
INDRA yang sudah rapih dalam banyak hal, menemui ayahnya dan bercakap cakap sebentar. Tepat pukul tujuh pagi sebuah mobil yang biasa dipergunakan oleh ayahnya kalau pergi kekantor, dikeluarkan Indra dari garasinya. Rupanya tadi Indra habis izin dulu dan mengambil kuncinya.
Selama dalam perjalanan, dalam ingatan pemuda ini sudah terbayang-bayang. Setelah mencet bel, pasti Wiwin yang akan membuka pintunya. Ternyata melenceng, perkiraan Indra
“Eh nak Indra sudah datang ? Silahkan masuk nak” tante Wati membuka lebar daun pintu
“Wiwinnya lagi apa ya ?”
“Aduh nak In, semalam kami hingga kurang tidur…Wiwin katanya mimpi mau dibunuh orang . Dari kamarnya teriak-teriak. Tante dan Oom akhirnya langsung menghapirinya. Wiwin juga jadi demam sejak kejadian itu.”
“Jadi sekawang Wiwin sakit tante.?”
“Suhunya naik… Iya nak In.”
“Kalau sekarang saya langsung menemuinya, kira-kira mengganggu nggak tan?”
“Eh nak Indra sudah datang…?” Om Anwar menghampiri. “Mau mengambil dompet yang tertinggal itu ya.?”
“Iya Om. Tapi kata tante Wiwin sakit.?”
“Betul nak In. Tante cerita juga tentang kejadian semalam kan.? Rupanya Wiwin shock. Disuruh berdoa sampai salah ucap.”
“Salah ucap bagaimana maksud Oom.?”
__ADS_1
“Itu nak In, Wiwin mendoakan ayahnya itu, mengucapkannya mereka yang disana. Padahal disana cuma ada ayahnya seorang kan, tidak ada siapa-sipa lagi.?”
“Bisa aja orang-orang yang ditemuinya waktu liburan Om.” Tukas Indra. Tapi didalam hatinya. Perasaannya sendiri mulai tidak enak. Kebetulan pribumi tidak lama-lama menahannya diteras.
“Oya nak In, tadi katanya mau menemui Wiwin…? Jangam malah termenung diambang pintu donk, temuilah sekarang.”
“Iya nak In, barusan Oom juga habis melihanya.”
“Jadi Wiwin tidak sedang tidur om.?”
“Tidak. Dia malah sedang menunggu pemilik dompet yang janji datang pagi ini. Hehe…” Oom Anwar mencairkan malu-malunya Indra. Ternyata pemuda ini jadi tersipu.
“Kalau begitu saya pamit dulu ya Omm…? Tante…? Sekarang saya akan menemui Wiwin.”
“Win…” Sesampainya dikamar, Indra menyapa orang yang sedang berselimbut.
“Kamu mau mengambil dompet ya?”
“Kamu kenapa bangun ?”
“Kan mau ngambil dompet kamu?”
“Dompetnya biar aku sendiri yang ngambil “
__ADS_1
Didekat dompet ada mangkok bubur. Oleh Indra diambil sekalian ngambil dompet
“Kamu belum makan ya?”
“Nggak selera”
“Kamu harus makan Win, supaya cepat sembuh…Dua hari lagi kan masuk sekolah. A’ sekarang makan”
Ketika Indra menyuapinya tadinya Wiwin tidak mau. Tapi setelah oleh Indra dipaksa, mulutnya akhirnya dibuka. Selama menguyah bubur sambil memejamkan mata, tiba-tiba dalam benak Wiwin melints sosok Kamal dengan segala pengorbanannya. Baik yang didalam mimpinya, maupun yang di alam nyata. Ketika kedua matanya dibuka, meleleh air matanya membesahi pipinya
“Kamu nangis Win?”
“Sekarang kamu keluar aja. Aku mau istirahat lagi”
Ketika memutuskan keluar dengan membawa kekecewanya, Oom Anwar dan tante Wati ternyata ada di ruang tamu. Ketika melihat Indra muncul, keduanya langsung bangkit.
“Wiwin mau bangun nggak ketika ada nak Indra ?”
“Tadinya mau bangun, tapi saya larang. Sekarang saya mau langsung pulang aja, karena mobilnya mau di pakai sama papa”
Oom Anwar dan tante Wati saling lirik. “Nak Indra alum. Pasti yang membuatnya kecewa” maknanya. Setelah itu Indra yang mau pulang, diantar tante Wati sampai keteras. Setelah mobilnya tidak terlihat, tante Wati masuk lagi kedalam
“Pah, mama tiba-tiba jadi tidak enak perasaan…” Setelah didalam, tante Wati nyeloteh. “Kapan-kapan kita Tanya Wiwin yap pah, siapa tahu dia punya problem yang kita tidak tahu”
__ADS_1
“Yah, itu kapan-kapan saja kalau ada waktu yang tepat. Sekarang kita kembali ke aktifitas masing-masing aja. Mama tadi mau masak kan?” kata Oom Anwar. Ia sendiri langsung masuk ke ruang kerja, siap-siap mau berangkat ke kantor.