
Vina paling tidak menyukai perbuatan yang tidak memiliki hati nurani, kasihan anak seperti Mia harus berada di panti asuhan karena tidak ada yang menginginkannya.
"Nama kamu Mia kan?" tanya Vina yang duduk di samping Mia.
"Iya, tante siapa ya?" tanya Mia balik.
"Panggil saja tante Vina, tante masih saudara sama paman kamu" ucap Vina.
"Wah, ternyata Mia masih memiliki banyak keluarga" sahutnya sambil tersenyum.
"Mia mulai sekarang tinggal sama tante ya, paman Andreas rumahnya tidak jauh dari sini nanti paman Andreas lebih sering kesini menemui Mia" ucap Vina.
"Iya" sahut anak perempuan itu sambil menganggukkan kepalanya.
Andreas yang melihat kedekatan Mia dan Vina merasa senang, sebenarnya tujuan awalnya membawa Mia untuk menjadikannya pion melawan Rengga, tapi setelah melihatnya sangat dekat dengan Vina lebih baik jika anak itu bisa menikmati kebahagiaannya yang selama ini tidak dia dapatkan.
"Vina aku pulang" teriak Gladi yang baru saja membawa Raka jalan-jalan.
Andreas dan Ian yang sudah pulang ke rumah masing-masing membuat Gladi merasa sangat terkejut melihat anak perempuan di depannya, Gladi kebingungan sendiri bagaimana bisa ada anak perempuan berada di dalam rumahnya dan di mana orang tuanya.
"Kenapa kamu menatapnya seperti itu?" tanya Vina setengah berbisik.
"Anak siapa itu, di mana orang tuanya" sahut Gladi yang langsung menarik tangan Vina keluar rumah.
"Dia saudara Raka" ucap Vina santai.
"Apa dia anak mu?" tanya Aldo yang tidak tahu sejak kapan berdiri di dekat Vina.
"Bisa di bilang begitu" sahut Vina santai.
Aldo tidak menyangka ternyata selama ini Vina telah memiliki anak, kabar besar seperti itu Rengga harus segera mengetahuinya.
"Aku pulang dulu" ucap Aldo yang langsung berjalan ke mobilnya.
"Hati-hati terima kasih sudah membawa ku dan Raka jalan-jalan" sahut Gladi.
"Huuuuh, benar-benar budak Cinta ya" ucap Vina yang langsung mengambil Raka dari gendongan Gladi.
"Biarin, setidaknya kami belum sampai ke sana" sahut Gladi menyindir Vina yang semalam berciuman dengan Rengga.
__ADS_1
"Apa kamu bilang" teriak Vina bersiap mencubit Gladi.
"Hahahaha" Gladi tertawa keras sambil berlari meninggalkan Vina.
_____ _____
Di tempat berbeda Aldo bergegas mendatangi rumah Rengga, dengan tergopoh-gopoh Aldo berlari ke kamar Rengga dan langsung nyelonong masuk ke dalam.
"Sepertinya sopan santun mu sudah mulai berkurang sekarang" ucap Rengga yang bersandar santai di kasurnya.
"Haaaah, haaaah. Aku punya berita penting" sahut Aldo mencoba mengatur nafasnya.
"Berita apa?" tanya Rengga sambil menatap Aldo.
"Vina, Vina dia sudah memiliki anak berumur 5 tahun" sahut Aldo yang langsung membuat Rengga bangun dari tempat tidurnya.
"Jangan bercanda pada ku" ucap Rengga menatap Aldo tajam.
"Aku tidak bercanda, anak itu ada di rumah Vina sekarang" sahut Aldo lagi.
Sial, beraninya dia menyembunyikan bahwa dia sudah memiliki anak dari pria lain" dalam hati Rengga sambil mengepalkan tangannya.
Rengga mengendarai mobilnya ke rumah Vina dengan kecepatan penuh, dirinya masih tidak bisa percaya Vina telah memiliki anak dari orang lain sebelum dirinya, jika itu benar bukannya yang sekarang di dapatkannya berarti bekas orang lain, pikir Rengga.
"Vina" teriak Rengga yang berada di depan rumah Vina.
Suara teriakan Rengga yang sangat keras membuat Mia yang mendengarnya bergegas membuka pintu, Mia yang tidak bisa melihat hanya bisa menolehkan wajahnya mencari suara teriakan yang baru saja di dengarnya.
