Jodoh Tuan Kejam

Jodoh Tuan Kejam
Bab 90


__ADS_3

Vina berdiri menatap Brian sambil tersenyum, di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan semua pasti sudah direncanakan. Vina mulai menebak-nebak dalam hati Brian pasti terlibat dengan penerorannya atau mungkin Brian yang menerornya saat ini.


"Ternyata benar Vina, aku kira aku salah orang," ucap Brian memperbaiki rambutnya sambil menatap Vina.


"Sudah lama kita tidak bertemu, gayamu sudah banyak berubah," sahut Vina mengulurkan tangannya.


"Tentu saja," ucap Brian bangga sambil berjabat tangan dengan Vina.


"Boleh ikut gabung?" Tanya Brian.


"Boleh tentu saja, kenalin ini teman ku dan ini anak-anak aku," ucap Vina kembali duduk.


"Salam kenal semua, namaku Brian aku mantan Vina yang paling tampan," sahut Brian dengan penuh percaya diri.


"Oh ya Vin, ngomong-ngomong suamimu mana kok tidak ada?" tanya Brian memancing Vina dan anak-anaknya.


"Papa lagi pulang, lagian kenapa sih Om ini cerewet sekali," sahut Mia kesal.


"Huuus, Mia kalau makan tidak boleh ngomong, Om itu bukan cerewet tapi berpura-pura menjadi radio rusak," ucap Gladi yang disambut tawa pelan oleh Vina.


Brian ikut tertawa mencoba tidak menanggapi serius perkataan Gladi, sambil menunggu pesanannya datang Brian terus menatap Vina yang memainkan ponselnya sambil makan.


"Aku sudah selesai, maaf kami harus kembali ke hotel," ucap Vina.


"Tidak masalah, semoga kita bertemu lagi," sahut Brian.


Melihat Vina yang berjalan menjauh Brian tersenyum, Brian sudah tidak sabar ingin melanjutkan rencananya yang lebih menantang.


Di dalam kamar Aldo Rengga merasa gelisah, Vina dan anak-anaknya pergi keluar tanpanya apa mereka akan baik-baik saja pikir Rengga.


Sampai di kamar Gladi Vina berbisik, Vina meminta Gladi mengantarkan makanan ke Rengga sambil memberitahu Rengga tentang mereka yang bertemu dengan Brian.


"Aku antar makanan yang dibelikan Vina khusus untukmu," ucap Gladi pelan.


"Nanti aku akan memakannya," sahut Rengga.


"Vina meminta ku memberitaumu kalau kami bertemu dengan Brian mantannya, Vina menduga itu bukan hanya kebetulan," ucap Gladi.


"Heeeem."


Rengga yang mulanya berbaring langsung duduk, wajahnya terlihat sangat serius seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Ada kemungkinan dia yang bekerja sama dengan Kakekku, tujuannya dari awal memang menargetkan Vina," ucap Rengga.


"Apa maksudmu?" tanya Gladi tidak mengerti.


"Kamu kembali saja akan ku jelaskan lewat pesan ke Vina," sahut Rengga.

__ADS_1


"Baiklah," ucap Gladi yang langsung berjalan keluar.


Rengga kembali menganalisis semua dari awal, terror sebenarnya hanya untuk membuat kebingungan, hasil akhirnya dia sudah menebak kalau tidak pulang semua maka yang pulang adalah dirinya pikir Rengga.


"Jadi seperti itu," ucap Rengga menganggukan kepalanya mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


Ceklung...


Rengga mengirim pesan ke Vina memintanya untuk segera kembali ke kamar, kalau memang benar apa yang diperkirakan Brian pasti akan mendatangi kamar Vina.


"Aku harus apa?" tanya Vina membalas pesan dari Rengga.


"Biarkan saja, berpura-pura saja tidak tau," balas Rengga.


Melihat Vina yang berjalan keluar Gladi menghentikannya dengan tangan, Gladi langsung berdiri di depan Vina meminta Vina menjelaskan ke mana dirinya akan pergi.


"Aku mau kembali ke kamar, kamu jaga anak-anak saja, kalau ada ketukan pintu ataupun itu jangan dibukakan atau langsung disuruh masuk" ucap Vina menepuk pundak Gladi.


Vina yang berjalan ke kamarnya bisa merasakan seseorang sedang mengawasinya, walau begitu Vina mencoba berpura-pura tidak tau dan masuk ke dalam kamarnya begitu saja.


Tok tok tok.


