
DI sebuah Dusun yang mata pencaharian warganya mayoritas
bertani, menjelang duhur aktifitasnya berpariasi. Ada yang masih mencangkul.
dangau sambil ngopi di temani majikannya. Sedangkan petani yang satu ini sekarang
sudah di rumah. Malah sudah ngobrol dengan istrinya dengan berpakaian bersih,
karena sebentar lagi akan kemesjid untuk memimpin berjamaah duhur. Tapi sejak
anaknya sudah lulus dari kedokteran, di hatinya ada unek-unek yang tersimpan.
“Mak? Sekarang anak kita kan sudah jadi Dokter. Bagaimana kalau
tabungan kita untuk berhaji itu pakai beli mobil dulu? Supaya Fajar berangkat
ke kantornya tidak malu-maluin ”
“Emangnya bakal cukup pak ? Mobil itu kan harganya mahal?”
“Yang second aja supaya uangnya cukup. Kalau mak sudah
setuju, nanti kita tinggal ngomong ke Fajar kalau dia sudah pulang”
“Assalamualaikum…” Pas orangtuanya dirumah sedang memikirkan derajat anaknya, yang
diperbincangkannya uluk salam dari luar. Yang bangkit dari tempat duduk bukan hanya ayahnya yang bernama pak Abdul
Rahman, tapi juga istrinya yang bernama bu Aisyah
“Walaikumussalam…” Jawab orangtua Fajar bersamaan sambil
sama-sama berdiri.
“Kok kamu sudah pulang Jar? Memangnya hari ini belum mulai kerja?” pak Abdul Rahman bertanya lebih dulu.
“Belum Ayah…Hari ini baru selesai menandatangani
berkas-berkas aja. Karena dengan kepala rumah sakitnya baru bertemu hari ini”
“Jadi kapan kamu bisa mulai kerja ?” Tanya ibunya sambil duduk lagi
“Hari senin bu”
“Kalau begitu ayo sekarang kamu duduk dulu. Barusan ayah dan
ibu itu sedang membicarakan sesuatu”
“Membicarakan apa itu ayah?” Tanya Fajar sambil duduk di kursi yang kosong di samping ibunya
“Itu Jar. Tadi kata ayah, uang tabungan untuk kita berhaji
itu mau dibelikan dulu mobil untuk kamu”
“Tapi mungkin hanya bisa untuk membeli yang sekken Jar”
Mendengar ayah dan ibunya begitu memikirkan harga dirinya,
dalam benak Fajar langsung melintas. Beberada saat lalu pada saat ia mau
meninggalkan rumah sakit, beberapa perawat muda saling bisik.
“Wi ? Kayaknya akan ada dokter yang magang lagi tuh”
“Iya Ra. Tapi kali ini dokternya masih muda dan tampan.
Mulai hari ini kita akan bersaing kayaknya tuh”
“Kita kan masih single. Nggak apa-apa kali bersaing juga.
Tapi kalau bersainganya cuma kita berdua, kayaknya nggak ada tantangan yang
begitu berarti. Jadi ajakan juga tuh Mia dan Mona. Kalau bersaing banyakan kan
pemenang jadi lebih berarti”
“Kamu belum memberi komentar atas yang dibicarakan kami
Jar?”
“Emm…Anu yah. Sebenarnya saya agak keberatan kalau tabungan
untuk berhaji ibu dan ayah harus dibelikan mobil. Tapi kalau ayah dan ibu
memang sudah ikhlas demi menjunjung bartabat seorang anak, saya setuju.
Mudah-mudahan nanti saya bisa cepat menggantinya”
“Amiin…Mudah-mudahan “ Pak Abdul Rahman dan istrinya lagi-lagi kompak
“Oya ? Bukankah saat ini ayah juga punya tanaman palawija
yang sudah siap panen? Kabarnya harga timun dan cabe saat ini sedang
melambung?”
“Betul Jar. Bapak dulu nanamnya agak telat. Kalau yang lagi
panen besar saat ini, kabarnya di kampung babakan. Disana katanya ada petani
muda. Dia menamam berbagai tanaman palawija yang luasnya hektaran. Kalau sesama
petani, mengenai harga dan lain sebagainya itu memang cepat menyebar. Karena
antar komonitas, sekarang ini rata-rata menggunakan hp dan pacebook. Jadi harga
di indukpun sudah diketahui para petani“
“Jangan-jangan petani muda yang sedang panen itu kang Kamal?
