
Sampai di rumah Vina langsung membaringkan tubuhnya, walau puas bisa melihat Kakek Rengga yang tertangkap kembali tetap saja Vina masih merasa kehilangan Mia, Vina masih membayangkan kebersamaannya bersama Mia yang membahagiakan.
Haaaaaaaah.
Rengga yang melihat Vina menghela nafas panjang bergegas menghampirinya, Rengga duduk di samping Vina sambil mengelus rambutnya.
"Apa yang kamu pikirkan? Pak tua itu tidak akan bisa mengganggumu lagi," ucap Rengga.
"Aku tau itu, tapi Mia tetap tidak bisa hidup kembali walau Kakekmu sudah ditangkap," sahut Vina menatap Rengga, matanya sudah siap meneteskan butiran air matanya.
"Aku tau kamu menyanyangi Mia seperti Anakmu sendiri, tapi kalau kamu seperti ini semua akan berantakan, peruahaanmu tidak ada yang mengurus begitu juga Raka," ucap Rengga sambil menggenggam tangan Vina dengan erat.
Vina menatap Rengga tanpa bergeming. Perkataan Rengga memang benar, dirinya tidak boleh terus berlarut-larut dalam kesedihan, semoga Mia tenang di alam sana.
"Kamu benar," ucap Vina yang langsung duduk, wajahnya dan Rengga sangat dekat bahkan sampai hampir bersentuhan.
"Aku memang benar dan akan selalu benar, jadi apa kamu masih bersedih sekarang?" tanya Rengga.
"Tentu saja aku masih bersedih," sahut Vina.
"Kalau begitu bagaimana kalau kita buat Anak lagi saja agar kamu tidak lagi bersedih," ucapan Rengga membuat Vina melotot.
Vina menarik tangannya dari genggaman Rengga dan langsung menutup wajah Rengga yang masih menunggu jawaban darinya.
"Jangan mencari kesempatan," ucap Vina yang langsung tidur membelakangi Rengga.
"Ayolah," sahut Rengga tepat di telinga Vina.
"Tidak mau," ucap Vina tanpa membalikkan tubuhnya.
"Ayolah," sahut Rengga lagi lidahnya menyentuh telinga Vina.
Rengga tersenyum sambil bergerak cepat menarik tangan Vina, melihat Vina yang sudah terlentang Rengga langsung naik ke atas kasur dan memegangi tangan Vina ke atas kepalanya.
"Heeeeh, kamu tidak bisa bergerak sekarang," ucap Rengga menjulurkan lidahnya mengolok Vina.
Vina hanya diam walau sebenarnya dirinya bisa saja mendorong Rengga, Vina tersenyum pasrah membiarkan posisinya tetap seperti itu.
Rengga yang melihat lampu hijau dari Vina memulai aksinya, hasratnya yang tertahan sejak di Paris akhirnya tuntas sudah.
Haaaaaaah, haaaaaaah.
Vina berusaha mengatur nafasnya yang masih naik turun, ternyata semakin lama pria menahan diri semakin ganas akhirnya.
"Bahagianya aku, semoga saja Raka segera punya Adik," ucap Rengga sambil memeluk Vina.
__ADS_1
"Cih, apa kamu pikir sekali bikin sudah jadi," sahut Vina mencubit pelan lengan Rengga.
"Siapa yang bilang hanya sekali," ucap Rengga menaik turunkan alisnya.
"Idih, jangan macam-macam aku tidak kuat lagi," sahut Vina.
Huuuu, huuuu, huuuuu
Vina menatap Rengga yang sudah tertidur, memang dasarnya tampan bahkan saat tidur saja terlihat sangat tampan.
"Mimpi indah," ucap Linda mengecup kening Rengga.
Kriiiiiiiing kriiiiiiiing kriiiiiiiing.
Kriiiiiiiing kriiiiiiiing kriiiiiiiing.
Suara telepon yang terus berbunyi membangunkan Vina, Vina yang baru membuka mata langsung mengambil ponselnya dan mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menelponnya.
"Hallo," ucap Vina pelan tidak ingin membangunkan Rengga.
"Hallo Vin," sahut Gladi dari sebrang telepon.
"Gladi," ucap Vina yang langsung bangun dari tempat tidur dan berjalan ke luar kamarnya.
"Iya untuk sementara, kamu dan Raka jaga diri baik-baik aku akan segera kembali," sahut Gladi.
