
Vina dan Gladi menatap satu sama lain dengan penuh kebingungan, baru beberapa hari yang lalu Rengga ingin merebut anaknya dan sekarang tiba-tiba melamarnya, sebenarnya apa yang di rencanakan Rengga pikir Vina dan Gladi.
Rengga yang sebelumnya sudah meminta Ian membeli bunga dan cincin terpaksa mengandalkan senyum palsunya sambil menatap Vina, Rengga mengeluarkan ponselnya mengirim pesan singkat bertanya Ian sudah ada di mana.
Ian yang sudah membeli apa yang diinginkan Rengga bergegas pergi, Ian menjalankan mobilnya sambil berpikir bagaimana bisa jalan yang di tujunya sama dengan jalan arah ke rumah Vina.
"Tidak, dunia ini luas mungkin hanya pikiran ku saja" ucap Ian yang langsung menepis pikirannya.
Tidak beberapa lama Ian mendapat pesan singkat Rengga yang memberi alamat dan nomor rumah Vina. Ian yang membaca pesan singkat Rengga langsung menghentikan mobilnya, Ian benar-benar tidak menyangka yang akan pura-pura dinikahi Rengga adalah salah satu dari wanita yang berhasil mencuri hatinya.
Ian yang sampai di dekat rumah Vina bergegas memarkir mobilnya, Ian membawa bunga dan cincin yang di minta Rengga sambil berjalan mendekati pintu rumah Vina.
"Cepatlah masuk" ucap Rengga yang melihat bayangan Ian berdiri di depan pintu.
Ian melangkah memasuki rumah Vina dengan detak jantungnya yang semakin cepat, Ian memberikan bunga dan cincin yang di minta Rengga tanpa menoleh ke arah Vina dan Gladi yang duduk tidak jauh darinya.
"Ian" panggil Vina yang membuat Ian tanpa sadar menoleh ke arah Vina.
"Ian kamu mengenalnya" sahut Gladi sambil menatap Ian dengan penuh kecewa.
"Ian asisiten ku, aku tidak tahu kalian saling mengenal" ucap Rengga santai.
Vina menatap Ian kecewa, Vina berpikir semua yang di lakukan Ian pasti karena Rengga yang menyuruhnya.
"Ini bunga dan cincin sebagai tanda aku melamar mu" ucap Rengga sambil menyerahkan bunga dan cincin yang di bawa Ian.
"Aku tidak bisa menerimanya" sahut Vina.
"Apa, jadi yang Tuan lamar adalah Vina" ucap Ian yang merasa sangat terkejut.
"Memangnya apa yang salah" sahut Rengga.
"Tidak, aku tidak setuju. Vina jangan menerimanya" ucap Ian sambil menatap Vina serius.
__ADS_1
"Ian apa maksud mu, kamu ternyata menantang ku" sahut Rengga yang langsung berdiri.
"Vina apapun yang terjadi jangan menerimanya, dia hanya berpura-pura menikahi mu untuk mengambil anakmu" ucap Ian.
Bruaaaaaaaaak...
Rengga yang marah besar Ian berani menghianatinya langsung memukul Ian di tempat, Ian yang terjatuh setelah terkena pukulan Rengga kembali bangkit berdiri.
Ian yang tidak terima Rengga ingin mempermainkan Vina tanpa sadar langsung membalas memukul Rengga.
Bruuuuuuuuaaaaaak...
Keduanya yang terus menerus saling pukul membuat Vina kebingungan, Vina bingung bagaimana cara memisahkan orang yang berkelahi di depannya itu.
Byuuuuuuuur...
Satu Ember air di siramkan Gladi ke Rengga dan Ian yang masih saling pukul.
"Kucing kelahi sudah seharusnya di siram, habis di siram langsung usir" teriak Gladi.
"Kalian berdua tunggu apa lagi, cepat keluar" teriak Gladi sambil menatap Rengga dan Ian yang masih mengusap wajah basahnya.
"Vina kamu harus ingat, apapun yang terjadi jangan pernah menerimanya dia tidak tulus padamu" ucap Ian sambil berjalan keluar rumah Vina.
Rengga berjalan cepat ke arah Ian yang bersiap masuk ke dalam mobil, Rengga berpikir mobil yang di gunakan Ian adalah mobilnya apa hak Ian setelah menghianatinya masih ingin menggunakan mobilnya.
"Berhenti" teriak Rengga.
Ian yang mendengar teriakan Rengga bergegas menghentikan langkahnya, Ian berbalik menatap Rengga yang terlihat marah besar padanya.
"Beraninya kamu menghianati ku"
Bruuuuuuaaaaakkk...
__ADS_1
Rengga kembali memukul Ian hingga terjatuh.
Ian bergegas bangkit berdiri sambil mengepalkan tangannya, ingin rasanya dia membalas pukulan Rengga sama seperti sebelumnya.
"Aku tidak menghianatimu, hanya saja yang ingin kamu permainkan adalah wanita yang ku sukai" sahut Ian.
"Sejak kapan kamu menyukainya?" tanya Rengga.
"Sejak aku menolongnya, saat dia terus berlari di malam hari, dia bilang pria kejam ingin menangkapnya" sahut Ian.
"Cih, ternyata" ucap Rengga kesal.
"Dia ibu dari anak ku, aku tidak mengizinkan mu menyukainya" sahut Rengga.
"Aku tahu dia sudah punya anak, aku tidak keberatan menerima anaknya" ucap Ian.
"Apa kamu benar-benar ingin melawan ku, apa kamu tidak takut aku akan" sahut Rengga yang tidak melanjutkan perkataannya.
"Tidak perlu, mulai dari sekarang aku berhenti. Jika kamu ingin mempermainkannya aku tidak akan tinggal diam, tapi jika kamu benar-benar mencintainya mari bersaing secara sehat" ucap Ian sambil menatap Rengga.
"Ambillah milikmu ini, aku tidak menginginkan barang mu lagi. Ingat untuk mengirim gaji bulan terakhir ku" sambung Ian yang langsung pergi meninggalkan Rengga.
Di dalam rumah Vina dan Gladi masih memperhatikan Rengga dan Ian, Vina yang melihat Ian pergi meninggalkan Rengga membuatnya menghela nafas lega.
"Akhirnya" ucap Vina yang langsung terduduk.
"Aku tidak menyangka Ian asisten Rengga" sahut Gladi.
"Aku juga, tapi sepertinya Ian baru tahu tadi kalau Rengga ayah dari Raka" ucap Vina.
"Sudahlah, mari kita lupakan itu dulu, aku lelah" sahut Gladi sambil berjalan pergi meninggalkan Vina.
"Iya aku juga lelah" ucap Vina yang langsung berjalan ke kamarnya.
__ADS_1