
Pelatihan Vina.
Hari baru buat Vina baru saja di mulai, perpisahannya dengan Ian dan Andreas adalah awal memulai pelatihannya.
"Vina" panggil seorang desainer ternama keluarga Agra yang melihat Vina melamun di depannya.
"Maaf Kak Inesa" sahut Vina yang langsung memfokuskan pandangannya memperhatikan desainer ternama di depannya itu.
Vina yang dari awal mengetahui dasar-dasar membuat sketsa akhirnya lebih memahami kekurangannya, Vina terus melatih kemampuannya di bawah bimbingan Inesa desainer asal Australia dengan penuh keseriusan.
Hanya dalam beberapa bulan Inesa yang mengajari Vina merasa sangat terkejut, dalam tiga bulan Vina bahkan bisa merancang desain lima baju hasil pemikirannya sendiri.
Ploooooook ploooooook ploooook...
Suara tepuk tangan mengejutkan Vina, dari pintu masuk tuan Yovan yang menjadi ayah angkatnya berjalan menghampiri Vina yang masih terdiam.
"Luar biasa. Bahkan Inesa saja mengagumi hasil mu" ucap tuan Yovan yang berdiri di depan Vina.
"Ayah angkat terlalu berlebihan, jika bukan karena bimbingan Kak Inesa aku belum tentu bisa" sahut Vina yang sengaja merendahkan diri.
"Kalau begitu teruskan, masih banyak waktu untuk mu menghasilkan karya yang lebih baik. Inesa ku serahkan dia sepenuhnya pada mu" ucap tuan Yovan yang langsung berbalik berjalan pergi meninggalkan Vina.
"Hasil karya mu memang bagus, tapi untuk menjadi desainer kelas atas masih belum cukup, teruslah mengembangkan imajinasi yang ada di pikiran mu" ucap Inesa yang memperhatikan Vina menatap tuan Yovan.
"Aku mengerti" sahut Vina.
Aku pasti bisa menghasilkan karya ku yang lebih baik, semua demi anak ku" dalam hati Vina.
Pelatihan Ian dan Andreas.
Sama hal nya dengan Vina perpisahan awal dari pelatihan Ian dan Andreas. Keduanya yang berada di tempat khusus mulai memfokuskan pelatihan masing-masing.
Andreas yang mendapatkan pelatihan menyerang dari luar tanpa kenal rasa sulit terus mencoba yang terbaik, sedangkan Ian yang mendapatkan pelatihan menyerang dari dalam berusaha semaksimal mungkin untuk menghasilkan kerja sama anti gagal bersama Andreas.
Tiga bulan selama pelatihan keduanya berhasil menguasai keahlian masing-masing, Ian dan Andreas yang merasa sangat puas berharap bisa mengetahui bagaimana perkembangan Vina saat ini.
"Bagus-bagus, kalian juga mendapatkan hasil pelatihan yang memuaskan aku bangga pada kalian semua" ucap tuan Yovan yang berdiri di depan pintu mengejutkan Ian dan Andreas.
__ADS_1
"Ayah angkat" sahut Ian dan Andreas bersamaan.
"Aku sudah bisa melihat hasil kalian, tapi kalian masih harus berlatih cukup lama untuk hasil yang lebih memuaskan" ucap Tuan Yovan.
"Kami mengerti" sahut Ian dan Andreas.
Tuan Yovan yang berjalan pergi menjauh membuat keduanya kembali memfokuskan pelatihan masing-masing.
______ ________
Di tempat berbeda Rengga masih sama seperti tiga bulan sebelumnya, kehadiran Raka yang menjadi bagian keluarga Cafanza sama sekali tidak mempengaruhinya.
Di rumah Rengga Gladi dengan sabar mengurus anak angkatnya itu, sesekali Aldo datang mengunjunginya membawa beberapa keperluan yang di butuhkan Gladi tanpa sepengetahuan Rengga.
"Gladi" panggil Aldo yang baru memasuki rumah Rengga.
"Aku membelikan mu baju, ku harap kamu memakainya" ucap Aldo yang melihat Gladi bermain bersama Raka tanpa menghiraukan panggilannya.
"Sudah ku bilang tidak perlu, lebih baik kamu simpan saja" sahut Gladi.
"Rengga" sahut Aldo sambil membalikan badannya.
