
INDRA yang sudah dua hari dua malam di Desa, di hubungi pak Suherman melalui telepon selulernya. Sementara Indra yang hari ini sedang rekreasi dengan Mia, sudah mematikan handphonenya dengan alasan supanya kesenangannya tidak terganggu. Setelah di ulang berkali-kali tetap tidak nyambung, pak Suherman akhirnya mencoba menghubungi ibunya. Dan ternyata menghubungi kepada ibunya, handphone nya menyala
“Assalamualaikum bu…”
“Wa’alaikumussalam…Ada apa Herman ?”
“Bu? Kenapa Indra belum pulang juga? Kan dia harus ngurus visa?”
“Iya. Indra juga bilang memang belum mengurus visa dan paspor katanya. Tapi beberapa saat yang lalu baru saja mobilnya keluar”
“Mau pergi kemana bu ?”
“Katanya mau rekreasi dengan pacar barunya”
“Maksud ibu ? Sekarang di sana Indra punya kekasih baru?”
“Iya. Kamu harus bersyukur Herman. Karena sekarang anakmu sudah bisa move on dari cinta pertamanya itu”
“Tapi bu. Bibit bobotnya kan harus di ketahui dulu. Kenapa ibu membiarkan mereka langsung akrab?”
“Kalau masalah itu kamu jangan khawatir Herman. Karena gadis itu sudah lama kenal dengan ibu. Bahkan orang tuanya”
“Tunggu-tunggu bu…Sebenarnya gadis itu anak siapa?”
“Sumiati Herman. Kamu masih ingat dia kan ?”
“Jadi gadis itu anaknya Panji ?! Tidak bu ! Sampai kapanpun, saya tidak akan setuju ! Karena sampai saat ini saya masih belum bisa melupakan penghianatan sahabat dekatku itu!”
“Tapi itu kan masa lalu Herman. Dan kalau tidak terjadi hal itu, kamu tidak akan seperti sekarang ?”
__ADS_1
“Bu ! Saya bisa sukses seperti sekarang, itu karena garis tangan ! Ibu juga tahu kalau selama ini sariatnya saya kerja keras!”
“Cukup Herman ! Ibu tidak suka ya, kalau kamu berdalih karena dendammu itu ! Pokoknya anakmu yang suka sama anaknya Panji, biarkan saja ! Orang tua jangan ikut campur !” di dalam telpon, bu Sarah marah
“Meskipun aku menjelaskan rasa sakitku dulu bagaimana rasanya, Ibu pasti tidak akan mengerti. Jadi mendingan sekarang aku menutup teleponnya. Soal cara memisahkan Indra dan anak Panji itu, biarlah kulakukan nanti tanpa sepengetahuan ibu”
“Herman…? Halo Herman…?” Bu Sarah berkali kali nge’ cek hanphone yang oleh pak Suherman sudah di tutup. Setelah tahu bahwa anaknya sudah menutup telponnya, Bu Sarah terus ngerutu. “Ngapain juga masih dendam sama Panji. Toh, karena dia tidak jadi nikah sama Sumiati, justru hidup Herman lebih beruntung karena menikah dengan nak Ranti anak orang yang punya perusahaan” celoteh bu Sarah
Tapi pak Suherman lain lagi ocehannya. “Lihat saja panji ! Sekarang anak kamu sudah dekat dengan anakku! Suatu saat kamu pasti akan merasakan apa yang kurasakan dulu melalui anakmu itu!”
Ternyata pak Suherman punya rencara supaya sakit hatinya di masa lalu terbalaskan.
“Pah ? Habis nelepon siapa barusan ?” Bu Ranti menghampiri suaminya yang kedengaran masih kutuk geneng.
“E, anu mah. Barusan papa habis nelpon ibu”
“Kutuk genengnya untuk siapa ?” Bu Ranti menyimpan cemilan yang di bawanya di atas meja
“Ya nggak apa-apa pah. Papa ingin Indra buru-buru pulang itu supaya cepat ngurus visa kan?”
