
Rengga yang sudah menadapat kabar Aldo memiliki informasi penting sengaja menunggunya, di lihatnya Aldo yang baru turun dari mobil bergegas memasuki rumahnya.
"Rengga" teriak Aldo yang tidak mengetahui Rengga sengaja menunggunya.
"Tidak perlu berteriak" sahut Rengga sambil menyeruput teh susu di depannya.
"Ini informasi sangat penting, sepertinya ada rahasia di antara keluarga Anggi dan Kakek mu yang tidak kamu ketahui" ucap Aldo yang langsung duduk di samping Rengga dengan serius.
"Rahasia apa maksudmu?" tanya Rengga.
"Mata-mata yang ku kirim di sekitar Kakekmu bilang jika Kakekmu membuat janji tersembunyi dengan mamanya Anggi, dia juga mendengar keduanya membahas anak perempuan yang hilang dari panti asuhan" sahut Aldo menjelaskan.
"Terus" ucap Rengga.
"Dia juga bilang data anak itu sudah di hapus 5 tahun yang lalu, sepertinya ada hacker yang memulihkan data anak itu dan membawa anak itu pergi" sahut Aldo.
"5 tahun lalu, anak perempuan. Kira-kira anak siapa yang mereka cari" ucap Rengga sambil berpikir.
Tunggu, Anggi pernah hamil anak ku, tapi tepat setelah di lahirkan mereka bilang anak itu tidak bisa di selamatkan. Mungkinkah" dalam hati Rengga menebak-nebak.
"Anak mu" ucapan Aldo mengejutkan Rengga.
"Bukannya dulu Anggi pernah hamil anakmu, saat melahirkan kamu tidak ada di sampingnya. Apa mungkin mereka sengaja memalsukan kematian anak mu" sambung Aldo.
"Kamu sepemikiran dengan ku, kalau begitu kita harus bisa menyelidiki lagi dan kita juga harus secepatnya menemukan anak itu" ucap Rengga.
Aldo kembali menyebar anak buahnya mencari panti asuhan tempat anak Rengga di titipkan dulu, hanya dalam waktu satu hari Aldo berhasil menemukan tempat di mana anak Rengga di titipkan hanya saja semua sudah terlambat.
Aldo mengajak Rengga mendatangi reruntuhan bekas panti asuhan yang baru di hancurkan beberapa hari lalu, sampai di sana tidak ada sama sekali orang yang mereka temui Rengga bisa menebak semua yang terjadi pasti ulah Kakeknya.
"Bagaimana sekarang?" tanya Aldo sambil menatap Rengga.
"Pak tua itu selangkah lebih cepat di depan kita, aku tidak percaya tidak ada yang bisa kita lakukan" sahut Rengga yang langsung berbalik bersiap masuk ke dalam mobil.
"Tunggu" suara wanita paruh baya membuat Rengga dan Aldo menghentikan langkahnya serentak.
"Kalian siapa, apa kalian orang yang tega menghancurkan panti asuhan ini" ucap wanita itu.
"Kami mungkin terlihat kejam tapi kami tidak mungkin tega hati menghancurkan panti asuhan, kami kesini hanya ingin mencari tahu tentang anak perempuan yang baru beberapa hari lalu di bawa pergi" sahut Aldo.
"Kalian siapanya anak itu?" tanya wanita itu.
__ADS_1
"Kami keluarganya" sahut Rengga.
"Aku masih tidak percaya selama 5 tahun tidak ada yang mendatanginya, tapi sekarang banyak orang yang mengaku keluarganya" ucap wanita tua itu sambil menggelengkan kepalanya.
"Kalau boleh tahu siapa yang membawa anak itu pergi?" tanya Rengga.
"Anak muda yang mengaku sebagai pamannya yang membawanya pergi. Haaaaah, ku harap Mia bisa bahagia" sahut wanita itu yang langsung berjalan pergi meninggalkan Rengga dan Aldo.
"Mia" ucap Aldo.
"Kenapa aku seperti pernah mendengar nama itu" sahut Rengga.
"Lalu bagaimana sekarang?" tanya Aldo.
"Kumpulkan bukti dari rumah sakit tempat Anggi melahirkan, sepertinya pak tua itu sudah tidak bisa di biarkan lagi" sahut Rengga sambil mengepalkan tangannya.
____ _____ _____
Ting tong ting tong...
Suara bell rumah Kakek Rengga berbunyi berulang kali, pelayan yang mendengar suara bell rumah berbunyi bergegas membuka pintu.
