Karunia (Gadis Dalam Ikatan)

Karunia (Gadis Dalam Ikatan)
Kehidupan Dari Rumpun Yang Berbeda


__ADS_3

DI sebuah Dusun yang mata pencaharian warganya mayoritas


bertani, menjelang duhur aktifitasnya berpariasi. Ada yang masih mencangkul.


dangau sambil ngopi di temani majikannya. Sedangkan petani yang satu ini sekarang


sudah di rumah. Malah sudah ngobrol dengan istrinya dengan berpakaian bersih,


karena sebentar lagi akan kemesjid untuk memimpin berjamaah duhur. Tapi sejak


anaknya sudah lulus dari kedokteran, di hatinya ada unek-unek yang tersimpan.


“Mak? Sekarang anak kita kan sudah jadi Dokter. Bagaimana kalau


tabungan kita untuk berhaji itu pakai beli mobil dulu? Supaya Fajar berangkat


ke kantornya tidak malu-maluin ”


“Emangnya bakal cukup pak ? Mobil itu kan harganya mahal?”


“Yang second aja supaya uangnya cukup. Kalau mak sudah


setuju, nanti kita tinggal ngomong ke Fajar kalau dia sudah pulang”


“Assalamualaikum…”  Pas orangtuanya dirumah sedang memikirkan derajat anaknya, yang


diperbincangkannya uluk salam dari luar. Yang bangkit dari tempat duduk  bukan hanya ayahnya yang bernama pak Abdul


Rahman, tapi juga istrinya yang bernama bu Aisyah


“Walaikumussalam…” Jawab orangtua Fajar bersamaan sambil


sama-sama berdiri.


“Kok kamu sudah pulang  Jar? Memangnya hari ini belum mulai kerja?”  pak Abdul Rahman bertanya lebih dulu.


“Belum Ayah…Hari ini baru selesai menandatangani


berkas-berkas aja. Karena dengan kepala rumah sakitnya baru bertemu hari ini”


“Jadi kapan kamu bisa mulai kerja ?”  Tanya ibunya sambil duduk lagi


“Hari senin bu”


“Kalau begitu ayo sekarang kamu duduk dulu. Barusan ayah dan


ibu itu sedang membicarakan sesuatu”


“Membicarakan apa itu ayah?”  Tanya Fajar sambil duduk di kursi yang kosong di samping ibunya


“Itu Jar. Tadi kata ayah, uang tabungan untuk kita berhaji


itu mau dibelikan dulu mobil untuk kamu”


“Tapi mungkin hanya bisa untuk membeli yang sekken Jar”


Mendengar ayah dan ibunya begitu memikirkan harga dirinya,


dalam benak Fajar langsung melintas. Beberada saat lalu pada saat ia mau


meninggalkan rumah sakit, beberapa perawat muda saling bisik.


“Wi ? Kayaknya akan ada dokter yang magang lagi tuh”


“Iya Ra. Tapi kali ini dokternya masih muda dan tampan.


Mulai hari ini kita akan bersaing kayaknya tuh”


“Kita kan masih single. Nggak apa-apa kali bersaing juga.


Tapi kalau bersainganya cuma kita berdua, kayaknya nggak ada tantangan yang


begitu berarti. Jadi ajakan juga tuh Mia dan Mona. Kalau bersaing banyakan kan


pemenang jadi lebih berarti”


“Kamu belum memberi komentar atas yang dibicarakan kami


Jar?”


“Emm…Anu yah. Sebenarnya saya agak keberatan kalau tabungan


untuk berhaji ibu dan ayah harus dibelikan mobil. Tapi kalau ayah dan ibu


memang sudah ikhlas demi menjunjung bartabat seorang anak, saya setuju.


Mudah-mudahan nanti saya bisa cepat menggantinya”


“Amiin…Mudah-mudahan “  Pak Abdul Rahman dan istrinya lagi-lagi kompak


“Oya ? Bukankah saat ini ayah juga punya tanaman palawija


yang sudah siap panen? Kabarnya harga timun dan cabe saat ini sedang


melambung?”


