Karunia (Gadis Dalam Ikatan)

Karunia (Gadis Dalam Ikatan)
Tiba Di Kota Tujuan


__ADS_3

DIDEPAN rumah tante Wati Mia mengeluarkan kartu alamat dari


dalam tasnya. Setelah terbang dari Jakarta, kini ia sudah tiba di kota tujuan.


Alasan kartu alamat pemberian Wiwin itu di keluarkan, karena takut salah.


Ketika sedang memperhatikan no rumah RT/ RW yang tertera di depan rumah,


tiba-tiba ada seorang satpam mau yang membuka gerbang rumah itu.


“Ini non Mia bukan?”


“Kok bapak tahu nama saya?”


“Karena sebelum pergi, bu Anwar sudah berpesan. Kalau ada


wanita muda cantik yang bernama Mia, tolong bukakan gerbang rumah katanya”


“Bu Anwar itu pemilik rumah ini ya ?”


“Iya non”


“Mau pergi kemana dulu tadi bu Anwar?”


“Tante habis menghadiri pengajian ruthin nak Mia?”


“Eh itu ibunya sudah datang non…” satpam komplek itu


nyeloteh. Setelah itu ia pamit pergi.


“Tante..? Benarkah ini tantenya mbak Win?”


“Betul…Tante memang tantenya Wiwin. Selamat datang di rumah


kami”


“Terimakasih tan…”   Air mata Mia tiba-tiba berjatuhan. Tante Wati lalu menggandeng Mia.


“Kenapa nak Mia menangis…?”  Tanya tante


Wati. Tapi air matanya sendiri berjatuhan.


“Tante juga menangis? Kenapa…?”


“Kalau tante tiba-tiba ingat Wiwin…Dulu ketika dia masih


tinggal bersama tante, orangnya manja tapi tahu batasan”


“Beruntung sekali mbak Win punya seorang ibu angkat sebaik


tante ?”


“Iya…Tapi sayang sebelum kita puas merawatnya, tiba-tiba


ayahnya di desa menjodohkan dia dengan lelaki pilihannya”


“Tapi sekarang mereka hidup bahagia tan…Kang Kamal suaminya


sangat sayang sama mbak Win”


“Jadi nak Mia dekat dengan mereka ya?”


“Iya tan…Alhamdulillah…Saya juga sangat senang bisa berteman


dengan kemenakan tante itu”


“Oya ? Kok dari tadi kita malah terus ngobrol di teras...?


Tante juga sampai lupa mengajak nan Mia masuk…? Sebentar ya? Sekarang tante mau


membuka kunci pintunya dulu?”


Tante Wati yang sejak bertemu langsung menggandeng Mia, kali


ini membuka pintu yang di kunci. Setelah pintu terbuka, Mia lalu dipersilahkan


masuk.


“Ayo nak Mia…Sekarang kita ngobrolnya di dalam sambil ngaso”


Karena sudah mulai akrab, Mia pun langsung masuk.

__ADS_1


Sesampainya di dalam Mia melihat bangunan luas dan ada beberapa kamar yang


letaknya di atur. Di ruang tamu hanya ada sepasang kursi dan rak kaca yang di


dalamnya banyak hiasan antik. Semuanya tertata rapih, bersih dan tidak ada


sampah atau mainan anak anak yang berserakan. Pemilik rumah memang tidak punya


anak, Mia juga tahu. Ada beberapa foto pun hanya foto bu Wati dan suaminya saja.


“Nak Mia ? Sekarang kita langsung menuju ke kamar nak Mia saja


ya ? Supaya nak Mia bisa langsung benan-benah dan menyimpan barang”


“Baik tan “


Mia mengikuti pribumi. Sesampainya di tujuan, tante Wati


langsung membuka pintu kamarnya. “Nah, ini kamar untuk nak Mia ya ? Tante harap


nak Mia betah disini…Jadi supaya cepat beradaptasi, anggap saja ini rumah


sendiri.  Nak Mia jangan namu supaya kita


nanti tidak canggung kalau mau apa-apa”


“Baik tan, terimakasih untuk semuanya”


“Nah...Kalau nanti sore, kita ke tempat praktek bidan Reni


ya ? Sekalian nak Mia melamar pekerjaan”


“Rumah bersalinnya dimana tan…? Apa dari sini jauh?”


