Karunia (Gadis Dalam Ikatan)

Karunia (Gadis Dalam Ikatan)
Tamu Tak Terduga


__ADS_3

HARI yang dinanti akhirnya tiba. Sebuah perum yang di ambil


Fajar tahun ini dengan cicilan perbulan, kini dijadikan ajang bersejarah dalam


hidupnya. Dua keluarga sudah berkumpul disini untuk makeup oleh juru rias.


Satu-satunya angota keluarga yang belum hadir, saat ini sedang diperjalanan.


Tapi mobil yang di tumpanginya sudah masuk area komplek ini.


“Sekarang sudah sampai Ev…Nanti kita kalau masuk langsung


temui orangtuaku saja”


Setelah berbicara sebentar, laki-laki yang nyetir mobil itu


keluar. Setelah itu pintu untuk calon istrinya dibuka. Setelah calon istrinya


keluar, keduanya diam dulu, berdiri di depan mobil.


“Sudah siap…?” tanya yang laki-laki setelah sebentar diam.


“Aduh mas, ternyata masih degdegan…?”


“Kalau begitu ayo tarik nafas dulu…”


Yang disuruh supaya mengatur nafasnya, menuruti. Setelah


detak jantungnya berjalan normal. “Yuk mas sekarang masuk…? Ternyata setelah


mengatur nafas dulu, rasa gugupnya jadi hilang”


Kedua orang ini akhirnya masuk ke dalam rumah. Setelah tiba


di ruangan tempat keluarganya berias, keduanya lalu uluk salam.


“Asalamualaikum…”


“Waalaikumussalam…”  Yang pertama melirik bu Sumiati. Karena untuk seorang ibu, lebih kenal


sura anknya dibanding yang lain.


“Nak…? Siapa itu yang bersama kamu…?” Ketika anak


laki-lakinya datang tidak sendiri, bu Sumiati menanyakan.


“Insyaalloh ini calon istri saya bu…Namanya Evi…Dia seorang


dokter”


Semuanya kaget, kecuali Fajar tidak. Karena yang mencomlangi


mereka aladah dirinya.


“Mar…? Calon istri kamu seorang dokter…? Apa orangtuanya


bakal setuju punya calon mantu dari keluarga sederhana seperti kita…?”  Pak Panji mewakili keluarga.


“Kalau mama dan papa saya kebetulan tidak materialistis pak…Yang


penting calon mantunya itu jujur dan soleh”


“Alhmdulillah…Akhirnya kita menemukan orang yang se


ihwan…Tapi bagaimana ceritanya ini…? Kan selama ini kamu bekerja di pulau


terpencil yang rawan konflik…? Kapan bertemunya kamu dengan nak Evi yang menetap


dan bertugas disini?”


“Begini ceritanya ayah…Ketika itu sebelum tidur HP saya

__ADS_1


berbunyi…Setelah dibuka ternyata ada yang memberi nomor….Katanya coba hubungi


nomor ini…Siapa tahu bakal jadi jodoh aku…Eh, ketika cattingan dengan pemilik


nomor itu, ternyata semua curahannya nyambung…Ya udah langsung jadian aja lewat


udara”


“Yang ngasih nomor ke kakak itu laki-laki atau perempuan…?


Udah berapa lama itu kak...?”


“Hampir setahunan Mi…Dan orang yang ngasih nomor itu


laki-laki”


“Udah dikasih uang rokok orngnya sama kakak…? Karena


biasanya kalau ada seorang laki-laki  nyomblangin, itu mau dikasih rokok kak…”


“Kamu itu ngomong apa Mi…? Ya tidak semua orang begitu,


lah…”


“Ih, kakak ini dikasih tahu malah sentimen…Mbak Evi, kalau


menghadapi kakak aku harus hati-hati…Siapa tahu suatu ketika sentimennya itu


terhadap mbak Evi “


“Nggak dik…Mbak rasa, mas Umar orangnya tidak seperti itu…”


“Calon kakak iparmu benar sayang…Mas Umar orangnya tidak


seperti itu kok…Karena yang sudah mencomlangi mereka itu adalah suamimu sendiri…”


