
Rengga yang baru pulang beberapa hari lalu di suruh sang Kakek kembali ke Singapura menjemput Naina, walau merasa enggan Rengga tidak memiliki pilihan selain menuruti permintaan Kakeknya itu.
Sampai di bandara seorang wanita cantik sedang menunggunya, Naina wanita yang di jodohkan dengannya melambaikan tangannya ke arah Rengga sambil tersenyum.
"Hay Rengga" ucap Naina yang langsung memegang tangan Rengga.
"Ayo, Kakek meminta ku menjemput mu" sahut Rengga.
"Aku tidak bisa pergi hari ini, kamu temanin aku satu hari di sini besok aku berjanji akan pergi" ucap Naina sambil menatap Rengga dengan tatapan memohonnya.
"Tidak bisa, aku masih banyak kerjaan" sahut Rengga cuek, tanpa memperdulikan tatapan Naina.
Kriiiing, kriiiiing, kriiiiiing...
Rengga yang baru memutar badannya tiba-tiba mendengar suara ponselnya berbunyi, Rengga melihat ke layar ponselnya dengan kesal, walau begitu Rengga tetap mengangkat teleponnya.
"Aku mau kamu ikutin apa yang di inginkan Naina" ucap sang Kakek yang langsung mematikan teleponnya.
Rengga yang belum menjawab perkataan Kakeknya merasa semakin kesal, Rengga tidak habis pikir kenapa Kakeknya berpihak pada orang lain dan bukan berpihak padanya.
"Hanya satu hari" ucap Rengga sambil menatap Naina yang berdiri di depannya.
"Benarkah, terima kasih. Kamu memang yang terbaik" sahut Naina yang langsung memeluk Rengga.
"Aku akan membawa mu ke hotel, nanti malam kamu harus menemani ku berbelanja" ucap Naina sambil menarik tangan Rengga ke arah mobilnya.
Rengga terpaksa mengikuti kemauan Naina hanya karena permintaan Kakeknya, Rengga yang tiba di hotel langsung mengunci pintunya berharap Naina tidak lagi mengganggunya, dan dia hanya perlu keluar nanti malam untuk menemaninya berbelanja.
Di tempat berbeda, Vina, Gladi dan Andreas sudah sepakat berbelanja kebutuhan Raka dari beberapa hari yang lalu.
Vina menatap jam di dinding yang sudah menunjukan pukul 20:30, dia dan Gladi sudah selesai bersiap dari satu setengah jam yang lalu. Gladi yang menunggu Andreas tidak juga menjemput mereka terus menggerutu kesal, sesekali nama Andreas di tambahinya sedikit umpatan.
Tin tin, tin tin...
Suara klakson mobil di depan rumah membuat Vina bergegas menggendong Raka, Vina berjalan ke arah mobil Andreas di ikuti Gladi dari belakang yang terus memasang wajah cemberutnya.
"Maaf aku terlambat" ucap Andreas sambil tersenyum.
__ADS_1
"Sudah tahu telat malah tersenyum" sahut Gladi.
"Aku sudah minta maaf loh kak" ucap Andreas yang langsung menjalankan mobilnya.
"Sudah-sudah jangan ribut Raka tidur" sahut Vina.
"Sebagai gantinya, malam ini aku yang bayar semua yang kak Vina dan kak Gladi beli" ucap andreas sambil mengecilkan suaranya.
"Kalau begitu sepakat" sahut Gladi yang langsung berubah ekspresinya.
Modusnya Gladi" dalam hati Vina sambil tersenyum.
Sampai di pusat perbelanjaan Andreas bergegas memarkir mobilnya, setelah memarkir mobil Andreas mengikuti Vina dan Gladi yang mulai memasuki setiap kios. Sesuai janjinya Andreas membayar semua yang di beli kedua wanita di depannya itu, tanpa rasa keberatan sedikitpun tentang harganya.
"Aduh, aduh" Vina merpatkan kakinya yang gemetaran.
"Ada apa Vin?" tanya Gladi.
"Aku mau pipis, tolong gendong Raka dulu ya" sahut Vina yang sudah tidak tahan lagi.
"Cepatlah pergi" ucap Gladi sambil mendorong Vina dengan pelan.
"Kamu ikuti Vina buruan, aku tidak mau dia kesasar" ucap Gladi.
"Oh baiklah" sahut Andreas yang langsung berjalan pergi.
Gladi yang tidak bisa membawa barang belanjaanya terpaksa hanya berdiam di tempatnya, Gladi berdiam di tempatnya tanpa memperhatikan sekelilingnya.
Bruuuuuuk...
"Aduh" Gladi yang fokus menatap Raka tiba-tiba di tabrak dari belakang.
Walau tidak sampai terjatuh tangannya yang menggendong Raka terlepas satu.
"Hati-hati" sahut suara seorang pria sambil menahan bagian belakang Raka dengan tangannya.
Gladi menatap pria yang menolongnya sambil melepaskan tangan pria itu dari Raka, Gladi yang tidak terima di tabrak hingga membuat kesayangannya hampir terjatuh langsung marah-marah sambil berteriak.
__ADS_1
"Dasar buta ya, punya mata di pakai melihat dong" ucap Gladi.
"Aku tidak sengaja" sahut Naina yang langsung bersembunyi di belakang Rengga.
"Pacar ku tidak sengaja, lagi pula kamu juga baik-baik saja" ucap Rengga sambil menatap Gladi.
"Kalau aku yang terjatuh masih tidak masalah, tapi kalau yang terjatuh anak ini bagaimana" sahut Gladi yang langsung mengangkat Raka tepat di depan Mata Rengga.
Rengga terdiam seribu bahasa setelah melihat anak bayi di depannya, Naina yang mengira Rengga akan segera marah karena wanita gila yang di tabraknya, bergegas menarik tangan Rengga.
"Ayo kita pergi, kita tidak perlu menghiraukan wanita gila seperti dia" ucap Naina sambil menarik tangan Rengga menjauh dari Gladi.
Rengga yang berjalan semakin menjauh akhirnya tersadar, dilihatnya Naina masih menarik tangannya keluar dari pusat perbelanjaan.
"Lepaskan" ucap Rengga sambil melepas tangan Naina yang menarik tangannya.
"Kamu kenapa?" tanya Naina.
"Tidak apa-apa" sahut Rengga sambil berjalan pergi.
Kenapa aku merasa seperti dekat dengan anak itu, kenapa wajahnya terlihat mirip dengan ku" dalam hati Rengga.
Di tempat berbeda, Gladi masih terlihat kesal.
Vina dan Andreas yang baru kembali langsung menatap wajah Gladi yang terlihat sangat suram.
"Ada apa dengan mu?" tanya Vina.
"Aku bertemu dua orang gila, setelah menabrak ku dan Raka bukannya meminta maaf malah langsung pergi begitu saja" sahut Gladi.
"Sudah, lagi pula kamu dan Raka baik-baik saja buka" ucap Vina yang langsung mengambil Raka dari gendongan Gladi.
Pria tadi kenapa aku seperti tidak asing, tapi siapa" dalam hati Gladi.
"Haaah, sepertinya Mama tua lagi tidak mood belanja lagi bagaimana jika kita pulang saja" ucap Vina.
"Ya, lebih bagus kita pulang sekarang" sahut Gladi.
__ADS_1
"Andreas kamu yang bawa semua itu" sambung Gladi sambil menunjuk paper bag di bawah kakinya.
"Siap bos" sahut Andreas.