Kan dia suka tanam palawija juga? Ya, aku ikut senang kalau mbak Win sekeluarga
saat ini sedang mendapat kebahagiaan ? Rumah mereka memang di kampung babakan” Gumam dalam hati Fajar setelah ayahnya
menyebut nama sebuah kampung.
Yang di perkirakan Fajar memang benar. Keluarga ini malah
saat ini masih dilokasi karena kepada Bandar sayur, Kamal mintanya timbang
bayar di tempat. Yang tidak biasa, hari ini Wiwin dan anaknyapun ikut ke
lapangan. Selain mau melihat proses panennya, iming-iming uang dari hasil
bertani yang harganya sedang mahal, sudah di depan matanya.
Tepat pukul dua belas sebuah truk yang mau mengangkut hasil
panen tiba dilokasi. Supirnya turun lalu menghampiri yang sedang mengarut
karung timun.
“Bosnya dimana ?” Tanya supir
“Bosnya ada di dangau pak sedang bersama keluarganya”
“Saya mau menemui boss nya dulu kesana ya?”
“Baik pak. Saya mau melanjutkan lagi bekerja supaya cepat
beres“
Supir itu akhirnya menuju ke dangau. “Petani saat ini benar-benar
sedang di atas angin” celoteh supir itu
untuk orang yang mau di temuinya. Ketika Kamal menoleh, bukan main terkejut
__ADS_1
bercampur haru.
“Pak Supri ?”
“Cep Kamal ? Jadi yang sedang panen raya itu cep Kamal?”
“Iya pak. Pak Supri masih
narik ?”
“Iya cep. Ini seperti mimpi? Setelah sekian lama akhirnya
kita dipertemukan lagi?”
Ketika Kamal dan orang itu berpelukan, Wiwin dan Dani turun
dari dangau. “Ayah…!” Dani menghampiri
ayahnya. Sedangkan Wiwin cukup memandang saja dari depan dangau yang tidak ada kontak
langsung dengan sinar matahari.
“Ini putra cep Kamal?”
“Iya pak Supri ini anak kami. Dan itu ibunya” Kamal menunjuk ke Wiwin yang tetap di depan
dangau.
“Istri cep Kamal…?”
“Istri saya masih yang dulu pak. Yang pada saat malam
pertamanya saya lewatkan. Dan saat itu saya malah ikut bapak yang mau mengantar
sayuran ke pasar induk. Alhamdulillah…Karena terinfirasi waktu sedang jadi kili
disana, serakang saya diberi rizki banyak melalui tanaman sayuran dan bertemu
lagi dengan bapak”
“Neng ? Waktu itu suami eneng ikut ke mobil sayurang bapak
ke Jakarta. Cep Kamal waktu itu menceritakan segalanya. Mau di ajak pulang lagi,
cep Kamalnya tidak mau. Tapi Alhamdulillah sekarang cep Kamal dan eneng sudah
hidup bahagia” kata pak Supri setelah
menghampiri Wiwin
“Alhamdulillah…Sekarang kita memang sudah bahagia. Bapak ke
rumah dulu ya ?” Wiwin yang ikut terharu,
mengajak pak Supri kerumah.
“Aduh gimana ya neng ? Kan sekarang mah lagi tugas. Lain
kali saja, insyaalloh nanti bapak akan ke sana” kata pak Supri. Dari pertemuan
ini Kamal tidak lupa atas kebaikan pak Supri dulu. Untuk membalasnya ternyata
kali ini Kamal memberi sepuluh kali lipat. Tadinya pak Supri tidak mau menerima
seperti Kamal dulu, menolak ketika oleh pak Supri mau diberi uang seratus ribu.
Tapi akkhirnya uang itu Kamal masukkan ke saku bajunya pak Supri.
