Jodoh Tuan Kejam

Jodoh Tuan Kejam
Bab 51


__ADS_3

Sepanjang jalan Rengga terdiam sambil memegangi pipinya, baru kali ini dirinya mendapatkan tamparan dari seorang wanita.


Tidak hanya terasa sakit, bekas merah yang di tinggakan di pipinya membuat Rengga benar-benar tidak lagi bisa berkata apapun.


Rengga baru menyadari kesalahan memang berawal darinya, seandainya dirinya lebih memperhatikan Raka sebelumnya mungkin kesempatan bertemu putranya masih ada, tapi sekarang...


Penyesalan tidak lagi berguna.


"Sekarang apa yang akan kamu lakukan?" tanya Aldo sambil melihat Rengga dari kaca di depannya.


"Aku ingin anak ku" sahut Rengga.


"Bukannya kamu sudah melihatnya dengan jelas tadi, sampai kapanpun Vina tidak akan membiarkan mu mengambil kembali anak mu darinya, bahkan untuk mu bertemu dengan anak mu sudah tidak ada harapan lagi" ucap Aldo.


"Arrrrrrrrkkkkkhhhh, aku mengaku salah. Aku ingin putra ku kembali" teriak Rengga sambil memegangi kepalanya.


Aldo yang melihat Rengga merasa tertekan membuatnya prihatin, mau bagaimana lagi memang Rengga sudah salah dari awal. Andai dulu Rengga benar-benar menikah dengan Vina walau tanpa cinta setidaknya anaknya tetap akan berada di dekatnya, bukan malah memaksa Vina pergi meninggalkan anaknya tapi anaknya sendiri sama sekali tidak di perhatikannya selama ini.


"Aku mau kamu mencaritahu alamatnya" ucap Rengga sambil menatap Aldo dari kaca.


"Akan ku usahakan, ku harap kamu tidak lagi melakukan hal konyol untuk mendapatkan anak mu kembali" sahut Aldo.


Aldo membawa Rengga kembali ke rumahnya, setelah mengantarnya pulang Aldo bergegas ke arah kantor Vina dan berhenti di kejauhan.


Pukul 17:15 Karyawan Vina satu persatu meninggalkan kantor, Aldo yang masih menunggu akhirnya melihat Vina mengendarai mobilnya pergi meninggalkan kantornya di ikuti dua mobil di belakangnya. Aldo bisa menebak mobil di belakang Vina pasti milik Ian dan Andreas, tapi kenapa keduanya terus mengikuti Vina dari belakang pikir Aldo.


Aldo terus mengikuti mobil Vina yang masuk ke perumahan elite Clovius di ikuti mobil Ian dan Andreas, dari kejauhan Aldo bisa melihat Vina Ian dan Andreas yang keluar dari mobil masing-masing bergegas memasuki rumah yang berjejer bersebelahan.


"Mereka tinggal berdekatan, aku harus memberitahu Rengga" ucap Aldo sambil memutar mobilnya pergi, Aldo tidak ingin Vina mengetahui jika dirinya sedang mengikutinya.


Ian dan Andreas yang melihat Aldo pergi langsung memutar langkahnya, keduanya bergegas ke rumah Vina yang pasti sudah menunggu kedatangan mereka.


"Kak Vina, kenapa kita tidak mengecohnya tadi?" tanya Andreas.


"Dia hanya mencari tahu rumah kita, karena dia sudah tahu dia akan memberitahukan nya ke Rengga" sahut Vina santai.


"Kamu sengaja agar Rengga datang kemari bukan, tapi bagaimana jika dia datang ingin mengambil Raka dari mu" ucap Ian sambil menatap Vina.

__ADS_1


"Dia tidak akan bisa mengambilnya, kalian berdua tenang saja. Oh ya, mari kita lanjutkan rencana kedua" sahut Vina yang tiba-tiba tersenyum penuh arti.


"Kalau begitu aku akan mempersiapkannya" ucap Ian yang langsung berjalan pergi di ikuti Andreas dari belakang.


Di rumah masing-masing Ian dan Andreas memulai tugas mereka, data-data perusahaan Rengga yang mereka salin dari komputer Kakek Rengga sebelumnya siap mereka sebar luaskan ke seluruh perusahaan terkenal di dunia.


Click...


Satu ketikan terakhir akhirnya selesai, data perusahaan Rengga akan tersebar luas hanya dalam hitungan detik.


"Heeeeeh, Jangan mencari masalah lagi dengan Vina, ini belum seberapa" ucap Ian yang masih duduk di depan komputernya.


"Kalian memang pantas mendapatkannya" ucap Andreas sambil tersenyum puas membayangkan kehancuran perusahaan Rengga yang sudah di depan matanya.


