Karunia (Gadis Dalam Ikatan)

Karunia (Gadis Dalam Ikatan)
Hari Bahagia Datang Orang Terdekat Menjauh


__ADS_3

KAMAL yang jatuh sakit sejak masih di Bandung, kini dijenguk calon mertua, yang datang dengan putrinya. Momen berkumpulnya bakal dua besan ini, ternyata dimanfatkan oleh pribumi


“Pak Sukma, bagaimana kalau anak-anak kita itu cepat di nikahkan saja. Kan usia Wiwin juga sekarang sudah cukup umur “


“Kalau soal itu, saya tidak bisa memberi keputusan ki besan. Silahkan saja tanya orangnya langsung “


“Sekarang batunya akan kulempar ya Win…Kalau jatuhnya di tengah-tengah kubangan, pasti kita akan berjodoh”  terbayang dalam benak Wiwin


“Dulu batu yang dilemparkannya, tidak jatuh di tengah kubangan. Hari ini akan ku gugurkan motos itu”


“Kalau hubungan kita mau di sakralkan secepatnya, saya tidak keberatan “ kata Wiwin setelah sejenak mengingat suatu permainan yang pernah dilakukannya dulu dengan Kamal


“Beneran Win, kamu setuju kalau kita cepat nikah ?” Kamal yang selama ini berbaring, melepaskan selimbut


“Terus sekarang mau kemana kamu tiba-tiba turun dari tempat tidur?”  bu Arum nimbrung


“Mau ikut rempugan “


Gerr ! Semua orang yang ada disini tertawa semua. Kebalikankan disini, Indra pun disana sedang di ajak rempugan. Tapi lain topic


“Karena kamu tempo hari bilang sudah tidak mau tinggal di Bandung, tadi papa itu sudah coba menghubungi penyewa rumah kita yang di Jakarta. Ternyata orangnya mengerti problem kita. Dan rumah itu akan segera di kosongkan setelah kontraknya habis. Papah sengaja memberi tahunya dari awal supaya Pak Ipan punya waktu banyak untuk mencari kontrakan baru”  kata pak Suherman panjang lebar


“Kalau sekolah aku gimana pah ? Pindah atau..?”  Santi mau tahu


“Karena kamu sudah kelas tiga, tanggung. Kamu tetap saja dulu tinggal disini bersama papa dan bi Irah. Yang pindahan, mama aja dulu dan kakakmu “


“Nah In, keputusan sudah ada tinggal menunggu waktu. Sekarang kamu jangan murung lagi, karena ke inginanmu akan segera terlaksana.”


Begitulah haril rempugan di sana. Yang rempugan disinipun akhirnya sudah mendapat hasil bahwa Kamal dan Wiwin akan menikah bulan haji tanggal delapan tahun ini

__ADS_1


Penomena ini sepertinya bukan kebetulan. Tiga hari sebelum Wiwin menikah, bu Ranti dan Indra pindah ke rumahnya yang ada di Jakarta. Sedangkan hari H min2, Oom Anwar di oper tugas berangkat hari itu. Inilah yang membuat Wiwin sedih karena hari bahagianya tidak bisa disaksikan orang yang sudah merawatnya dari kecil. Jadi orang-orang ini besar kemungkinan tidak akan hadir di acara pernikahannya


Sebuah cepuk yang berisi emas perhiasan untuk mas kawin, dibuka Kamal maksudnya mau diperlihatkan kepada Wiwin melalui video call. Tapi setelah di ceknya ber ulang-ulang, hp Wiwinnya tidak aktif. Kamal akhirnya menyimpan hpnya di atas meja. Tapi tidak lama kemudian hpnya berbunyi, akhirnya di ambil lagi


“Mau menghubungi Wiwin, malah ada pesan dari tantenya”


“Nak Kamal, sekarang Oom dan tante sudah berangkat ke bandara. Tadi tante menghubungi Wiwin tapi hpnya tidak aktif. Tadinya kalau sudah mau naik pesawat, kita mau vidiocollan dulu dengan Wiwin. Kalau bisa, tolong sampaikan pesan ini “


“Daripada menunggu hp Wiwin nyala, mendingan aku kesana sekarang “ alasan Kamal lalu bangkit dari kursi tempat duduknya. Terus buru-buru masuk kamar untuk mengganti baju.


