Karunia (Gadis Dalam Ikatan)

Karunia (Gadis Dalam Ikatan)
Ziarah Kubur


__ADS_3

DI AREA pemakaman umum tempat dulu almarhum pak Sukma


dimakamkan, Wiwin dan tantenya menyimpan keranjang bunga dan air dalam botol


disatukan disatu tempat. Tapi setelah itu tante Wati mengamati keadaan sekitar


yang membuatnya jadi mau tahu. Dihadapannya ada tiga makam. Itulah yang membuatnya


penasaran. Akhirnya tante Wati kembali merapat kepada kemenakannya.


“Yang satunya lagi makam siapa itu Win…? Kalau makam ibu dan


ayah kamu, pasti yang temboknya disatukan itu…?”  Tante Wati akhirnya mengeluarkan yang jadi


kepenasarannya. Tapi sebelum menjawab, didalam benak yang ditanya tiba-tiba


melintas.


“Win…? Kamu dan ayahmu sekarang ke rumah bapak ya…?. Di


rumah bapak sekarang sedang ada polisi…”


Ketika itu Wiwin dan ayahnya lalu berangkat ke rumah mertua.


“ Pak polisi, ini istri anak saya dan mertuanya…Ini ada apa sebenarnya sehingga


kita semua harus berkumpul…?” kata Juragan Kosim setelah menantu dan besannya


datang.


“Begini pak…? Bu…? Dua hari lalu warga bantaran yang ada


dikawasan Jakarta menemukan sesosok mayat di sungai…Begitu mendapat laporan,


kami dari pihak kepolisian langsung datang kelokasi…Ternyata benar di sungai


itu ada sesosok mayat laki-laki. Tapi wajahnya tidak bisa dikenali karena


banyak luka tusukan benda tajam…Maksud kami menyuruh keluarga bapak untuk berkumpul,


sebenarnya supaya tugas kami cepat tuntas…Sekarang semua kelurga bapak sudah


berkumpul…Barangkali ada yang mengenal barang-barang yang kami bawa ini…”


Polisi yang ditanya juragan Kosim menyodorkan sebuah bungkusan.


“Pak polisi, kemeja levis warna biru langit itu dikenakan


suami saya waktu terakhir pergi dari rumah…?” Kata Wiwin setelah melihat isi


bungkusan.


“Kami juga menemukan dompet ini dari saku bajunya…“


“Coba saya lihat…” Juragan Kosim meminta dompet itu dari


polisi. Setelah isinya dibuka, nama, alamat, RT/ RW lengkap, ternyata semua itu


milik Kamal anaknya.


“Ternyata benar ini punya anak kami pak polisi…”


“Dengan berat hati saya sampaikan pak…Berarti korban yang


warga temukan di sungai itu putra bapak, benar adanya…Kami turut bela sungkawa”

__ADS_1


“Tidak ! Ini tidak mungkin…!”   Wiwin saat itu mulai tidak karu-karuan. Yang


lainnya juga sama ketika mendengar kabar itu merasa percaya dan tidak.


“Berarti mantuku yang pergi dari rumah pada malam


pengantinnya itu…?”  Tapi anggapan pak


Sukma lain. Bahwa Kamal yang pergi pada malam pengantin pertama itu,


benar-benar sudah meninggal.


“Aduh…” pak Sukma kemudian memegang dadanya yang tiba-tiba


nyeri hebat.


“Ayah, ayah kenapa…?”  Wiwin memburu ayahnya yang terus memegang dadanya.


“Nak…? Kalau ayah tidak ada…Kamu harus tinggal bersama


mertua ya…?”


“Ayah ini bicara apa…? Ayah tidak akan pergi kemana-mana


kan…?”  Ketika itu Wiwin terus menangis.


“Sekarang ayah mau pergi…Ingat pesan ayah tadi…Allohuakbar…Laaihahailalloh…”


“Ki besan bangun ki besan…Ki besan jangan tinggalkan putrimu


yang baru saja kehilangan suaminya…” juragan Kosim mengguyah-guyah tubuh pak


Sukma yang sudah tidak bernafas.


“Sepertinya ayahmu sudah meninggal Win…”


pingsan.


