Karunia (Gadis Dalam Ikatan)

Karunia (Gadis Dalam Ikatan)
Ketika Hati Sedang Hampa


__ADS_3

KETIKA mobil Kamal masih mondar-mandir karena yang dicarinya


belum ditemukan, matahari sudah mau masuk ke selak-selak dua gunung. Selama ini


serapah yang dilukai hatinya terus di ingat. Dan benar kini ayah dari Dani itu


sedang merasakan pembalasan atas semua kesalahannya.


“Win ? Sebenarnya kamu itu ngumpet dimana ? Selama ini aku


sudah mendatangi tempat-tempat yang diperkirakan kamu bakal ada ? Sekarang


sudah hampir magrib ? Apakah kamu sudah tidak sayang kepada Dani lalu memutuskan


tidak akan pulang kerumah lagi?”


Mobil Kamal kini belok ke jalan yang menuju area pemakaman.


“Jangan-jangan ketika hatinya sedang terluka, Wiwin ziarah ke makam ayahnya


supaya mendapat ketenangan?”   Alasan


Kamal kini menghentikan mobilnya di dekat area pemakaman. Setelah keluar dari


mobil, Kamal langsung menuju ke makam mertuanya. Tapi sesampainya di sana


kuburan pak Sukma kering tidak ada tanda-tanda didatangi peziarah.


Setelah duduk sejenak dimakam mertua untuk mendoakan


almarhum, Kamal kembali lagi ke mobilnya. Kali ini keadaan benar-benar sudah


gelap. Bahkan dari kejauhan sudah terdengar ada yang mengumandangkan adzan


magrib. Tapi tekad lelaki ini sudah bulat. Sebelum istrinya ditemukan, sampai


kapanpun ia tidak akan pulang kerumah.


Karena waktu sudah masuk, untuk magribnya Kamal melaksanakan


di sebuah masjid yang ada dipingir jalan. Karena dirinya sedang punya hajat,


setelah selesai sholat Kamal tidak lupa berdoa. Untuk saat ini tidak ada


keinginan lain kecuali istrinya ingin segera ditemukan.


“Kang ? Tahu nggak aku beli buku ini dimana?”  tiba-tiba melintas dalam benak Kamal setelah


berdo,a.


“Belinya dimana memang?”  ketika itu Kamal mau tahu.


“Di toko buku langganannya seseorang. Disamping toko buku


itu ada rumah makan komplit. Aku juga tadi makan dulu disitu dengan si


pelanggan toko buku itu”


“Dokter Fajar…? Jangan jangan Wiwin sekarang sedang bersama


dokter muda itu?”


Setelah kepikiran Fajar, Kamal kali ini buru-buru bangkit.


Setelah keluar dari masjid dan masuk mobilnya lagi, perjalanannya kini langsung


menuju ke rumah sakit.


Seorang petugas yang piket, dihampiri Kamal.


”Permisi pak?”

__ADS_1


“Ada yang bisa saya bantu?”


“Saya mau numpang tanya. Kalau dokter Fajar malam ini ada


jadual piket enggak ?”


“Seharusnya iya. Tapi tadi beliu nelpon rekannya bahwa hari


ini tidak bisa masuk karena ada sesutu dan lain hal katanya”


“Kalau begitu terimakasih atas inpormasinya pak. Sekarang


saya mau mencari beliau ke tempat lain. Permisi pak. Sekali lagi terimakasih”


“Sama-sama cep”


Dari rumah sakit kini Kamal melajukan mobilnya terus


mengpeng di jalan propinsi. Keyakinannya kini sangat kuat bahwa Wiwin pasti ada


disana. Di tempat yang mau ditujunya sendiri pada saat yang bersamaan.


“Mbak ? Sebenarnya apa yang terjadi sehingga mbak sesedih


ini ?”


“Suami mbak itu sangat keterlaluan. Karena tuduhannya yang


keji, hati mbak jadi tercabik-cabik”


“Kalau begitu coba ceritakan mbak? Saya hanya mau tahu


detilnya?”


Dengan suara terbata, Wiwin akhirnya menceritakan yang


terjadi dari awal sampai akhir. Setelah tahu penyebab Wiwin hingga memutuskan


“Mbak harus sabar ya ? Sekarang tenangkan hatinya mbak.


