Jodoh Tuan Kejam

Jodoh Tuan Kejam
Bab 38


__ADS_3

Dalam waktu satu tahun Vina berhasil menyelesaikan 30 desain hasil tangannya sendiri, pencapaiannya yang sangat luar biasa membuat Inesa benar-benar mengagumi bakatnya.


Berbeda dengan Vina, Ian dan Andreas berhasil menciptakan terobosan baru membobol sistem keamanan. Sistem yang rencana di gunakan untuk membalas dendam itu mendapat pujian besar dari Yovan sebagai ayah angkat mereka.


Tuan Yovan sebagai ayah angkat merasa sangat puas, tuan Yovan bahkan tidak menyangka semua pelatihan ketiganya berakhir secara bersamaan.


"Selamat, kalian berhasil menyelesaikan pelatihan kalian masing-masing. Aku sangat bangga pada kalian" ucap tuan Yovan yang sudah menyiapkan makan malam besar untuk ketiga anak angkatnya.


"Semua karena ayah angkat mempercayai kami" sahut Ian sambil tersenyum.


"Langkah pertama kalian sudah berakhir, mari kita sambut rencana kedua kita menuju pembalasan" ucap tuan Yovan sambil mengangkat gelasnya di ikuti Vina, Ian dan Andreas.


Makan malam yang di campur beraneka ragam rencana menjadikan malam terasa begitu akrab, setelah selesai makan malam Vina berdiri di balkon sambil menatap terangnya bintang yang gemerlap.


"Kak Vina" sapa Andreas dari belakang Vina.


"He, Andreas" sahut Vina yang masih menatap langit.


"Tidak terasa setahun sudah kita tidak bertemu, apa kak Vina tidak merindukan ku" ucap Andreas yang berdiri di samping Vina.


"Tidak" sahut Vina singkat membuat Andreas yang mendengarnya hanya mengelus dada.


"Vina tidak merindukanmu, dia hanya merindukan ku" ucap Ian yang berjalan menghampiri Vina dan Andreas.


"Bukankah begitu Vina" sambung Ian sambil tersenyum.


"Tidak" sahut Vina yang langsung di sambut tawa oleh Andreas.


"Selama ini yang ku rindukan hanya satu orang, selain itu aku tidak merindukan siapapun" sambung Vina.


"Oh, apa kamu merindukan Raka" ucap Ian.


"Ya, aku sangat merindukannya, bagaimana kabarnya saat ini. Di usia 2 tahun lebih anak itu pasti sangat lincah dan menggemaskan sekarang" sahut Vina sambil tersenyum.


"Bersabarlah kak Vina, Raka pasti akan kembali ke kak Vina" ucap Andreas sambil menepuk pundak Vina.


"Tentu saja itu harus, jika tidak untuk apa semua yang ku lakukan saat ini" sahut Vina.


"Ini sudah malam, ayah angkat meminta kita berkumpul besok pagi lebih baik kita beristirahat sekarang" ucap Ian.

__ADS_1


"Pergilah aku akan beristirahat sebentar lagi" sahut Vina yang masih menatap langit.


"Jangan terlalu lama kak, nanti kak Vina bisa sakit" ucap Andreas sambil berjalan pergi mengikuti Ian dari belakang.


"Haaaaaah" Vina menghela nafas panjang sambil mengarahkan tangannya ke langit.


"Sabar nak mama akan datang, satu tahun ini sudah cukup untuk mereka menikmati hari bersama mu" ucap Vina yang langsung mengepalkan tangannya.


Di pagi hari Ian dan Andreas sudah berada di meja makan bersama ayah angkatnya, tuan Yovan yang masih belum melihat Vina perlahan bangkit dari tempat duduknya.


"Ayah angkat mau kemana?" tanya Ian.


"Aku mau menyusul Vina, sepertinya dia belum bangun" sahut tuan Yovan.


"Tidak perlu ayah, aku sudah bangun dari tadi maaf membuat kalian menunggu ku" sahut Vina dengan gaya yang berbeda duduk di samping Andreas.


"Tidak apa, mari kita sarapan" ucap tuan Yovan yang langsung memotong roti di depannya dan memasukannya ke mulut.


Beberapa menit kemudian setelah selesai sarapan tuan Yovan menatap Vina Ian dan Andreas dengan serius, kedua tangannya yang di lipat menambah kesan keseriusan yang mendalam.


"Aku sudah menyiapkan sebuah perusahaan bernama V.A yang akan menjadi milik kalian, kalian bertiga yang sudah resmi menjadi anak angkatku ku harap bisa memulainya dengan baik" ucap tuan Yovan.