Braaaaaaaaak...
"Ternyata kamu anak haram Vina" ucap Rengga yang langsung mendorong Mia hingga terjatuh.
"Kamu siapa? kenapa mendorong Mia" sahut anak perempuan itu mencoba bangkit berdiri sambil menahan air matanya.
"Dasar anak haram, katakan siapa ayahmu" teriak Rengga yang bersiap mengayunkan tangannya ke Mia.
"Apa-apaan ini, kenapa kamu mau memukulnya" Vina yang melihat Rengga mengangkat tangannya bersiap memukul Mia langsung menyembunyikannya di belakangnya.
Plaaaaaaaaak...
__ADS_1
Rengga yang kesal mengetahui Vina memiliki anak selain darinya langsung memukulnya, pikirannya sama sekali tidak bisa di ajak kerja sama memukul Vina adalah cara benar menyelesaikan permasalahan.
"Bagus, sangat bagus. Pergi dari sini aku sudah tidak ingin melihat mu lagi" teriak Vina sambil memegangi pipinya.
"Aku akan pergi, aku juga tidak sudi mendapat barang bekas orang lain" sahut Rengga yang langsung berjalan pergi meninggalkan Vina dan Mia.
Kenapa kita tidak ke sana menolong Vina" bisik Ian yang bersembunyi mengintip dari kejauhan.
Jika kita menolong kak Vina bagaimana bisa kak Vina kembali membenci Rengga" sahut Andreas.
"Kak Vina apa yang terjadi?" tanya Andreas sambil berlari menghampiri Vina yang memegangi pipinya.
"Tidak ada apa-apa, aku dan Mia masuk dulu untuk sementara jangan menggangguku" sahut Vina yang langsung berjalan masuk ke dalam rumah.
Huuu, huuu, huuu...
Mia yang baru masuk ke dalam rumah menangis sekencang mungkin, perkataan Rengga yang mengatakan dirinya anak haram membuat Mia tidak bisa berhenti menangis.
"Sudah tidak perlu di dengarkan, paman itu gila" ucap Vina mencoba menenangkan Mia.
"Tapi, tante tadi di pukul olehnya itu pasti sakit" sahut Mia yang masih menangis.
"Hanya sakit sedikit" ucap Vina, walau rasanya sangat sakit tapi tidak mungkin untuknya membuat anak kecil di depannya bersedih.
"Ya sudah Mia beristirahat saja di kamar, perkataan paman tadi tidak perlu di pikirkan" sambung Vina lagi.
"Iya" sahut Mia yang langsung berjalan pergi meninggalkan Vina.
Rengga benar-benar tidak punya hati, sama anak sendiri bagaimana dia bisa seperti itu" dalam hati Vina.
Di tempat berbeda kepergian Mia dari panti diketahui keluarga Anggi, keluarga Anggi yang tidak ingin ada masalah jika orang mengetahui siapa Mia sebenarnya bergegas menelpon Kakek Rengga.
"Apa! Bagaimana bisa anak itu keluar dari panti asuhan" teriak Kakek Rengga di telepon. Kakek Rengga sangat terkejut, selama ini kabar anak itu selalu baik-baik saja tidak ada yang mengetahui keberadaannya, tapi sekarang.
"Seorang pemuda yang mengaku sebagai keponakan Rengga yang membawanya keluar, aku tidak mau tahu kamu harus mencari anak itu secepatnya atau aku akan memberitahu ke publik bahwa anak itu adalah anak Rengga" sahut mamanya Anggi yang langsung mematikan teleponnya.
"Sial, satu masalah belum selesai datang masalah baru" ucap Kakek Rengga sambil memegangi kepalanya.
Keponakan, apa mungkin Andreas yang sudah membawa anak itu pergi. Tapi dari mana dia mendapat informasi itu, Rengga saja bahkan tidak mengetahuinya" dalam hati Kakek Rengga.
__ADS_1
"Ahhhhhhh, anak itu dua-duanya sangat merepotkan saja. Aku tidak akan membiarkan keduanya merusak semua yang sudah susah payah ku sembunyikan. Jika Rengga tahu anaknya masih hidup habislah aku" ucap Kakek Rengga yang berbicara sendiri.