Karunia (Gadis Dalam Ikatan)

Karunia (Gadis Dalam Ikatan)
Bunga Desa Di Pantik Tunangan


__ADS_3

DARI pusaran gunung, matahari sudah naik beberapa penggal. Umar yang hari ini punya janji, keluar dari kamarnya sambil membawa handuk. Setelah beberapalama kakanya kekuar, Mia nyelinap masuk. Setelah berada di kamar kakaknya lalu tumpukan buku yang ada di buka-buka Mia. “Disini tidak ada”  Alasan Mia lalu membuka ke tumpukan lain. “Di sini juga ternyata tidak ada “


Sebelum melangkah lebih jauh, ternyata Mia melongok dulu keluar. Ketika dari kamar mandi masih kedengaran suara banjuran kakaknya yang sedang mandi, baru ia berani membuka laci meja belajar kakaknya.


“Ini dia…Yang aku cari ternyata ada disini”  tangan Mia dengan penuh ke hati-hatian mengambil yang sudah ditemukannya itu supaya nantinya tidak meninggalkan kecurigaan bagi yang sudah menyimpan. Ketika benda itu sudah berhasil dikeluarkan


“Mia ! Nanti tolong jemurin handuk kakak ya ! Kakak hari ada janji dengan Fajar ! Takut telat!”


Cepat banget kak Umar mandinya


Dari dalam, Mia buru-buru mencari benda yang bisa dijadikan alasan, kalau oleh kakaknya ditegur. Tapi sayang, sebelum menemukan yang tepat dan pantas, langkah kakaknya semakin dekat. Dan ia hanya bisa menyelamatkan benda yang dibutuhkannya ke ban roknya


“Lho, ternyata kamu ada disini Mia? Sedang apa kamu di kamar kakak?”


“Hehe…Mau ngambil ini kakak” kata Mia sambil memperlihatkan yang sudah di ambilnya dari atas meja belajar kakaknya sambil memunggung barusan .” Hah ! Yang kuambil asal ambil itu ternyata kotak jangka dan busur?”


“Mia ? Kamu ke kamar kakak itu mau ngambil busur dan jangka ? Memangnya punya kamu kemana?”


“Di pinjam teman kak. Tapi waktu itu aku lupa ngambil lagi”


“Ya udah, kalau begitu cepetan sekarang kamu keluar karena kakak mau ganti baju”


Mia akhirnya keluar dari kamar kakaknya. Setelah adiknya keluar, Umar mengerjit. “Aku curiga, jangan-jangan dia sebenarnya bukan mau mengambil busur dan jangka?”


Handuk yang di pakai mengeringkan rambut, disimpan Umar ke atas kursi meja belajar. Saat menunduk, ia melihat laci terbuka

__ADS_1


“Disitu aku nyimpan fhoto-fhoto…” Aalsan lalu dibukanya lebar. “ Ternyata fhoto Fajar yang terbaru tidak ada “. Umar akhirnya buru-buru memakai baju. Langsung nyisir juga, nyemprotkan farpum dan mengambil semua yang akan dibawa. Setelah itu keluar. Di depan pintu adiknya yang tidak di tutup rapat, betapa ngeriknya dia ketika mendapati sang adik sedang mengencani  fhoto Fajar sambil baringan


“Kenapa ketika TUNAS menang, kak Fajar itu tidak mau sambut tangan aku. Sedangkan ke gadis lain yang banyak di samping aku, semuanya di salam tempel sambil di suruh hadir di acara syukuran..” dalam benak Mia terbayang lagi ketika orang dalam fhoto itu mengabaikan uluran tangannya waktu nonton semifinal bola. Tapi ketidak perdulian Fajar saat itu mungkin Mia memaafkan. Uktuk kedepan, rupanya gadis ini tetap menaruh harapan. Cup!


“Mia kamu suka sama teman kakak itu ?”  Umar akhirnya menghampiri. Air mata Mia mulai berjatuhan. Fhoto Fajar yang selama ini sedang di tatapnya bahkan di kecup, disimpan ke atas bantal. Setelah itu Mia menghadap kepada kakaknya.


