Karunia (Gadis Dalam Ikatan)

Karunia (Gadis Dalam Ikatan)
Melebarkan Sayap Dalam Bisnis


__ADS_3

UMAR dan Fajar yang mau rekreasi motornya sudah jauh dari lokasi star. Pada saat yang bersamaan Kamal dan mang Kardi pun sudah ada di mobil bak yang kosong menuju kesuatu tempat. Tapi kali ini mobil Kamal berhenti di sebuah gang


“Kenapa berhenti disini den? Yang mau menjual gabah kan di Ciloa ?”


“Sekarang kita ke rumah seseorang dulu mang. Benar tuh gang Seruni itu, gang yang ini mang” Kepada mang Kardi Kamal memperlihatkan alamat yang ada di Koran


“Orang itu butuh lahan untuk peternakan ternyata den?”


“Memang iya. Yuk sekarang kita cari rumahnya”


Kamal dan mang Kardi akhirnya sama-sama turun dari mobil yang di tumpanginya. Aalamat yang dicari, ternyata tidak jauh dari jalan besar dan rumahnya berdampingan dengan pabrik penggilingan gabah


“Assalamualaikum…Benar ini rumahnya haji Sanusi?”


“Wa’alaikumussalam…Yang adik tanyakan kebetulan bapak sendiri”


“Saya Kamal pak…Kebetulan bertemu langsung dengan orangnya”


“Memangnya ada apa?”


“Ini pak, yang pasang iklan di Koran ini siapa ya ?” Kepada haji Sanusi, Kamal memperlihatkan iklan di Koran seperti kepada mang Kardi tadi


“Oh, yang pasang iklan di Koran itu ternyata Bram anak bapak yang tinggal di Tanggerang. Jadi adik mau menjual tanah?”


“Bukan pak…Maksud saya, kalau memang putra bapak mau mendirikan peternakan, bagaimana kalau kerjasama dengan saya?”


“Oh, kalau soal itu harus dengan Bram bernegosiasinya. Kalau memang niat nak Kamal sudah bulat, nanti akan bapak sampaikan kepada Bram. Bapak akan telepon Bram supaya datang kesini”


“Kalau begitu terimakasih sebelumnya pak. Karena hari sudah siang, sekarang saya pamit. Ini ada alamat dan nomor hp saya yang nanti bisa dihubungi”


“Oh, terima kasih kalau begitu nak…” Pak Sanusi menerima kartu alamat yang diberikan Kamal.” Tidak disuguhi ya?” setelah menyakuinya pak Sanusi basa-basi. “Habis nak Kamalnya juga buru-buru”


“Assalamualaikum..” Sebelum pergi Kamal menyampaikan salam lagi

__ADS_1


“Wa’alaikumussalam…” Cita-cita Bram yang ingin beternak akan segera terwujud, insyaalloh” Gumam haji Sanusi setelah Kamal dan mang Kardi tidak ada.


“Sekarang perjalanan kita tidak aka nada hambatan lagi mang “ Setelah kembali ke mobilnya, Kamal nyeloteh. Kali ini mang Kardi tidak berkomentar. Tapi ia buru-buru naik mobil bisnis majikannya dan duduk di depan


“Supaya cepat sampai ditujuan, sekarang kita ngebut ya mang?”


“Den, awas di depan ada orang “


Mobil Kamal sudah dilarikan cepat


“Den..! Den..! Awas !” mang Kardi sudah melihat bahaya. Kamal ngerem mendadak. Setelah mobilnya diberhetikan mendadak, Kamal melihat orang yang barusan hampir keserempet mobilnya. “Mia ?” kata Kamal Antara bahagia dan cemas


Gadis itupun sama. “Kang Kamal?”


“Orang itu lagi ternyata..” Sedangkan celoteh mang Kardi. Ia dan majikannya sama-sama turun. Sedangkan yang menghampiri Mia yang masih panik di pinggir jalan, hanya Kamal


“Mia, kamu itu mau kemana ?”


“Sekarang ikut ke mobil akang yuk?”


“Akang kan mau narik gabah”


“Nggak apa-apa…Sekarang kamu mau kan kalau ke pasarnya di antar sama akang?”


“Heh ! Mulai lagi tuh majikan !” gumam dalam hati mang Kardi ketika Kamal dan Mia sama-sama tersenyum. Entah karena setelah ini ia harus tinggal di belakang, entah ada hal lain


“Mang, sekarang naiknya di belakang ya? Didepan ada Mia”


“Baik den”


Setelah Mia dan mang Kardi naik, Kamal lalu nyetir mobilnya lagi. Beberapalama kemudian, mobilnya sampai di pasar. Ketka Mia turun ternyata Kamal juga ikut turun


“Mia…!” Ketika Kamal dan Mia sedang terlibat perbincangan, Mia tiba-tiba di panggil seseorang. Yang menoleh, ternyata bukan hanya gadis itu. Ketika melihat Mia lagi-lagi sedang bersama Kamal, Fajar yang sedang bersama Umar, makin terbakar api cemburu

__ADS_1


“Mar, kalu nt mau ke adik nt dulu, ana mau pulang duluan aja ya?”


“Iya Jar”


Orang yang menyapa Mia itu ternyata Umar kakanya yang sedang bersama Fajar


“Kak Umar, kenalkan ini kang Kamal…Sebelum pergi, sebaiknya kak Fajar juga kenalan dulu”


“O,iya. Baik Mi”


Fajar mengulukan tangannya kepada Kamal “Fajar”


“Kamal”


Kamal dan Fajar berjabatan


“Kalau saya kakaknya Mia. Umar”


“Kamal”


Dengan Umar pun Kamal berjabatan


“Sebenarnya saya juga buru-buru…” sebelum Fajar pergi Kamal berkata


“Iya kak, kang Kamal itu punya pabrik penggilingan, Bandar beras. Katanya hari ini juga mau narik gabah. Iya kan kang?”


“Betul Mia…Tapi kalian jangan khawatir, kalau Alloh menakdirkan, di lain waktu pasti kita akan bertemu lagi”


“O iya kang, kalau final sepak bola itu jangan lupa nonton ya?Sang bintang dari kesebelasan TUNAS itu kan kak Fajar”


“Oh, selamat kalau begitu…Tapi jangan lupa, di final nanti harus mencetak gool lagi ya?” kata Kamal sambil tersenyum


“Amin..,mudah-mudahan…” Fajar manggut. Sedangkan dalam hatinya semakin meragukan Mia. Jangan-jangn benar Mia itu bukan gadis baik-baik, dan bukan tyipeku. Pikir Fajar dan di pituskan tidak akan dulu menembak Mia kalau kebenaran belum di kantonginya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2