
Vina menggelengkan kepalanya melihat tingkah Rengga, kalau hanya mau makan masakan yang tadi di masaknya pasti masih cukup untuk Rengga sendiri, tapi entah apa yang di pikirkan Rengga Vina benar-benar tidak mengerti.
"Vin coba ini, kerang pedasnya enak loh" ucap Glio yang langsung menaruh sesendok kerang pedas miliknya ke piring Vina.
"Terima kasih" sahut Vina sambil tersenyum.
Rengga semakin cemburu melihat Vina dan Glio yang berbagi makanan, Rengga yang tidak mau kalah langsung menghampiri pemilik rumah makan dan memesan masing-masing satu porsi untuk semua hidangan.
Hanya hitungan menit pesanan yang di minta Rengga di hidangkan di meja tepat di depan Vina, Rengga yang ingin mencoba sama seperti Glio langsung mengambilkan Vina masing-masing sesendok dan menaruhnya di piringnya.
"Rengga, apa ini" ucap Vina kebingungan.
"Semua menu di sini enak, kamu coba saja satu persatu" sahut Rengga sambil menyunggingkan bibirnya ke Glio.
"Tidak perlu berterima kasih" sambung Rengga dengan penuh percaya diri.
"Siapa yang mau berterima kasih, kamu pikir aku apa makan sebanyak ini" ucap Vina kesal.
Vina merasa dirinya bukan manusia super yang bisa makan sebanyak itu, sebenarnya apa yang ada di pikiran Rengga lagi-lagi Vina menggelengkan kepalanya.
"Puffff...
Glio tertawa kecil sambil menutup mulutnya, Glio berpikir Rengga seperti anak kecil yang tidak mau kalah bersaing demi mendapatkan apa miliknya.
"Apa yang kamu tertawakan" ucap Rengga yang tidak sengaja melihat ke arah Glio.
"Siapa juga yang tertawa" sahut Glio.
"Kamu" ucap Rengga yang langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Sudah cukup kalian berdua" sahut Vina.
Hilang sudah selera makannya melihat kedua pria yang bersamanya bersiap berkelahi, Vina yang tidak ingin terlibat tanpa banyak berbicara bergegas pergi kembali ke rumah sakit.
"Dasar anak kecil" ucap Glio tersenyum sinis mengejek Rengga.
"Bukan urusanmu, kuingatkan Vina milikku menjauh darinya atau kamu akan menerima akibatnya" sahut Rengga yang langsung membayar makanan yang di pesannya dan berjalan pergi meninggalkan Glio sendirian.
Heeeeeh, memangnya dia pikir dia siapa. Kalau aku mau mendekati Vina dia bisa apa" dalam hati Glio.
Vina yang kembali ke rumah sakit langsung duduk di samping Gladi dan Aldo, wajah kesalnya karena ulah Rengga tidak bisa di sembunyikannya dari kedua orang di sebelahnya.
"Ini pasti karena Rengga lagi" ucap Aldo.
"Hais, Rengga tidak pernah sehari saja tidak mencari masalah" sambung Aldo.
"Berani ya kamu sekarang" sahut Rengga yang mendengar perkataan Aldo.
__ADS_1
"Sudah cukup, kalian berdua pulanglah" ucap Vina sambil memegangi kepalanya.
"Biar Aldo kamu saja yang pulang, aku akan tetap di sini" sahut Rengga yang langsung menarik tangan Aldo berdiri dari kursinya.
"Kamu juga pulang saja dulu Gladi biar aku yang menunggu Raka di sini" ucap Vina.
"Tapi Vin" sahut Gladi.
"Mia juga mau pulang tante" ucap Mia sambil menarik tangan Gladi.
"Kalau begitu aku pulang dulu Vin, kalau butuh apa-apa telepon saja aku" sahut Gladi sambil berjalan pergi.
Vina menatap Gladi, Aldo dan Mia yang perlahan menghilang dari pandangannya, Rengga yang memperhatikan Vina langsung menepuk pundaknya.
"Kenapa? Apa kamu berpikir mereka serasi?" tanya Rengga.
"Tidak tahu" sahut Vina cepat.
Waktu terus berlalu begitu cepat, Vina menatap jam di tangannya yang sudah menunjukan pukul 22:50 malam.
