
SETELAH kurang lebih tiga puluh menit para tamu beristirahat
sambil makan-makan, acara kedua yang sudah di rancang oleh pak Suherman dibuka
lagi. Para tamu khusus yang menyaksikan perhelatan ini, sudah duduk kembali ke
kursi masing-masing. Kali ini Indra dan Syafira pun sudah terlihat ada berbaur
dengan yang lain. Pak Suherman merasa lega.
“Hadirin yang berbahagia…Untuk acara selanjutnya saya sudah
memberinya judul: “Islah masal”…Jadi, siapa saja yang merasa punya salah atau
unek-unek kepada seseorang, disinilah ajangnya untuk menyampaikanakannya kepada
orang yang bersangkutan…Jangan malu unuk kebaikan…Dan jangan di tutup-tutup
kalau selama ini merasa dikejar-kejar dosa…Seperti saya tadi yang sudah
mengakui kesalahan saya terhadap sahabat saya didepan saudara-saudara ”
Dari sekian banyak orang, ternyata yag duluan naik ke atas
panggung itu Syafira. Menyusul setelah itu Wiwin. Terus kemudian Indra dan
Kamal sama-sama menyusul pasangannya. Setelah berada di atas panggung, Syafira
langsung menghampiri Mia. Setelah berhadap-hadapan, didalam benak Syafira melintas.
“Ini anak pertama ibu ya ?”
“Iya sus…Alhamdulillah anak kami lahir laki-laki seperti
yang diinginkan papanya”
“Sudah diberi nama bu?”
“Belum. Nunggu dulu papanya yang masih ada pekerjaan diluar
kota…”
“Oya…? Suster sendiri sudah punya calon belum? Kalau sudah
punya, cepetan nikah aja sus…Setelah menikah dan melihahirkan, ternyata ada
kebahagiaan yang sukar dilukiskan senangnya lho sus…” Waktu itu Syafira balik
bertanya.
“Belum bu…Saya mau mengejar karir dulu ach…” Jawab Mia saat itu. Dan itu kini menjdi
unek-unek Syafira.
“Kenapa ketika itu suster bohong kepada saya…Katanya belum
punya pacar. Tapi ternyata kekasih suster itu yang menjadi suami saya sendiri…”
“Sekarang semua itu lupakan saja mbak…Hari ini saya sudah diangkat
anak oleh Oom Suherman…Berarti mbak dan mas Indra itu sekarang kakak saya…”
Setelah dijawab oleh Mia seperti ini, ternyata Syafira lalu
pergi. Yang mau ditemuinya, kali Ini Wiwin yang menjadi cinta pertama suaminya.
Tapi sampainya, duluan Indra ke hadapan Mia.
“Akhirnya kita bisa bertemu lagi…Kita itu pernah menjalin kasih
jarak jauh…Meskipun didalamnya banyak cerita dan pertistiwa yang memilukan,
tapi menyatunya kita selama ini tidak murni atas dasar cinta…Aku tahu dulu kamu
menerima cintaku itu hanya pelarian…Aku juga sama karena nyatanya setelah putus
__ADS_1
dari cinta pertama, aku sulit melupakan semua kenangan saat bersamanya…Sekarang
kamu sudah bisa mendapatkan cinta sejatimu…Sedangkan aku tidak…Beberapa saat
yang lalu, katanya papa ikrar didepan para tamu, bahwa kamu dijadikan sebagai
anak angkatnya…Berarti sekarang kamu itu adik aku…”
“Iya kak…Sekarang aku itu adik angkatmu…” Mia yang
belakangan sesumbar tidak mau melihat lagi wajah Indra, ternyata kali berubah
seratus delapan puluh derajajat. Tujuan pak Suherman,berhasil.
Syafira yang mau menyampaikan unek-uneknya kepada Wiwin
sudah sampai.
“Mbk cantik sekali…” Syafira langsung memuji kecantikan
cinta pertama suaminya.
“Alhamdulillah...Terimakasih…”
“Mas Indra sangat mencintai mbak…”
“Itu dulu…Kalau sekarang pasti mas Indra sangat mencintai
istrinya…”
Seandainya iya, aku pasti sangat bahagia. Pikir Syafira. Tapi
setelah itu Ia melihat suaminya sudah dekat. Kamal juga sudah melihat yang
menjadi cinta pertama istrinya itu sedang berjalan kearah mereka.
