Jodoh Tuan Kejam

Jodoh Tuan Kejam
Bab 84


__ADS_3

Sampai di rumah Vina terus terpikirkan apa yang baru saja terjadi, Rengga melamarnya dengan sangat romantis haruskah dia menerimanya.


Haaaaaah. Sepertinya aku lebih baik bertanya sama Mia, dia anaknya Rengga apa dia mau menerimaku menjadi ibu sambungnya" dalam hati Vina.


"Tunggu dulu, apa ini artinya aku menerima lamarannya" ucap Vina sambil membaringkan badannya, membuatnya tanpa sadar langsung tertidur.


Tok tok tok, tok tok tok...


Suara ketukan pintu membangunkan Vina yang merasa baru saja tertidur.


"Iya sebentar" ucap Vina sambil berjalan ke arah pintu.


"Tante Vina, tante Gladi sudah selesai masak. Ayo kita makan" ucap Mia yang berdiri di depan Vina.


"Ini jam berapa?" tanya Vina sambil mengucek matanya.


"Jam 10" sahut Mia.


"Apa! Sudah jam 10" ucap Vina kaget.


Vina merasa baru saja tertidur bagaimana bisa hari sudah siang.


"Aku mandi dulu, kalau mau makan duluan saja" ucap Vina sambil mengelus kepala Mia.


"Baik tante" sahut Mia.


Vina bergegas masuk kembali ke kamarnya, mungkin ini saat yang tepat untuk bertanya pada Mia sebelum memberi jawaban ke Rengga pikir Vina.


Vina yang baru selesai mandi langsung menghampiri Gladi dan Mia, Vina duduk di samping Mia yang menyuap makanan ke mulutnya perlahan.


"Mia tante mau ngomong sesuatu" ucap Vina.


Gladi yang menyuapi Raka langsung menatap Vina, tidak biasanya Vina mau bicara harus berkata seperti itu dulu.


"Tante mau ngomong apa?" tanya Mia yang baru menelan makanan di mulutnya.


"Kalau misalnya tante menjadi ibu sambung Mia, Mia keberatan tidak" ucap Vina.


"Apa!" sahut Gladi yang terkejut mendengar perkataan Vina.


"Vin jangan bercanda, apa maksudmu bertanya seperti itu" ucap Gladi.


"Aku berkata serius, bagaimana Mia?" tanya Vina.


"Mia tidak keberatan tante, tante Vina baik sama Mia hanya saja" sahut Mia yang langsung terdiam.


"Hanya saja apa?" tanya Vina lagi.


"Apa papa Mia pantas untuk tante Vina" sahut Mia.


"Itu urusan orang tua, jika Mia tidak keberatan tante merasa lega sekarang. Tante sudah tahu apa yang harus tante katakan pada papamu" ucap Vina.

__ADS_1


Gladi masih menatap Vina kebingungan, sebenarnya apa yang terjadi dengan Vina dan Rengga semalam kenapa Vina bisa bertanya seperti itu. Gladi yang selesai makan duluan sengaja masih duduk di depan Vina, rasa penasarannya tidak akan hilang sebelum mendapat penjelasan dari Vina.


"Vin" panggil Gladi yang melihat Vina baru memakan suapan terakhirnya.


Vina menatap Gladi sambil tersenyum, Vina tahu apa yang ingin di tanyakan Gladi padanya.


"Rengga melamarku semalam" ucap Vina membuat Gladi yang mendengarnya langsung melotot.


"Seriusan" sahut Gladi.


"Emmmm emmm" Vina menganggukkan kepalanya.


"Terus gimana, gimana ceritanya?" kekepoan Gladi yang tidak terbendung membuatnya semakin bersemangat mengintrogasi Vina.


"Semalam dia mengajakku ke sebuah hutan yang sangat indah, di sana bahkan banyak kunang-kunang" sahut Vina.


"Bukan itu maksudku, Apa yang di katakan Rengga padamu semalam?" tanya Gladi lagi.


"Dia berlutut memintaku menikah dengannya sambil memberiku cincin" sahut Vina.


"Apa jawabanmu, apa kamu menerimanya?" tanya Gladi yang masih penasaran.


"Aku belum menjawabnya" sahut Vina yang langsung berdiri.


Vina tahu jika dirinya tidak pergi Gladi pasti akan terus bertanya padanya.


Di tempat lain Rengga yang hanya tinggal menunggu jawaban Vina merasa sangat deg degan, walau begitu Rengga sangat percaya Vina akan menerimanya.


