
DI AREA pemakaman umum tempat dulu almarhum pak Sukma
dimakamkan, Wiwin dan tantenya menyimpan keranjang bunga dan air dalam botol
disatukan disatu tempat. Tapi setelah itu tante Wati mengamati keadaan sekitar
yang membuatnya jadi mau tahu. Dihadapannya ada tiga makam. Itulah yang membuatnya
penasaran. Akhirnya tante Wati kembali merapat kepada kemenakannya.
“Yang satunya lagi makam siapa itu Win…? Kalau makam ibu dan
ayah kamu, pasti yang temboknya disatukan itu…?” Tante Wati akhirnya mengeluarkan yang jadi
kepenasarannya. Tapi sebelum menjawab, didalam benak yang ditanya tiba-tiba
melintas.
“Win…? Kamu dan ayahmu sekarang ke rumah bapak ya…?. Di
rumah bapak sekarang sedang ada polisi…”
Ketika itu Wiwin dan ayahnya lalu berangkat ke rumah mertua.
“ Pak polisi, ini istri anak saya dan mertuanya…Ini ada apa sebenarnya sehingga
kita semua harus berkumpul…?” kata Juragan Kosim setelah menantu dan besannya
datang.
“Begini pak…? Bu…? Dua hari lalu warga bantaran yang ada
dikawasan Jakarta menemukan sesosok mayat di sungai…Begitu mendapat laporan,
kami dari pihak kepolisian langsung datang kelokasi…Ternyata benar di sungai
itu ada sesosok mayat laki-laki. Tapi wajahnya tidak bisa dikenali karena
banyak luka tusukan benda tajam…Maksud kami menyuruh keluarga bapak untuk berkumpul,
sebenarnya supaya tugas kami cepat tuntas…Sekarang semua kelurga bapak sudah
berkumpul…Barangkali ada yang mengenal barang-barang yang kami bawa ini…”
Polisi yang ditanya juragan Kosim menyodorkan sebuah bungkusan.
“Pak polisi, kemeja levis warna biru langit itu dikenakan
suami saya waktu terakhir pergi dari rumah…?” Kata Wiwin setelah melihat isi
bungkusan.
“Kami juga menemukan dompet ini dari saku bajunya…“
“Coba saya lihat…” Juragan Kosim meminta dompet itu dari
polisi. Setelah isinya dibuka, nama, alamat, RT/ RW lengkap, ternyata semua itu
milik Kamal anaknya.
“Ternyata benar ini punya anak kami pak polisi…”
“Dengan berat hati saya sampaikan pak…Berarti korban yang
warga temukan di sungai itu putra bapak, benar adanya…Kami turut bela sungkawa”
__ADS_1
“Tidak ! Ini tidak mungkin…!” Wiwin saat itu mulai tidak karu-karuan. Yang
lainnya juga sama ketika mendengar kabar itu merasa percaya dan tidak.
“Berarti mantuku yang pergi dari rumah pada malam
pengantinnya itu…?” Tapi anggapan pak
Sukma lain. Bahwa Kamal yang pergi pada malam pengantin pertama itu,
benar-benar sudah meninggal.
“Aduh…” pak Sukma kemudian memegang dadanya yang tiba-tiba
nyeri hebat.
“Ayah, ayah kenapa…?” Wiwin memburu ayahnya yang terus memegang dadanya.
“Nak…? Kalau ayah tidak ada…Kamu harus tinggal bersama
mertua ya…?”
“Ayah ini bicara apa…? Ayah tidak akan pergi kemana-mana
kan…?” Ketika itu Wiwin terus menangis.
“Sekarang ayah mau pergi…Ingat pesan ayah tadi…Allohuakbar…Laaihahailalloh…”
“Ki besan bangun ki besan…Ki besan jangan tinggalkan putrimu
yang baru saja kehilangan suaminya…” juragan Kosim mengguyah-guyah tubuh pak
Sukma yang sudah tidak bernafas.
“Sepertinya ayahmu sudah meninggal Win…”
pingsan.