“Betul Jar. Bapak dulu nanamnya agak telat. Kalau yang lagi


panen besar saat ini, kabarnya di kampung babakan. Disana katanya ada petani


muda. Dia menamam berbagai tanaman palawija yang luasnya hektaran. Kalau sesama


petani, mengenai harga dan lain sebagainya itu memang cepat menyebar. Karena


antar komonitas, sekarang ini rata-rata menggunakan hp dan pacebook. Jadi harga


di indukpun sudah diketahui para petani“


“Jangan-jangan petani muda yang sedang panen itu kang Kamal?


Kan dia suka tanam palawija juga? Ya, aku ikut senang kalau mbak Win sekeluarga


saat ini sedang mendapat kebahagiaan ? Rumah mereka memang di kampung babakan”  Gumam dalam hati Fajar setelah ayahnya


menyebut nama sebuah kampung.


Yang di perkirakan Fajar memang benar. Keluarga ini malah


saat ini masih dilokasi karena kepada Bandar sayur, Kamal mintanya timbang


bayar di tempat. Yang tidak biasa, hari ini Wiwin dan anaknyapun ikut ke


lapangan. Selain mau melihat proses panennya, iming-iming uang dari hasil


bertani yang harganya sedang mahal, sudah di depan matanya.


Tepat pukul dua belas sebuah truk yang mau mengangkut hasil


panen tiba dilokasi. Supirnya turun lalu menghampiri yang sedang mengarut


karung timun.


“Bosnya dimana ?” Tanya supir


“Bosnya ada di dangau pak sedang bersama keluarganya”


“Saya mau menemui boss nya dulu kesana ya?”


“Baik pak. Saya mau melanjutkan lagi bekerja supaya cepat


beres“


Supir itu akhirnya menuju ke dangau. “Petani saat ini benar-benar


sedang di atas angin”  celoteh supir itu


untuk orang yang mau di temuinya. Ketika Kamal menoleh, bukan main terkejut

__ADS_1


bercampur haru.


“Pak Supri ?”


“Cep Kamal ? Jadi yang sedang panen raya itu cep Kamal?”


“Iya pak. Pak Supri  masih


narik ?”


“Iya cep. Ini seperti mimpi? Setelah sekian lama akhirnya


kita dipertemukan lagi?”


Ketika Kamal dan orang itu berpelukan, Wiwin dan Dani turun


dari dangau. “Ayah…!”  Dani menghampiri


ayahnya. Sedangkan Wiwin cukup memandang saja dari depan dangau yang tidak ada kontak


langsung dengan sinar matahari.


“Ini putra cep Kamal?”


“Iya pak Supri ini anak kami. Dan itu ibunya”  Kamal menunjuk ke Wiwin yang tetap di depan


dangau.


“Istri cep Kamal…?”


“Istri saya masih yang dulu pak. Yang pada saat malam


pertamanya saya lewatkan. Dan saat itu saya malah ikut bapak yang mau mengantar


sayuran ke pasar induk. Alhamdulillah…Karena terinfirasi waktu sedang jadi kili


disana, serakang saya diberi rizki banyak melalui tanaman sayuran dan bertemu


lagi dengan bapak”


“Neng ? Waktu itu suami eneng ikut ke mobil sayurang bapak


ke Jakarta. Cep Kamal waktu itu menceritakan segalanya. Mau di ajak pulang lagi,


cep Kamalnya tidak mau. Tapi Alhamdulillah sekarang cep Kamal dan eneng sudah


hidup bahagia”  kata pak Supri setelah


menghampiri Wiwin


“Alhamdulillah…Sekarang kita memang sudah bahagia. Bapak ke


rumah dulu ya ?”  Wiwin yang ikut terharu,


mengajak pak Supri kerumah.


“Aduh gimana ya neng ? Kan sekarang mah lagi tugas. Lain


kali saja, insyaalloh nanti bapak akan ke sana” kata pak Supri. Dari pertemuan


ini Kamal tidak lupa atas kebaikan pak Supri dulu. Untuk membalasnya ternyata


kali ini Kamal memberi sepuluh kali lipat. Tadinya pak Supri tidak mau menerima


seperti Kamal dulu, menolak ketika oleh pak Supri mau diberi uang seratus ribu.


Tapi akkhirnya uang itu Kamal masukkan ke saku bajunya pak Supri.