“Iiih…Jadi malu aku…? Sayang…? Kenapa tidak bilang dari tadi


sih…?”   Mia menegur sang suami dengan sikap manjanya.


hati mas Fajar tidak terbuka untuk aku…? Ternyata selama ini dia sangat cinta kepada


calon adik ipar yang lucu dan menggemaskan ini…Untung sekarang aku sudah jadi


calon istri kakaknya…Jadi apa yang kulihat, tidak perlu sampai makan hati”


“Hehe…Mbak Evi…?”  Mia


yang mendapati Evi sedang memperhatikannya, langsung melepas dekapan kepada


suaminya. “ Mbak Evi ikut dirias seperti yang lain juga ya?”


Evi minta pendapat kepada calon suaminya. “Bagaimana mas ?”


Ternyata Umar tidak keberatan. “Boleh-boleh saja…Asal makeupnya


jangan terlalu medok seperti pengantin”  canda Umar.


Gerrr !  Semua yang


ada disini pada tertawa. Untuk bu Sumiati dan pak Panji sangat senang anaknya


yang lain sudah punya calon.


Pukul setengah sepuluh tamu undangan sudah mulai


berdatangan. Evi dan Umar, ternyata menjadi pendamping lapisan kedua untuk


mempelai. Nakes teman Mia dan Fajar di tempat bekerja, diperkenalkan kepada Evi


dan Umar. Ternyata beberapa temannya ada yang menegur mempelai wanita. Tapi

__ADS_1


tentu saja hanya bercanda.


“Mi…? Kok selama ini nggak bilang-bilang ke kita kalau kamu


punya kakak seorang dokter?”


“Lupa, teman-teman…Habis aku sibuk memikirkan urusan


pribadiku sendiri”


“Tapi sekarang yang membuat sibuknya sudah bisa didapatkan


kan…? Jadi setelah ini paling sibuknya itu program hamil “


“Eh, jangan-jangan sudah ngisi kali…”  Teman Mia yang satu malah mengacu ke hal yang


lebih pribadi.


“Iya juga ya ? Kan akadnya mah udah delapan bulan yang


lalu…?” Yang seorang lagi mempertajam kemungkinan. Dan ternyata kali Fajar dan


Mia langsung saling lirik. Tapi setelah itu keduanya sama-sama mengedipkan


mata. Teman-temannya yang meng olok, saling lirik juga dengan yang lainnya.


Setelah masuk pukul sebelas, tamu yang datang semakin banyak.


Karena kemarin sudah dil dengan sahabatnya,  ba’da duhur keluarga pak Suherman baru mulai persiapan. Santi dan mamanya


berdandan dikamar bekas Omanya. Sedangkan Indra dan Syafira berdandan di kamar


tempai Indra dulu kalau liburan.


Setelah mendandani Raihan, Syafira pergi keteras. Maksudnya


kalau Indra sudah selesai berdandan, Raihan mau ditipkannya dulu. Ternyata setelah


itu Indra keluar.


“Mas…? Raihannya bawa duluan ke mobil ya…? Nanti aku


menyusul setelah ganti baju”


“Ih…Siapa juga yang mau pergi dengan kalian…? Kamu dan


Raihan ikutnya ke mobil papa..Aku ada urusan dulu…Kesananya nanti menyusul…”


Syafira yang kecewa akhirnya duduk lagi diteras. Tidak lama


kemudian bu Ranti muncul.


“Lho, Syafira…? Ternyata kamu belum dandan…?”


“Nggak ada yang jaga Raihan mah…”


“Memangnya suami kamu kenana…?”


“Mas Indra barusan pergi…Katanya ada urusan dulu…Nanti


kesananya menyusul…”


“Ya sudah…Kalau begitu sini Raihannya sekarang dijaga dulu


sama mama “


Bu Ranti mengambil Raihan dari Syafira. Indra mau kemana


dulu dan ada urusan apa, tidak di ambil pusing. Meskipun bu Ranti mengetahui


sikap Indra belakangan masabodoh terhadap Syafira, tapi bu Ranti yakin anak

__ADS_1


laki-lakinya itu tidak mungkin mempermalukan keluarga atau dirinya sendiri


didepan umum.


__ADS_2