
HARI yang dinanti akhirnya tiba. Sebuah perum yang di ambil
Fajar tahun ini dengan cicilan perbulan, kini dijadikan ajang bersejarah dalam
hidupnya. Dua keluarga sudah berkumpul disini untuk makeup oleh juru rias.
Satu-satunya angota keluarga yang belum hadir, saat ini sedang diperjalanan.
Tapi mobil yang di tumpanginya sudah masuk area komplek ini.
“Sekarang sudah sampai Ev…Nanti kita kalau masuk langsung
temui orangtuaku saja”
Setelah berbicara sebentar, laki-laki yang nyetir mobil itu
keluar. Setelah itu pintu untuk calon istrinya dibuka. Setelah calon istrinya
keluar, keduanya diam dulu, berdiri di depan mobil.
“Sudah siap…?” tanya yang laki-laki setelah sebentar diam.
“Aduh mas, ternyata masih degdegan…?”
“Kalau begitu ayo tarik nafas dulu…”
Yang disuruh supaya mengatur nafasnya, menuruti. Setelah
detak jantungnya berjalan normal. “Yuk mas sekarang masuk…? Ternyata setelah
mengatur nafas dulu, rasa gugupnya jadi hilang”
Kedua orang ini akhirnya masuk ke dalam rumah. Setelah tiba
di ruangan tempat keluarganya berias, keduanya lalu uluk salam.
“Asalamualaikum…”
“Waalaikumussalam…” Yang pertama melirik bu Sumiati. Karena untuk seorang ibu, lebih kenal
sura anknya dibanding yang lain.
“Nak…? Siapa itu yang bersama kamu…?” Ketika anak
laki-lakinya datang tidak sendiri, bu Sumiati menanyakan.
“Insyaalloh ini calon istri saya bu…Namanya Evi…Dia seorang
dokter”
Semuanya kaget, kecuali Fajar tidak. Karena yang mencomlangi
mereka aladah dirinya.
“Mar…? Calon istri kamu seorang dokter…? Apa orangtuanya
bakal setuju punya calon mantu dari keluarga sederhana seperti kita…?” Pak Panji mewakili keluarga.
“Kalau mama dan papa saya kebetulan tidak materialistis pak…Yang
penting calon mantunya itu jujur dan soleh”
“Alhmdulillah…Akhirnya kita menemukan orang yang se
ihwan…Tapi bagaimana ceritanya ini…? Kan selama ini kamu bekerja di pulau
terpencil yang rawan konflik…? Kapan bertemunya kamu dengan nak Evi yang menetap
dan bertugas disini?”
“Begini ceritanya ayah…Ketika itu sebelum tidur HP saya
__ADS_1
berbunyi…Setelah dibuka ternyata ada yang memberi nomor….Katanya coba hubungi
nomor ini…Siapa tahu bakal jadi jodoh aku…Eh, ketika cattingan dengan pemilik
nomor itu, ternyata semua curahannya nyambung…Ya udah langsung jadian aja lewat
udara”
“Yang ngasih nomor ke kakak itu laki-laki atau perempuan…?
Udah berapa lama itu kak...?”
“Hampir setahunan Mi…Dan orang yang ngasih nomor itu
laki-laki”
“Udah dikasih uang rokok orngnya sama kakak…? Karena
biasanya kalau ada seorang laki-laki nyomblangin, itu mau dikasih rokok kak…”
“Kamu itu ngomong apa Mi…? Ya tidak semua orang begitu,
lah…”
“Ih, kakak ini dikasih tahu malah sentimen…Mbak Evi, kalau
menghadapi kakak aku harus hati-hati…Siapa tahu suatu ketika sentimennya itu
terhadap mbak Evi “
“Nggak dik…Mbak rasa, mas Umar orangnya tidak seperti itu…”
“Calon kakak iparmu benar sayang…Mas Umar orangnya tidak
seperti itu kok…Karena yang sudah mencomlangi mereka itu adalah suamimu sendiri…”
“Iiih…Jadi malu aku…? Sayang…? Kenapa tidak bilang dari tadi
sih…?” Mia menegur sang suami dengan sikap manjanya.
hati mas Fajar tidak terbuka untuk aku…? Ternyata selama ini dia sangat cinta kepada
calon adik ipar yang lucu dan menggemaskan ini…Untung sekarang aku sudah jadi
calon istri kakaknya…Jadi apa yang kulihat, tidak perlu sampai makan hati”
“Hehe…Mbak Evi…?” Mia
yang mendapati Evi sedang memperhatikannya, langsung melepas dekapan kepada
suaminya. “ Mbak Evi ikut dirias seperti yang lain juga ya?”