Baru saja Vina duduk pintu terdengar diketuk, Vina bergegas mengirim pesan ke Rengga sebelum akhirnya berjalan ke arah pintu dan membukanya.


"Hay Vin," sapa Brian yang berdiri di depan Vina.


"Ahhh aku tidak sengaja melihatmu memasuki hotel ini, jadi aku bertanya ke resepsionis," sahut Brian.


Alasan yang sama sekali tidak masuk akal disambut senyum oleh Vina, sekarang apa yang harus dilakukannya Rengga bahkan belum membalas pesannya.


"Boleh aku masuk, aku ingin berbicara denganmu," ucap Brian yang langsung masuk melewati Vina begitu saja.


Haaaah...


Vina menghela nafas sebelum akhirnya ikut masuk ke dalam dan pintunya sengaja di buka sedikit.


"Kamu mau bicara apa?" tanya Vina duduk di kursi yang tidak berjauhan dengan Brian.


"Kenapa jauh sekali, sini duduk di sini saja," sahut Brian sambil menepuk kasur Vina.


"Ini bukan kamarmu, lebih baik cepat katakan tujuanmu saja," ucap Vina.


"Tujuanku. Eits, apa mungkin kamu sudah tau kalau aku yang menerormu" sahut Brian.


"Aku baru tau itu, sialan jadi kamu yang menerorku," ucap Vina yang langsung berdiri, matanya menatap Brian tajam.


"Hahahaha, hal seperti itu saja kamu tidak tau. Percuma saja kamu memiliki pelindung kalau begitu, di waktu kamu membutuhkannya dia tidak ada," sahut Brian tertawa sangat keras.

__ADS_1


Brian mendekati Vina yang hanya diam, sampai di depan Vina Brian memegang dagu Vina bersiap menciumnya.


Brrruuuuuuuuuuuaaaaaak.


Rengga yang sedari tadi memperhatikan dari luar langsung menendang Brian, berani sekali menyentuh Istrinya Rengga terlihat sangat marah besar.


"Heeeeh, jadi tikus sepertimu yang berani main-main denganku. Bedebah," teriak Rengga.


Brian bangkit berdiri menatap Rengga yang berdiri di samping Vina, Brian terdiam sejenak berpikir bagaimana bisa Rengga ada di sini lalu yang pergi dan diikutinya tadi siapa.


Bruuuuuuuaaakkk...


Rengga kembali menendang Brian hingga membuatnya membentur lemari.


Uhuk uhuk uhuk.


Memegangi dadanya Brian bangkit berdiri, otaknya masih belum bisa berpikir jernih kenapa rencananya bisa gagal.


Buuuug buuuuug buuuuug...


"Mati kau, berani sekali kamu mengacau bulan madu kami," teriak Rengga yang baru saja memukul Brian.


"Hahahaha, tidak masalah jika aku gagal Tuan Cafanza tidak akan membiarkan kalian tenang, dia juga pasti akan membebaskanku," teriak Brian sambil membentangkan tangannya.


"Keluarga Cafanza hanya memiliki aku sebagai Tuannya, walau sekalipun kamu Anak buahnya dia tidak akan membebaskanmu dariku," sahut Rengga.


"Tenanglah, bagaimana jika kita suruh dia memastikannya sendiri," ucap Vina sambil tersenyum.


Dari awal Rengga tau bagaimana sifat Kakeknya, Kakeknya tidak akan mengambil resiko hanya untuk orang asing yang baru dikenalnya.


"Kalian tunggu saja," sahut Brian yang langsung menelpon Kakek Rengga.


Tut tut tut.


Tut tut tut.


Berulang kali Brian mencoba menelpon berulang kali juga gagal, padahal baru beberapa jam lalu nomor itu masih aktif saat dihubungi.


"Jadi bagaimana?" tanya Vina menatap wajah Brian yang terlihat pucat.


"Aku salah, maafkan aku. Aku tidak akan mengganggu kalian lagi," sahut Brian sambil berlutut.


"Minta maaf enak saja, terima ini dulu." ucap Rengga tidak berhenti menendangi Brian.


Setelah merasa puas menendangi Brian Rengga meminta anak buah dadakannya membersihkan Brian, Rengga tidak ingin melihat Brian kembali muncul dihadapannya.


"Vin lepaskan aku Vin, bagaimanapun juga aku mantanmu," teriak Brian yang diseret keluar anak buah Rengga.

__ADS_1


"Peduli setan dengan mantan sepertimu," sahut Vina menghela nafas lega.


__ADS_2