Jodoh Tuan Kejam

Jodoh Tuan Kejam
Bab 77


__ADS_3

Tiga hari berturut-turut Vina terus membawakan bubur untuk Rengga, hari keempat yang seharusnya Rengga di perbolehkan pulang memutuskan untuk tetap tinggal selama satu hari.


Dokter rumah sakit bahkan pemilik rumah sakit tidak dapat berbuat apa-apa, kalau Rengga memang masih menginginkan berada di rumah sakit mereka itu malah tambah bagus pikir mereka.


"Kamu belum boleh pulang juga?" tanya Vina yang berjalan menghampiri Rengga.


"Belum" sahut Rengga dengan suara pelan.


"Kemana Aldo? kenapa dia tidak menjagamu?" tanya Vina lagi.


"Aku menyuruhnya beristirahat" sahut Rengga.


"Haaaaaah, padahal aku berharap kamu bisa keluar dari rumah sakit secepatnya. Kalau kamu keluar dari rumah sakit aku tidak lagi merasa bersalah" ucap Vina sambil menghela nafas panjang.


"Apa sampai segitunya kamu tidak ingin bertemu denganku" sahut Rengga yang masih berbaring di tempat tidurnya.


"Mau bagaimana lagi, kita tidak memiliki hubungan hingga mengharuskan untuk saling bertemu" ucap Vina.


"Tapi aku ayah dari kedua anak yang ada padamu" sahut Rengga.


"Memangnya kenapa jika kamu ayah dari mereka, selagi mereka tidak dekat denganmu aku rasa aku tidak memiliki kewajiban untuk dekat denganmu" ucap Vina yang langsung duduk di samping Rengga.


"Sudahlah, aku malas berdebat dengan pasien. Kali ini aku tidak membawa bubur, katakan saja kamu mau makan apa?" sambung Vina.


"Benarkah?" sahut Rengga tidak percaya.


"Kenapa aku harus berbohong" ucap Vina.


"Kalau begitu ayo ke rumahku" sahut Rengga yang langsung bangun dari tempat tidur rumah sakit.


"Tunggu dulu" ucap Vina sambil berdiri.


Vina menatap Rengga yang bisa langsung berdiri tegak tanpa merasakan sakit, lalu kenapa Rengga masih berada di rumah sakit sekarang.


"Apa ini rencanamu?" tanya Vina.


"Sebenarnya aku memang sudah di perbolehkan pulang, hanya saja aku masih ingin makan makanan yang kamu bawakan" sahut Rengga tanpa merasa bersalah.


"Dasar licik" ucap Vina kesal.


"Bukannya kamu sudah berjanji mau memasak untukku" sahut Rengga.


"Sudahlah, anggap saja ini penebusan rasa bersalah terakhir ku" ucap Vina yang langsung berjalan keluar.


Rengga tersenyum puas melihat Vina pasrah, Rengga sudah merasa tidak sabar ingin memakan masakan Vina yang pasti bukan bubur seperti hari-hari sebelumnya.


"Cepatlah naik" ucap Vina yang sudah berada di dalam mobilnya.

__ADS_1


Tanpa menunggu di panggil dua kali Rengga bergegas masuk dan duduk di samping Vina.


"Apa kamu akan memasak di rumahmu?" tanya Rengga.


"Tidak, kita akan memasak di rumahmu saja" sahut Vina.


"Tapi di rumahku tidak ada bahannya" ucap Rengga.


"Modal dong, supermarket kan ada" sahut Vina sambil menjalankan mobilnya.


Sepanjang perjalanan menuju supermarket Vina hanya diam, Vina merasa kesal di permainkan oleh Rengga tapi demi penebusan rasa bersalah terakhirnya Vina hanya bisa menuruti Rengga.


"Kenapa hanya diam, ikut masuk. Siapa yang bayar kalau kamu tidak ikut masuk ke dalam" ucap Vina.


"Masuk ke supermarket, tapi" sahut Rengga ragu. Apa kata orang jika ada yang tahu dirinya belanja di supermarket seperti layaknya wanita.


"kalau tidak mau aku akan menurunkan mu di sini, aku jadi tidak perlu memasak untukmu" ucap Vina.


"Haaaaah, baiklah" sahut Rengga terpaksa sambil keluar dari mobil Vina.


Vina yang memasuki supermarket di ikuti Rengga dari belakang menarik perhatian para pembeli lainnya, kebanyakan dari ibu-ibu yang melihat Rengga langsung menjadi salah tingkah.