Evi minta pendapat kepada calon suaminya. “Bagaimana mas ?”
Ternyata Umar tidak keberatan. “Boleh-boleh saja…Asal makeupnya
jangan terlalu medok seperti pengantin” canda Umar.
Gerrr ! Semua yang
ada disini pada tertawa. Untuk bu Sumiati dan pak Panji sangat senang anaknya
yang lain sudah punya calon.
Pukul setengah sepuluh tamu undangan sudah mulai
berdatangan. Evi dan Umar, ternyata menjadi pendamping lapisan kedua untuk
mempelai. Nakes teman Mia dan Fajar di tempat bekerja, diperkenalkan kepada Evi
dan Umar. Ternyata beberapa temannya ada yang menegur mempelai wanita. Tapi
__ADS_1
tentu saja hanya bercanda.
“Mi…? Kok selama ini nggak bilang-bilang ke kita kalau kamu
punya kakak seorang dokter?”
“Lupa, teman-teman…Habis aku sibuk memikirkan urusan
pribadiku sendiri”
“Tapi sekarang yang membuat sibuknya sudah bisa didapatkan
kan…? Jadi setelah ini paling sibuknya itu program hamil “
“Eh, jangan-jangan sudah ngisi kali…” Teman Mia yang satu malah mengacu ke hal yang
lebih pribadi.
“Iya juga ya ? Kan akadnya mah udah delapan bulan yang
lalu…?” Yang seorang lagi mempertajam kemungkinan. Dan ternyata kali Fajar dan
Mia langsung saling lirik. Tapi setelah itu keduanya sama-sama mengedipkan
mata. Teman-temannya yang meng olok, saling lirik juga dengan yang lainnya.
Setelah masuk pukul sebelas, tamu yang datang semakin banyak.
Karena kemarin sudah dil dengan sahabatnya, ba’da duhur keluarga pak Suherman baru mulai persiapan. Santi dan mamanya
berdandan dikamar bekas Omanya. Sedangkan Indra dan Syafira berdandan di kamar
tempai Indra dulu kalau liburan.
Setelah mendandani Raihan, Syafira pergi keteras. Maksudnya
kalau Indra sudah selesai berdandan, Raihan mau ditipkannya dulu. Ternyata setelah
itu Indra keluar.
“Mas…? Raihannya bawa duluan ke mobil ya…? Nanti aku
menyusul setelah ganti baju”
“Ih…Siapa juga yang mau pergi dengan kalian…? Kamu dan
Raihan ikutnya ke mobil papa..Aku ada urusan dulu…Kesananya nanti menyusul…”
Syafira yang kecewa akhirnya duduk lagi diteras. Tidak lama
kemudian bu Ranti muncul.
“Lho, Syafira…? Ternyata kamu belum dandan…?”
“Nggak ada yang jaga Raihan mah…”
“Memangnya suami kamu kenana…?”
“Mas Indra barusan pergi…Katanya ada urusan dulu…Nanti
kesananya menyusul…”
“Ya sudah…Kalau begitu sini Raihannya sekarang dijaga dulu
sama mama “
Bu Ranti mengambil Raihan dari Syafira. Indra mau kemana
dulu dan ada urusan apa, tidak di ambil pusing. Meskipun bu Ranti mengetahui
sikap Indra belakangan masabodoh terhadap Syafira, tapi bu Ranti yakin anak
__ADS_1
laki-lakinya itu tidak mungkin mempermalukan keluarga atau dirinya sendiri
didepan umum.