kakek yang membuat Rengga lebih terkejut lagi mendengarnya.
"Sebenarnya perusahaan sangat mementingkan pendidikan tinggi dari pegawainya, tapi untuk keponakan ku aku bisa mengecualikannya hanya saja untuk posisi Direktur dia tidak bisa mendapatkannya" ucap Rengga sambil tersenyum.
"Apa maksudmu?" tanya sang Kakek.
"Posisi Direktur tidak sedang kosong sekarang, selagi menunggu posisi Direktur kosong bagaimana jika menjadi asisten ku" sahut Rengga.
"Apa maksudmu, apa kamu ingin menjadikan Andreas sebagai pelayanmu" ucap sang Kakek yang terlihat sangat marah.
Menjadi asistennya kedengarannya tidak buruk, jadi aku bisa tahu semua jadwalnya dan aku bisa memastikan jika dia tidak akan bisa mendekati kak Vina" dalam hati Andreas.
"Tidak masalah kek, menjadi asisten paman juga bukan pekerjaan yang buruk" sahut Andreas.
"Haaaaah, kalau menurut mu begitu ya sudah. Tapi setelah posisi Direktur kosong kamu harus segera memberitahu ku" ucap sang Kakek sambil melirik ke arah Rengga.
"Tenang saja kek" sahut Andreas sambil tersenyum.
Cih, ingin mengirim anak semut untuk mengambil alih apa yang jadi milik ku sepertinya aku terlalu meninggikan mu pak tua" dalam hati Rengga.
Heeeeh, kesempatan emas seperti ini kapan lagi ku dapat. Selain bisa mengetahui jadwal paman dan pekerjaan berpengahasilan lumayan ini dalam waktu beberapa bulan ke depan aku sudah bisa menikahi Kak Vina" dalam hati Andreas.
__ADS_1