Setelah semua barang selesai di kepak, pak Supri lalu naik
mobilnya. Ketika mobil yang mengangkut sayuran itu melaju, air mata Kamal
bergenang karena ingat masa lalu. (
KEHIDUPAN DARI SISI YANG BERBEDA )
DI sebuah Dusun yang mata pencaharian warganya mayoritas
bertani, menjelang duhur aktifitasnya berpariasi. Ada yang masih mencangkul.
dangau sambil ngopi di temani majikannya. Sedangkan petani yang satu ini sekarang
sudah di rumah. Malah sudah ngobrol dengan istrinya dengan berpakaian bersih,
karena sebentar lagi akan kemesjid untuk memimpin berjamaah duhur. Tapi sejak
anaknya sudah lulus dari kedokteran, di hatinya ada unek-unek yang tersimpan.
“Mak? Sekarang anak kita kan sudah jadi Dokter. Bagaimana kalau
tabungan kita untuk berhaji itu pakai beli mobil dulu? Supaya Fajar berangkat
ke kantornya tidak malu-maluin ”
“Emangnya bakal cukup pak ? Mobil itu kan harganya mahal?”
“Yang sekken aja supaya uangnya cukup. Kalau mak sudah
setuju, nanti kita tinggal ngomong ke Fajar kalau dia sudah pulang”
“Assalamualaikum…” Pas orangtuanya dirumah sedang memikirkan derajat anaknya, yang
diperbincangkannya uluk salam dari luar. Yang bangkit dari tempat duduk bukan hanya ayahnya yang bernama pak Abdul
Rahman, tapi juga istrinya yang bernama bu Aisyah
“Walaikumussalam…” Jawab orangtua Fajar bersamaan sambil
sama-sama berdiri.
“Kok kamu sudah pulang Jar? Memangnya hari ini belum mulai kerja?” pak Abdul Rahman bertanya lebih dulu.
“Belum Ayah…Hari ini baru selesai menandatangani
berkas-berkas aja. Karena dengan kepala rumah sakitnya baru bertemu hari ini”
“Jadi kapan kamu bisa mulai kerja ?” Tanya ibunya sambil duduk lagi
“Hari senin bu”
“Kalau begitu ayo sekarang kamu duduk dulu. Barusan ayah dan
ibu itu sedang membicarakan sesuatu”
“Membicarakan apa itu ayah?” Tanya Fajar sambil duduk di kursi yang kosong di samping ibunya
“Itu Jar. Tadi kata ayah, uang tabungan untuk kita berhaji
itu mau dibelikan dulu mobil untuk kamu”
“Tapi mungkin hanya bisa untuk membeli yang sekken Jar”
Mendengar ayah dan ibunya begitu memikirkan harga dirinya,
dalam benak Fajar langsung melintas. Beberada saat lalu pada saat ia mau
meninggalkan rumah sakit, beberapa perawat muda saling bisik.
“Wi ? Kayaknya akan ada dokter yang magang lagi tuh”
“Iya Ra. Tapi kali ini dokternya masih muda dan tampan.
Mulai hari ini kita akan bersaing kayaknya tuh”
“Kita kan masih single. Nggak apa-apa kali bersaing juga.
Tapi kalau bersainganya cuma kita berdua, kayaknya nggak ada tantangan yang
__ADS_1
begitu berarti. Jadi ajakan juga tuh Mia dan Mona. Kalau bersaing banyakan kan
pemenang jadi lebih berarti”
“Kamu belum memberi komentar atas yang dibicarakan kami
Jar?”
“Emm…Anu yah. Sebenarnya saya agak keberatan kalau tabungan
untuk berhaji ibu dan ayah harus dibelikan mobil. Tapi kalau ayah dan ibu
memang sudah ikhlas demi menjunjung bartabat seorang anak, saya setuju.
Mudah-mudahan nanti saya bisa cepat menggantinya”
“Amiin…Mudah-mudahan “ Pak Abdul Rahman dan istrinya lagi-lagi kompak
“Oya ? Bukankah saat ini ayah juga punya tanaman palawija
yang sudah siap panen? Kabarnya harga timun dan cabe saat ini sedang
melambung?”
“Betul Jar. Bapak dulu nanamnya agak telat. Kalau yang lagi
panen besar saat ini, kabarnya di kampung babakan. Disana katanya ada petani
muda. Dia menamam berbagai tanaman palawija yang luasnya hektaran. Kalau sesama
petani, mengenai harga dan lain sebagainya itu memang cepat menyebar. Karena
antar komonitas, sekarang ini rata-rata menggunakan hp dan pacebook. Jadi harga
di indukpun sudah diketahui para petani“
“Jangan-jangan petani muda yang sedang panen itu kang Kamal?
