
Vina Ian dan Andreas duduk di barisan kedua dari depan, ketiganya sengaja tidak ingin duduk di barisan pertama karena mereka tahu siapa yang akan duduk di sana nantinya.
Teng teng teng...
Suara lonceng di bunyikan tanda pelelangan akan segera di mulai. Satu persatu kursi hampir penuh terisi, hanya tinggal dua kursi tepat di depan Vina yang masih kosong.
"Wah itu mereka" bisik para tamu sambil menunjuk ke arah sepasang kekasih yang menuju kursi di depan Vina.
"Kak Vina" bisik Andreas.
"Aku tahu, aku juga bisa melihatnya dengan jelas" sahut Vina sambil tersenyum.
Vina menatap Frieda yang menggandeng tangan Rengga, keduanya duduk tepat di depan Vina tanpa menyadari siapa yang ada di belakang mereka itu.
"Para tamu hadirin sekalian, lelang amal kali ini aku sebagai penyelenggara merasa sangat bahagia, terima kasih atas partisipasi kalian semua" ucap Nyonya Mary.
"Kalau begitu langsung saja kita mulai lelang malam ini, aku akan menyerahkan ke asisiten ku untuk memulainya" sambung Nyonya Mery yang kembali ke belakang.
Vina yang melihat satu persatu barang telah di lelang dengan harga selangit hanya diam, sesekali Vina tersenyum saat melihat Rengga mengeluarkan harga pertama yang di luar perkiraan hingga membuat pesaing yang ingin menawar langsung mengurungkan niat mereka.
"Heeeeh, benar-banar orang kaya" ucap Ian.
"Hanya mencari nama saja biar di pandang tinggi, apa kamu pikir dia membutuhkan itu semua" sahut Vina sambil menyunggingkan bibirnya.
"Huuuuh, orang seperti itu sangat menyebalkan" ucap Andreas.
"Hehehehe, biarpun begitu dia pernah menjadi paman loh" sahut Ian.
"Aku tidak ingat, kapan" ucap Andreas sinis.
"Kalian berdua diamlah, sekarang saatnya kita yang mendapatkan perhatian" sahut Vina sambil tersenyum.
"Para tamu yang terhormat acara lelang amal akan segera berakhir, dan tanpa menunggu lebih lama lagi ku persembahkan pemberian dari perusahaan V.A gaun kelas atas yang belum di rilis di perusahaan mereka" ucap Nyonya Mary yang langsung menunjukkan gaun hasil karya tangan Vina.
"Kami yang mengetahui kualitasnya membuka harga 225 juta" sambung Nyonya Mary.
Semua mata yang melihat gaun hasil karya Vina merasa terpanah, hampir setiap jahitan dari gaun itu melambangkan keeleganan dari gaunnya itu sendiri.
"Lihatlah gaunnya memang terlihat sangat mewah" ucap para tamu saling berbisik.
"Aku akan membelinya untuk pernikahan putri ku" sahut tamu lainnya yang bersiap menaikan harga.
Vina yang mendengar perkataan para tamu hanya tersenyum, karya di depannya masih belum seberapa, di kantornya bahkan di rumahnya masih ada puluhan lain yang lebih bagus dan lebih mewah dari gaun di depan itu.
"Rengga, aku menginginkan nya" ucap Frieda.
__ADS_1
"Untuk apa?" tanya Rengga cuek.
"Untuk gaun pertunangan kita" sahut Frieda.
"Kalau begitu terserah kamu saja" ucap Rengga yang langsung memberikan nomor lelangnya ke Frieda.
"230 juta" teriak Frieda sambil mengangkat nomor lelangnya.
"231 juta" sahut tamu lainnya yang langsung di sambut senyum sumringah dari Vina.
Frieda yang memang menyukai gaun itu tidak berpikir untuk melapaskannya, Berapapun harganya dirinya harus bisa mendapatkan gaun cantik itu pikirnya.
"250 juta" teriak Frieda.
Tamu yang merasa Frieda sengaja menaikan harga langsung terdiam. Bagi mereka keluarga Mahendra keluarga terkaya ke tiga, berebut dengan putri mereka sama saja mencari masalah besar.
"250 juta sekali" ucap Nyonya Mary yang bersiap mengetuk palu di depannya.
"300 juta" teriak Vina sambil mengangkat nomor lelangnya.
Nyonya Mary yang melihat Vina hanya tersenyum, cara seperti itu memang sangat di butuhkan dan Nyonya Mary mengira Vina melakukan itu hanya demi amal.