Setelah semua barang selesai di kepak, pak Supri lalu naik


mobilnya. Ketika mobil yang mengangkut sayuran itu melaju, air mata Kamal


bergenang karena ingat masa lalu.  (


KEHIDUPAN DARI SISI YANG BERBEDA )


DI sebuah Dusun yang mata pencaharian warganya mayoritas


bertani, menjelang duhur aktifitasnya berpariasi. Ada yang masih mencangkul.


dangau sambil ngopi di temani majikannya. Sedangkan petani yang satu ini sekarang


sudah di rumah. Malah sudah ngobrol dengan istrinya dengan berpakaian bersih,


karena sebentar lagi akan kemesjid untuk memimpin berjamaah duhur. Tapi sejak


anaknya sudah lulus dari kedokteran, di hatinya ada unek-unek yang tersimpan.


“Mak? Sekarang anak kita kan sudah jadi Dokter. Bagaimana kalau


tabungan kita untuk berhaji itu pakai beli mobil dulu? Supaya Fajar berangkat


ke kantornya tidak malu-maluin ”


“Emangnya bakal cukup pak ? Mobil itu kan harganya mahal?”


“Yang sekken aja supaya uangnya cukup. Kalau mak sudah


setuju, nanti kita tinggal ngomong ke Fajar kalau dia sudah pulang”


“Assalamualaikum…”  Pas orangtuanya dirumah sedang memikirkan derajat anaknya, yang


diperbincangkannya uluk salam dari luar. Yang bangkit dari tempat duduk  bukan hanya ayahnya yang bernama pak Abdul


Rahman, tapi juga istrinya yang bernama bu Aisyah


“Walaikumussalam…” Jawab orangtua Fajar bersamaan sambil


sama-sama berdiri.


“Kok kamu sudah pulang  Jar? Memangnya hari ini belum mulai kerja?”  pak Abdul Rahman bertanya lebih dulu.


“Belum Ayah…Hari ini baru selesai menandatangani


berkas-berkas aja. Karena dengan kepala rumah sakitnya baru bertemu hari ini”


“Jadi kapan kamu bisa mulai kerja ?”  Tanya ibunya sambil duduk lagi


“Hari senin bu”


“Kalau begitu ayo sekarang kamu duduk dulu. Barusan ayah dan


ibu itu sedang membicarakan sesuatu”


“Membicarakan apa itu ayah?”  Tanya Fajar sambil duduk di kursi yang kosong di samping ibunya


“Itu Jar. Tadi kata ayah, uang tabungan untuk kita berhaji


itu mau dibelikan dulu mobil untuk kamu”


“Tapi mungkin hanya bisa untuk membeli yang sekken Jar”


Mendengar ayah dan ibunya begitu memikirkan harga dirinya,


dalam benak Fajar langsung melintas. Beberada saat lalu pada saat ia mau


meninggalkan rumah sakit, beberapa perawat muda saling bisik.


“Wi ? Kayaknya akan ada dokter yang magang lagi tuh”


“Iya Ra. Tapi kali ini dokternya masih muda dan tampan.


Mulai hari ini kita akan bersaing kayaknya tuh”


“Kita kan masih single. Nggak apa-apa kali bersaing juga.


Tapi kalau bersainganya cuma kita berdua, kayaknya nggak ada tantangan yang

__ADS_1


begitu berarti. Jadi ajakan juga tuh Mia dan Mona. Kalau bersaing banyakan kan


pemenang jadi lebih berarti”


“Kamu belum memberi komentar atas yang dibicarakan kami


Jar?”


“Emm…Anu yah. Sebenarnya saya agak keberatan kalau tabungan


untuk berhaji ibu dan ayah harus dibelikan mobil. Tapi kalau ayah dan ibu


memang sudah ikhlas demi menjunjung bartabat seorang anak, saya setuju.


Mudah-mudahan nanti saya bisa cepat menggantinya”


“Amiin…Mudah-mudahan “  Pak Abdul Rahman dan istrinya lagi-lagi kompak


“Oya ? Bukankah saat ini ayah juga punya tanaman palawija


yang sudah siap panen? Kabarnya harga timun dan cabe saat ini sedang


melambung?”


