Jodoh Tuan Kejam

Jodoh Tuan Kejam
Bab 26


__ADS_3

Tiga pengawal berpakaian serba hitam menghampiri Rengga yang terlihat sangat marah, tanpa menunggu perintah ketiga memegang tangan Lidia hingga membuatnya berlutut di depan Rengga.


"Lepaskan aku, aku akan melaporkan mu ke polisi, lihat saja nanti kamu pasti menderita" teriak Lidia.


"Aku ingin tangannya dan mulutnya itu kalian beri pelajaran, jangan berhenti jika dia masih tidak mengakui kesalahannya" ucap Rengga sambil memperhatikan sekelilingnya, Rengga baru menyadari Vina dan Ian sudah tidak ada di sekitarnya lagi.


Sial, semua karena wanita murahan ini" dalam hati Rengga sambil mengepalkan tangannya.


Rengga yang berharap masih bisa bertemu Vina di luar bergegas pergi, Rengga meninggalkan ketiga pengawalnya yang masih sibuk memukul mulut dan tangan Lidia bergantian tanpa henti.


"Lepaskan aku, aku mengaku salah aku tidak akan mengulanginya" teriak Lidia yang sudah tidak sanggup menahan rasa sakit di mulut dan tangannya.


"Lain kali jika ingin mencari masalah lihatlah dengan jelas siapa orangnya, kamu berani menyinggung bos kami seumur hidupmu kamu akan menyesal" sahut salah satu pengawal Rengga yang langsung memberikan pukulan terakhir ke mulut Lidia.


"Aku mengerti, aku mengeti" ucap Lidia sambil menganggukkan kepalanya.


Ketiga pengawal Rengga bergegas pergi meninggalkan Lidia yang tangannya sudah mereka patahkan, mulut Lidia yang bengkak karena pukulan dari mereka membuatnya sulit untuk berbicara.


Semua karena Vina, aku tidak akan melepaskan mu dengan mudah" dalam hati Lidia.


"Kamu menyinggung orang yang salah" ucap Bram yang berdiri di depan Lidia.


"Kenapa, apa kamu ingin membela mantanmu itu" sahut Lidia sambil menahan rasa sakit di mulutnya.


"Aku tidak membelanya, lagipula kesalahan fatal mu karena berurusan dengan Rengga. Apa kamu tidak tahu sudah berapa banyak keluarga yang dk hancurkannya" ucap Bram.


"Perduli setan, pria macam apa kamu yang membiarkan wanitanya di pukul sampai seperti ini tapi tidak membelanya" sahut Lidia kesal.


"Aku tidak ingin menanggung resiko jika menolong mu" ucap Bram yang terlihat sangat santai.


"Pengecut" sahut Lidia.


"Ya aku pengecut, kalau begitu mari kita putus aku juga sudah bosan dengan mu" ucap Bram sambil berjalan meninggalkan Lidia.


"Bram kamu kejam, aku menyesal telah merebut mu darinya kalian sama-sama pasangan hina sudah sepantasnya kalian bersama" sahut Lidia yang hanya bisa pasrah melihat Bram pergi meninggalkannya sendiri.


Lidia mengepalkan tangannya dengan penuh amarah menyelimutinya, Lidia berpikir semua yang terjadi gara-gara Vina jika Vina mati mungkin dirinya tidak akan merasa terhina seperti saat ini.


Iya aku harus membalasnya, orang itu pasti tahu caranya" dalam hati Lidia sambil berjalan pergi.

__ADS_1


Vina yang sampai di rumah langsung membawa putranya masuk ke dalam di ikuti Ian dari belakang, Ian duduk di ruang tamu sambil menatap Vina yang berjalan memasuki kamarnya tanpa berbicara satu katapun.


"Bagaimana?" tanya Gladi yang berjalan menghampiri Ian.


"Semua tidak sesuai rencana, ada Rengga di sana" sahut Ian.


"Sial, lalu apa yang terjadi pada Vina kenapa wajahnya terlihat sedih seperti itu?" tanya Gladi lagi.


"Itu" ucap Ian yang bingung ingin menjelaskannya dari mana.


"Aku tidak apa-apa, maaf Ian lagi-lagi aku membawa mu kedalam masalah ku" sahut Vina.


"Aku tidak apa-apa, aku tidak keberatan menjadi ayah dari Raka" ucap Ian sambil menatap Vina.


"Maaf Ian aku merasa sangat lelah, kamu pulang saja lagipula hari sudah sangat malam" sahut Vina tanpa melihat jam di dinding rumahnya.