Kan dia suka tanam palawija juga? Ya, aku ikut senang kalau mbak Win sekeluarga
saat ini sedang mendapat kebahagiaan ? Rumah mereka memang di kampung babakan” Gumam dalam hati Fajar setelah ayahnya
menyebut nama sebuah kampung.
Yang di perkirakan Fajar memang benar. Keluarga ini malah
saat ini masih dilokasi karena kepada Bandar sayur, Kamal mintanya timbang
bayar di tempat. Yang tidak biasa, hari ini Wiwin dan anaknyapun ikut ke
lapangan. Selain mau melihat proses panennya, iming-iming uang dari hasil
bertani yang harganya sedang mahal, sudah di depan matanya.
Tepat pukul dua belas sebuah truk yang mau mengangkut hasil
panen tiba dilokasi. Supirnya turun lalu menghampiri yang sedang mengarut
karung timun.
“Bosnya dimana ?” Tanya supir
“Bosnya ada di dangau pak sedang bersama keluarganya”
“Saya mau menemui boss nya dulu kesana ya?”
“Baik pak. Saya mau melanjutkan lagi bekerja supaya cepat
beres“
Supir itu akhirnya menuju ke dangau. “Petani saat ini benar-benar
sedang di atas angin” celoteh supir itu
untuk orang yang mau di temuinya. Ketika Kamal menoleh, bukan main terkejut
bercampur haru.
“Pak Supri ?”
“Cep Kamal ? Jadi yang sedang panen raya itu cep Kamal?”
“Iya pak. Pak Supri masih
narik ?”
“Iya cep. Ini seperti mimpi? Setelah sekian lama akhirnya
kita dipertemukan lagi?”
Ketika Kamal dan orang itu berpelukan, Wiwin dan Dani turun
dari dangau. “Ayah…!” Dani menghampiri
ayahnya. Sedangkan Wiwin cukup memandang saja dari depan dangau yang tidak ada kontak
langsung dengan sinar matahari.
“Ini putra cep Kamal?”
“Iya pak Supri ini anak kami. Dan itu ibunya” Kamal menunjuk ke Wiwin yang tetap di depan
dangau.
“Istri cep Kamal…?”
“Istri saya masih yang dulu pak. Yang pada saat malam
pertamanya saya lewatkan. Dan saat itu saya malah ikut bapak yang mau mengantar
sayuran ke pasar induk. Alhamdulillah…Karena terinfirasi waktu sedang jadi kili
disana, serakang saya diberi rizki banyak melalui tanaman sayuran dan bertemu
lagi dengan bapak”
“Neng ? Waktu itu suami eneng ikut ke mobil sayurang bapak
ke Jakarta. Cep Kamal waktu itu menceritakan segalanya. Mau di ajak pulang lagi,
cep Kamalnya tidak mau. Tapi Alhamdulillah sekarang cep Kamal dan eneng sudah
hidup bahagia” kata pak Supri setelah
menghampiri Wiwin
“Alhamdulillah…Sekarang kita memang sudah bahagia. Bapak ke
rumah dulu ya ?” Wiwin yang ikut terharu,
mengajak pak Supri kerumah.
“Aduh gimana ya neng ? Kan sekarang mah lagi tugas. Lain
kali saja, insyaalloh nanti bapak akan ke sana” kata pak Supri. Dari pertemuan
ini Kamal tidak lupa atas kebaikan pak Supri dulu. Untuk membalasnya ternyata
kali ini Kamal memberi sepuluh kali lipat. Tadinya pak Supri tidak mau menerima
seperti Kamal dulu, menolak ketika oleh pak Supri mau diberi uang seratus ribu.
Tapi akkhirnya uang itu Kamal masukkan ke saku bajunya pak Supri.
Setelah semua barang selesai di kepak, pak Supri lalu naik
mobilnya. Ketika mobil yang mengangkut sayuran itu melaju, air mata Kamal
__ADS_1
bergenang karena ingat masa lalu.