
LIMA BULAN sudah berlalu. Setelah Wiwin hamil dan kandungannya semakin besar, kini Kamal jadi banyak di rumah sebagai suami siaga. Alasan supaya kalau anaknya lahir nanti sudah terbiasa, sekarang seperti ini kebiasaan di rumah setelah mereka akan menjadi orangtua. Banyak yang berubah
“Bun…? Bun…?” Kamal yang baru pulang kerja melongok ke kamar utama dan kamar untuk ananknya nanti
“Bun…?!” Ketika yang di carinya tidak ada, Kamal memanggil lagi lebih keras. Kali ini suaranya terdengar oleh Wiwin yang sedang di dapur
“Aku disini yah…!”
Mendengar suara istrinya dari dapur, Kamal buru-buru menghampiri.
“Bunda sedang apa didapur ?”
“Mau makan manga. Sekarang sedang ngupas dulu”
“Kalau bunda mau makan mangga, mengapa harus ngupas sendiri? Tinggal suruh aja bi IJah?”
“Tapi bi IJah nya sedang disuruh membeli bahan kue ke pasar”
“Kalau begitu sini sekarang ngupasnya sama aku. Bunda cepat cuci tangan. Terus nanti ngambil piring untuk wadahnya ya?”
Seperti itu akhirnya Kamal kalau memergok istrinya sedang bekerja. Setelah mangganya selesai di kupas, lalu mereka memakannya bersama-sama sambil bercengkrama di ruang tv.
Kali ini Kamal pulang lebih cepat karena belum makan.
“Bun…?!” Seperti biasa kalau sudah sampai di rumah, Kamal langsung memanggil. Kali ini Wiwin yang sedang di belakang langsung menghampiri.
“Ternyata ayah sudah pulang ?”
“Iya. Kan belum sarapan. Untuk makannya sudah disiapkan? “
“Tapi aku makannya mau pasakan luar”
“Mau pasakan luar ? Kalau begitu hari ini kita jalan-jalan ke mall ya ? Sekarang cepat bunda ganti baju. Mandinya udah kan?”
__ADS_1
“Udah…” Jawab Wiwin. Tapi setelah itu terus lama diam
“Lho bun ? Kok disuruh buru-buru ganti baju malah diam? Tidak jadi mau makan di luar nya?”
“Jadi. Tapi aku bingung pakai baju”
“Oh…” Kamal tersenyum. “ Memang sejak hamil besar baru kali ini bunda mau jalan-jalan. Tapi untuk pakai baju, tidak harus se bingung ini kali ? Karena pakai baju yang manapun, bunda pasti akan kelihatan cantik” Kamal membesarkan hati sang istri yang kurang percaya diri
“Kalau begitu, sekarang aku ke kamar dulu ya ? Selama aku dandan, beritahu dulu bi Ijah kalau hari ini kita mau keluar”
Setelah di semangati oleh sang suami, Wiwin akhirnya mau beranjak. Dari dalam lemari, Wiwin lalu mengeluarkan baju yang mau di pakai. Beberapa lama kemudian, ia keluar dengan memakai kulot warna putih. Dan atasannya baju warna pink muda yang ada biku-biku di depannya. Kamal yang menunggu di ruang tv langsung bangkit. Sangat perpukau oleh sang istri yang tampil cantik meskipun dalam ke adaan hamil
“Tuh, bunda kan tetap cantik…?” celoteh Kamal sambil menghampiri. “ Kita langsung berangkat sekarang”
“Udah bilang dulu sama bibi ?”
“Sudah neng, barusan den Kamal sudah bilang kalau aden dan eneng hari ini mau ke luar…” Sebelum Kamal menjawab, bi Ijah muncul
“Kalau begitu sekarang kita berangkat dulu ya bi?” Wiwin berpamitan
Sekitar pukul setengah sebelas, mobil Kamal sampai di sebuah mall. Ketika masuk sambil berpegangan dengan sang suami, pandangan Wiwin langsung tertuju kepada seorang laki-laki yang sedang pilih-pilih baju di tempan busana pria dilantai bawah.
“Yah ? Yang sedang pilih-pilih baju pria itu seperti Indra?” Ingin yakin apa penglihatannya salah atau tidak, Wiwin menahan langkah sang suami
“Iya bun. Itu Indra…” Jawaban Kamal demikian pasti. Karena Kamal juga sangat kenal dengan perempuan yang menemaninya
“Indra di tempat busana pria dengan seorang perempuan. Ayah kenal nggak siapa itu?”