"Aku sudah mengatakannya bukan, lihatlah mereka" ucap Rengga setengah berbisik ke Vina.


"Biarkan saja, pria tampan sepertimu wajar jika menarik perhatian semua wanita termasuk ibu-ibu itu" sahut Vina tanpa mempedulikan Rengga.


"Maaf ibu-ibu kenapa mengganggu suamiku ya" ucap Vina menerbos masuk kerumunan.


"Ini suaminya" sahut salah satu ibu-ibu yang berdiri di samping Rengga.


"Tentu saja, kalau begitu kami bayar dulu ya" ucap Vina yang langsung menarik tangan Rengga.


Setelah membayar Rengga bergegas kembali masuk ke dalam mobil, masih teringat jelas saat ibu-ibu tadi menyentuh tangan dan pipinya.


"Pufff, hahahahaha"


Vina yang sudah tidak kuat menahan tawa langsung tertawa sangat keras, Vina tidak menyangka pria kejam seperti Rengga tidak bisa berbuat apa-apa di depan ibu-ibu yang tadi mengerumuninya.


"Kamu sengaja bukan" ucap Rengga kesal.


"Sengaja apa?" tanya Vina sambil menjalankan mobilnya.


"Kamu sengaja membuat ibu-ibu tadi mengerumuni ku" sahut Rengga.


"Apa untungnya buatku melakukan itu" ucap Vina santai.


"Lalu kenapa kamu memaksa ku masuk, bukannya kalau hanya membayar kamu tidak kekurangan uang" sahut Rengga.

__ADS_1


"Aku memang tidak kekurangan uang, tapi semua untuk kamu sudah menjadi keharusan mu yang membayarnya" ucap Vina.


"Huuuuh, aku kapok. Aku tidak mau lagi pergi ketempat tadi" sahut Rengga sambil mengangkat bahunya.


"Bukan urusanku" ucap Vina sambil tersenyum.


Sampai di rumah Rengga Vina bergegas menuju ke dapur, barang belanjaanya yang berada di dalam mobil langsung di angkat oleh pelayan Rengga.


"Mau ku bantu nyonya" ucap seorang pelayan wanita mengejutkan Vina.


"Ehhhh, tidak perlu aku bisa sendiri. Jangan panggil nyonya tidak enak di dengar" sahut Vina.


"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu, kalau butuh apa-apa panggil saja" ucap pelayan wanita itu yang langsung berjalan pergi meninggalkan Vina.


Sebenarnya pelayan wanita itu pergi bukan tanpa sebab, dari kejauhan Rengga yang memberi isyarat untuknya pergi hanya bisa menurutinya.


Rengga mulai memperhatikan Vina yang bersiap memasak untuknya, rambutnya yang di ikat sebelum memasak menambah pesona sendiri untuk Rengga.


Tak tak tak...


Weeeeeeeessss...


Suara potongan dan suara tumisan yang beradu di wajan terdengar dari kejauhan, Rengga yang memperhatikan Vina hanya bisa terdiam mematung.


Kenapa aku tidak berinisiatif membantunya" dalam hati Rengga.


Rengga bergegas melangkah ke arah Vina, Vina yang terlalu fokus memasak sama sekali tidak menyadari kehadiran Rengga di belakangnya.


"Mau ku bantu?" tanya Rengga membuat Vina langsung memutar badannya.


"Tidak perlu, duduklah" sahut Vina sambil menunjuk kursi.


"Baru saja sembuh sudah sok mau membantu, kalau terkena minyak bagaimana" ucap Vina sambil melanjutkan memasaknya.


Rengga tersenyum mendengar perkataan Vina, walau terbilang kasar perkataan Vina mengandung perhatian di dalamnya.


Aroma masakan yang sudah tersedia di depan Rengga membuatnya tidak tahan, semua makanan di depannya terlihat sangat sedap ingin rasanya dirinya memakannya sekarang.


"Apa yang kamu tunggu, makanlah" ucap Vina sambil mencuci tangannya.


"Bagaimana denganmu, apa kamu tidak makan" sahut Rengga yang langsung mengambil piring.


"Tidak, aku kenyang. Aku sudah memasak untukmu, aku pergi sekarang" ucap Vina.


"Bisakah kamu pergi setelah aku makan" sahut Rengga sambil menatap Vina.


"Haaaaaah, kalau begitu cepatlah" ucap Vina yang duduk di depan Rengga.

__ADS_1


Vina terdiam tanpa mengedipkan matanya, melihat Rengga makan dengan lahapnya tanpa sadar membuatnya kembali tersenyum sendiri.


__ADS_2