"Kalau begitu aku pulang dulu, ini nomor ku jika ada apa-apa hubungi saja aku" ucap Ian sambil menaruh nomor yang sudah di tulisnya di atas meja.


"Ya" sahut Vina singkat.


Gladi yang melihat Ian sudah keluar dari rumahnya bergegas menutup pintunya, Gladi duduk di samping Vina yang menyandarkan tubuhnya sambil menutup kedua matanya.


"Lidia sangat licik, dia mengatakan ke semua orang kalau Ian adalah ayah Raka" sahut Vina tanpa membuka matanya.


"Lalu?" tanya Gladi penasaran.


"Rengga ada di sana saat itu, Rengga yang tidak terima langsung menampar Lidia di depan banyak orang" sahut Vina.


"Bukannya itu bagus, akhirnya mantan sahabatmu itu menerima balasan secara instan" ucap Lidia.


"Bukan itu masalahnya, aku hanya tidak habis pikir kenapa Rengga melakukan itu, apa dia masih belum menyerah untuk mengambil Raka dari ku" sahut Vina sambil membuka matanya yang tanpa sadar meneteskan air mata.


"Sudah, apapun tujuannya yang terpenting saat ini Raka masih bersama mu, aku juga tidak akan tinggal diam jika dia berani merebut anak angkat ku satu-satunya" ucap Gladi sambil memeluk tubuh Vina.


Tok tok tok, tok tok tok...


Suara ketukan pintu membuat Gladi melepaskan pelukannya, Gladi meminta Vina kembali beristirahat di kamarnya biar dirinya yang membuka pintu.


"Vina" panggil Rengga yang berdiri di depan Gladi.

__ADS_1


"Untuk apa kamu kemari, pergi rumah ku tidak menerima mu" sahut Gladi.


"Di mana Vina, aku ingin berbicara padanya" ucap Rengga dengan serius.


"Vina sedang beristirahat, aku tidak akan membiarkan mu mengganggunya" sahut Gladi.


"Aku mengerti, kalau begitu katakan padanya aku tidak akan merebut anak ku darinya, hanya saja aku berharap masih boleh bertemu dengan anak ku" ucap Rengga dengan suara pelan yang terdengar pasrah.


"Aku akan mengatakannya pada Vina, sekarang silahkan pergi" sahut Gladi yang langsung menutup pintunya.


Cih, lihat saja hasil akhirnya" dalam hati Rengg sambil berjalan pergi meninggalkan rumah Vina.


"Keluarlah, aku tahu kamu mendengar semua yang di katakannya" ucap Gladi yang melihat tangan Vina di belakang pintu kamarnya.


"Iya, apa menurutmu yang di katakannya adalah benar?" tanya Vina.


"Tidak tahu, tapi bukannya itu bagus jika dia menyerah" sahut Gladi.


"Ku harap begitu" ucap Vina yang kembali masuk ke kamarnya.


Di sisi lain, semalam penuh Lidia tidak bisa tidur tangan dan bibirnya yang sakit benar-benar menyiksanya.


Lidia melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 10:30, tanpa banyak berpikir lagi Lidia bergegas pergi ke Bar Aldo, Lidia berharap Aldo bisa membantunya membalas dendam untuk Vina.


Sampai di depan Bar Aldo dan dua pengawalnya duduk santai seperti sedang menunggu seseorang, Lidia yang berpikir Aldo sengaja menunggunya langsung berjalan menghampiri Aldo sambil tersenyum dengan penuh harapan.


"Aku tahu aku hanya bisa mengandalkan mu" ucap Lidia yang berdiri di depan Aldo.


"Oh, tapi aku berpikir sebaliknya" sahut Aldo tanpa menatap Lidia.


"Apa maksudmu?" tanya Lidia.


"Orang yang kamu singgung semalam adalah orang yang selama ini mencari Vina, kamu berani mempermalukannya dengan menyebut anaknya sebagai anak haram dan pria lain sebagai ayah dari anaknya, kesalahanmu sangat fatal" sahut Aldo.


"Apa maksud mu anak Vina adalah anak hasil hubungannya Dengan pria yang memukul ku semalam" ucap Lidia yang masih tidak percaya.


"Benar, kamu tahu kenapa aku menunggu kedatangan mu" sahut Aldo.


"Tidak tahu, jangan-jangan" ucap Lidia sambil berjalan mundur.

__ADS_1


"Kalian berdua, selesaikan dengan bersih jangan sampai meninggalkan jejak" ucap Aldo memerintah kedua pengawalnya yang langsung menyeret Lidia dengan paksa.


__ADS_2