"Apa kamu tidak ingat apa yang di lakukannya, jika dia masih seperti dulu mungkin kamu berada di jeruji besi sekarang" ucap Rengga.
"Ayolah Rengga, itu sudah berlalu lagipula bukannya kamu yang bilang aku bebas menyukainya" sahut Aldo.
"Bebas menyukainya bukan berarti kamu bisa memanjakannya, kamu harus ingat dia pengasuh Raka dia bekerja di bawah tanggung jawab ku" ucap Rengga sambil menyunggingkan bibirnya.
"Sudah ku bilang tidak perlu mengasihani ku, bawa pergi saja yang kamu bawa itu" sahut Gladi.
"Dan kamu Rengga kamu bisa menyimpan dendam pada ku, tapi bagaimana perlakuanmu ke Raka itu tidak seharusnya" sambung Gladi.
"Memangnya apa yang aku lakukan" ucap Rengga seperti tanpa beban.
"Rengga, apa kamu masih manusia. Raka anak mu darah daging mu, apa kamu pernah memberikan kasih sayang mu padanya, apa kamu pernah bertanya apa anak mu sudah makan atau belum" bentak Gladi yang sangat emosi.
"Apa itu semua penting" sahut Rengga.
__ADS_1
"Dia anak ku saat ini dia masih belum berguna, kenapa aku harus melakukan itu semua" sambung Rengga.
"Pria sialan, kalau seperti itu perlakuanmu kenapa kamu mengambilnya dari ibunya. Kamu bahkan tidak pantas menjadi ayahnya" bentak Gladi.
"Aldo ayo pergi, ku ingatkan kamu sekali lagi jangan memberikan barang apapun padanya baju pelayan di rumah ku banyak kamu tidak perlu menghawatirkannya" ucap Rengga sambil berjalan pergi meninggalkan Gladi.
Haaaaaah...
Aldo menghela nafas panjang lalu berjalan pergi, jujur saja dia memang menyukai Gladi andai saja dia bisa membawa Gladi pergi dari Rengga.
Pria sialan, aku mengutuk mu, ku sumpahi kamu akan menyesali perbuatan mu seumur hidup" dalam hati Gladi yang langsung menggendong Raka kembali ke kamarnya.
Di kediaman tuan Yovan...
Tuan Yovan yang merasa puas melihat pelatihan anak angkatnya terus tersenyum, kopi tanpa gula yang biasa di minumnya kali ini terasa tidak pahit seperti biasanya.
"Tuan Yovan sepertinya sangat senang hari ini" ucap Mimin pelayan pribadi tuan Yovan.
"Aku mendatangi tiga anak itu, benar-benar tidak mengecewakan" sahut Tuan Yovan sambil menyeruput kopinya.
"Tuan Yovan sangat ingin membantu ketiganya, tuan Yovan sangat murah hati" ucap Mimin.
"Heeeeh, murah hati. Aku juga melakukan demi balas dendam lama" sahut tuan Yovan.
"Dendam seperti apa yang bisa membuat tuan Yovan masih mengingatnya hingga sekarang" ucap Mimin yang merasa penasaran.
"Dendam yang sangat sulit di jelaskan, tapi inti dari dendam ku membalas semua perlakuan keluaraga Cafanza hingga membuat mereka semua menyesali apa yang pernah mereka lakukan" sahut tuan Yovan.
"Bisa di bilang dendam ketiganya sama dendam anda sama, membantu membalas dendam mereka sama saja membalaskan dendam anda. Bukannya begitu" ucap Mimin.
"Pintar kamu, sudah aku ingin beristirahat jangan menganggu ku" sahut tuan Yovan yang langsung berjalan ke kamarnya.
Sampai di kamarnya tuan Yovan membuka album foto yang terlihat sangat usang, di perhatikannya satu persatu foto di depannya itu sambil di usapnya.
"Istriku, andai dulu mereka tidak sekejam itu mungkin kita bisa memiliki anak, dan sekarang memiliki cucu" ucap tuan Yovan yang tanpa sadar meneteskan air matanya.
"Padahal kesalahan kita tidaklah besar tapi, mereka yang merasa berkuasa malah membuat keputusan yang membuat mu meninggalkan ku selamanya" ucap tuan Yovan mengingat kembali masa lalunya.
__ADS_1