Di depannya kini ada tiga makam. Air mata Wiwin bergenang
karena ingat lagi peristiwa itu. Kamal buru-buru menggandeng istrinya. “Bun…Di
pemakaman tidak boleh sedih…Apalagi menangis “
“Yang satunya itu makam teman saya tan…” Kamal menjawab
pertanyaan tante wati kepada Wiwin tadi. Kemudian Kamal menceritakan perjalanan
hidupnya yang dimulai dari dulu pergi dari rumah pada malam pertama pernikahan,
sampai akhirnya kembali lagi lima bulan kemudian. Tapi pas datang, ia pendapati
Wiwin sakit keras yang kondisinya sudah mengkhawatirkan.
“Sebelum seperti sekarang, ternyata kalian itu mendapat
ujian yang begitu dasyat…Selama ini nak Kamal juga sampai pernah jadi kuli di
pasar induk dan kalau malam tidur di emper pertokoan dengan ber alaskan koran…Selama
ini Wiwin juga tidak cerita ke ketika…Makanya barusan Oom kaget…” Oom Anwar yang selama ini diam, ikut
berkomentar.
“Ya sudah..,sekarang semua itu sudah berlalu…Dan kamu serta
__ADS_1
suamimu, ternyata sekarang sudah hidup bahagia…Itulah yang membuat hati tante
lega. Dan mungkin juga Oom”
“Kalau kalian bahagia, tentu saja Oom juga ikut senang…Pada
suatu hari tante pernah bilang kepada Oom….Katanya meskipun Oom sudah diponis
tidak akan bisa memberi keturunan, tante akan tetap setia asal Oom menyayangi
kamu seperti pada anak sendiri…Selama tinggal bersama kami, mungkin dulu
kamupun merasakan…Kalau kamu sakit Oom buru-buru bawa kamu kedokter...Kalau
kamu terlambat pulang dari sekolah, Oom buru-buru menjemput kamu kesekolah…Dan
setelah kamu menginjak remaja, Oom juga pilihkan lelaki yang terbaik meskipun
akhirny tidak berjodoh…Tapi Alloh lebih tahu…Ternyata jodoh yang terbaik untuk
kamu itu adalah nak Kamal “
“Sebelum mulai panjatkan do’a untuk ibu dan bapak kamu serta
teman suamimu, ayo sekarang kamu minta dihapuskan dulu air mata kepada suami
kamu…Tapi hati-hati, keromantisannya jangan sampai membuat anak kalian
cemburu…” canda tante Wati. Setelah itu semuanya diminta supaya sama-sama
menghadap ke kiblat oleh Oom Anwar yang akan memimpin do’a.
“Dan…? Kamu mau dekat siapa duduknya ?” Oom Anwar nanya kepada Dani.
“Aku mau duduknya didekat nenek cantik ach..”
“Ya sudah…Kalau begitu cepetan kamu kesana…” Wiwin dan Kamal sama-sama menyetujui
keputusan anaknya.
“Syafira…? Kamu mau dimana duduknya…?” Pada saat yang bersamaan, keluarga pak
Suherman juga sedang ziarah kubur. Tapi pak Suherman melihat menantunya seperti
masih kebingungan.
“In…? Perhatiin tuh istri kamu?” Bu Ranti berbisik kepada anak lelakinya.
“Biarin aja sch mah…Dia bukan anak kecil “
“Eh, kamu jangan begitu In…? Apa lagi kalau suara kamu
terdengar oleh Syafira…Pasti istrimu akan sakit hati”
“Habis siapa suruh orangnya menjauh terus dari aku…Setelah
tiba didesa, sikapnya ke aku juga jadi beda”
“Apa bukan sebaliknya…? Yah…Karena mantan mantan kamu
semuanya ada disini…? Malah besok, kemungkinan akan bertemu…” canda bu Ranti.
Indra kecemes. “Terserah mama ach…”
“Syafira…! Ayo duduknya disini disampaing aku…!“ Indra akhirnya memanggil Syafira. Setelah itu
__ADS_1
Syafirapun ngeloyor ke dekat Indra. Dan terus
duduk disamping suaminya sampai acara pembacaan do’a ziarah kubur selesai.