
KETIKA mobil Kamal masih mondar-mandir karena yang dicarinya
belum ditemukan, matahari sudah mau masuk ke selak-selak dua gunung. Selama ini
serapah yang dilukai hatinya terus di ingat. Dan benar kini ayah dari Dani itu
sedang merasakan pembalasan atas semua kesalahannya.
“Win ? Sebenarnya kamu itu ngumpet dimana ? Selama ini aku
sudah mendatangi tempat-tempat yang diperkirakan kamu bakal ada ? Sekarang
sudah hampir magrib ? Apakah kamu sudah tidak sayang kepada Dani lalu memutuskan
tidak akan pulang kerumah lagi?”
Mobil Kamal kini belok ke jalan yang menuju area pemakaman.
“Jangan-jangan ketika hatinya sedang terluka, Wiwin ziarah ke makam ayahnya
supaya mendapat ketenangan?” Alasan
Kamal kini menghentikan mobilnya di dekat area pemakaman. Setelah keluar dari
mobil, Kamal langsung menuju ke makam mertuanya. Tapi sesampainya di sana
kuburan pak Sukma kering tidak ada tanda-tanda didatangi peziarah.
Setelah duduk sejenak dimakam mertua untuk mendoakan
almarhum, Kamal kembali lagi ke mobilnya. Kali ini keadaan benar-benar sudah
gelap. Bahkan dari kejauhan sudah terdengar ada yang mengumandangkan adzan
magrib. Tapi tekad lelaki ini sudah bulat. Sebelum istrinya ditemukan, sampai
kapanpun ia tidak akan pulang kerumah.
Karena waktu sudah masuk, untuk magribnya Kamal melaksanakan
di sebuah masjid yang ada dipingir jalan. Karena dirinya sedang punya hajat,
setelah selesai sholat Kamal tidak lupa berdoa. Untuk saat ini tidak ada
keinginan lain kecuali istrinya ingin segera ditemukan.
“Kang ? Tahu nggak aku beli buku ini dimana?” tiba-tiba melintas dalam benak Kamal setelah
berdo,a.
“Belinya dimana memang?” ketika itu Kamal mau tahu.
“Di toko buku langganannya seseorang. Disamping toko buku
itu ada rumah makan komplit. Aku juga tadi makan dulu disitu dengan si
pelanggan toko buku itu”
“Dokter Fajar…? Jangan jangan Wiwin sekarang sedang bersama
dokter muda itu?”
Setelah kepikiran Fajar, Kamal kali ini buru-buru bangkit.
Setelah keluar dari masjid dan masuk mobilnya lagi, perjalanannya kini langsung
menuju ke rumah sakit.
Seorang petugas yang piket, dihampiri Kamal.
”Permisi pak?”
__ADS_1
“Ada yang bisa saya bantu?”
“Saya mau numpang tanya. Kalau dokter Fajar malam ini ada
jadual piket enggak ?”
“Seharusnya iya. Tapi tadi beliu nelpon rekannya bahwa hari
ini tidak bisa masuk karena ada sesutu dan lain hal katanya”
“Kalau begitu terimakasih atas inpormasinya pak. Sekarang
saya mau mencari beliau ke tempat lain. Permisi pak. Sekali lagi terimakasih”
“Sama-sama cep”
Dari rumah sakit kini Kamal melajukan mobilnya terus
mengpeng di jalan propinsi. Keyakinannya kini sangat kuat bahwa Wiwin pasti ada
disana. Di tempat yang mau ditujunya sendiri pada saat yang bersamaan.
“Mbak ? Sebenarnya apa yang terjadi sehingga mbak sesedih
ini ?”
“Suami mbak itu sangat keterlaluan. Karena tuduhannya yang
keji, hati mbak jadi tercabik-cabik”
“Kalau begitu coba ceritakan mbak? Saya hanya mau tahu
detilnya?”
Dengan suara terbata, Wiwin akhirnya menceritakan yang
terjadi dari awal sampai akhir. Setelah tahu penyebab Wiwin hingga memutuskan
“Mbak harus sabar ya ? Sekarang tenangkan hatinya mbak.
