
YANG berfaras cantik tapi kurang beruntung dalam urusan
cinta, bukan hanya Mia. Ada yang lain, salah satunya kini sedang duduk di
sebuah resto yang cukup terkenal di kota ini. Wanita karier ini tidak lama lagi
mungkin akan di hampiri pelayan. Karena dari meja manager pelayan sudah
mengambil buku menu.
“Selamat datang di resto kami…Disini daftar menunya sudah
lengkap. Mbak mau pesan apa saja ?”
“Yang sedang di tunggunya belum datang. Nanti saja ya kalau
orang nya sudah datang?”
“Oh baik mbak. Kalau begitu selamat menikmati dulu music
yang sedang kita putar”
“Ya, terimakasih. Lagunya enak”
Setelah pelayan tidak ada, pengunjung resto satu ini melihat
jam tangan yang dipakainya. Ketika ia masih memastikan sudah berapa lama
menunggu sambil menunduk. “Maaf ya Ev, saya
datangnya telat” Selain langsung menoleh kearah datangnya suara, gadis ini yang
tidak lain Evi bangkit sambil tersenyum.
“Nunggunya sudah lama ya?”
“Nggak mas. Paling baru lima belas menitan”
“Mejanya masih kosong ? Minuman juga belum ada ?”
“Karena untuk pesanan, saya sengaja menunggu dulu mas.
Soalnya takut selera kita tidak sama”
“Nggak harus di soal padahal. Apapun yang sudah di pesan
Evi, pasti akan saya hargai semuanya” Kata orang yang baru datang ini setengah
bercanda. Selain tersenyum senang, ternyata Evi langsung memanggil pelayan.
“Disini daftar menunya sudah lengkap. Silahkan dilihat dulu”
“Mas ? Mau pesan apa?” Setelah buku daftar menu ada ditangannya, Evi bertanya sambil menatap.
Orang yang di tawarinya yang tak lain Fajar, ikut memegang buku itu.
“Jangan makan ya? Pesannya makanan ringan aja dan minuman.
Nih disini banyak pilihan?”
“Terserah mas. Saya ngikuti aja”
Setelah ada persetujuan, Fajar dan Evi akhirnya meminta
kepelayan supaya diantar yang sudah mereka tandai. Waktu terus berjalan. Pada
__ADS_1
saat yang bersamaan, Mia masih mengurung diri di kamar. Padahal hari sudah
cukup siang. Meskipun ini hari libur, tapi kedua orangtuanya tidak mau kalau setelah
penantiannya menunggu Indra sia-sia putrinya terus seperti ini.
“Bu? Samperin jug ke kamarnya. Terus nasehati…Bilangin ke
Mia. Jangan dipikirin terus apa yang sudah terjadi”
“Baiklah pak. Sekarang ibu akan coba. Mungpung orangnya ada
dirumah”
Memang meskipun dirinya sedang mendapat masalah. Tapi
tanggung jawab dalam pekerjaan, Mia itu tetap semangat dan propesional.
“Tok,tok…Mi ?” Bu
Sumiati mengetuk pintu kamar Mia dan memanggil.
Mia di dalam yang sedang tiduran langsung membuka selimut
yang menutup wajahnya.
“Masuk bu”
Ketika ibunya masuk, ternyata Mia di atas tempat tidurnya
itu kali ini sudah duduk. Tapi selimbut masih membalut di separuh badannya.
“Ayah mungkin mau bicara. Bisa nggak kalau sekarang kamu
keluar dari kamar?”
****** dulu lama”
Bu Sumiati akhirnya bangkit lagi. Setelah di ambang pintu
pak Panji yang sedang duduk di kursi ruang TV, lalu di isyarati supaya ikut
masuk ke kamar anaknya.
“Mi? Kamu baik-baik saja ? Sehat ?” Setelah ada di kamar anaknya, pak Panji justru
lebih menunjukkan kehawatirannya. Pertanyaannya yang beruntun dari ayahnya,
membuat air mata Mia langsung berlomba-lomba. Tapi yang keluar terlebih dulu,
hanya beberapa tetes saja. Itupun untuk masa lalu ayahnya dan pak Suherman yang
selama ini masih di pendam oleh Mia.
“Mi, saran ayah…Daripada ingkarnya Indra menguras terus air
matamu tiap hari, mendingan sekarang buka hatimu untuk orang lain…Sampai saat
ini, sepertinya nak Fajar masih mengharapkan cinta kamu. Bagaimana kalau
sekarang kamu itu terima cintanya dia”
“Tidak ayah…Selama saya belum mengetahui penyabab Indra
tidak datang itu, saya akan tetap setia sampai kapanpun ” kata Mia yang maknanya bercabang. Bisa
__ADS_1
ayahnya menyadari kesalahan masa lalunya kepada pak Suherman. Bisa juga karena
Indra mengetahui konplik kedua orangtua mereka. Akhirnya memutuskan untuk tidak
melanjutkan hubungan cinta mereka.
“Kalau keputusanmu sudah begitu, ayah juga jadi tidak bisa
berbuat apa-apa Mi ? Kecuali mendo’akan, semoga problemmu cepat berakhir”
“Amiiin…” Bu
Suamiati dan Mia sama-sama mengangkat kedua tangan. Tapi untuk Mia kedua
tangannya itu tidak turun lagi kebawah melainkan terus menulungkap wajahnya dan
terus menangis tersengguk.
Pada saat yang bersamaan. Di sebuah resto ternama tempat
janjiannya Fajar dengan Evi pun saat ini mulai membuat gadis dihadapannya
hampir menangis kerena merasa menyesal dan kecewa atas pernyataan yang sudah di
sampaikan Fajar.
“Jadi mas Fajar ngajak kita ketemuan disini itu hanya untuk
menyampaikan bahwa persahabatan kita tidak bisa lanjut ke tahap berikutnya?”
“Sekali lagi maafkan saya Ev…Setelah rasa cinta untuk Mia tumbuh
sejak saya mulai puber, hingga saat ini ternyata rasa itu tetap ada…Sekarang
dia yang bekerja sekantor dengan saya itu sedang mempunya problem…Jujur..,saya
tidak tega kalau saya malah melabuhkan cinta kepada orang lain. Apalagi kalau terkesan
sengaja memanas-manasi dia. Meskipun tidak ada niatan sama sekali untuk hal itu”
“Setelah mendengar semua pernyataan mas Fajar, semakin jelas
bahwa dalam hal ini nasib saya tidak mujur…Beberapa tahun yang lalu, saya juga
pernah jatuh cinta kepada seseorang…Tapi ternyata waktu itu orang yang saya
cintai sudah punya tunangan…Sejak saat itu, sayapun jadi malas cari
jodoh…Apalagi sekarang mas. Aku malah trauma karena takut gagal dan gagal lagi”
“Kamu jangan pesimis Ev. Jodoh setiap orang itu sudah ada
titis tulisnya dari Sang Maha pencipta…Selain kamu harus yakin? Saya juga akan
ikut do’akan. Semoga kamu mendapat jodoh yang lebih dari saya dalam
segala-galanya”
“Amiiin…” Meskipun
sedang menangis, ternyata Evi mengamini do’a yang di panjatkan Fajar. Mungkin
pikirnya buat apa aku tetap cinta terhadap Fajar kalau orangnya tidak cinta
terhadap aku. Mendingan sekarang aku pokus lagi ke pekerjaan. Soal masih tetap
__ADS_1
jomlo nggak apa-apa. Yang penting karierku terus melesat!” pikir Evi setelah usahanya mencari jodoh
kembali gagal.