
Vina duduk di kursi taman dengan tangan yang terus gemetar, Vina merasa sangat gugup ingin memberikan jawaban ke Rengga bahwa dirinya menerimanya.
"Bagaimana?" tanya Rengga yang duduk di samping Vina.
"Haaaah, Maaf" sahut Vina sambil menghela nafas panjang.
Rengga langsung terdiam, kata pertama yang keluar dari mulut Vina membuat Rengga menebak bahwa Vina pasti menolaknya. Betapa memalukannya dia yang seperti pengemis Cinta saat ini.
"Aku menerimanya" ucap Vina tanpa menoleh ke arah Rengga.
"Ya sudah jika kamu tidak menerimanya" sahut Rengga yang langsung berdiri bersiap pergi meninggalkan Vina.
"Tunggu dulu. Coba katakan sekali lagi" ucap Rengga yang kembali duduk di samping Vina.
"Aku menerimanya" sahut Vina.
"Yes. Aku tahu kamu pasti menerimaku" ucap Rengga yang merasa sangat senang.
Vina hanya diam tanpa menoleh ke arah Rengga, Vina merasa malu dan tidak tahu harus bagaimana menghadapi Rengga ke depannya.
"Kalau begitu kita akan secepatnya menikah" ucap Rengga sambil tersenyum.
"Apa!" Vina yang mendengar perkataan Rengga merasa sangat terkejut.
"Iya, aku melamarmu tentu saja karena aku ingin menikahimu" sahut Rengga.
"Tapi tapi" ucap Vina yang kebingungan sendiri.
"Hari dan tanggalnya akan ku kabari nanti, tenang saja semua aku yang akan menyiapkannya" sahut Rengga sambil berdiri dan berjalan pergi.
Menikah, secepat ini. Aku mengira aku dan Rengga akan bertunangan dulu. Aku tidak menyangka Rengga malah mengajak nikah" dalam hati Vina.
"Menikah" sambung Vina.
"Tunggu dulu aku belum setuju" teriak Vina yang melihat Rengga berjalan menjauh.
Teriakan Vina tidak di dengar Rengga yang semakin menjauh, Rengga terus berjalan dengan hati berbunga-bunga lamarannya di terima, akhirnya sebentar lagi dirinya dan kedua anaknya bisa bersama.
Rengga yang merasa sangat senang bergegas ke bar Aldo, Rengga ingin menunjukkan ke Aldo bahwa tebakannya benar, Vina benar-benar menerimanya.
Braaaaaaaaaak...
Rengga memukul meja di depan Aldo yang sedang menikmati minuman di tangannya, Aldo menatap Rengga sekilas lalu kembali meminum minumannya.
"Apa aku bilang Vina pasti menerima ku" ucap Rengga sambil duduk di samping Aldo.
__ADS_1
"Oh, pantas saja wajahmu terlihat sangat bahagia tapi kenapa kamu kemari. Dimana Vina?" tanya Aldo.
"Vina masih di taman tempat kita janjian" Sahut Rengga santai.
Uhuk uhuk...
Aldo yang mendengar perkataan Rengga tersedak, bagaimana bisa Rengga meninggalkan Vina di taman seorang diri pikir Aldo.
"Apa kamu masih pria?" tanya Aldo sambil menatap Rengga.
"Apa maksudmu?" tanya Rengga balik.
"Kamu pergi begitu saja setelah mendapatkan jawaban darinya, aku jadi ragu kalau kamu masih seorang pria" sahut Aldo yang langsung menggelengkan kepalanya.
"Apa yang salah? dia bawa mobil sendiri untuk apa aku mengantarnya pulang" ucap Rengga yang tidak mengerti maksud Aldo.
"Sudahlah berbicara denganmu tidak akan menang. Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanya Aldo lagi.
"Aku akan menikahi Vina" sahut Rengga.
"Secepat itu mau menikah. Sebenarnya kamu melamar dan ingin menikahi Vina karena apa?" tanya Aldo yang merasa penasaran.
"Tidak tahu, aku hanya ingin menikahinya" sahut Rengga.
Rengga terdiam mendengar perkataan Aldo, Rengga tidak tahu kenapa dia ingin menikahi Vina, apa sebenarnya dirinya menyukai Vina, lalu bagaimana caranya mengetahuinya.
