Jodoh Tuan Kejam

Jodoh Tuan Kejam
Bab 17


__ADS_3

Vina yang baru masuk ke dalam rumah langsung duduk bersandar di sofa, Vina masih tidak percaya ayah anaknya adalah Rengga pria kejam yang waktu itu menculiknya.


"Hey" sapa Gladi mengejutkan Vina yang melamun.


"Bagaimana, siapa Ayah Raka?" tanya Gladi yang langsung duduk di samping Vina.


"Kamu mungkin tidak akan percaya, jika ku katakan padamu Ayah Raka adalah Rengga" sahut Vina.


"Rengga. Hemmm, pantas saja" ucap Gladi santai.


"Pantas saja bagaimana maksudmu?" tanya Vina.


"Saat aku memata-matainya aku tahu dia sedang mencari seseorang, aku tidak tahu kalau yang di carinya itu kamu" sahut Gladi.


"Huuuuh, untung saja kamu memberikan ku senjata buat berjaga-jaga kalau tidak mungkin sekarang aku masih ada di sana" ucap Vina.


"Hahahaha, jadi kamu menggunakan bubuk yang ku kasih" sahut Gladi yang tiba-tiba tertawa.


"Mau bagaimana lagi, aku tidak punya pilihan" ucap Vina.


"Apa kamu tahu bubuk apa yang ku berikan padamu itu?" tanya Gladi yang masih tertawa kecil sambil menutup mulutnya.


"Tidak tahu, memannya bubuk apa?" tanya Vina balik.


"Lada hitam. Hahahahaha" sahut Gladi yang langsung tertawa sangat keras.


"Puffff, pantas saja setelah ku lempar ke matanya dia langsung tidak bisa melihat" ucap Vina sambil tertawa kecil.


"Aku jadi penasaran bagaimana ekspresinya saat ini" sahut Gladi.


"Kita lupakan itu dulu, sepertinya dia tidak akan menyerah untuk mengambil Raka dia juga mengetahui rumah kita, sekarang bagaimana? apa yang harus ku lakukan?" ucap Vina yang terlihat kebingungan.


"Selagi ada aku kamu tenang saja, lagipula dia tidak mungkin berani langsung mengambil Raka dari mu" sahut Gladi.


"Ku harap juga begitu" ucap Vina.


Di tempat berbeda, Rengga langsung di bawa ke rumah sakit. Rengga yang merasa perih di matanya terpaksa harus tinggal di rumah sakit lebih lama.


"Kamu terlalu ceroboh, bagaimana bisa bubuk lada hitam sampai masuk ke mata mu" ucap Fais, seorang dokter yang juga teman Rengga.


"Apa menurut mu aku orang seperti itu" sahut Rengga.


"Sebenarnya mungkin tidak, tapi siapa yang berani melemparkan bubuk lada hitam ke mata singa seperti mu" ucap Fais.


"Semua karena wanita gila itu, aku pasti akan membalasnya" sahut Rengga sambil mengepalkan tangannya.


"Rengga, apa yang terjadi dengan mu" teriak Naina yang berlari kearah Rengga dan langsung memeluknya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, hanya kecelakaan kecil" sahut Rengga.


"Untuk apa kamu kesini?" tanya Rengga yang kesal harus terus di ganggu Naina.


"Aku khawatir pada mu, lihatlah wajah ku" sahut Naina.


"Aku tidak perduli, pergilah aku mau istirahat. Fais kamu sebagai dokter bagaimana bisa membiarkan pasien mu di ganggu" ucap Rengga dengan nada tinggi.


"Kenapa kamu malah menyalahkan ku" sahut Fais pelan.


"Nona Naina silahkan keluar, pasien bernama Rengga harus beristirahat" ucap Fais sambil menarik tangan Naina keluar Ruangan.


"Rengga kamu harus cepat sembuh, aku akan kembali mengunjungi mu lagi" sahut Naina yang berada di depan pintu ruangan Rengga.


"Sial, wanita ini tidak pernah berhenti mengganggu ku" ucap Rengga pelan.


Ian yang berdiri di samping Rengga tiba-tiba tersenyum, Ian merasa detak jantungnya semakin cepat saat dirinya mengingat wanita yang di tolongnya semalam.


"Rengga, apa aku tidak salah lihat sekarang" ucap Fais yang tidak sengaja menatap Ian tersenyum.


"Salah lihat apa?" tanya Rengga.


"Aku melihat Ian tersenyum, bukankah selama ini dia selalu memasang wajah suram seperti dirimu" sahut Fais yang masih terus menatap Ian.