Frieda yang tidak terima langsung menatap Vina dengan kesal, bagaimanapun juga gaun itu tetap harus menjadi miliknya.
"500 juta" sahut Vina santai.
Para tamu semakin terkejut, sebagian dari mereka mulai membicarakan Vina.
Sial, sepertinya wanita sialan ini tertarik dengan yang ku inginkan. Tidak ada pilihan lain" dalam hati Frieda sambil mengepalkan tangannya.
"1 miliar" teriak Frieda yang membuat para tamu sangat terkejut.
"Karena Nona itu menginginkannya aku bisa apa, selamat" sahut Vina sambil tersenyum.
Rengga yang mendengar suara Vina langsung memutar badannya, Rengga berpikir suara wanita yang baru saja di dengarnya tidak asing tapi apa itu mungkin.
"Selamat pelelangan telah berakhir, terima kasih untuk semua tamu yang datang hari ini" ucap Nyonya Mary.
"Nona perusahan V.A silahkan ke depan kami sebagai penyelenggara ingin mengucapkan terima kasih secara langsung" sambung Nyonya Mary sambil melihat ke arah Vina.
Vina yang baru saja berdiri langsung berjalan ke depan, para tamu undangan yang melihat Vina kembali berbisik satu sama lain.
"Hehehe, putri keluarga Mahendra menghabiskan uang untuk gaun dari perusahaan itu sendiri yang menaikan harga" ucap para tamu.
"Itu yang di namakan strategi" sahut tamu lainnya.
__ADS_1
Rengga yang masih duduk di tempatnya terus memperhatikan Vina yang berdiri tidak jauh di depannya, entah kenapa dirinya seperti mengenal wanita itu walau tidak bisa melihat wajahnya sepenuhnya.
Siapa wanita itu, sepertinya dia menaikan harga barangnya sendiri bukan tanpa alasan. Apa dia sengaja menargetkan keluarga Mahendra" dalam hati Rengga.
Vina yang sudah bersalaman langsung berjalan pergi, Ian dan Andreas yang sudah menunggunya di depan meminta Vina segera masuk ke dalam mobil.
"Sial, kenapa wanita itu berjalan cepat sekali" ucap Rengga yang mengikuti Vina dari belakang.
"Haah, haaah, Rengga kamu kenapa meninggalkan ku" ucap Frieda yang berdiri di belakang Rengga.
"Ayo kita pulang" sahut Rengga tanpa memperdulikan Frieda yang masih mengatur nafasnya.
Di dalam mobil Vina tersenyum puas, dirinya tidak menyangka pasangan Rengga benar-benar bodoh mengikuti permainannya.
"Hahahahaha" Andreas tertawa sangat keras.
"Heeeeeeh, seharusnya aku yang bahagia seperti itu" ucap Vina.
"Kenapa aku tidak boleh berbahagia untuk kak Vina, apa kak Vina tidak melihat ekspresi pasangan Rengga tadi" sahut Andreas.
"Aku melihatnya, aku sangat puas hanya saja aku tidak menyangka dia benar-benar bodoh" ucap Vina sambil tersenyum.
"Rencana kita sukses besar hari ini, tapi apa kamu tidak tahu dia mengikutimu tadi" sahut Ian.
"Siapa?" tanya Vina.
"Rengga, aku dan Andreas sengaja menyuruhmu cepat masuk mobil karena dia berada tepat di belakang mu" sahut Ian.
"Sepertinya dia sudah curiga kalau itu kak Vina" ucap Andreas.
"Heeeh, kalau begitu biarkan saja, bukannya ada waktunya untuk kita memberikan kejutan besar untuknya" sahut Vina santai.
"Sudahlah, yang terpenting kita berhasil hari ini. Kalau begitu bagaimana jika kita merayakannya" ucap Andreas penuh semangat.
"Iya aku setuju" sahut Ian.
"Baik kita akan merayakannya di rumah ku, kebetulan aku sudah berbelanja semalam. Andreas kamu yang akan menjadi kokinya" ucap Vina sambil tersenyum.
"Hehehehehe" Ian yang mendengar perkataan Vina langsung tertawa.
"Vina apa kamu yakin dia yang memasak" ucap Ian.
"Apa kamu tidak takut keracunan" sambung Ian.
"Aku bisa memasak dan masakanku tidak mungkin beracun" sahut Andreas yang di sambut tawa Vina dan Ian bersamaan.
__ADS_1