Karena saya akan selalu ada buat mbak”


Mendengar perkataan Fajar yang menyejukkan hatinya, tangisan


Wiwin bukannya reda. Tapi air matanya semakin mengalir deras. Kamal yang


mencarinyapun kini sudah hampir sampai. Ketika sampai, pas pada saat Fajar


mengeluarkan saputangannya.


“Mbak ? Silahkan hapus air matanya dengan saputangan ini


“   Fajar menyodorkan saputangannya itu.


Tapi Wiwin masih tetap menangis.


“Sekarang terpaksa aku harus membantu menghapuskannya”  Alasan Fajar lalu mengangkat tangannya yang


sedang memegang saputangan itu.


“Dik Fajar tidak usyah repot-repot mau mengapuskan air mata


istriku”


“Kang Kamal…?!”   Karena kaget tiba-tiba ada Kamal di sana, Fajar langsung bangkit.


“Keadaan mbak Win, sedang tidak baik-baik saja kang”


“Terimakasih dik Fajar sudah menolong istriku yang sedang


terlunta-lunta. Dan karena sekarang sudah ada aku, silahkan kalau dik Fajar mau

__ADS_1


pergi”


“Jangan menyuruh dia pergi ! Yang ada, kamu yang harus pergi


!”   Wiwin yang selama ini sedang menangis,


tiba-tiba ada keberanian untuk membentak. Kamal langsud berlutut di hadapan


sang istri. Ia tidak malu meskipun sekolompok perempuan rumpi menertawakannya.


“Des, lihat pemandangan disana. Ada satu perempuan dihadapi


dua laki-laki. Sebenarnya dia perempuan masih lajang atau sudah bersuami tapi


selingkuh ya? Tapi dua-duanya sepertinya bukang orang sembarangan. Yang masih


muda tampan? Yang lebih tuaan juga tampan?”


“Ternyata seperti itu kehidupan mantan playboy itu sekarang.


Di depan perempuan sujud-sujud. Berbalik seratus delapan puluh derajat dari


kehidupannya dulu”


“Jadi kamu kenal dia Des?”


“Ya, iyalah…Dulu orangnya pernah dekat sama gue. Tapi karena


ada perempuan yang lebih cantik, akhirnya dia meninggalkan gue”


“Apa perempuannya itu, yang sekarang sedang di mohon-mohon


Des ?”  gadis-gadis rumpi itu kian seru bergosip.


“Kalau yang perempuannya kurang jelas ? Tapi kalau yang


sedang memohon-mohonnya, benar itu si Erik”


Setelah menemukannya, memang benar Kamal langsung


memohon-mohon supaya Wiwin mau pulang. Setelah situasinya seperti ini, Fajar


sendiri lalu pergi. Tapi bukan untuk terus pulang, melainkan terus memantau


keadaan sambil menunggu di dalam mobilnya.


“Sekarang mohon pulang ya bun ? Banyak orang melihat tuh?”


“Baiklah sekarang aku mau ikut pulang! Tapi bukan untuk kamu


melainkan untuk Dani!”


“Ya, ngak apa-apa bukan untuk aku juga. Yang penting


sekarang kamu ikut pulang dengan aku”


Beberapa lama kemudian Kamal dan Wiwin keluar dari rumah


makan itu. Fajar yang selama ini sedang memantau situasi sambil menunggu di


dalam mobilnya, langsung nyeloteh. “Ternyata bak Win akhirnya mau ikut pulang


dengan kang Kamal…? Tapi kenapa dengan kamu Fajar ? Setiap kali bertemu dengan


perempuan satu anak itu, kamu acap tidak bisa mengendalikan perasaan. Apa


sebenarnya kamu suka sama dia? Buang jauh-jauh pikiran itu Fajar. Masih mending


kalau dia single parent. Sedangkan orang yang kamu suka itu punya suami yang


syah Fajar ?. Jadi mulai sekarang lupakanlah dia lalu bukalah hatimu untuk

__ADS_1


lajang-lajang yang ada di sekeliling kamu.


__ADS_2