"Rasakan dengan baik, jika setiap berada di dekatnya detak jantungmu berdebar tak menentu itu menandakan kamu mencintainya. Tapi jika tidak maka itu sebaliknya" ucap Aldo tepat di telinga Rengga.
Emmmm, ternyata begitu" dalam hati Rengga yang langsung menganggukkan kepalanya.
"Tunggu apa lagi cepat kembali kesana" ucap Aldo.
Rengga bergegas berdiri dan berjalan pergi menuruti perkataan Aldo. Aldo tertawa kecil melihat Rengga yang menuruti perkataannya, kapan lagi dia bisa menyuruh Rengga dan Rengga langsung menurutinya.
Di dalam mobil Rengga baru tersadar Aldo baru saja memerintahnya dan dia pun menurutinya, walau merasa kesal Rengga tetap pergi menuju taman Ketiga sambil berharap Vina masih berada di sana.
Rengga yang mendatangi tempat sebelumnya merasa lega setelah melihat Vina, Rengga berpikir betapa bodohnya dia meninggalkan Vina seorang diri di taman seperti ini.
"Masih belum pulang" ucap Rengga yang berdiri di depan Vina.
"Kenapa kembali lagi?" tanya Vina yang langsung menatap Rengga.
"Ahh itu, aku tidak seharusnya meninggalkankan mu sendiri di sini" sahut Rengga sambil menggaruk kepalanya walau tidak gatal.
"Ternyata masih punya hati nurani" ucap Vina menyunggingkan bibirnya kesal.
__ADS_1
"Jangan marah" sahut Rengga yang langsung duduk di samping Vina.
Rengga menatap Vina yang terlihat sangat kesal padanya, semakin lama Rengga menatap Vina membuat jantungnya berdetak sangat cepat. Rengga yang memegangi dadanya tiba-tiba teringat apa yang di katakan Aldo, apa benar dirinya mencintai Vina, kenapa jantungnya berdebar tak menentu saat ini.
"Kamu kenapa?" tanya Vina yang melihat Rengga terdiam.
"Tidak apa-apa, Ayo aku akan mengantarmu pulang" ucap Rengga.
"Aku bawa mobil sendiri. Masalah pernikahan apa itu tidak terlalu cepat" sahut Vina.
"Tidak, lagipula lebih cepat lebih baik" ucap Rengga sambil menatap Vina.
"Kenapa?" tanya Vina.
"Karena aku" sahut Rengga yang tidak melanjutkan perkataannya.
"Aku apa?" tanya Vina yang penasaran tingkat tinggi.
"Karena aku mencintaimu" sahut Rengga dengan suara pelan.
"Apa! Coba katakan sekali lagi" ucap Vina yang tidak percaya apa yang di dengarnya.
"Aku mencintaimu, apa kamu sudah mendengarnya dengan jelas" sahut Rengga yang langsung memalingkan wajahnya.
Wajah Rengga memerah setelah mengungkapkan isi hatinya, Rengga merasa yang baru saja dilakukannya sangat memalukan, Rengga tidak tahu apa yang di pikirkan Vina sekarang.
"Aku tidak menyangkanya" ucap Vina.
"Iya, kamu tidak menyangka kalau aku sangat memalukan bukan" sahut Rengga.
"Mengungkapkan isi hati bukan sesuatu yang memalukan. Aku hanya tidak menyangka ada yang mencintaiku terlebih lagi itu dirimu" ucap Vina.
"Jadi apa kamu tidak keberatan kita menikah" sahut Rengga lagi.
"Emmmm tidak" ucap Vina.
"Senangnya" sahut Rengga yang langsung memeluk Vina.
"Lepaskan ini taman, banyak yang memperhatikan kita" ucap Vina sambil mendorong Rengga.
"Bagus, kalau begitu 2 minggu lagi kita akan menikah. Aku akan mengurus semuanya" sahut Rengga yang merasa sangat bahagia.
Sepanjang jalan pulang Vina kepikiran perkataan Rengga. Vina tidak menyangka Rengga mencintainya dan ingin menikah dengannya, kalau Rengga ingin menikahinya karena mencintainya lalu apa alasannya mau menerima Rengga.
"Ahhhhhh, apa aku terlalu gegabah mengambil keputusan sendiri. Aku bahkan belum memberitahu Ayah angkat, bagaimana jika dia menentangnya dan bagaimana dengan Andreas dan Ian yang sudah lama tidak ada kabarnya" ucap Vina.
__ADS_1