“Bun…? Aku mau ke Fajar dan Mia dulu ya…?” Sebelum Indra sampai, Kamal pergi. Begitu
juga Syafira. Dan benar. Ketika sudah lama baru dipertemukan lagi, Indra
“Kamu tetap cantik seperti dulu ketika kita masih pacaran…Dulu
kita berpisah bukan karena sudah tidak saling cinta…Barusan aku sudah berkata
jujur didepan Mia, bahwa cintaku kepadanya hanya pelarian…Dia sekarang jadi adik
angkatku…Berarti yang masih berada dihati aku hanya kamu seorang dengan posisi
tetap spesial…”
“Tapi sekarang aku sudah bahagia dengan suami aku..”
“Ya, aku tahu…Sekarang kamu sudah hidup bahagia dengan orang
yang sudah menghancurkan masa depanku…Tapi lihat saja nanti. Apakah di akhir
acara akan ada air mata yang keluar dari matamu yang indah itu atau tidak…?
Waktunya sebentar lagi…”
“Kang…? Kenapa mereka ditinggalkan berdua…? Kalau masa
lalunya dikups, bisa-bisa mereka nanti comeback” Ketika disana Indra cukup lama berbincang
dengan Wiwin, disini Kamal disalahkan Mia. Tapi ternyata Kamal menanggapinya
dengan tetap santai.
“Biarin aja…Ini kan ajangnya untuk saling mengungkapkan
unek-unek…Aku bahkan pernah cemburu juga kepada suami kamu. Kalau tidak
percaya, tanyakan saja langsung kepada orangnya…”
“Aduh kang, bisa repot ini…Kenapa ngebahas lagi soal peran
__ADS_1
dalam scenario ulang tahun itu sih ?”
Setelah Kamal menyampaikan satu pernyataan yang
menyudutkannya, Fajar buru-buru merangkul Mia. Tapi ternyata yang ditakutkannya
malah nyantai seperti Kamal sebelumnya.
“Nggak apa-apa…Itu kan masa lalu ketika kita belum
jadian…Orang yang jomlo memang hati dan pikirannya itu kadang suka
melayang-layang diangkasa…Dan kalau lagi didarat, istri orang yang cantik
kadang dilirik…? Pikiran orang normal itu mah…”
Setelah menyampaikan unek-uneknya kepada Wiwin ternyata
Indra balik lagi kepelaminan Mia yang sedang ada Kamal. Kepada orang yang dulu
memupuskan harapannya itu, Indra menepuk bahunya.
“Eh, In…?” Kamal langsung membalik. Setelah dengan Indra
berhadap-hadapan. “ Acara papa kamu ini unik ya In?”
“Lebih tepatnya super unik…Karena dengan adanya acara ini,
semua masa lalu terkenang lagi”
“Oya…? Aku itu mau
minta maaf sama kamu…” Kamal jadi ingat
bahwa kepada Indra itu pernah berprasangka buruk ketika hasil tes Dani ada
kesalahan. Kepada Indra lalu Kamal menceritakan yang terjadi.
Dalam ajang ini Bu Rantupun menghampiri bu Suamiati.
“Mbak Sum…? Mewakili keluarga, saya minta maaf…Apa yang
terjadi selama ini pasti sangat melukai mbak Sum sekeluarga…Dalam hal ini Indra
sebenarnya jadi korban ketamakan papanya…Tapi mungkin keluarga mbak tidak
berfikir sejauh itu…Kalau Indra ingkar janji dan tiba-tiba diketahui sudah
menikah dengan orang lain, yang mendapat kecaman pedas dari keluarga mbak,
tetaplah Indra yang menjalani…Dan itu sudah terbukti”
“Sudahlah jeng…Semua itu sebaiknya sekarang lupakan…Tadi mas
Herman juga sudah menebusnya dengan yang sangat bernilai…Tapi yang lebih
bernilai dari yang berbentuk meteri, tentu saja keikhalasan dan ketulusannya“
Dari tempat memantau situasi pak Suherman tersenyum.
“Orang-orang tertentu sudah mengungkapkan angan-angannya satu sama lain dan ber
islah…Tadi aku melihat Syafira berbincang dengan Mia, disusul oleh Indra…Kepada
Wiwin, Syafira juga menyampainya apa yang selama ini ia khawatirkan…Terus Indra
menemui mantannya juga dan berbincang lebih lama…Mama dan Sum juga barusan
berkomunikasi…Meskipun semuanya hanya kulihat melalui kasad mata, tapi aku
yakin tujuanku mau mendamaikan mereka itu akan berhasil”
Dari tempat duduknya kali ini pak Suherman bangkit.
Mungkin akan melanjutkan lagi acaranya. Karena dari tiga sesi yang sudah
__ADS_1
dirangcangnya, baru dua yang dipentaskan.