
INDRA yang dua hari di rawat di rumah sakit sudah
diperbolehkan pulang. Setibanya dirumah Indra langsung berkemas. Melihat
gelagat buruk, pak Suherman tidak diam. Buru-buru menghampiri anaknya yang
sedang mengisi kopor.
“Kamu mau kemana In?”
“Pah mohon… Kejadian seperti waktu Indra baru pulang dari
luar negri, jangan sampai terulang”
“Jadi kamu mau menyusul gadis itu?”
“Ternyata papa sudah tahu…”
“Tapi sekarang kamu sudah punya istri In?”
“Papa tahu, dari dulu Indra tidak pernah mencintai Syafira…!
Tapi mama dan papa terus membujuk aku supaya mau menikah dengannya !”
“Tapi sekarang kalian sudah punya anak?”
“Itu karena selama ini aku selalu berusaha supaya bisa
mencintai Syafira pah !”
“Sekarang fikirkan anakmu In...? Kamu jangan sampai menyesal
dikemudian hari”
“Papa sendiri tidak sayang sama aku…! Kalau papa sayang,
pasti selama ini tidak akan selalu berusaha memisahkan aku dari Mia…!”
“Kalau soal itu sekarang papa sudah menyesal...Makanya papa
akan terus mengingatkan kamu supaya tidak telantarkan istri dan anakmu…?”
“Sekarang Indra berangkat dulu pah”
“In ! Tunggu…! Kenapa
kamu tidak mau dengar nasehat papa…! Hari ini kamu harus menjemput anak dan
istrimu yang sedang menunggu di rumah bersalin…!”
Sia-sia pak Suherman yang berusaha mencegah Indra supaya
tidak pergi. Karena begitu sampai di jalan raya, Indra langsung masuk kedalam
taksi yang sudah menunggunya.
“Langsung ke bandara ya pak “
“Baik mas”
Taksi yang ditumpangi Indra melaju. Kesedihan pak Suherman
tidak sampai disitu. Ketika sore harinya menjemput cucu dan mantunya, hatinya
lebih tersayat lagi.
“Pah…? Mengapa yang menjemput kita papa, bukan mas Indra…?
Dan kalau mas Indra menjemput seharusnya dua hari lalu seperti yang sudah di
__ADS_1
sampaikannya lewat telpon?”
“Suami kamu ada panggilan lagi mendadak…Jadi hari ini dia
terbang lagi ke Jakarta”
“Kenapa tidak melihat anaknya dulu…? Apa sikap mas Indra kepada
anaknya akan sama seperti ke aku selama ini…?” Gumam Syafira diberengi rasa khawatir. Ketika air matanya mulai
berjatuhan, dalam benaknya terbayang perkataan pak Suherman dulu sebelum ia
menikah dengan Indra.
“Syafira…? Kalau nanti setelah menikah sikap Indra kurang
baik terhadap kamu, harus dimaklumi ya?”
“Mas Indra tidak cinta sama aku ya pah ?”
“Begitulah…Tapi kalau kalian sudah menikah, nanti juga
cintanya akan tumbuh perlahan-lahan”
“Mudah-mudahan pah…Karena aku sangat mencintai mas Indra “
“Syukurlah kalau kamu bisa menerima kekurangan anak
papa…Nanti setelah menikah kalian langsung tinggali rumah hadiah pernikahan
dari papa dan mama itu ya? Supaya rasanya rumah tangga itu benar-benar
dirasakan manis pahitnya”
“Terimaksih pah…Semoga mas Indra nanti benar-benar berubah
digambarkan, tapi ketika itu Syafira tetap tersenyum.
Setelah menikah, Indra dan Syafira ketika itu langsung
diarak ke rumah tersebut oleh keluarga besar. Selama dua keluarga berkumpul di
rumah itu, sepasang pengantin tampak bahagia karena kalau punya hajat Indra
juga sering manggil sayang kepada Syafira. Tapi setelah seluruh keluarga pulang
? Apalagi setelah masuk malam pertama. Disitu Indrapun kerap membentak Syafira
yang baru dinikahinya tadi siang.
“Berikan bantalnya satu !”
“Memangnya mas mau tidur dimana ?”
“Jangan banyak Tanya ! Aku mau tidur di sofa !”
“Ini kan malam pertama kita…? Kenapa mas mau tidurnya di
sopa ?”
“Sudah kubilang jangan banyak Tanya…! Cepat bantalnya
berikan !”
“Waktu malam pertama kamu sudah membuatku sedih dan menangis
mas…? Kenapa sekarang terulang lagi…? Walau sebenarnya di hari-hari berikutnya
kamu masih belum ramah…?” Gumam dalam
__ADS_1
hati Syafira. Setelah itu dalam benaknya melintas lagi.
“Syafira…?!” Pagi-pagi Indra memanggil Syafira dengan suara tinggi. Syafira yang
sedang beres-beres di dapur, ketika itu buru-buru menghampiri.
“Ada apa mas?”
“Mana nasi untuk sarapannya…! Kok nggak ada?!”
“Aku pikir mas nanti mau makannya jam istrirahat di kantor?”
“Makanan diluar pedas-pedas…! Sana sekarang kamu bikin dulu!”
“Kalau begitu tunggu ya mas…? Sekarang aku mau bikin nasi
goreng supaya cepat”
Ketika itu Syafira buru-buru balik lagi kedapur. Setelah
didapur lalu mengumpulkan bahan-bahan untuk membuat nasi goreng. Supaya nasi
gorengnya enak dan disukai suaminya, selain mengerjakannya penuh peraaan. Sosis
daging juga ditambahkan di iris-iris. Setelah nasi gorengnya jadi, sebelum
dimasukkan kedalam piring, Syapira mencicipinya dulu sedikit. Ternyata
menurutnya nasi goreng buatannya itu enak.
“Nih mas nasi gorengnya sudah jadi…Mudah-mudahan mas suka
masakanku”
Setelah menyimpan hasil pasakannya di atas meja, Syafira
tidak kemana-mana melainkan terus diam disitu menyaksikan Indra yang sedang
makan.
“Bagaimana hasil masakanku mas…?”
“Lumayan…Selagi aku makan, bawakan tas kedepan...Dan sepatu
kalau kusam, tolong semirkan dulu”
“Baik mas”
Ketika itu Syafira lalu mengerjakan semua yang di perintahkan
suami. Pukul setengah delapan Indra yang sudah berpakaian rapi, keluar dari kamar.
Setelah didepan pintu keluar, Syafira lalu memakaikan sepatu suaminya. Setelah selesai
memakaikan keduanya, dasinya dirapihkan lagi. Betul-betul istri idaman yang
dilakukan wanita berhijab ini. Tapi ketika melambai waktu mobil Indra mau berangkat,
sang pengemudinya tidak menghiraukannya semasekali alias acuh tak acuh.
Syafirapun akhirnya menurunkan tangannya yang nihil dengan hati yang kecewa. Tapi
ketika itu Syafira tetap mengucap. “Selamat jalan mas…Semoga perjalanannya
selamat sampai ditujuan…”
Ketulusan cinta Syafira untuk Indra tidak luntur meskipun setelah
menikah suami banyak mengecewakannya.
__ADS_1