“Iya mah. Tapi ternyata anaknya masih betah di Desa”
“Papa sepertinya menyembunyikan sesuatu ? Tapi biar aja ach. Mendingan sekarang aku pura-pura tidak tahu aja” gumam dalam hati bu Ranti
“Ayo pah? Dari pada bt gara-gara Indra yang masih betah di Desa, mendingan sekarang kita sama-sama cicipi kripik ubi ungu ini”
“Dari mana ini mah ? Kayaknya pakai gula ?”
“Oleh-oleh bi Irah. Ternyata di kampungnya sedang musim panen ubi”
__ADS_1
“Jadi Irah sudah pulang ? Duh, jadi ingat masa lalu nih “ celoteh pak Suherman ketika mau mencicipi keripiknya.
“Dulu ibu rajin ngolah makanan ya ?”
“Ibu memang rajin banget mah. Dari hasil bumi itu ibu bikin keripik, kecimpring, ranginang dan lain-lain. Dulu papa jadi tukang ngabisinnya aja. Bisa di bilang begitu, karena setiap mau berburu pipit, pastilah papa bawa goreng-gorengan itu dalam jumlah yang banyak “
“Waktu muda, ternyata papa nakal banget ya ? Maksud mama, jauh berbeda dengan prilaku Indra anak kita ?”
“Ach, mama ini jadi nyudutin papa…? Ya pasti beda mah. Kan dulu papa sebagai pemuda desa”
“Ya udah jangan baper. Tapi meskipun papa seorang pemuda desa, kan dulu mama cinta banget sama papa. Bahkan sampai sekarang “ bu Ranti menggoda pak Suherman. Ternyata ayah Indra itu langsung tersenyum meskipun hatinya masih gendok karena Indra berhubungan dengan anak musuh bebuyutannnya.
“Oya mah, papa tinggal dulu ya? Ada perlu sebentar…” Pak Suherman yang sedang makan keripik, tiba-tiba bangkit. Kecurigaan bu Ranti tambah kuat
“Makin mengherankan saja sikap papa? Apa sebaiknya sekarang coba intip aja ?” gumam bu Ranti. Setelah rasa penasarannya semakin kuat, ibu dua anak ini akhirnya bangkit juga dari tempat duduk. Pak Suherman yang masuk ke kamar, akhirnya bu Ranti intip dari balik pintu
“Tolong carikan seorang pemuda yang bersedia menjalankan misi saya ya ?” Terdengan oleh bu Ranti dari luar
“Cuma itu permintaannya pak ? Maksud saya tidak harus yang sudah punya pekerjaan ? Tampan atau punya mobil?” Yang di hubungi pak Suherman, bertannya
“Ya, minimal memiliki salah satunya. Tapi lebih baik lagi kalau orang itu memiliki semuanya. Supaya misi saya cepat berhasil”
“Kalau begitu beri saya waktu pak. Mencari orang yang seperti kriteria bapak sebutkan, pasti tidak mudah”
“Iya, nyantai aja. Saya juga tidak mau buru-buru kok. Tapi kalau nanti sudah menemukan, langsung suruh datang ke kantor ya ?”
“Jadi jangan ke rumah pak ?”
“Ya jangan. Sama saja saya cari mati, kalau orangnya di bawa ke rumah!”
__ADS_1
“Apa sebenarnya yang di rencanakan papah ? Kok kalau orang itu dibawa ke rumah, sama saja buat papa cari mati ? Tapi apapun tujuannya papa, sebaiknya aku tetap pura-pura tidak tahu. Karena aku yakin, tujuan papa bukan untuk menghancurkan keluarga. Melainkan untuk ke utuhan keluarga” Gumam bu Ranti setelah mendengar percakapan Pak Suherman dengan orang yang di hubunginya. Setelah itu ibu dari dua anakini balik lagi ke kursi tempat duduk tadi. Tidak lama kemudian, pak Suherman pun muncul. Pasangan suami istri ini akhirnya melanjutkan lagi makan cemilannya sambil ngobrol seperti di awal.