"Jadi kamu masih harus di sana, berapa lama?" tanya Vina.
"Kurang tau, setelah ini kita tidak bisa saling berhubungan aku bisa minta tolong," sahut Gladi.
"Katakan saja, apa yang bisa ku bantu," ucap Vina.
"Tolong beritahu Aldo untuk tidak bersusah payah mencariku, setelah semua selesai aku akan kembali," sahut Gladi.
"Tunggu, sebenarnya kamu mau ke mana?" tanya Vina.
Tuuuut tuuuut tuuuu.
Suara telepon terputus membuat Vina merasa sangat kesal, Vina mencoba menghubungi nomor Gladi yang ternyata sudah tidak aktif lagi.
Vina masuk ke kamarnya dengan wajah yang ditekuk, Rengga yang mendengar sedikit suara Vina menjadi penasaran siapa yang habis menelpon istrinya dan membuat istrinya kesal lagi.
"Siapa yang menelpon?" tanya Rengga.
"Gladi," sahut Vina yang langsung duduk di samping Rengga.
__ADS_1
"Terus kenapa kamu sedih, harusnya kamu senang Gladi menelponmu," ucap Rengga.
Haaaaah.
Vina menghela nafas lalu menatap Rengga.
"Masalahnya, Gladi bilang dia tidak akan kembali tidak tau berapa lama, ucapannya itu sudah seperti mau pergi jauh. Dia juga nitip pesan untuk Aldo agar tidak mencarinya dan sekarang nomornya tidak aktif," ucap Vina menjelaskan ke Rengga.
Vina melihat Rengga yang langsung terdiam, Rengga juga berpikiran sama seperti yang Vina pikirkan saat ini.
"Kalau begitu biar aku saja yang memberi kabar ke Aldo, kamu tunggu di rumah saja," ucap Rengga yang langsung berdiri.
Sampai di Bar Aldo Rengga bergegas masuk ke dalam, hari yang masih sore membuat Bar terlihat sangat sepi. Rengga langsung mencari Aldo ke kamarnya, benar saja sampai di kamar Aldo Rengga melihat Aldo yang tertidul pulas hanya dengan celana pendek bergambar Mickey Mouse.
"Woy bangun," teriak Rengga.
"Siapa sih yang berani menggangguku," teriak Aldo.
"Bangunlah cepat, ada berita buruk untukmu," ucap Rengga.
"Bisakah kita bicaranya nanti saja, aku benar-benar masih mengantuk," sahut Aldo yang langsung berbaring kembali setelah tau Rengga yang membanguninya.
"Baiklah, sepertinya kamu benar-benar mengantuk sampai tidak ingin mendengar kabar tentang Gladi," ucap Rengga bergegas ke luar kamar Aldo.
Mata Aldo yang melek seketika membuat Aldo bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan mengikuti Rengga..
Rengga duduk di Bar Aldo sambil meminum minuman yang baru saja diambilnya. Melihat Rengga yang duduk santai tanpa beban Aldo merasa ikut tenang, Aldo duduk di samping Rengga dan ikut menikmati minuman di depannya.
"Kabar apa yang kamu maksud?" tanya Aldo setelah meneguk dua gelas.
"Gladi menelpon Vina sepertinya dia tidak bisa kembali untuk waktu yang lama," ucap Rengga.
"Gladi juga titip pesan untukmu agar tidak mencarinya, dan sekarang nomornya sedang tidak aktif," sambung Rengga.
"Sial," teriak Aldo berteriak.
"Pria itu pasti sengaja ingin mempersulit Gladi, aku tidak akan membiarkannya," sambung Aldo.
"Apa maksudmu ketua organisasi Gladi?" tanya Rengga.
"Siapa lagi kalau bukan dia," sahut Aldo sambil mengepalkan tangannya.
"Aku akan pergi ke sana untuk menyelamatkan Gladi, biar aku beri dia pelajaran agar tidak berbuat semaunya," sambung Aldo.
Rengga menatap Aldo yang berjalan ke kamarnya untuk mempersiapkan apa yang dibawanya, Rengga tidak menghentikan Aldo karena Rengga ingin Aldo merasakan bagaimana rasanya berjuang dan semoga saja Aldo berhasil membawa Gladi agar Vina tidak perlu cemas lagi.
__ADS_1