
TANGGAL 13 yang sudah diberi kolom warna merah, jatuhnya
tinggal hitungan hari. Untuk penyambutan sang kekasih yang mau pulang dari luar
negri, Mia pun sudah belanja pernak-pernik untuk menyunyulap satu ruangan di
MELISA HAPPY yang menjadi tempat tinggalnya selama ini. H min tiga bahkan Indra
sudah mengabari lagi bahwa ia pulangnya tetap tanggal itu tidak ada perubahan.
Mia pun tambah gembira hari-harinya.
“Duuh…Yang pacarnya mau pulang dari luar negri, mukanya juga
sampai berseri-seri begitu ?” Ketika Mia
membawa kebahagiaannya itu ke tempat bekerja, teman-temannya rame berkomentar.
“Mi ? Ada pekerjaan yang bisa kita bantu nggak?”
“Nggak ada… Semuanya mau ku kerjakan sendiri !“ canda Mia sambil menyimpan tasnya ke atas
meja.
“Jangan gitu Mi? Kalau lagi mendapat kebahagiaan kamu harus
berbagi. Ya nggak teman-teman?”
“Iya Mi? Kamu jangan sombong mentang-mentang kalau pacarmu sudah
ada, kamu tidak butuh kita lagi?”
Mia yang kali ini sudah sama-sama duduk bersama
teman-temannya, senyumannya tambah lebar.
“Yang mau temani aku belanja untuk dekor rumah siapa?”
“Aku MI…Aku…Aku…Aku…” Semua temannya ternyata mau.
“Satu orang saja. Yang bersedia ayo acungkan tangannya?” Ternyata tidak ada yang mengacungkan tangan.
“Mi ? Kenapa mintanya hanya satu orang sih? Supaya irit
nlaktir baksonya ya?”
“Iya Mi? Pacar kamu anak pengusaha itu mau datang? Kamu
malah pelit?”
“Serius teman-teman…Yang mau dibeli, hanya kekurangannya
doank. Jadi tidak terlalu repot kalau dibawa oleh berdua juga”
“Iya-iya Mi ? Kita hanya bercanda kok. Yang hari ini tidak
punya agenda siapa? Nanti temani Mia belanja tuh”
“Hari ini aku nggak punya rencana samasekali. Biarlah nanti
Mia pergi bersama aku” Yang namanya Ela
menawarkan diri.
“Beneran La, nanti kamu mau temani aku ke toko Simpang?”
__ADS_1
“Insya Alloh Mi. Sekarang semuanya siap-siap yuk? Jam kerja
hampir masuk tuh”
Selain menyanggupi ajakan Mia, yang bernama Ela
memperingatkan teman-temannya. Ternyata semuanya langsung bangkit. Dan seperti
biasa, mereka lalu merapikan pakaiaannya. Setelah itu lalu pergi ke ruangannya
masing-masing.
H min dua atas hari yang sedang ditunggu Mia, Fajar mulai
terdampak.
“Lho ? Suster Vera? Bukankan yang bertugas kali ini
seharusnya saya dan suster Mia?”
“Suster Mia telah mengajukkan perubahan jadual sip, dok.
Sekarang saya bertugas dengan dokter. Besok suster Mia bertugas dengan dokter
Heru yang sebelumnya jadi patner saya”
“Alasan suster Mia mengajukan peralihan tugas, apa suster
Vera tahu?”
“Mungkin suster Mia mau fokus untuk penyambutan pacarnya
yang mau pulang dari luar negri itu dok. Katanya dua hari lagi”
jalankan tugas”
Ketika itu Fajar tidak banyak komentar dan langsung mengajak
patnernya menjalankan tugas.Tapi malam ini. Dirumah. Yang bernama lengkap Fajar
Lembayung itu selain gelisah, kenangan masa lalunya dengan Mia satu persatu melintas
dalam ingatannya. Salah satunya ketika keduanya dulu ikut botram sebelum datang
bulan Ramadan.
“Makanannya sudah matang nih ! Ayo semuaya pada ngumpul !
Yang tidak nurut akan kita coret dari daftar!” Ketika itu yang masak mengumumkan dan akan memberi sangsi untuk yang
tidak patuh.
“Kamu mau kesana nggak?” ketika itu Fajar yang sedang berdua dengan Mia di sebuah dangau tempat
nunggu pipit di sawah, bertanya. Sedangkan rombongan yang ikut botram mau
makannya di atas daun pisang yang di gelar.Tapi yang ditanyanya malah
tersenyum.
“Jadi daripada melewatkan kebersamaan ini lebih baik kita
mendapat sanksi?” kali itu Fajar pun
akhirnya menyusul.
__ADS_1
“Tapi kalau jadi pengacau dalam rombongan, tidak enak juga.
Bergabung aja ach “ Ketika itu Mia
tiba-tiba turun dari dangau. Fajar yang dulu ditinggalkan, kali ini bergumam.
“Dari dulu kamu itu selalu membuatku penasaran Mi. Dan sudah
kuakui berkali-kali bahwa untuk menyatakan cinta kepada kamu, selama ini aku
banyak menimbang-nimbang dengan berbagai alasan. Sekarang cintamu sudah kamu
berikan keada orang lain. Dan malam ini orangnya akan datang…Ternyata aku jadi
ikut tidak bisa tidur…”
Fajar yang malam ini tidak bisa tidur, masih terus menatap
langit-langit kamarnya. Makin malam, Mia yang sedang menanti kedatangan Indra,
makin riang hatinya.
“Mi, sekarang aku sudah tiba di bandara. Baru turun bangat
dari pesawatnya nih. Katanya papa mau menjemput. Teleponnya kututup dulu ya?
Aku mau langsung menghubungi papa soal?”
“Iya In. Sampai bertemu di MELISA HAPPY yang sudah kurias
meriah ini…Makanannya juga sudah kusediakan bermacam-macam. Dan itu kesukaanmu
semua plus minuman yang segar agak asam-asam gitu. Semuanya sudah terhampar di
meja dan ruangan khusus. Kamu bisa membayangkannya kan?”
“Yaya, tentu saja sudah terbayang…Sekarang sudah dulu ya?
Ternyata mobil papa yang menjemput sudah ada di depan”
Satu jam. Dua jam. Mia terus menghitung waktu dari Indra
menelpon terakhir. Perjalanan dari Jakarta ke MELISA HAPPY, kalau lewat tol paling
empat atau lima jam. Kini Mia menunggu sudah sampai jam tiga malam. Tapi yang
dinantinya tetap masih belum kunjung datang.
Ketika ada kumandan azan subuh, Mia baru beranjak dari
tempat penantiannnya karena harus solat dan mengambil air wudlu. Semuanya kini jadi
banyak mungkin. “Kak Indra belum datang itu mungkin terjebak macet. Tadi menuju
kesininya mungkin tidak lewat jalan tol…? Atau mungkin juga kak Indra itu
mengalami sesuatu di tengah perjalanan…? Tapi amit-amit kalau kak Indra
mengalami kecelakaan saat menuju kemari…? Mendingan sekarang aku mengambil air
wudlu, terus solat. Setelah solat lalu aku do’akan kak Indra supaya selamat dan
selalu ada dalam rahmatNYA…
Amiiin…”
__ADS_1