
Sepanjang jalan pulang Andreas merasa sangat bahagia, Andreas tidak menyangka niat pamannya yang ingin menjauhkannya dari Vina malah membuatnya semakin dekat dengan Vina.
Sampai di depan rumah Andreas memperhatikan sebuah mobil yang parkir di depan rumahnya, Andreas yang tadinya merasa bahagia bergegas masuk ke dalam rumah dengan wajah suramnya.
"Dari mana kamu?" tanya Rengga.
"Jalan-jalan" sahut Andreas sambil terus berjalan ke arah kamarnya.
"Duduk, ada yang ingin ku tanyakan padamu" ucap Rengga.
Andreas yang mendengar perkataan Rengga langsung duduk tanpa berbicara, walau duduk berhadapan Andreas yang masih kesal dengan Rengga sengaja memalingkan wajahnya.
"Dimana dia tinggal?" tanya Rengga yang terlihat sangat serius.
"Dia siapa?" tanya Andreas balik.
"Wanita itu" sahut Rengga.
"Untuk apa kamu mencarinya lagi, apa dengan mengirimku pergi masih belum membuat mu puas" ucap Andreas.
"Aku tanya sekali lagi di mana dia tinggal, kamu tidak mungkin tidak mengetahuinya" sahut Rengga.
"Aku tidak tahu, walau aku tahu sekalipun aku tidak akan memberitahu mu" ucap Andreas yang langsung berdiri.
"Karena kamu tidak ingin memberitahu ku, aku terpaksa meminta anak buah ku mencarinya, tapi setelah ku tahu di mana dia akan ku buat kamu menyesal" sahut Rengga sambil berjalan pergi melewati Andreas.
"Cih, cari saja di sana, sampai bulan menjadi dua juga tidak mungkin kamu menemukannya" ucap Andreas dengan suara pelan.
Rengga yang tidak mendapatkan hasil dari Andreas terpaksa hanya bisa meminta anak buahnya untuk terus mencari Vina, bagaimanapun juga dirinya harus bisa memastikan apa Vina hamil anaknya atau tidak.
Berbulan-bulan ****berlalu**** begitu cepat, Rengga yang sudah berusaha masih tidak bisa menemukan Vina. Rengga berpikir mungkin sudah saatnya dia menyerah, lagipula dirinya hanya meniduri Vina sekali dan itupun belum tentu langsung jadi.
Tiga bulan setelah dirinya pergi ke rumah Vina Andreas memutuskan untuk mendatangi Vina lagi, sampai di rumah Vina Andreas merasa sangat terkejut melihat perut Vina yang membesar.
__ADS_1
Vina yang tidak ingin menutupinya terpaksa menceritakan apa yang terjadi padanya itu, Andreas merasa sangat prihatin dengan Vina walau tahu Vina mengandung anak orang lain Andreas tidak sedikitpun merasa keberatan.
Di tempat lain Vina tinggal menunggu kelahiran anak pertamanya, detik-detik menegangkan sebelum melahirkan membuat Vina merasa sedikit gugup dan ketakutan.
"Terus, terus jangan di tahan. Tarik nafas dalam-dalam" ucap seorang dokter yang membantu Vina melahirkan.
Huuh, huuh, huuh...
Vina berulang kali mengatur nafasnya, Vina berusaha terus berjuang demi keselamatan anak yang akan di lahirkannya itu.
Di luar ruangan Gladi terlihat sangat gelisah begitu juga Andreas, keduanya berharap semoga Vina bisa melahirkan bayinya dengan selamat.
Oeeeeeeek, oeeeeeeeek...
Suara tangisan bayi terdengar di ruangan Vina, Gladi dan Andreas yang mendengarnya merasa sangat bahagia.
"Suami bu Vina boleh masuk" ucap dokter yang baru saja membantu Vina melahirkan.
Di dalam ruangan Gladi menatap Vina yang masih mengatur nafasnya, sang bayi yang di taruh di samping Vina langsung di gendong Gladi sambil tersenyum.
"Tampannya anak mama" ucap Gladi.
"Ehem, aku mamanya" sahut Vina.
"Aku juga akan menjadi mamanya, panggil aku mama tua ya sayang" ucap Gladi sambil tersenyum.
Vina yang mendengar perkataan Gladi hanya tersenyum, Vina tidak menyangka anak yang sebelumnya tidak di inginkannya kini telah lahir ke dunia.
Setelah menunggu selama dua jam Andreas di izinkan memasuki ruangan, Andreas yang melihat Vina dan bayinya baik-baik saja merasa sangat bersyukur.
"Paman, paman ayo gendong aku" ucap Gladi yang merubah suaranya menjadi anak kecil.
Vina dan Andreas yang mendengar suara Gladi langsung tertawa sangat keras.
__ADS_1
"Baiklah, sini paman gendong" sahut Andreas.
Gladi membantu Andreas yang baru pertama kalinya menggendong bayi, setelah benar posisi menggendongnya Andreas langsung tersenyum sambil memperhatikan bayi yang di gendongnya itu.
Ini bagaimana mungkin, wajahnya mirip sama paman Rengga" dalam hati Andreas.
"Kamu kenapa?" tanya Vina yang melihat Andreas terus menatap anaknya sambil melamun.
"Eh, tidak apa-apa" sahut Andreas.
"Kak Vina kasih nama siapa?" tanya Andreas.
"Sebelumnya aku tidak memikirkan namanya, bagaimana kalau di beri nama Raka" sahut Vina.
"Raka nama yang bagus" ucap Andreas.
"Nama lengkapnya, Raka Clanza" sahut Vina.
"Wah nama belakangnya hampir sama dengan nama ku" ucap Andreas.
"Benarkah, kalau boleh tahu siapa nama belakang mu" sahut Vina.
"Andreas Cafanza, Cafanza di ambil dari nama keluarga" ucap Andreas.
"Oh pantas saja, lalu Rengga Cafanza siapa mu" tanya Gladi.
"Paman ku, apa kak Gladi mengenalnya" sahut Andreas.
"Tidak, aku tidak mengenalnya, tapi siapa yang tidak tahu Rengga Cafanza seorang Ceo tegas yang di kagumi banyak wanita" ucap Gladi.
"Dia bukan hanya tegas tapi juga kejam" sahut Andreas.
"Sudah-sudah, kenapa jadi ngomongin pamannya Andreas sih" ucap Vina yang sengaja mengalihkan pembicaraan, Vina tidak ingin Andreas mengatakan jika pamannya pernah menculiknya.
__ADS_1