Karena saya akan selalu ada buat mbak”
Mendengar perkataan Fajar yang menyejukkan hatinya, tangisan
Wiwin bukannya reda. Tapi air matanya semakin mengalir deras. Kamal yang
mencarinyapun kini sudah hampir sampai. Ketika sampai, pas pada saat Fajar
mengeluarkan saputangannya.
“Mbak ? Silahkan hapus air matanya dengan saputangan ini
“ Fajar menyodorkan saputangannya itu.
Tapi Wiwin masih tetap menangis.
“Sekarang terpaksa aku harus membantu menghapuskannya” Alasan Fajar lalu mengangkat tangannya yang
sedang memegang saputangan itu.
“Dik Fajar tidak usyah repot-repot mau mengapuskan air mata
istriku”
“Kang Kamal…?!” Karena kaget tiba-tiba ada Kamal di sana, Fajar langsung bangkit.
“Keadaan mbak Win, sedang tidak baik-baik saja kang”
“Terimakasih dik Fajar sudah menolong istriku yang sedang
terlunta-lunta. Dan karena sekarang sudah ada aku, silahkan kalau dik Fajar mau
__ADS_1
pergi”
“Jangan menyuruh dia pergi ! Yang ada, kamu yang harus pergi
!” Wiwin yang selama ini sedang menangis,
tiba-tiba ada keberanian untuk membentak. Kamal langsud berlutut di hadapan
sang istri. Ia tidak malu meskipun sekolompok perempuan rumpi menertawakannya.
“Des, lihat pemandangan disana. Ada satu perempuan dihadapi
dua laki-laki. Sebenarnya dia perempuan masih lajang atau sudah bersuami tapi
selingkuh ya? Tapi dua-duanya sepertinya bukang orang sembarangan. Yang masih
muda tampan? Yang lebih tuaan juga tampan?”
“Ternyata seperti itu kehidupan mantan playboy itu sekarang.
Di depan perempuan sujud-sujud. Berbalik seratus delapan puluh derajat dari
kehidupannya dulu”
“Jadi kamu kenal dia Des?”
“Ya, iyalah…Dulu orangnya pernah dekat sama gue. Tapi karena
ada perempuan yang lebih cantik, akhirnya dia meninggalkan gue”
“Apa perempuannya itu, yang sekarang sedang di mohon-mohon
Des ?” gadis-gadis rumpi itu kian seru bergosip.
“Kalau yang perempuannya kurang jelas ? Tapi kalau yang
sedang memohon-mohonnya, benar itu si Erik”
Setelah menemukannya, memang benar Kamal langsung
memohon-mohon supaya Wiwin mau pulang. Setelah situasinya seperti ini, Fajar
sendiri lalu pergi. Tapi bukan untuk terus pulang, melainkan terus memantau
keadaan sambil menunggu di dalam mobilnya.
“Sekarang mohon pulang ya bun ? Banyak orang melihat tuh?”
“Baiklah sekarang aku mau ikut pulang! Tapi bukan untuk kamu
melainkan untuk Dani!”
“Ya, ngak apa-apa bukan untuk aku juga. Yang penting
sekarang kamu ikut pulang dengan aku”
Beberapa lama kemudian Kamal dan Wiwin keluar dari rumah
makan itu. Fajar yang selama ini sedang memantau situasi sambil menunggu di
dalam mobilnya, langsung nyeloteh. “Ternyata bak Win akhirnya mau ikut pulang
dengan kang Kamal…? Tapi kenapa dengan kamu Fajar ? Setiap kali bertemu dengan
perempuan satu anak itu, kamu acap tidak bisa mengendalikan perasaan. Apa
sebenarnya kamu suka sama dia? Buang jauh-jauh pikiran itu Fajar. Masih mending
kalau dia single parent. Sedangkan orang yang kamu suka itu punya suami yang
syah Fajar ?. Jadi mulai sekarang lupakanlah dia lalu bukalah hatimu untuk
__ADS_1
lajang-lajang yang ada di sekeliling kamu.