Hoaaaaaaam...
"Pantas saja aku mengantuk" ucap Vina sambil menutup mulutnya.
Vina yang sangat mengantuk tanpa sadar langsung bersandar di pundak Rengga dan tertidur. Rengga merasa sangat bahagia Vina bersandar di pundaknya, andai saja Vina yang bersandar dalam keadaan sadar itu lebih membuatnya bahagia lagi.
"Tambah satu tempat tidur lagi di dalam" sahut Rengga dengan suara pelan.
"Apa istri tuan juga sakit?" tanya dokter itu kebingungan.
"Dia tidak sakit, siapkan saja" sahut Rengga.
"Baik, tunggu sebentar" ucap dokter itu yang langsung berjalan pergi.
Rengga yang melihat satu tempat tidur sudah berada di dalam ruangan bergegas menggendong Vina, Rengga menurunkan Vina di atas tempat tidur dengan sangat pelan sambil berharap Vina tidak terbangun.
"Mama" panggil Raka sambil memperhatikan sekelilingnya.
"Ini papa nak, Raka jangan takut sama papa ya" ucap Rengga mengelus kepala putranya.
"Papa sayang sama Raka" sambung Rengga sambil mencium putra kecilnya.
Rengga bisa melihat putranya yang sudah tidak lagi takut padanya, betapa senang hatinya kedua anaknya sudah tidak lagi membencinya.
______ _____
Hoooooooaaaaaaam...
__ADS_1
Vina yang baru terbangun langsung menutup mulutnya, Vina melihat ke tempat tidur rumah sakit yang di tidurinya dengan penuh kebingungan.
"Kamu sudah bangun?" tanya Rengga sambil menggendong Raka.
"Raka sudah terbangun nak" ucap Vina yang langsung ingin mengambil Raka dari gendongan Rengga.
"Biarkan dia sama aku. Ayo kita pulang" sahut Rengga.
"Pulang, bareng kamu apa tidak salah. Lagipula aku membawa mobil sendiri" ucap Vina.
"Mobilku di bawa Aldo kemarin, apa salahnya aku pulang ke rumah ibu dari anakku" sahut Rengga yang langsung berjalan meninggalkan Vina.
Vina bergegas menyusul Rengga walau merasa heran, anaknya selama ini takut dengan Rengga tapi sekarang bagaimana bisa anaknya bahkan tidak menangis saat melihat bukan dirinya yang menggendongnya.
"Apa yang ku lewatkan semalam" ucap Vina sambil terus berjalan.
Di dalam mobil Vina tidak berhenti berpikir apa yang di lakukan Rengga hingga membuat Raka tidak lagi takut padanya, bahkan saat Rengga menyupir Raka tetap duduk anteng tanpa meminta gendong padanya.
"Sebenarnya apa yang sudah kamu lakukan?" tabya Vina.
"Melakukan apa?" tanya Rengga balik.
"Apa yang kamu lakukan agar Raka tidak takut denganmu?" tanya Vina.
"Aku tidak melakukan apapun, aku ayahnya wajar saja anakku tidak takut denganku" sahut Rengga santai.
"Bagaimana? Apa kasur rumah sakit terasa nyaman?" tanya Rengga sambil tersenyum.
"Jadi kamu sengaja melakukannya" sahut Vina.
"Aku hanya kasihan padamu saat bersandar di pundakku saat tertidur, karena tidak tega meninggalkanmu sendiri aku terpaksa meminta dokter menambah satu tempat tidur lagi" ucap Rengga.
"Memalukan, lagipula aku tidak mungkin tertidur di pundakmu" sahut Vina. Karena memang Vina tertidur jadi tidak menyadari bahwa dirinya tidur di pundak Rengga.
"Aku tidak keberatan mengecek CCTV rumah sakit untuk mu" ucap Rengga sambil tersenyum.
Vina langsung terdiam, jika benar dirinya tertidur di pundak Rengga dan CCTV menjadi saksi mau di teruh di mana mukanya.
"Bagaimana?" tanya Rengga lagi.
"Tidak perlu terima kasih" sahut Vina.
"Vin" panggil Rengga.
"Ada apa?" tanya Vina.
"Bagaimana jika kita menikah" ucap Rengga.
__ADS_1
"Apa!" teriak Vina yang merasa terkejut.