“Tidak…Cuma terhalang benteng doank...Sebenarnya itu masih rumah


kami. Tapi di kontrak dan dijadikan tempat pkaktek bersalin oleh yang ngontrak


itu”


Mengenai hal yang satu ini tante Wati panjang lebar


kedatangannya disambut baik oleh yang berpropesi bidan itu.


“Bu ? Ini orang yang saya ceritakan tempo hari itu…Tapi karena


sesuatu dan lain hal, beliau ini baru bisa datang sekarang. Mudah-mudahan ibu


masih bersedia menerimanya bekeja”


“Oh, tentu saja saya masih mau menerimanya...Karena sampai


saat ini, ternyata belum ada yang melamar kerja lagi”


“Kalau begitu terimakasih bu...Tapi latar belakang


pendidikan saya tidak sesuai dengan tempat praktek ibu. Bagaimana?” Mia


memperlihatkan identitas diri.


“Nggak apa-apa…Justru kami butuh perawat yang khusus untuk


menangani ibu melahirkan yang mau terus dirawat disini sebelum akhirnya bisa di


perbolehkan pulang…”


“Oya ? Supaya kalau besok mulai kerja perawat lain atau


pasien tidak kaget, sekarang nak Mia mau ibu perkenalkan dulu kepada mereka


ya?”


“Ayo bu…Kebetulan saya juga mau lihat-lihat dulu keadaan


disini”


Setelah ada kesepakatan, Mia dan tante Wati lalu mengikuti


bu Bidan yang membawanya ke ruangan pasien. Kebetulan di ruangan ini pemisahnya


dari pasien satu ke pasien lain, hanya menggunakan gorden tebal saja.

__ADS_1


“Kalau ada ibu pasca melahirkannya mau pulih dulu sebelum


pulang, disini tempatnya nak…Eh, suster “ Bu Bidan meralat perkataannya. Itu


karena disini sudah ada tiga pasien dan juga ada dua orang perawat yang sedang ngecek


kondisi bayi.


“Suster Yuli…? Suster Hana…? Berkenalan dulu nih dengan


karyawan baru yang nanti akan bekerja bareng kalian berdua…”


“Yuli…”


“Mia…”


“Saya Hana…”


“Mia…”


Dengan dua bidan yang sama-sama masih junior itu, Mia


bersalaman. Untuk Yuli yang sedang meraba-raba seorang bayi, dari Mia ada tambahnya.


“Suster sedang apa barusan?”


“Ini sus? Bayi ini kata ibunya kalau nete kerap di


lepas-lepas”


“Coba saya lihat…?”  Mia minta bayi yang sedang di urus Yuli, untuk di periksa suhunya.


Setelah bayi itu dirabanya dibagian tertentu, Mia lalu memberi kesimpulan atas


pengalamannya sendiri.


“Oh ini mah karena akibat cuaca dingin. Jadi anaknya agak


pilek...Begini saja…Besok kalau sudah ada matahari, bayinya di jemur aja ya?


Pokoknya sekitar jam delapanan”


“Sus ? Kalau begitu besok anak saya bawa berjemur sama


suster saja…Maksud saya, dibarengi saya juga”


“Memangnya ibu sudah bisa jalan jauh ?”


“Insyaalloh bisa…” Jawab yang ditanya beradu tatap dengan


yang bertanya.


“Ya sudah…Kalau begitu sekarang kita lanjut ke pasien yang


dua lagi yuk?”  kata bu Bidan. Di tempat


prakteknya, sampai saat ini memang ada tiga pasyen yang di lanjut ke pemulihan.


Dan ternyata yang dua ini tidak ada keluhan. Setelah di perkenalkan kepada


semua pasyen dan pegawai lainnya, Mia dan tante Wati lalu di ajak lagi bu Bidan


ke ruangannya.


“Sekarang nak Mia di perkenalkan ke bakal temannya


sudah…Kondisi disini juga nak Mia sekarang sudah tahu…Jadi kalau sekarang mau


kembali dulu ke rumah untuk istirahat, silahkan. Sampai bertemu lagi besok


dengan seragam ini…Kalau sedang bertugas, seragam ini wajib di pakai oleh nak


Mia”


“Terimalkasih bu…Kalau begitu saya dan tante pamit


dulu…Mulai besok, insya Alloh seragam ini terus melekat di badan saya…Maksudnya


kalau sedang bekerja disini” kata Mia sambil tersenyum. Setelah itu Mia dan


Tante Wati kembali ke rumah yang hanya terhalang benteng.

__ADS_1


__ADS_2