“Kak Umar… Setelah kang Ali memutuskan pertunangannya dengan aku, sebenarnya hatiku sakit, tapi selama ini aku tidak punya pegangan yang bisa kupuntangi..Apalagi setelah akhirnya kang Ali memutuskan menikah dengan orang lain, yang keluarganya menggembor-gemborkan bahawa anaknya tidak jadi menikah dengan aku itu, karena aku selingkuh. Padahal itu tidak benar kan kak? Tapi usaha mereka supaya aku dan kang Ali terpisah itu, akhirnya berhasil. Namun setelah itu aku jadi bahan perguncingan…Karena malu oleh tetangga, akhirnya ayah dan ibu juga memetuskan tinggal bersama teteh di Sumedang. Mengapa nasib aku itu seperti ini kak?”  air mata Mia deras usai mencurahkan seluruh isi hatinya


Umarpun kali ini duduk di pinggir tempat tidur adiknya. Air matanya sendiri di tepis sebelum bicara


“Mia, maafkan kakak ya ? Selama ini kakak tidak perduli dengan keadaan kamu yang sebenarnya. Kakak pikir, kamu selalu ceria itu tidak menyimpan duka yang mendalam…”


“Nggak apa-apa kak…Jujur, aku memang suka sama kak Fajar”


“Mia, Mia…” Umar kali ini mengusap-ngusap kepala adiknya itu. Setelah Mia bertutur, Umar juga ingin adiknya ini mendapat pengganti yang lebih baik.


“Nggak…Kakak itu terlelu senang mempunyai adik perempuan yang cantik “ Umar berbohong. Padahal dalam hatinya merasakan pedih yang di alami adiknya


“Kamu jangan sedih lagi ya, karena mulai sekarang kakak akan selalu ada buat kamu. Dan kalau memang kamu sekarang menyukai  Fajar, kakak setuju sekali karena dia orang baik. Tapi sebagai perempuan, kamu tidak boleh merendahkan diri. Maksud kakak, meskipun kalian saling suka, biarlah Fajar duluan yang nanti menyatakan cintanya sama kamu. Bukan kamu yang duluan ya?”   mengenai hal yang satu ini, Umar sangat mewanti-wanti kepada adiknya.


Mia yang di usap-usap kepalanya oleh sang kakak mengangguk. Sekarang airmatanya malah sudah kering. Umar juga bangkit, karena sudah tidak merasa cemas lagi terhadap adiknya


“Sekarang kakak mau berangkat ya, karena kasihan kalau Fajar lama menunggu. Dan kalau hari ini kamu mau keluar juga, jangan lupa mengunci pintunya. Kakak sudah bawa kunci cadangan”


Sebelum keluar dari kamar Mia, Umar memperlihatkan dulu kunci duplikat yang sudah dibawa. Setelah adiknya mengangguk, baru pemuda ini keluar dari kamar adiknnya

__ADS_1


“Cep teh sedang nunggu siapa ?”  Pada saat yang bersamaan, Fajar di tanya tukang warung. Karena selama menunggu Umar, ia numpang duduk di bangkunya


“Sedang menunggu teman bu”


“Siapa namanya?”


“Umar Panji Saputra “


“Oh den Umar kakaknya neng Mia?”


“Jadi ibu kenal mereka?”


“Ya tahu atuh cep. Kan neng Mia belakangan jadi bahan perbincangan. Jadi meskipun neng Mia orang kampung sebrang, kan calon tunangannya dulu tetanggaan sama ibu “


“Mereka itu benar-benar tidak berperasaan cep”


“Maksud ibu?”


Berebet pemilik warung akhirnya bertutur,bahwa Mia itu dari kelas satu SMA sudah bertunangan dengan salah seorang pemuda di kampungnya. Tapi pertunanagnnya jadi batal karena sesuatu alasan. Tapi akan alasan itu, warga ada yang percaya ada yang tidak. Katanya


“Kalau ibu termasuk yang yang percaya atau yang tidak?”  Setelah mendengar ringkasan tentang Mia, Fajar nanya ke pemilik warung


“Kalau neng Mia mah memang orangnya akraban ke siapapun. Ke laki-laki atau perempuan. Tapi hal ini ternyata dimanfaatkan oleh ayahnya yang tidak merestui hubungan neng Mia dan anaknya itu. Pokoknya, supaya anaknya pisah sama neng Mia, jadi berhasil cep, setelah neng Mia kepergok sedang berduaan dengan laki-laki lain. Terus di gosipkan selingkuh dan ternyata den Ali jadi terpengaruh. Akhirnya pertunangannya dengan neng Mia di putuskan”


Satu lagi tentang orang yang di sukainya, kali ini Fajar mendapat info. Selain beberapa hari lalu ia melihatnya sendiri Mia itu datang ke alun-alun bersama Kamal. Disaat Fajar sedang termenung, tiba-tiba orang yang di tunggunya muncul.

__ADS_1


“Bu, orang yang saya tunggu sudah datang. Terimakasih atas tempat dan infonya “ Sebelum pergi, Fajar berterimakasih ke pemilik warung sambil tersenyum


Pemilik warung manggut. Tapi setelah Fajar tidak ada orangnya langsung nyeloteh. “Nah kalau pemuda barusan, cocok sekali kalau untuk neng Mia. Orang ini tampan. Neng Mianya cantik. Klop banget” katanya. Setelah itu ibu warung melayani pembeli yang datang setelah beberapa saat Fajar pergi.


__ADS_2