"Bagus jika kalian mengerti, dan untuk kamu Vina mulailah langkah awal dengan cara mengikuti lelang amal, kamu bisa menyumbangkan salah satu hasil desain mu untuk meningkatkan performa perusahan" ucap tuan Yovan.


"Aku mengerti" sahut Vina.


"Sekarang pergilah, Mulailah yang seharusnya kalian mulai" ucap tuan Yovan yang langsung berdiri.


Vina Ian dan Andreas berjalan keluar kediaman tuan Yovan, satu persatu yang sudah di berikan mobil bersiap pergi ke rumah masing-masing.


"Selamat tuan Yovan" ucap Mimin.


"Jangan secepat itu mengucapkan selamat pada ku, Aku masih harus memantau perkembangan ketiga anak itu" sahut tuan Yovan yang memperhatikan ketiga anak angkatnya pergi.


"Apa yang anda takutkan?" tanya Mimin.


"Ian dan Andreas sama-sama memiliki rasa ke Vina, yang ku takutkan hanya itu" sahut tuan Yovan.


"Maksud anda?" tanya Mimin yang masih tidak mengerti.

__ADS_1


"Rasa suka, cinta bisa membutakan seseorang aku hanya takut mereka tidak akan bekerjasama lagi jika Vina memilih salah satu dari mereka" ucap tuan Yovan.


"Kalau menurut ku anda terlalu berlebihan, bukannya rasa suka dan cinta yang anda katakan itu bisa saja menjadi pendorong untuk mereka" Sahut Mimin.


"Aku hanya bisa berharap begitu" ucap tuan Yovan yang langsung masuk ke dalam rumah.


Di kediaman rumah kakek Rengga...


Setelah satu tahun ketegangan kembali terjadi, sang kakek yang awalnya sudah berhenti mencampuri masalah Rengga akhirnya mulai membahasnya.


"Anak mu sudah berumur dua tahun lebih, dan umurmu sendiri sudah tidak muda lagi. Sampai kapan kamu akan tetap menyendiri" ucap kakek Rengga sambil menatap Rengga yang duduk di depannya.


"Aku kira ada masalah apa kamu memanggil ku" sahut Rengga santai.


"Haaaah, kamu masih sama saja seperti sebelumnya. Jika kamu berniat tidak ingin menikah seumur hidup lebih baik kamu berikan saja saham yang kamu pegang pada ku" ucap kakek Rengga.


"Aku memiliki 45% saham di keluarga Cafanza atas dasar apa kamu ingin mengambilnya" sahut Rengga.


"Atas dasar karena aku memiliki 50% saham sisanya dan untuk yang 5% kamu seharusnya tahu itu milik siapa" ucap Kakek Rengga.


"Sebenarnya aku sudah bosan mendengar kata pernikahan yang terus kamu ucapkan, bagaimana jika aku setuju untuk menikah dengan wanita manapun pilihan mu asal dengan satu syarat" sahut Rengga sambil tersenyum licik.


"Syaratnya pasti tidak mudah, tapi tidak apa katakanlah" ucap Kakek Rengga.


"Aku mau kamu memberikan seluruh saham mu padaku" Sahut Rengga.


"Kamu terlalu serakah, aku tidak mungkin menyetujuinya tapi jika hanya memberikan 25% sahamku ku rasa tidak masalah" ucap Kakek Rengga yang langsung tersenyum.


"45% di tambah 25% itu sudah sangat banyak untuk mu, seharusnya itu cukup bukan" sambung Kakek Rengga.


"Hanya 70% sebenarnya masih kurang tapi tidak masalah, kalau begitu aku akan menyetujuinya" sahut Rengga.


"Hahahaha, bagus-bagus. Satu bulan lagi pertunangan mu akan di laksanakan" ucap Kakek Rengga yang langsung tertawa sangat keras.


Cih, sepertinya pak tua ini sudah merencanakannya dengan matang, tapi tidak masalah setelah saham ku menjadi 70% saham sisanya akan ku ambil dengan mudah" dalam hati Rengga sambil tersenyum licik.


Haaaah, sepintar apapun kamu, kamu tidak akan bisa membaca pikiran ku walau aku hanya memegang saham 25% di keluarga Cafanza, aku akan mendapatkan saham baru sebesar 75% dari keluarga Mahendra" dalam hati kakek Rengga sambil tertawa kecil membelakangi Rengga.


~Pembagian saham yang di perkirakan akan menguntungkan satu sama lain membuat keduanya merasa senang, tanpa mereka sadari kesenangan mereka awal dari kejutan yang tidak bisa mereka perkirakan.~

__ADS_1


__ADS_2