
Vina menatap Rengga dengan wajah sedih, Vina masih berharap Rengga mengembalikan putra kecilnya itu.
"Tunggu apa lagi, pergilah" ucap Rengga sambil melemparkan tas Vina yang berada di sofanya.
"Baik. Aku akan pergi tapi sebelum itu kamu harus mengingat satu hal, suatu hari nanti aku pasti akan mengambil anak ku. Akan ku anggap Aku sedang menitipkannya pada mu" sahut Vina yang langsung mengambil tasnya berjalan pergi meninggalkan Rengga.
"Jangan pernah bermimpi untuk mengambilnya, bahkan untuk menemuinya aku tidak akan membiarkan mu" sahut Rengga sambil berteriak.
Vina yang berjalan belum jauh bisa mendengar teriakan Rengga. Vina mengepalkan tangannya sendiri sambil berjanji di dalam hatinya, suatu hari nanti dia akan membalas apa yang di lakukan Rengga dan juga pria tua yang berani memisahkannya dengan anaknya.
Vina kembali ke rumahnya sambil berlinang air mata di pipinya, Vina yang mengemasi bajunya tidak lupa membawa beberapa baju putranya untuk di jadikan kenang-kenangan.
"Tunggu mama nak, mama pasti akan kembali lagi suatu hari nanti" ucap Vina sambil mencium baju putranya.
Kriiiiiiing, kriiiiiing, kriiiiiiing...
Suara ponsel yang berbunyi di tasnya membuat Vina bergegas mengambil ponselnya, Vina yang mengeluarkan ponsel dari tasnya tidak sengaja menjatuhkan kartu hitam dengan secarik kertas yang membungkusnya.Tanpa banyak berpikir Vina membuka kertas yang di pegangnya itu dan membaca isinya.
*Ambillah black card ini, di dalamnya ada lebih banyak uang untuk mu bertahan hidup.
Kata sandi: 009911*.
Vina yang membaca isi dari kertas itu sudah bisa menebak siapa yang menulisnya, Vina memasukan kembali kartu hitam itu ke tasnya lalu mengangkat ponselnya yang masih terus berbunyi.
"Hallo" ucap Vina tanpa memperhatikan siapa yang menelponnya.
"Vina, apa kamu baik-baik saja, tunggu aku bebas aku akan membalasnya" sahut suara Gladi.
"Aku tidak apa-apa, tapi kita tidak bisa bertemu lagi sampai jumpa" ucap Vina yang langsung mematikan ponselnya.
Maaf Gladi sudah cukup aku merepotkanmu, kali ini aku akan bangkit dengan cara ku sendiri. Ku harap semoga kita bisa bertemu lagi " dalam hati Vina yang bergegas berjalan pergi membawa tas dan kopernya.
Vina yang berjalan keluar rumah masih bisa mendengar suara ponsel yang di tinggalkannya di dalam rumah. Vina sengaja meninggalkan ponselnya, dirinya tidak ingin Gladi mencari dirinya yang malah akan menjadi beban untuknya.
Di tempat berbeda Gladi berteriak kesal, Gladi yang baru menelpon Vina bisa merasakan bahwa Vina sangat menderita saat ini.
"Pria sialan aku tidak akan melepaskan mu, tunggu saja" teriak Gladi.
"Aku sudah membantu mu menelponnya sekarang kamu tenanglah, bukannya dia juga bilang dia tidak apa-apa" sahut Aldo yang langsung memasukan ponselnya ke sakunya.
__ADS_1
"Kamu tahu apa? dia tidak akan mengatakan yang sebenarnya pada ku" ucap Gladi sambil menatap Aldo.
"Belum tentu" sahut Aldo.
"Dia benar, Vina tidak akan mengatakan yang sebenarnya. Kalau begitu biar aku saja yang mengatakannya" ucap Rengga yang berjalan ke arah Gladi dan Aldo.
"Apa yang sudah kamu lakukan padanya, aku tidak akan membiarkan mu hidup dengan tenang" sahut Gladi yang terlihat sangat marah.
"Aldo lepaskan ikatannya" ucap Rengga santai.
"Aku berjanji melepaskanmu dan sekarang janji ku sudah ku penuhi" sambung Rengga.
Gladi yang melihat ikatannya sudah di lepas langsung berdiri, Gladi berjalan ke arah Rengga sambil bersiap mendaratkan pukulannya.
