
DIDEPAN rumah tante Wati Mia mengeluarkan kartu alamat dari
dalam tasnya. Setelah terbang dari Jakarta, kini ia sudah tiba di kota tujuan.
Alasan kartu alamat pemberian Wiwin itu di keluarkan, karena takut salah.
Ketika sedang memperhatikan no rumah RT/ RW yang tertera di depan rumah,
tiba-tiba ada seorang satpam mau yang membuka gerbang rumah itu.
“Ini non Mia bukan?”
“Kok bapak tahu nama saya?”
“Karena sebelum pergi, bu Anwar sudah berpesan. Kalau ada
wanita muda cantik yang bernama Mia, tolong bukakan gerbang rumah katanya”
“Bu Anwar itu pemilik rumah ini ya ?”
“Iya non”
“Mau pergi kemana dulu tadi bu Anwar?”
“Tante habis menghadiri pengajian ruthin nak Mia?”
“Eh itu ibunya sudah datang non…” satpam komplek itu
nyeloteh. Setelah itu ia pamit pergi.
“Tante..? Benarkah ini tantenya mbak Win?”
“Betul…Tante memang tantenya Wiwin. Selamat datang di rumah
kami”
“Terimakasih tan…” Air mata Mia tiba-tiba berjatuhan. Tante Wati lalu menggandeng Mia.
“Kenapa nak Mia menangis…?” Tanya tante
Wati. Tapi air matanya sendiri berjatuhan.
“Tante juga menangis? Kenapa…?”
“Kalau tante tiba-tiba ingat Wiwin…Dulu ketika dia masih
tinggal bersama tante, orangnya manja tapi tahu batasan”
“Beruntung sekali mbak Win punya seorang ibu angkat sebaik
tante ?”
“Iya…Tapi sayang sebelum kita puas merawatnya, tiba-tiba
ayahnya di desa menjodohkan dia dengan lelaki pilihannya”
“Tapi sekarang mereka hidup bahagia tan…Kang Kamal suaminya
sangat sayang sama mbak Win”
“Jadi nak Mia dekat dengan mereka ya?”
“Iya tan…Alhamdulillah…Saya juga sangat senang bisa berteman
dengan kemenakan tante itu”
“Oya ? Kok dari tadi kita malah terus ngobrol di teras...?
Tante juga sampai lupa mengajak nan Mia masuk…? Sebentar ya? Sekarang tante mau
membuka kunci pintunya dulu?”
Tante Wati yang sejak bertemu langsung menggandeng Mia, kali
ini membuka pintu yang di kunci. Setelah pintu terbuka, Mia lalu dipersilahkan
masuk.
“Ayo nak Mia…Sekarang kita ngobrolnya di dalam sambil ngaso”
Karena sudah mulai akrab, Mia pun langsung masuk.
__ADS_1
Sesampainya di dalam Mia melihat bangunan luas dan ada beberapa kamar yang
letaknya di atur. Di ruang tamu hanya ada sepasang kursi dan rak kaca yang di
dalamnya banyak hiasan antik. Semuanya tertata rapih, bersih dan tidak ada
sampah atau mainan anak anak yang berserakan. Pemilik rumah memang tidak punya
anak, Mia juga tahu. Ada beberapa foto pun hanya foto bu Wati dan suaminya saja.
“Nak Mia ? Sekarang kita langsung menuju ke kamar nak Mia saja
ya ? Supaya nak Mia bisa langsung benan-benah dan menyimpan barang”
“Baik tan “
Mia mengikuti pribumi. Sesampainya di tujuan, tante Wati
langsung membuka pintu kamarnya. “Nah, ini kamar untuk nak Mia ya ? Tante harap
nak Mia betah disini…Jadi supaya cepat beradaptasi, anggap saja ini rumah
sendiri. Nak Mia jangan namu supaya kita
nanti tidak canggung kalau mau apa-apa”
“Baik tan, terimakasih untuk semuanya”
“Nah...Kalau nanti sore, kita ke tempat praktek bidan Reni
ya ? Sekalian nak Mia melamar pekerjaan”
“Rumah bersalinnya dimana tan…? Apa dari sini jauh?”
“Tidak…Cuma terhalang benteng doank...Sebenarnya itu masih rumah
kami. Tapi di kontrak dan dijadikan tempat pkaktek bersalin oleh yang ngontrak
itu”
Mengenai hal yang satu ini tante Wati panjang lebar
kedatangannya disambut baik oleh yang berpropesi bidan itu.