“Aden mau kemana sudah ganti baju sambil rurusuhan?”  tetangga yang sedang bantu-bantu menbuat kue, ada yang bertanya


“Mau keluar sebentar ceu”  Jawab Kamal sambil nyambar hp


“Aduh aden jangan keluar calon pengantin mah. Kata orang tua, didemenin mahluk halus”   yang satu orang lagi berpetuah


“Ach itu mah mitos ceu. Sekarang saya berangkat dulu ya. Tolong sampaikan ke ibu saya kalau beliau sudah kembali dari jamban”


“Eh kok, calon pengantin datang kesini ? Pamali den, kata orangtua didemenin mahluk halus”


“Iya den, padahal tinggal dua hari lagi. Meni tidak sabar “


“Ini ada yang sangat penting untuk calon istri saya, ibu-ibu. Sedang dimana dia sekarang ya ?”


“Ada apa kang ? Kayaknya beneran ada yang sangat penting ?”


Yang sedang pada membuat kue, untuk beberapa saat hanya bengong. “Neng Wiwin ternyata sekarang mau keluar. Padahal dari tadi ngisak terus di kamar”  akhirnya kata salah seorang


“Kita bicaranya di ruang tamu ya Win?”  Kamal tidak butuh jawaban. Tapi ternyata Wiwin terus mengikutinya

__ADS_1


“Ada pesan dari tante kamu. Sekarang silahkan baca sendiri”


Wiwin lalu melihat pesan itu. “Pukul berapa sekarang ?” terus ia melihat jam dinding. “Sudah jam lima. Tante pasti sudah menunggu “  Alawan Wiwin lalu membuka hp untuk videocollan dengan tantenya


“ Win, ini kita sudah ada di bandara “


“Oom…? Tante…? Ini nggak adil banget. Kenapa berangkatnya harus hari ini?”


“Kita ngngak tahu Win. Tapi kata pak Suherman, kalau tidak sesegera, bisa-bisa kursi itu sudah di duduki orang lain”


“Apa mungkin papanya Indra sengaja supaya saya sedih di hari pernikahan”


“Oom, Tante…Sekarang doakan kita aja semoga pernikahannya lancar” Kamal nimbrung karena melihat Wiwin mulai sedih


“Iya nak Kamal. Tentu saja kita akan selalu mendoakan kalian. Sekarang seluruh calon penumpang sudah dipanggil tuh. Tolong jaga Wiwin ya nak Kamal. Setelah kalian menikah, semoga selalu rukun”


“Amiin…”


“Tanteee…!”  Setelah video call di akhiri, Wiwin tiba-tiba histeris. Dibayanginya setelah ini mereka tidak bisa bertemu lagi. Kamal lalu berusaha menghiburnya. Tidak sebentar sampai Wiwin bisa mengeringkan air matanya


“Udah…. “ Kamal masih terus menenangkan Wiwin dengan pengalamanya yang sangat matang. “Tuh, Karna barusan nangisnya seperti anak kecil, jadi rambutnya berantakan gini menyatu dengan air mata. Sekarang akan ku bereskan satu persatu yah, sambil menunggu maghrib”


“Oh yah, di luar sudah mulai gelap. Sekarang kami harus buru-buru pulang” Wiwin menghindar. Rambutnya yang berantakan di rapihkannya sendiri.


“Di luar sudah mulai gelap “  kata Wiwin setelah tangisannya reda. “Kamu harus buru pulang supaya yang di rumah tidak cemas”


“Ya, tapi sebelum pulang aku ingin melihatmu tersenyum dulu” Kalau gadis ini tidak takut Kamal kemalaman di jalan, mungkin ia tidak akan sersenyum


“Sekarang pulang ya? Kita harus turuti petuah orang tua sampai hari pernikahan. Karena…”

__ADS_1


“Kalau calon pengantin keluar rumah, di demenin mahluk halus…“  kata Kamal dan Wiwin bersamaan karena Kamal menyambar. Setelah itu keduanya tersenyum.


“Sebenarnya, yang lebih suka ke calon pengantin itu aku”  ucap Kamal sebelum pergi. Setelah yang di disukainya kembali tersenyum, baru pemuda ini meninggalkan calon pengantinnya meskipun langkahnya terasa berat.


__ADS_2