Jodoh Tuan Kejam

Jodoh Tuan Kejam
Bab 39


__ADS_3

Vina, Ian dan Andreas yang mendapatkan masing-masing rumah di perumahan elite Clovius bergegas mendatangi rumah baru mereka. Rumah Vina yang berada di antara rumah Ian dan Andreas membuat kedua pria itu bisa mengawasi Vina dengan mudah.


Satu hari setelah beristirahat di rumah baru masing-masing, Vina Ian dan Andreas mendatangi kantor V.A tempat mereka bekerja. Vina memperhatikan perusahaan barunya yang hanya terlihat beberapa orang di dalamnya, Ian dan Andreas yang berjalan di belakang Vina serentak menepuk pundak Vina yang sedang terdiam.


"Kenapa hanya ada beberapa karyawan di sini" ucap Vina.


"Maaf telat menyambut kak Vina, kak Ian dan kak Andreas" sahut seorang wanita berkaca mata sambil menundukan kepalanya.


"Tidak masalah, apa kamu bisa menjelaskan kenapa hanya ada beberapa karyawan" ucap Vina.


"Perusahaan baru merekrut beberapa karyawan, tuan Yovan bilang setelah kalian datang baru merekrut karyawan lagi" sahut wanita itu.


"Oh, siapa nama mu?" tanya Vina.


"Lisa, aku asisten pribadi kak Vina yang juga sekretaris untuk sementara" sahut wanita itu.


"Di mana ruangan ku?" tanya Vina lagi.


"Aku akan mengantar kak Vina, untuk ruangan kak Ian ada di lantai 2 bagian pemasaran dan untuk kak Andreas ruangannya ada di lantai atas bagian pengaturan gudang" sahut Lisa.


"Mari kak Vina" sambung Lisa yang langsung masuk lift di ikuti Vina dari belakang.


Lisa membawa Vina masuk ke sebuah ruangan yang di dalamnya ada beberapa hasil desain karya tangannya, Vina memperhatikan sekilas semua hasil yang membuatnya merasa lumayan puas itu.


"Lelang amal di adakan tiga hari lagi, tuan Yovan meminta kak Vina sendiri yang memutuskan ingin memberikannya yang mana" ucap Lisa.


"Iya aku mengerti" sahut Vina yang masih memperhatikan hasil desain karya tangannya.


"Oh ya lis, karena kami juga sudah datang kamu urus perekrutan karyawan secepatnya. Sebentar lagi perusahaan kita akan menjadi perusahaan ternama, jika kekurangan karyawan nama baik perusahan mau di taruh dimana" sambung Vina yang langsung duduk di tempat duduknya.


"Aku akan mengurusnya" ucap Lisa sambil mencatat yang di katakan Vina.


Rengga, tunggu aku akan datang mengambil kembali anak ku" dalam hati Vina.


Di tempat berbeda, Kakek Rengga mendatangi kantor Rengga membawa seorang wanita muda bersamanya. Rengga yang mengetahui kedatangan Kakeknya hanya bisa diam, baginya saham yang akan menjadi miliknya lebih penting dari apapun termasuk wanita yang akan menjadi calon istrinya.


"Rengga" panggil sang kakek yang berdiri di depan pintu.


"Aku membawa Frieda Mahendra, Putri kedua keluarga Mahendra" sambung kakek Rengga.


"Ya, kamu membawanya sekarang, bukannya kamu bilang pertunangan akan di adakan sebulan lagi" sahut Rengga.


"Kalian bisa saling mengenal terlebih dulu, dan juga aku mau kamu menggantikanku mengikuti lelang amal bersama Frieda tiga hari lagi" ucap kakek Rengga.

__ADS_1


"Kamu tidak mungkin menolaknya bukan" sambung kakek Rengga sambil tersenyum.


"Aku tidak mungkin menolaknya" sahut Rengga sambil menyunggingkan bibirnya.


"Kalau begitu kalian berdua berbicaralah dulu aku mau keluar sebentar" ucap kakek Rengga yang sengaja pergi.


"Rengga, aku dengar kamu sudah memiliki anak apa aku bisa bertemu dengannya" ucap Frieda sambil tersenyum menatap Rengga.


"Anak ku masih kecil, dia tidak akan tahu siapa orang yang di temuinya takutnya dia malah membuatmu kesal" sahut Rengga.


"Tidak masalah, aku menyukai anak kecil. Ku mohon" ucap Frieda dengan nada memohon.


"Ikut aku" sahut Rengga yang langsung berjalan keluar ruangannya.


Rengga membawa Frieda ke rumahnya, di dalam rumah Gladi yang bermain bersama Raka terkejut melihat seorang wanita di samping Rengga.


"Apa ini anak mu, dia sangat menggemaskan" ucap Frieda.


"Siapa namanya?" tanya Frieda sambil berjalan menghampiri Raka yang berada di samping Gladi.


"Namanya Raka" sahut Rengga yang langsung duduk tidak memperdulikan Frieda.