"Atau mungkin sekarang dia sedang jatuh cinta, cinta bisa merubah segalanya. Bukannya begitu Ian" sambung Fais yang langsung menggoyangkan tubuh Ian.


"Hoo, bisakah kamu ceritakan pada ku wanita mana yang berhasil mencuri hati mu" sahut Fais sengaja menggoda Ian.


"Maaf Tuan Rengga, aku akan pergi kek kantor sekarang" ucap Ian yang langsung berjalan pergi.


"Heeem, dugaan ku pasti benar" sahut Fais.


"Kamu keterlaluan menggodanya, Ian sangat pemalu jika menyangkut masalah pribadinya" ucap Rengga.


"Tapi yang ku katakan benar, saat dia keluar tadi wajahnya memerah itu sudah menjadi bukti" sahut Fais sambil menganggukkan kepalanya.


"Terlalu ikut campur urusan orang, sudah lebih baik kamu pergi saja pasien bukan cuma aku di rumah sakit ini" ucap Rengga.


"Baiklah aku keluar, kalau ada apa-apa jangan sungkan menghubungi ku" sahut Fais sambil berjalan keluar ruangan Rengga.


Rengga yang masih merasa perih di matanya berulang kali menggerutu, semua yang di lakukan Vina harus di bayarnya berkali-kali lipat, pikirnya.


Dikantor Rengga, Ian yang sibuk menggantikan Rengga kembali teringat wanita yang di tolongnya semalam, Ian tiba-tiba teringat dirinya tidak menanyakan siapa nama wanita itu sebelum pergi.


"Tidak ada salahnya aku mampir ke rumahnya nanti" ucap Ian pelan.


Setelah meyakinkan diri Ian yang sudah menyelesaikan pekerjaan Rengga bergegas ke rumah Vina, tidak lupa Ian membeli buah untuk wanita yang di tolongnya itu karena tidak mungkin dirinya pergi ke rumah wanita dengan tangan kosong.

__ADS_1


Tok tok tok, tok tok tok...


Ian mengetuk pintu berulang kali dengan cemas, ini baru pertama kali baginya mendatangi rumah wanita.


Gladi melihat ke kamar Vina yang ternyata menidurkan Raka, pantas saja suara ketukan sekeras itu Vina tidak mendengarnya.


"Cari siapa" ucap Gladi yang baru membuka pintu rumahnya.


"Aku cari wanita yang tinggal di sini, tapi aku tidak tahu namanya" sahut Ian.


"Aku jug tinggal di sini, tapi sepertinya aku tidak mengenalmu" ucap Gladi sambil memperhatikan dari atas sampai bawah pria yang berdiri di depannya itu.


"Aku benar-benar tidak tahu namanya" sahut Ian.


Vina yang baru keluar dari kamar tidak sengaja mendengar suara di depan rumah, Vina yang merasa penasaran Gladi berbicara dengan siapa langsung keluar menghampiri Gladi.


"Siapa?" tanya Vina sambil menepuk pundak Gladi.


"Aku yang semalam" sahut Ian gugup.


"Oh Ian, mari masuk" ucap Vina yang langsung menarik tangan Gladi masuk ke dalam rumah.


"Kamu mengenalnya?" tanya Gladi setengah berbisik.


"Dia yang menolongku semalam" sahut Vina.


"Ohh, kalau begitu aku lebih tenang sekarang, ku kira dia anak buahnya Rengga" bisik Gladi yang langsung pergi meninggalkan Vina dan Ian.


"Maaf kalau aku mengganggu" ucap Ian.


"Tidak mengganggu, tadi aku menidurkan anak ku jadi tidak mendengar suara ketukan pintu" sahut Vina.


"Kamu sudah menikah?" tanya Ian yang merasa terkejut mendengar perkataan Vina.


"Belum" sahut Vina dengan suara pelan.


Masih ada kesempatan, aku tidak keberatan dengan anaknya" dalam hati Ian yang membuatnya tiba-tiba tersenyum.


"Aku lupa bertanya siapa namamu?" tanya Ian.


"Nama ku Vina, yang tadi itu sudah seperti saudara ku namanya Gladi" sahut Vina.


"Oh, aku hanya ingin bertanya itu saja. Kalau begitu aku pergi dulu" ucap Ian sambil berdiri.


"Kenapa cepat sekali" sahut Vina.


"Aku hanya penasaran siapa nama mu, kalau begitu aku pergi dulu lain kali aku akan mampir lagi" ucap Ian yang langsung berjalan pergi meninggalkan Vina.

__ADS_1


__ADS_2