_________ _______ ________


Di tempat berbeda Aldo bergegas memarkir mobilnya di depan rumah Rengga. Aldo yang sudah tidak sabar ingin memberitahu Rengga apa yang sudah di lihatnya langsung masuk ke dalam mencarinya, sampai di depan kamar Aldo menatap Rengga yang duduk di tepi tempat tidurnya dengan tatapan kosong, perasaan kasihan melihat Rengga tidak bisa di sembunyikan.


"Aku sudah mengetahui di mana rumahnya" ucap Aldo sambil berjalan menghampiri Rengga.


"Di mana?" sahut Rengga cepat.


"Perumahan kelas atas, bagaimana bisa mereka tinggal di sana. Selama satu tahun apa yang sudah mereka lewati, siapa yang menjadi pendukung di belakang mereka" sahut Rengga sambil berusaha berpikir.


"Sudahlah kamu tidak perlu peduli siapa di belakang mereka, yang pasti orang itu bukan orang sembarangan" ucap Aldo.


Kriiiiiiing kriiiiiiiing kriiiiiiiing...


Suara ponsel yang terus berdering mengejutkan Rengga dan Aldo, Rengga melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukan pukul 18:05, Rengga sempat berpikir sejenak siapa yang kira-kira menghubunginya saat ini.


"Hallo" ucap Rengga tanpa memperhatikan nama siapa yang menelponnya.


"Hallo bos, kabar buruk semua data kita tersebar luas, jika di biarkan perusahaan lain bisa menekan kita secepatnya" sahut suara di telepon.


"Apa! bagaimana bisa" teriak Rengga yang kaget mendengar perkataan karyawannya.


"Kalau begitu aku akan ke sana sekarang" Sambung Rengga yang langsung mematikan ponselnya.

__ADS_1


Aldo yang melihat wajah tegang Rengga mulai menduga-duga, satu persatu masalah terus terjadi apa semua ada sangkut pautnya sama Vina pikir Aldo.


"Bawa aku ke perusahaan" ucap Rengga sambil berjalan keluar kamarnya.


Aldo bergegas mengikuti Rengga tanpa menjawab, Aldo masih tidak bisa menyangkal pikirannya yang menduga Vina pasti dalang dari semua yang terjadi.


Sampai di depan kantor terlihat karyawan Rengga yang sebelumnya pulang di panggil kembali, dengan tergesa-gesa karyawan Rengga kembali ke tempat masing-masing untuk melakukan perbaikan dengan cepat.


"Apa yang terjadi" teriak Rengga.


"Tidak tahu bos, data kita tiba-tiba tersebar dengan sangat cepat" sahut Ten karyawan Rengga.


"Sial, cepat tangani jangan sampai keduluan musuh menekan kita" ucap Rengga memerintah karyawannya.


"Gawat, data pemasaran kita sudah jauh dari perusahaan lain" sahut karyawan Rengga lainnya.


Rengga yang mendengar perkataan karyawannya bergegas mengambil alih salah satu komputer, benar saja hanya hitungan menit data pemasarannya jauh di bawah perusahaan lain, bahkan data pemasarannya kalah jauh dari perusahaan yang baru berdiri milik Vina.


Braaaaaaaaaak...


Rengga memukul keras meja komputer di depannya, jika terus seperti ini perusahaannya pasti akan menjadi yang paling bawah di urutan pemasaran.


"Sial, cepat selesaikan. Kerja yang benar jangan cuma makan gaji buta" teriak Rengga.


Aldo yang tidak tahu apapun tentang perusahaan atau data hanya diam sambil terus memperhatikan, dilihatnya Rengga berjalan ke arahnya dengan wajah yang benar-benar sangat kesal.


"Siapa yang berani bemain-main dengan ku. Apa mereka sudah bosan hidup" ucap Rengga sambil menghempaskan tubuhnya duduk di sebelah Aldo.


"Tenanglah, karyawan mu juga sedang berusaha sekarang" sahut Aldo.


"Akan ku bunuh jika ku tahu siapa dalang di balik ini semua" ucap Rengga yang langsung mengepalkan tangannya.


"Tenang tenang. Aku memang tidak tahu apapun tentang perusahaan tapi aku curiga ini ada kaitannya dengan Vina" sahut Aldo.


"Vina" ucap Rengga ragu.


"Apa kamu ingat beberapa hari sebelum pertunangan mu data komputer Kakekmu di retas, sekarang data perusahaan mu yang di retas dan di sebar luaskan. Apa kamu tidak sadar semua terjadi setelah Vina menampakan dirinya" sahut Aldo menatap Rengga serius.

__ADS_1


Rengga terdiam. Benar kata Aldo semua bukanlah kebetulan, setelah kedatangan Vina banyak kejadian yang tidak pernah terjadi malah terjadi. Mungkinkah Vina berniat balas dendam padanya.


__ADS_2