"Raka ya, nama yang bagus" ucap Frieda sambil mencubit keras pipi Raka.


Huaaaa, huuuuuaaaa...


Suara tangisan Raka membuat Gladi terkejut, Gladi tidak menyangka ada orang dewasa yang mencubit pipi anak kecil sampai seperti itu.


"Kamu, apa yang kamu lakukan, kenapa kamu mencubitnya" teriak Gladi yang melihat Raka menangis kesakitan.


"Aku hanya mencubit pipinya pelan" sahut Frieda sambil tersenyum licik.


"Maaf Rengga aku tidak tahu kalau anak mu takut melihat orang baru" sambung Frieda yang langsung duduk di samping Rengga.


"Dia tidak takut melihat orang baru, kamu lihatlah pipinya sampai memerah karena cubitan mu" sahut Gladi kesal.


"Aku tidak melakukannya Rengga percayalah" ucap Frieda.


"Rengga lihatlah pipinya, setelah kamu melihatnya kamu akan mengetahuinya" sahut Gladi yang langsung berdiri.


"Anak itu terlalu di manja sama pengasuhnya, aku tidak menyalahkan mu" sahut Rengga santai tanpa memperdulikan Gladi.


Gladi yang melihat Frieda tersenyum ke arahnya langsung menggendong Raka ke kamarnya, keduanya yang tidak memiliki sedikitpun hati nurani memang pantas untuk bersama pikir Gladi.

__ADS_1


"Cup cup nak, sini mama tua elus pipi Raka" ucap Gladi sambil mengelus pipi anak angkatnya itu.


Cih, aku tidak bisa membayangkan jika wanita itu menjadi ibu tiri mu" dalam hati Gladi.


_______ ______ ______


Tiga hari yang sudah berlalu membuat Vina Ian dan Andreas bersiap menghadiri lelang amal. Vina yang sudah mempersiapkan desain hasil terbaiknya untuk di berikan di lelang amal tanpa menunda waktu bergegas pergi ke gedung Citra Megah, gedung tempat lelang amal di selenggarakan akan menjadi tempat awal kehadirannya.


Vina Ian dan Andreas yang berjalan memasuki gedung langsung memakai topeng mata yang sudah mereka bawa, ketiganya yang masuk ke dalam gedung dengan misterius membuat semua mata tertuju pada mereka.


"Heeeeeeh, sepertinya kita menjadi pusat perhatian" ucap Andreas sambil tersenyum.


"Ini belum apa-apa, perhatian yang selanjutnya akan membuat mu terkejut" sahut Vina.


"Malam ini pusat perhatian harus sepenuhnya menjadi milik kita, karena aku memiliki firasat yang kita tunggu pasti akan datang" ucap Ian yang berjalan di belakang Vina bersama Andreas.


"Aku tidak sabar ingin melihat wajahnya, Ayo jangan buang waktu lagi" sahut Vina sambil berjalan ke ruangan penyelenggara lelang.


Vina yang sampai di depan ruangan penyelenggara lelang meminta Ian dan Andreas berhenti, Vina ingin memberikan sendiri hasil karyanya yang akan di jadikan lelang amal malam ini.


"Permisi, apakah aku mengganggu" ucap Vina yang berjalan anggun memasuki ruangan.


"Tidak, ada yang bisa kami bantu" sahut wanita paruh baya yang menjadi penanggung jawab lelang.


"Aku ingin berpartisipasi, ku harap aku bisa mengikut sertakan barang milik ku" ucap Vina sambil menunjuk kotak yang baru di masukan Ian dan Andreas.


"Kami akan melihatnya terlebih dulu, ku harap anda tidak keberatan" ucap wanita paruh baya itu sambil tersenyum.


"Silahkan" sahut Vina.


Vina yang melihat para penyelenggara membuka kotaknya hanya tersenyum, wanita paruh baya yang melihat gaun hasil desain Vina langsung melotot takjub.


"Apa anda serius ingin menyumbangkan gaun ini, gaun ini terlihat sangat mewah dan ilegan" ucap wanita paruh baya itu sambil menatap Vina.


"Tentu saja aku serius, perusahaan V.A akan meluncurkan Gaun seperti ini nantinya jadi aku memutuskan untuk memberikan yang pertama untuk lelang amal ini" sahut Vina sambil tersenyum.


"Kalau begitu kami sangat berterima kasih, kami akan menjelaskan sedetail mungkin bahwa gaun ini pemberian perusahaan V.A" ucap wanita paruh baya itu sambil menundukan kepalanya.


"Terima kasih sudah menerimanya, kalau begitu aku akan bergabung dengan tamu lainnya" sahut Vina sambil berjalan pergi meninggalkan ruangan penyelenggara.


"Nyonya Mary apa gaun ini sangat berharga?" tanya salah satu penyelenggara lainnya.


"Heeeeeh, kalian akan terkejut nanti, gaun itu aku sendiri yang akan melelangnya" sahut wanita paruh baya itu sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2