“Bu ? Ini orang yang saya ceritakan tempo hari itu…Tapi karena
sesuatu dan lain hal, beliau ini baru bisa datang sekarang. Mudah-mudahan ibu
masih bersedia menerimanya bekeja”
“Oh, tentu saja saya masih mau menerimanya...Karena sampai
saat ini, ternyata belum ada yang melamar kerja lagi”
“Kalau begitu terimakasih bu...Tapi latar belakang
pendidikan saya tidak sesuai dengan tempat praktek ibu. Bagaimana?” Mia
memperlihatkan identitas diri.
“Nggak apa-apa…Justru kami butuh perawat yang khusus untuk
menangani ibu melahirkan yang mau terus dirawat disini sebelum akhirnya bisa di
perbolehkan pulang…”
“Oya ? Supaya kalau besok mulai kerja perawat lain atau
pasien tidak kaget, sekarang nak Mia mau ibu perkenalkan dulu kepada mereka
ya?”
“Ayo bu…Kebetulan saya juga mau lihat-lihat dulu keadaan
disini”
Setelah ada kesepakatan, Mia dan tante Wati lalu mengikuti
bu Bidan yang membawanya ke ruangan pasien. Kebetulan di ruangan ini pemisahnya
dari pasien satu ke pasien lain, hanya menggunakan gorden tebal saja.
__ADS_1
“Kalau ada ibu pasca melahirkannya mau pulih dulu sebelum
pulang, disini tempatnya nak…Eh, suster “ Bu Bidan meralat perkataannya. Itu
karena disini sudah ada tiga pasien dan juga ada dua orang perawat yang sedang ngecek
kondisi bayi.
“Suster Yuli…? Suster Hana…? Berkenalan dulu nih dengan
karyawan baru yang nanti akan bekerja bareng kalian berdua…”
“Yuli…”
“Mia…”
“Saya Hana…”
“Mia…”
Dengan dua bidan yang sama-sama masih junior itu, Mia
bersalaman. Untuk Yuli yang sedang meraba-raba seorang bayi, dari Mia ada tambahnya.
“Suster sedang apa barusan?”
“Ini sus? Bayi ini kata ibunya kalau nete kerap di
lepas-lepas”
“Coba saya lihat…?” Mia minta bayi yang sedang di urus Yuli, untuk di periksa suhunya.
Setelah bayi itu dirabanya dibagian tertentu, Mia lalu memberi kesimpulan atas
pengalamannya sendiri.
“Oh ini mah karena akibat cuaca dingin. Jadi anaknya agak
pilek...Begini saja…Besok kalau sudah ada matahari, bayinya di jemur aja ya?
Pokoknya sekitar jam delapanan”
“Sus ? Kalau begitu besok anak saya bawa berjemur sama
suster saja…Maksud saya, dibarengi saya juga”
“Memangnya ibu sudah bisa jalan jauh ?”
“Insyaalloh bisa…” Jawab yang ditanya beradu tatap dengan
yang bertanya.
“Ya sudah…Kalau begitu sekarang kita lanjut ke pasien yang
dua lagi yuk?” kata bu Bidan. Di tempat
prakteknya, sampai saat ini memang ada tiga pasyen yang di lanjut ke pemulihan.
Dan ternyata yang dua ini tidak ada keluhan. Setelah di perkenalkan kepada
semua pasyen dan pegawai lainnya, Mia dan tante Wati lalu di ajak lagi bu Bidan
ke ruangannya.
“Sekarang nak Mia di perkenalkan ke bakal temannya
sudah…Kondisi disini juga nak Mia sekarang sudah tahu…Jadi kalau sekarang mau
kembali dulu ke rumah untuk istirahat, silahkan. Sampai bertemu lagi besok
dengan seragam ini…Kalau sedang bertugas, seragam ini wajib di pakai oleh nak
Mia”
“Terimalkasih bu…Kalau begitu saya dan tante pamit
dulu…Mulai besok, insya Alloh seragam ini terus melekat di badan saya…Maksudnya
kalau sedang bekerja disini” kata Mia sambil tersenyum. Setelah itu Mia dan
Tante Wati kembali ke rumah yang hanya terhalang benteng.
__ADS_1