Di depannya kini ada tiga makam. Air mata Wiwin bergenang


karena ingat lagi peristiwa itu. Kamal buru-buru menggandeng istrinya. “Bun…Di


pemakaman tidak boleh sedih…Apalagi menangis “


“Yang satunya itu makam teman saya tan…” Kamal menjawab


pertanyaan tante wati kepada Wiwin tadi. Kemudian Kamal menceritakan perjalanan


hidupnya yang dimulai dari dulu pergi dari rumah pada malam pertama pernikahan,


sampai akhirnya kembali lagi lima bulan kemudian. Tapi pas datang, ia pendapati


Wiwin sakit keras yang kondisinya sudah mengkhawatirkan.


“Sebelum seperti sekarang, ternyata kalian itu mendapat


ujian yang begitu dasyat…Selama ini nak Kamal juga sampai pernah jadi kuli di


pasar induk dan kalau malam tidur di emper pertokoan dengan ber alaskan koran…Selama


ini Wiwin juga tidak cerita ke ketika…Makanya barusan Oom kaget…”  Oom Anwar yang selama ini diam, ikut


berkomentar.


“Ya sudah..,sekarang semua itu sudah berlalu…Dan kamu serta

__ADS_1


suamimu, ternyata sekarang sudah hidup bahagia…Itulah yang membuat hati tante


lega. Dan mungkin juga Oom”


“Kalau kalian bahagia, tentu saja Oom juga ikut senang…Pada


suatu hari tante pernah bilang kepada Oom….Katanya meskipun Oom sudah diponis


tidak akan bisa memberi keturunan, tante akan tetap setia asal Oom menyayangi


kamu seperti pada anak sendiri…Selama tinggal bersama kami, mungkin dulu


kamupun merasakan…Kalau kamu sakit Oom buru-buru bawa kamu kedokter...Kalau


kamu terlambat pulang dari sekolah, Oom buru-buru menjemput kamu kesekolah…Dan


setelah kamu menginjak remaja, Oom juga pilihkan lelaki yang terbaik meskipun


akhirny tidak berjodoh…Tapi Alloh lebih tahu…Ternyata jodoh yang terbaik untuk


kamu itu adalah nak Kamal “


“Sebelum mulai panjatkan do’a untuk ibu dan bapak kamu serta


teman suamimu, ayo sekarang kamu minta dihapuskan dulu air mata kepada suami


kamu…Tapi hati-hati, keromantisannya jangan sampai membuat anak kalian


cemburu…” canda tante Wati. Setelah itu semuanya diminta supaya sama-sama


menghadap ke kiblat oleh Oom Anwar yang akan memimpin do’a.


“Dan…? Kamu mau dekat siapa duduknya ?”  Oom Anwar nanya kepada Dani.


“Aku mau duduknya didekat nenek cantik ach..”


“Ya sudah…Kalau begitu cepetan kamu kesana…”  Wiwin dan Kamal sama-sama menyetujui


keputusan anaknya.


“Syafira…? Kamu mau dimana duduknya…?”   Pada saat yang bersamaan, keluarga pak


Suherman juga sedang ziarah kubur. Tapi pak Suherman melihat menantunya seperti


masih kebingungan.


“In…? Perhatiin tuh istri kamu?”  Bu Ranti berbisik kepada anak lelakinya.


“Biarin aja sch mah…Dia bukan anak kecil “


“Eh, kamu jangan begitu In…? Apa lagi kalau suara kamu


terdengar oleh Syafira…Pasti istrimu akan sakit hati”


“Habis siapa suruh orangnya menjauh terus dari aku…Setelah


tiba didesa, sikapnya ke aku juga jadi beda”


“Apa bukan sebaliknya…? Yah…Karena mantan mantan kamu


semuanya ada disini…? Malah besok, kemungkinan akan bertemu…” canda bu Ranti.


Indra kecemes. “Terserah mama ach…”


“Syafira…! Ayo duduknya disini disampaing aku…!“  Indra akhirnya memanggil Syafira. Setelah itu

__ADS_1


Syafirapun ngeloyor ke dekat Indra.  Dan terus


duduk disamping suaminya sampai acara pembacaan do’a ziarah kubur selesai.


__ADS_2