“Hai kang Kamal…!” Sebelum Kamal menjawab pertanyaan Wiwin, perempuan yang sedang bersama Indra itu menyapa. Wiwin tidak sempat bertanya karena orang itu langsung menghampiri
“Kita datang kesini seperti janjian ya ?” celoteh orang itu setelah di hadapan Wiwin dan Kamal
“Mbak cantik banget. Ini pasti istrinya kang Kamal. Saya Mia mbak” Perempuan itu yang tak lain Mia, mengulurkan tangannya. Oleh Wiwin di sambut.” Wiwin Wiwinanti “
__ADS_1
Setelah itu Indra sampai juga. “ Apa kabar…” Indra menyalami dulu Kamal. Setelah itu baru kepada Wiwin.
“Alhamdulillah baik. Sekarang kalian sudah jadian…?” Kamal yang dengan Indra sudah menganggap sebagai sahabat sejak Indra datang ke rumahnya beberapa waktu talu, memecah kebekuan
“Do,a nya aja semoga kita bisa bersatu seperti kalian “ Indra menunjukan ke bersihan hatinya
“Tentu saja kita do,a kan…” Jawab Kamal dan Wiwin hampir bersamaan. “ Malah kalau setuju, meritnya itu jangan lama-lama “ kata Kamal.
Tapi atas hal satu ini ternyata Indra langsung melirik kepada Mia “Kamu mungkin bisa menjelaskan ?” kata Indra
“Begini kang? Bagaimana kalau untuk menjelaskan hal ini, di tempat makan? Soalnya bakal lama?”
“Kebetulan. Kita kesini karena yang lagi hamil mau makan di luar”
“Beneran mbak ? Kalau begitu ayo sekarang kita langsung ke atas ?” di mall ini tempat makannya di lantai paling atas.
“Tapi kan kalian lagi pilih-pilih baju?” Wiwin yang sudah di ajak Mia, berkomentar
“Nggak apa-apa Win. Kita beli baju bisa nanti. Kebetulan kita juga tujuannya cuma mau beli baju untuk keluarga Mia doank” Indra menatap Wiwin yang baper
“Udah lah bun. Mereka yang mau kita dengar penjelasannya kok ?” Kamal memegang lagi tangan sang istri. Setelah ada kesepakatan, akhirnya mereka ber empat menuju ke lantai atas. Duduknya satu meja menunjukkan bahwa diantara mereka sudah tidak ada apa-apa. Sambil menunggu pesanan, ternyata Mia langsung membuka percakapan
“Jadi begini kang… ? Mbak… ? Meskipun aku dan kak Indra sudah jadian, tapi kak Indra akan kuliah lagi di luar negri. Jadi kita hanya bisa merencanakan untuk masa depan kami, itu nanti kalau kak Indra sudah pulang dari luar negri“
Mendengar penjelasan Mia, Kamal dan Wiwin saling lirik. “ Berarti mereka akan menjalani hubungan jarak jauh ? “ kekhawatirannya sama.
“Jadi kamu akan kuliah lagi ke luar negri In?” tapi Kamal akhirnya
“Satu-satunya penerus anak laki-laki di keluarga, hanya aku. Iya Mal. Rupanya orangtua sadar, bahwa mengelola sebuah perusahaan di tengah pasar global itu tidak mudah. Dan aku kuliah nanti mau mengambil di bidang itu” Penjelasan Indra panjang lebar.
“Kalau begitu semoga semuanya lancar. Supaya nanti kalian segera merencanakan pernikahan” Akhirnya Wiwin ikut nimbrung
“Amin mbak…Semoga kehamilan mbak juga selalu baik-baik saja. Tapi kalau nanti mbak melahirkan, yang menjenguk cuma saya saja. Karena kamu masih di luar negri ya In?” Mia melirik kepada Indra.
__ADS_1
“Benar kata Mia Win. Tapi aku pasti akan selalu mendoakan dari jauh. Supaya anakmu itu nanti lahir dengan selamat”
“Amiiin…” Kamal dan Wiwin lagi-lagi kompak. Setelah itu makanan pesanan datang. Mereka ber empat akhirnya fokus ke hidangan yang sudah ada di atas meja.