
SETELAH menelpon Mia, Indra yang waktu itu sudah di bandara
langsung di suruh masuk mobil oleh pak Suherman yang menjemputnya. Karena waktu
itu bu Ranti dan Santi juga ikut, kangen-kangenannya dengan keluarga sebagian
besar dilakukan di mobil. Setelah sampai rumah, Indra langsung di ajak ke meja
makan. Karena bu Ranti sudah masak makanan kesukaan putra kesayangannya itu.
“Nah sekarang silahkan makan lagi pasakan khas Indonesia
buatan mama yang menjadi kesukaan kamu ini In... Ayam bakar bumbu khas sunda
resep Oma yang dijamin empuk meskipun ayam kampung”
“Waah...? Ini persis seperti yang suka dihidangkan Oma kalau
Indra sedang liburan… Boleh nggak mah kalau Indra potong duluan?”
“Boleh…Kan ini juga sengaja mama bikin untuk menjamu kamu
yang baru pulang dari luar negri ? Dan sekarang saatnya buat kamu untuk makan
besar” canda bu Ranti sambil
mengusap-ngusap bahu anaknya yang sedang menatap.
Ketika makan bareng keluarga, ternyata yang paling lahap
makannya itu Indra. Sedangkan bu Ranti setelah makan sedikit, lalu bangkit.
“In ? Mama mau ke ruang tengah duluan. Setelah makan
langsung susul ya?’
“Tapi mah…” Tadinya
Indra mau mengatakan bahwa setelah makan ia akan langsung pergi lagi. Tapi
mamanya sudah pergi begitu saja.
“In ? Barusan kamu sama mama seperti mau mengatakan
sesuatu?”
“Ia pah. Barusan Indra mau ngomong bahwa setelah makan mau
ke kampung halamanya almarhum Oma”
“Mau apa kamu kesana ? Disana Oma juga sudah nggak ada?”
“Indra kesana pokoknya ada urusan pribadi pah…” Jawab Indra
sambil menyudahi makannya. Melihat gelagat yang menurutnya tidak baik, pak
Suherman pun akhirnya langsung ikut bangkit.
“Sekarang kamu mau kemana ?”
“Ke kamar dulu pah mau mengemas yang perlu dibawa”
Kalau tadi Indra yang membiarkan mamanya pergi. Sekarang pak
__ADS_1
Suherman yang membiarkan anaknya masuk ke kamar. Tapi selama Indra berada
didalam kamar, pak Suherman tidak diam.
“Lihat saja ! Kalau dia tetap mau pergi, terpaksa aku juga
akan memperlihatkan foto-foto hasil pekerjaan Galang ! Setelah tahu anak musuh
bebuyutanku sering berduaan dengan dokter tampan itu, apa dia masih mau menemui
gadis itu?”
Brug ! Pintu kamar yang ditutupkan Indra dengan buru-buru,
mengejutkan pak suherman yang sedang galau. Ketika melihat Indra sudah membawa
kopor pakaian yang sudah berisi.
“In ? Jadi kamu benar-benar mau menemui gadis itu?”
“Darimana papa tahu kalau sekarang Indra mau menemui gadis
itu ? Padahal mengenai kedekatan Indra dengan gadis yang bernama Mia, selama
ini Indra belum memberi tahu mama dan papa?”
“Karena untuk kebahagiaan anak-anak, papa itu punya tangan
dan kaki lebih dari dua ! Kamu bisa kalau mau kroscek sekarang?”
“Coba sekarang buktikan omongan papa ! Jangan hanya omong
doank !”
sekarang akan papa ambil !”
Setelah berbicara yang dibarengi emosi, pak Suherman lalu
pergi ke ruang kerjanya. Tidak lama kemudian, sebuah amplop karton yang berisi
foto-foto Mia dengar Fajar, diberika kepada Indra. “Ini bukti yang papa bicarakan! Selama ini
papa menyimpannya hanya untuk kamu!”
“Tidak…? Ini tidak mungkin….? ” Setelah mengeluarkan isinya dan melihatnya,
Indra langsung meremas semua foto-foto itu. Setelah di lemparkan ke hadapan
ayahnya, Indra langsung lari keruang tengah sambil berteriak-teriak seperti
orang gila. Bu Ranti yang sedang nonton TV dengan Santi langsung bangkit dan
memburu Indra yang seperti orang gila itu.
“Tidaaak…! Ternyata ada orang ketiga dalam percintaanku itu
terulang…! Hehe…Dulu Wiwin…! Sekarang Mia…! Kalian itu penghianat…! Sekarang
aku hancur…! Aku hancuuuur….!” Pruk! Setelah itu tubuh Indra lapuk tidak
berdaya dihadapan mamanya. Bu Ranti bukan main panik.
“Indra…? Indra…?” Bu
__ADS_1
Ranti mencoba mengguyah-guyang anaknya. Ternyata Indra langsung merespon. Tapi
omongannya tetap ngawur.
“Barusan mama bertanya ya… ? Hehe…Hidup Indra kurang
beruntung mah ? Alasannya tanyakan papa tuh…” Ingatan Indra ternyata masih normal. Indra menyuruh mamanya supaya
menemui papanya.
Ketika bu Ranti memutuskan untuk mencari tahu penyebab
anaknya jadi begini, diruang makan pak Suherman sedang menekur sambil
mengurut-ngurut dahinya. Mungkin tidak menyengka kalau misinya untuk balas dendam
malah jadi bumerang kepada anaknya sendiri.
“Pah…!” Suara bu
Ranti pun kali ini menggelegar karena sedang emosi. “Kenapa anak kita jadi
seperti itu ! Ini pasti karena papa !”
Pak Suherman tetap membisu meskipun dari terpekurnya kini
sudah bangkit.
“Itu apa…?” Bu Ranti
kali ini melihat gulungan-gulungan foto yang tadi di remas Indra. Setelah
diambil lalu di beberkan lagi satu persatu, emosi ibu dua anak itu kini makin
muncak dan dibarengi dengan kedua matanya mendelik.
“Jadi ini yang selama ini papa sembunyikan dari mama ! Dulu
mama pernah mendengar pembicaraan papa sedang menyuruh seseorang! Tapi selama
ini mama tetap diam…! Waktu ibu meninggal juga mama banyak mendengar perkataan
papa mengenai gadis itu yang janggal…! Mama juga tetap diam…! Tapi sekarang
mama tidak akan diam lagi ! Karena dendam lama dan ketamakan papa sudah membuat
anak kita menjadi korban…! Selama kita menikah tiga puluh dua tahun lamanya !
baru kali ini mama mengetahui sifat buruk papa…! Sekarang anak kita sudah jadi
korban ulah papa yang keliru…! Jadi mulai sekarang mama memutuskan untuk pindah
ke Medan supaya dekat dengan saudara-saudara mama disana…! Anak-anak mau mama
bawa !”
Dimaki-maki oleh istrinya sambil diancam mau membawa
anak-anaknya pergi jauh, pak Suherman tidak berkutik. Ayah dua anak itu malah kini
menyesal.Tapi kata peribahasa, nasi sudah menjadi bubur. Sekarang Indra juga
sudah jadi korban atas perbuatan ayahnya ini.
__ADS_1