"Kamu tidak bisa memukul ku" ucap Rengga yang langsung menahan tangan Gladi.
"Jangan sombong, ayo kita bertarung" sahut Gladi.
"Aku tidak tertarik bertarung dengan wanita. Tadinya aku ingin membiarkan mu pergi tapi sekarang aku berubah pikiran" ucap Rengga yang tiba-tiba tersenyum.
"Bagaimana jika kamu bekerja pada ku" sambung Rengga.
"Bekerja pada mu, jangan bermimpi" sahut Gladi.
"Tadinya aku ingin kamu menjadi pengasuh untuk Raka, tapi karena kamu tidak mau aku juga tidak bisa memaksanya" sambung Rengga.
"Ke mana Vina, dia tidak akan membiarkan mu mangambil putranya dengan mudah" ucap Gladi.
"Aku sudah memintanya pergi sejauh mungkin, dan Raka sudah bersama ku sekarang" sahut Rengga sambil tersenyum licik menatap Gladi.
"Sekarang pergilah, aku tidak akan menahan mu" sambung Rengga.
Gladi terdiam, apa mungkin Vina melakukan semua itu untuknya pikir Gladi.
"Aku bersedia" ucap Gladi.
"Bersedia apa?" tanya Rengga.
"Aku bersedia menjadi pengasuh Raka" sahut Gladi.
__ADS_1
"Hahahahaha, itu jawaban yang tepat. Mulai dari sekarang kamu akan menjadi pengasuh Raka, kamu tidak boleh memanggilnya dengan sembarangan" ucap Rengga puas.
"Apa maksudmu?" tanya Gladi.
"Mulai dari sekarang kamu harus memanggilnya Tuan kecil, dan kamu harus membiasakan diri dengan panggilan bibi" sahut Rengga.
"Tidak masalah" ucap Gladi. Vina mempertaruhkan semua demi dirinya, sebagai gantinya dia rela jika harus menjadi pengasuh anak angkatnya itu.
"Hahahahaha, aku merasa sangat puas. Semua yang berani melawan ku sudah sepantasnya mendapatkan balasan" teriak Rengga sambil terus tertawa.
Aldo yang berdiri di kejauhan bergegas mendekati gladi, Aldo memberikan jas yang di pakainya untuk menutupi tubuh Gladi yang hanya memakai baju tanpa lengan.
"Aldo, hapus semua identitasnya biarkan semua orang tahu bahwa tidak ada lagi wanita bernama Gladi" ucap Rengga.
"Tidak masalah, aku akan mengurusnya" sahut Aldo.
"Dan untuk namanya, menurutmu apa yang bagus" ucap Rengga yang berdiri menatap Aldo.
"Kenapa bertanya padaku?" tanya Aldo.
"Bukannya kamu menyukainya, kamu bisa memberikan nama sesukamu padanya" sahut Rengga.
"Aku ikut apa kata mu saja" ucap Aldo yang langsung berjalan keluar.
Gladi mengepalkan tangannya sambil berjalan mengikuti Rengga dari belakang, Gladi masih kepikiran ke mana Vina akan pergi sekarang.
Di manapun kamu aku berharap kamu bisa hidup dengan baik, aku akan menjaga anak mu tenang saja aku juga akan memberitahunya bahwa kamu sangat menyayanginya" dalam hati Gladi sambil berjalan ke arah mobil Aldo yang parkir di depan mobil Rengga.
"Rengga memang seperti itu orangnya, seharusnya kamu tidak mencari masalah dengannya" ucap Aldo.
"Aku hanya mengerjakan pekerjaan ku, resikonya sudah seperti itu" sahut Gladi.
"Jika ingin balas dendam lakukan saja, saat ini kamu dan Rengga sama-sama berkuasa bukan" sambung Gladi.
"Balas dendam untuk apa?" tanya Aldo berpura-pura lupa.
"Balas dendam karena aku pernah mengambil keuntungan dari mu" sahut Gladi.
"Aku tidak akan balas dendam untuk itu, lagipula situasi mu saat ini sudah cukup membuatmu menderita" ucap Aldo sambil melirik ke arah Gladi.
__ADS_1
Heeeeeeh....
Gladi menyunggingkan bibirnya, perkataan seorang pria tidak dapat di percaya, tidak membalas sekarang masih bisa membalas nanti pikir Gladi.