“Betul Jar. Bapak dulu nanamnya agak telat. Kalau yang lagi


panen besar saat ini, kabarnya di kampung babakan. Disana katanya ada petani


muda. Dia menamam berbagai tanaman palawija yang luasnya hektaran. Kalau sesama


petani, mengenai harga dan lain sebagainya itu memang cepat menyebar. Karena


antar komonitas, sekarang ini rata-rata menggunakan hp dan pacebook. Jadi harga


di indukpun sudah diketahui para petani“


“Jangan-jangan petani muda yang sedang panen itu kang Kamal?


Kan dia suka tanam palawija juga? Ya, aku ikut senang kalau mbak Win sekeluarga


saat ini sedang mendapat kebahagiaan ? Rumah mereka memang di kampung babakan”  Gumam dalam hati Fajar setelah ayahnya


menyebut nama sebuah kampung.


Yang di perkirakan Fajar memang benar. Keluarga ini malah


saat ini masih dilokasi karena kepada Bandar sayur, Kamal mintanya timbang


bayar di tempat. Yang tidak biasa, hari ini Wiwin dan anaknyapun ikut ke


lapangan. Selain mau melihat proses panennya, iming-iming uang dari hasil


bertani yang harganya sedang mahal, sudah di depan matanya.


Tepat pukul dua belas sebuah truk yang mau mengangkut hasil


panen tiba dilokasi. Supirnya turun lalu menghampiri yang sedang mengarut


karung timun.


“Bosnya dimana ?” Tanya supir


“Bosnya ada di dangau pak sedang bersama keluarganya”


“Saya mau menemui boss nya dulu kesana ya?”


“Baik pak. Saya mau melanjutkan lagi bekerja supaya cepat


beres“


Supir itu akhirnya menuju ke dangau. “Petani saat ini benar-benar


sedang di atas angin”  celoteh supir itu


untuk orang yang mau di temuinya. Ketika Kamal menoleh, bukan main terkejut


bercampur haru.


“Pak Supri ?”


“Cep Kamal ? Jadi yang sedang panen raya itu cep Kamal?”


“Iya pak. Pak Supri  masih


narik ?”


“Iya cep. Ini seperti mimpi? Setelah sekian lama akhirnya


kita dipertemukan lagi?”


Ketika Kamal dan orang itu berpelukan, Wiwin dan Dani turun


dari dangau. “Ayah…!”  Dani menghampiri


ayahnya. Sedangkan Wiwin cukup memandang saja dari depan dangau yang tidak ada kontak


langsung dengan sinar matahari.


“Ini putra cep Kamal?”


“Iya pak Supri ini anak kami. Dan itu ibunya”  Kamal menunjuk ke Wiwin yang tetap di depan


dangau.


“Istri cep Kamal…?”


“Istri saya masih yang dulu pak. Yang pada saat malam


pertamanya saya lewatkan. Dan saat itu saya malah ikut bapak yang mau mengantar


sayuran ke pasar induk. Alhamdulillah…Karena terinfirasi waktu sedang jadi kili


disana, serakang saya diberi rizki banyak melalui tanaman sayuran dan bertemu


lagi dengan bapak”


“Neng ? Waktu itu suami eneng ikut ke mobil sayurang bapak


ke Jakarta. Cep Kamal waktu itu menceritakan segalanya. Mau di ajak pulang lagi,


cep Kamalnya tidak mau. Tapi Alhamdulillah sekarang cep Kamal dan eneng sudah


hidup bahagia”  kata pak Supri setelah


menghampiri Wiwin


“Alhamdulillah…Sekarang kita memang sudah bahagia. Bapak ke


rumah dulu ya ?”  Wiwin yang ikut terharu,


mengajak pak Supri kerumah.


“Aduh gimana ya neng ? Kan sekarang mah lagi tugas. Lain


kali saja, insyaalloh nanti bapak akan ke sana” kata pak Supri. Dari pertemuan


ini Kamal tidak lupa atas kebaikan pak Supri dulu. Untuk membalasnya ternyata


kali ini Kamal memberi sepuluh kali lipat. Tadinya pak Supri tidak mau menerima


seperti Kamal dulu, menolak ketika oleh pak Supri mau diberi uang seratus ribu.


Tapi akkhirnya uang itu Kamal masukkan ke saku bajunya pak Supri.


Setelah semua barang selesai di kepak, pak Supri lalu naik


mobilnya. Ketika mobil yang mengangkut sayuran itu melaju, air mata Kamal

__ADS_1


bergenang karena ingat masa lalu.


__ADS_2