Karunia (Gadis Dalam Ikatan)

Karunia (Gadis Dalam Ikatan)
Boomerang


__ADS_3

SETELAH menelpon Mia, Indra yang waktu itu sudah di bandara


langsung di suruh masuk mobil oleh pak Suherman yang menjemputnya. Karena waktu


itu bu Ranti dan Santi juga ikut, kangen-kangenannya dengan keluarga sebagian


besar dilakukan di mobil. Setelah sampai rumah, Indra langsung di ajak ke meja


makan. Karena bu Ranti sudah masak makanan kesukaan putra kesayangannya itu.


“Nah sekarang silahkan makan lagi pasakan khas Indonesia


buatan mama yang menjadi kesukaan kamu ini In... Ayam bakar bumbu khas sunda


resep Oma yang dijamin empuk meskipun ayam kampung”


“Waah...? Ini persis seperti yang suka dihidangkan Oma kalau


Indra sedang liburan… Boleh nggak mah kalau Indra potong duluan?”


“Boleh…Kan ini juga sengaja mama bikin untuk menjamu kamu


yang baru pulang dari luar negri ? Dan sekarang saatnya buat kamu untuk makan


besar”  canda bu Ranti sambil


mengusap-ngusap bahu anaknya yang sedang menatap.


Ketika makan bareng keluarga, ternyata yang paling lahap


makannya itu Indra. Sedangkan bu Ranti setelah makan sedikit, lalu bangkit.


“In ? Mama mau ke ruang tengah duluan. Setelah makan


langsung susul ya?’


“Tapi mah…”   Tadinya


Indra mau mengatakan bahwa setelah makan ia akan langsung pergi lagi. Tapi


mamanya sudah pergi begitu saja.


“In ? Barusan kamu sama mama seperti mau mengatakan


sesuatu?”


“Ia pah. Barusan Indra mau ngomong bahwa setelah makan mau


ke kampung halamanya almarhum Oma”


“Mau apa kamu kesana ? Disana Oma juga sudah nggak ada?”


“Indra kesana pokoknya ada urusan pribadi pah…” Jawab Indra


sambil menyudahi makannya. Melihat gelagat yang menurutnya tidak baik, pak


Suherman pun akhirnya langsung ikut bangkit.


“Sekarang kamu mau kemana ?”


“Ke kamar dulu pah mau mengemas yang perlu dibawa”


Kalau tadi Indra yang membiarkan mamanya pergi. Sekarang pak

__ADS_1


Suherman yang membiarkan anaknya masuk ke kamar. Tapi selama Indra berada


didalam kamar, pak Suherman tidak diam.


“Lihat saja ! Kalau dia tetap mau pergi, terpaksa aku juga


akan memperlihatkan foto-foto hasil pekerjaan Galang ! Setelah tahu anak musuh


bebuyutanku sering berduaan dengan dokter tampan itu, apa dia masih mau menemui


gadis itu?”


Brug ! Pintu kamar yang ditutupkan Indra dengan buru-buru,


mengejutkan pak suherman yang sedang galau. Ketika melihat Indra sudah membawa


kopor pakaian yang sudah berisi.


“In ? Jadi kamu benar-benar mau menemui gadis itu?”


“Darimana papa tahu kalau sekarang Indra mau menemui gadis


itu ? Padahal mengenai kedekatan Indra dengan gadis yang bernama Mia, selama


ini Indra belum memberi tahu mama dan papa?”


“Karena untuk kebahagiaan anak-anak, papa itu punya tangan


dan kaki lebih dari dua ! Kamu bisa kalau mau kroscek sekarang?”


“Coba sekarang buktikan omongan papa ! Jangan hanya omong


doank !”


sekarang akan papa ambil !”


Setelah berbicara yang dibarengi emosi, pak Suherman lalu


pergi ke ruang kerjanya. Tidak lama kemudian, sebuah amplop karton yang berisi


foto-foto Mia dengar Fajar, diberika kepada Indra.  “Ini bukti yang papa bicarakan! Selama ini


papa menyimpannya hanya untuk kamu!”


“Tidak…? Ini tidak mungkin….? ”   Setelah mengeluarkan isinya dan melihatnya,


Indra langsung meremas semua foto-foto itu. Setelah di lemparkan ke hadapan


ayahnya, Indra langsung lari keruang tengah sambil berteriak-teriak seperti


orang gila. Bu Ranti yang sedang nonton TV dengan Santi langsung bangkit dan


memburu Indra yang seperti orang gila itu.


“Tidaaak…! Ternyata ada orang ketiga dalam percintaanku itu


terulang…! Hehe…Dulu Wiwin…! Sekarang Mia…! Kalian itu penghianat…! Sekarang


aku hancur…! Aku hancuuuur….!” Pruk! Setelah itu tubuh Indra lapuk tidak


berdaya dihadapan mamanya. Bu Ranti bukan  main panik.


“Indra…? Indra…?”  Bu

__ADS_1


Ranti mencoba mengguyah-guyang anaknya. Ternyata Indra langsung merespon. Tapi


omongannya tetap ngawur.


“Barusan mama bertanya ya… ? Hehe…Hidup Indra kurang


beruntung mah ? Alasannya tanyakan papa tuh…”  Ingatan Indra ternyata masih normal. Indra menyuruh mamanya supaya


menemui papanya.


Ketika bu Ranti memutuskan untuk mencari tahu penyebab


anaknya jadi begini, diruang makan pak Suherman sedang menekur sambil


mengurut-ngurut dahinya. Mungkin tidak menyengka kalau misinya untuk balas dendam


malah jadi bumerang kepada anaknya sendiri.


“Pah…!”  Suara bu


Ranti pun kali ini menggelegar karena sedang emosi. “Kenapa anak kita jadi


seperti itu ! Ini pasti karena papa !”


Pak Suherman tetap membisu meskipun dari terpekurnya kini


sudah bangkit.


“Itu apa…?”  Bu Ranti


kali ini melihat gulungan-gulungan foto yang tadi di remas Indra. Setelah


diambil lalu di beberkan lagi satu persatu, emosi ibu dua anak itu kini makin


muncak dan dibarengi dengan kedua matanya mendelik.


“Jadi ini yang selama ini papa sembunyikan dari mama ! Dulu


mama pernah mendengar pembicaraan papa sedang menyuruh seseorang! Tapi selama


ini mama tetap diam…! Waktu ibu meninggal juga mama banyak mendengar perkataan


papa mengenai gadis itu yang janggal…! Mama juga tetap diam…! Tapi sekarang


mama tidak akan diam lagi ! Karena dendam lama dan ketamakan papa sudah membuat


anak kita menjadi korban…! Selama kita menikah tiga puluh dua tahun lamanya !


baru kali ini mama mengetahui sifat buruk papa…! Sekarang anak kita sudah jadi


korban ulah papa yang keliru…! Jadi mulai sekarang mama memutuskan untuk pindah


ke Medan supaya dekat dengan saudara-saudara mama disana…! Anak-anak mau mama


bawa !”


Dimaki-maki oleh istrinya sambil diancam mau membawa


anak-anaknya pergi jauh, pak Suherman tidak berkutik. Ayah dua anak itu malah kini


menyesal.Tapi kata peribahasa, nasi  sudah menjadi bubur. Sekarang Indra juga


sudah jadi korban atas perbuatan ayahnya ini.

__ADS_1


__ADS_2