"Apa benar ini rumah tuan Gamta Cafanza?" tanya seorang polisi.
"Ada apa? siapa di luar?" tanya Kakek Rengga yang langsung berjalan menghampiri pelayannya.
"Tuan Gamta anda di duga memalsukan kematian seseorang, silahkan ikut kami ke kantor polisi" ucap polisi yang berdiri di depan kakek Rengga.
"Apa kalian ingin menangkap ku. Aku rasa sepertinya kalian tidak tahu siapa aku" sahut Kakek Rengga.
"Anda berhak diam, ikut kami" ucap polisi yang bersiap memborgol tangan kakek Rengga.
"Aku Kakek Rengga, aku masih pemilik saham keluarga Cafanza" teriak kakek Rengga.
"Sekarang tidak lagi. Lihatlah ini" ucap Rengga yang langsung menunjukan pengalihan saham kakeknya kini menjadi miliknya.
"Bagaimana ini mungkin, cucu tidak tahu diri" sahut Kakek Rengga.
"Diam, seharusnya kamu tahu semua pasti ada balasannya. Aku masih bisa diam saat kamu menjodohkan ku, tapi karena kamu memalsukan kematian anak ku kamu seharusnya tahu apa akibatnya" ucap Rengga.
"Oh jadi kamu sudah mengetahuinya. Kalau begitu aku jelaskan sekalian saja, aku memang tidak ingin mengakui anak tidak sempurna itu cucuku sampai kapan pun aku tidak mungkin mengakuinya" teriak Kakek Rengga sambil berjalan memasuki mobil polisi di depannya.
__ADS_1
Rengga yang melihat Kakeknya di bawa pergi langsung menghela nafas lega, dirinya tidak menyangka Kakeknya tega memisahkannya dengan putrinya selama ini hanya karena putrinya tidak bisa melihat.
"Bagaimana, apa sudah ada kabar?" tanya Rengga yang melihat Aldo berjalan ke arahnya.
"Masih belum ada, apa kira-kira anakmu masih berada di kota ini" sahut Aldo.
"Aku memiliki firasat dia ada di kota ini" ucap Rengga.
Maafkan papa nak, papa tidak tahu kamu menderita selama ini" dalam hati Rengga.
"Sudah aku mau istirahat, terlalu banyak yang terjadi dalam beberapa hari ini membuat ku sakit kepala" ucap Rengga yang langsung berjalan ke mobilnya.
Di tempat berbeda Vina tidak membeda-bedakan antara Raka dan Mia, Vina yang sudah menganggapnya sebagai anaknya sendiri merasa sangat senang Mia berada di sampingnya.
"Kak Vina" panggil Andreas yang berdiri di depan pintu.
"Andreas kebiasan selalu berteriak seperti itu" ucap Vina menggelengkan kepalanya.
"Hay Raka, Mia. Paman bawa sesuatu ini" ucap Andreas yang langsung membuka mainan di depannya.
"Ini untuk Raka, robot-robotan edisi terbaru" sambung Andreas.
"Dan ini untuk Mia, boneka barbie yang cantiknya sama seperti Mia" ucap Andreas sambil memberikan boneka barbie yang di belinya ke Mia.
"Terima kasih paman, walau Mia tidak bisa melihat Mia sangat yakin boneka barbie pemberian paman pasti cantik" sahut Mia sambil menguasap rambut bonekanya.
"Tentu dong, untuk anak cantik bonekanya juga harus cantik" ucap Andreas yang langsung di sambut senyum oleh Mia.
"Vina Vina" teriak Ian yang berlari masuk ke dalam rumah.
"Aduh, tadi Andreas yang berteriak sekarang Ian. Kalian berdua bisa tidak sih jangan berteriak kalau masuk ke rumah" sahut Vina.
"Vin, ada berita penting" ucap Ian sambil mencoba mengatur nafasnya.
"Berita penting seperti apa hingga membuat mu yang terbiasa tenang sampai seperti ini" sahut Vina.
"Kakek Rengga di tangkap polisi" ucap Ian.
"Apa!" sahut Vina terkejut.
"Iya ini benar, Kakek Rengga di tangkap polisi" ucap Ian lagi.
__ADS_1
Vina yang terkejut langsung menutup mulutnya dengan tangan, bagaimana mungkin orang besar seperti kakek Rengga bisa di tangkap polisi, pikir Vina.