"Woy diam saja" teriak Aldo sambil memukul meja.


"Apa kamu baru saja tersenyum. Oh tidak, mataku pasti rabun sekarang" ucap Aldo yang langsung mengucek matanya.


"Memangnya apa yang salah jika aku tersenyum?" tanya Rengga.


"Selama ini manusia yang bernama Rengga tidak pernah tersenyum, hari ini aku yang melihatnya tersenyum sudah seperti mendapat berkat yang tak ternilai" sahut Aldo sambil menggelengkan kepala.


"Heh, terserah mu saja" ucap Rengga tidak mempedulikan Aldo.


Rengga menyeruput kopi mocanya sambil melihat keluar Cafe, terbayang-bayang di pikirannya ucapan Vina yang akan menerimanya dengan sangat indah.


"Sebenarnya apa yang terjadi padamu, jika seperti ini terus orang akan mengira kamu kesurupan" ucap Aldo yang Langsung memegang pipi Rengga dan memukulnya pelan.


"Aku melamarnya" sahut Rengga.


"Melamar siapa?" tanya Aldo.


"Melamar Vina" sahut Rengga.


Puffff...


"Apa" Aldo yang baru menyeruput kopinya langsung menyemburkannya.

__ADS_1


"Kamu melamar Vina. Apa tidak salah?" tanya Aldo.


"Apanya yang salah?" tanya Rengga balik.


"Maksudku sejak kapan kamu menyukai Vina, kenapa tiba-tiba melamarnya" sahut Aldo kebingungan.


"Aku tidak tahu apa maksudmu, intinya aku ingin menikah dengan Vina maka dari itu aku melamarnya" ucap Rengga.


"Lalu apa jawabannya?" tanya Aldo yang kekepoannya sama dengan Gladi.


"Dia belum menjawabku" sahut Rengga.


"Besok aku akan menerima jawabannya, dan aku sangat yakin dia akan menerimaku" sambung Rengga.


Ceting...


Nada pesan singkat terdengar dari ponsel Rengga, Rengga yang mendengarnya bergegas membuka dan membacanya.


Malam ini taman Ketiga


Rengga yang membaca pesan singkat tanpa nama tiba-tiba kepikiran ke Vina, apa mungkin Vina yang mengiriminya pesan, mungkinkah Vina mau memberikan jawabannya malam ini.


"Siapa?" tanya Aldo penasaran.


"Sepertinya Vina" sahut Rengga.


"Kenapa kamu yakin itu Vina?" tanya Aldo lagi.


"Heeeeh, menurutmu siapa lagi yang ingin bertemu denganku di taman" sahut Rengga sambil tersenyum.


"Sudah aku mau bersiap dulu" sambung Rengga yang langsung berjalan meninggalkan Aldo.


"Ini baru jam 11 siang, bukannya janjiannya nanti malam" ucap Aldo berbicara sendiri sambil memperhatikan Rengga yang berjalan keluar cafe.


Kalau Rengga di terima aku putuskan aku juga akan melamar Gladi, enak saja Rengga aku yang duluan pacaran dia yang duluan menikah" dalam hati Aldo.


Rengga yang berencana pulang tiba-tiba mengurungkan niatnya, ingin bertemu dengan Vina yang akan memberikan jawaban Rengga memutuskan merubah penampilannya.


Sesuai tempat yang tertera di pesan tepat pukul 19:00 Rengga meninggalkan rumahnya, Rengga mengendarai mobilnya menuju taman Ketiga yang berada di tengah-tengah kota.


Sampai di taman Rengga langsung berkeliling, taman ketiga tempat yang terkenal untuk orang pacaran membuat Rengga merasa risih berjalan seorang diri.


"Rengga" panggil suara Vina dari kejauhan.


Rengga yang melihat Vina bergegas menghampirinya, detak jantungnya terasa semakin cepat saat dirinya berdiri tepat di depan Vina.


"Kamu kenapa milih tempat seperti ini, banyak sekali orang pacaran di sini" ucap Rengga.


"Memangnya kenapa, biarkan saja mereka pacaran" sahut Vina santai.


"Kalau begitu apa jawabanmu?" tanya Rengga langsung ke intinya.

__ADS_1


"Sambil jalan saja dulu" sahut Vina.


Rengga mengikuti Vina yang berjalan di depannya, dirinya benar-banar tidak sabar ingin mendengar jawaban dari Vina, walau dia sangat yakin Vina pasti akan menerimanya.


__ADS_2